Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 21. Mencurigakan



Ting!


Bunyi pesan di HP Laras mengalihkan atensi ketiganya dari benda kotak yang menampilkan tayangan Upin-Ipin tersebut. Anja dan Riani reflek menoleh ke arah Laras yang membuat sang empunya meringis. Ya, saat ini warung sedang sepi. Mereka bertiga sedang menonton TV sambil tiduran di belakang meja kasir dengan menggelar karpet bulu.


[Hay] -08123456789- Laras mengerutkan alisnya.


[Siapa?] -Laras-


[Radit] -Radit-


[Owh] -Laras-


"Siapa?" Tanya Anja seraya mengintip dari samping.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Laras seraya memasukkan kembali HP ke dalam sakunya.


"Pasti dari cowok sultan gebetannya." Riani menyenggol bahu Anja.


"Apa sich Ri, gak ya." Sanggah Laras.


"Eh, gimana hubungan loe sama Seno Ri?" Tanya Laras mengalihkan perhatian.


"Tau ah." Jawab Riani kesal seraya bersedekap dada.


Kriiing.... kriiing....


Tak lama terdengar lagi bunyi dari HP Laras. Namun kali ini seperti bunyi orang telepon. Laras mengernyit saat melihat nama orang yang saat ini menghubunginya.


"Sebentar ya." Pamitnya kepada kedua sahabatnya yg membuat keduanya saling pandang karena heran melihat tingkah Laras yang tak seperti biasanya. Laras segera beranjak dari tidurannya kemudian ngacir ke rumah sebelah. Rumah yang ditempatinya bersama Bu Mayang. Sedangkan Riani dan pekerja lainnya menempati kamar yang ada di warung bagian belakang.


"Eh Nja, Kayaknya ada yang di sembunyikan Laras dari kita dech." Ucap Riani pelan.


"Apa?" Tanya Anja yang juga merasa aneh dengan tingkah sahabatnya.


"Entahlah." Riani hanya mengedikkan bahunya.


*****


Tin.... tin....


Bunyi klakson terdengar dari arah depan. Kemudian muncullah Zian dari arah pintu masuk di susul Seno yang mengekor di belakangnya. Zian menghampiri Anja yang masih tiduran di belakang meja kasir.


"Sayang." Zian mengecup dahi Anja sekilas yang membuat kedua anak manusia yang menyaksikannya membuang pandangannya.


"Mampir aja sekalian, tadi habis kirim barang." Jawab Zian menjelaskan.


"Katanya tadi ada yang mau minta maaf, makanya ngajak mampir." Imbuh Zian yang seperti sindiran bagi Seno.


"Eh," Seno langsung salah tingkah.


"Ooooowh." Anja hanya ber oh ria.


"Ri, maafin gue ya. Kemarin gue udah cari loe tapi gak ada." Jelas Seno namun tak mendapat tanggapan sedikit pun dari Riani.


"Kalau loe ada waktu, gue mau ajak loe jalan lagi. Janji dech kali ini cuma kita berdua naik motor, ya plis." Pinta Seno memohon.


"Gak usah kebanyakan janji kalau gak bisa menepati." Jawab Riani ketus. Seno hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


*****


"Yuhuuuu eh, ada babang-babang ganteng." Ucap Laras cengengesan.


"Loe ngapain aja, terima telpon lama amat." Tanya Riani ke Laras yang hanya di jawab cengiran oleh Laras. Mereka pun akhirnya mengobrol sambil bersenda gurau hingga terdengar suara adzan ashar yang berkumandang. Zian dan Seno akhirnya pamit untuk kembali ke mebel.


"Sayang aku balik dulu ke mebel, setelah itu nanti aku jemput kamu kesini lagi." Pamit Zian seraya mencium kening istrinya. Anja hanya menganggukkan kepalanya.


"Lama-lama mupeng juga kalau tiap hari lihat beginian." Batin ketiganya.


"Kok gue ngerasa jadi orang jahat ya, mau-maunya gue di suruh-suruh Radit. Dapat untung kagak, malah persahabatan gue jadi taruhannya." Batin Laras bermonolog melihat kemesraan Anja dan suaminya. Laras merasa dirinya hanya di manfaatkan oleh Radit. Ya, Radit memang meminta Laras untuk memberitahunya apapun yang di lakukan oleh Anja.


*****


*****


*****


*****


*****


Sudah siapkah kamu menghadapi kekecewaan kedua sahabat mu Ras? 😒😒


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚