Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 13. Mencoba Mengikhlaskan



Zian duduk di kursi samping ranjang perawatan Anja seraya menggenggam tangan istrinya yang masih belum sadarkan diri.


Terdengar derit pintu yang di buka perlahan. Nampak Bu Mayang dan kedua sahabat Anja masuk. Bu Mayang memang sengaja menutup warungnya jam lima sore supaya bisa segera mengunjungi Anja di rumah sakit.


"Gimana keadaan Anja Zi?" Tanya Bu Mayang.


"Masih belum sadarkan diri Bu." jawab Zian seraya mengelus tangan sang istri yang ada di genggamannya.


"Yang sabar ya, mungkin memang belum rezeki kalian."


"Saya bingung Bu, bagaimana menjelaskannya nanti kalau Anja sudah bangun." Zian terlihat gusar.


"Pelan-pelan saja kasih pengertiannya. Nanti coba ibu bantu."


Euugh....


Terdengar lenguhan lirih dari atas ranjang perawatan.


"Sayang." Zian merasa lega karena akhirnya istrinya bangun.


"Haus." Ucap Anja lirih. Zian langsung mengambil minuman yang ada di nakas kemudian membantu istrinya minum menggunakan sedotan.


"Bagaimana keadaan mu nak?" Tanya Bu Mayang kepada Anja yang membuat Anja berkaca-kaca dan air matanya langsung meluruh membasahi pipinya. Rupanya Anja sudah menyadari keadaannya saat ini. Zian langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Tidak papa, kamu wanita kuat." Ucap Bu Mayang menguatkan.


"Maaf!" Lirihnya ditelinga suaminya.


"Tidak-tidak, ini bukan salah kamu sayang." Ucap Zian terdengar parau. Rupanya Zian juga ikut menangis.


"Maafkan aku." Ucapnya sekali lagi.


"Aku gak tau kalau aku hamil. Kalau aku tahu dari awal, aku pasti akan menjaganya."


"Sudah, tak apa. Mungkin memang belum rezeki kita."


"Yang sabar ya Nja." Riani ikut menangis melihat keadaan sahabatnya yang hancur karena kehilangan calon buah hatinya. Ia mencoba ikut menguatkannya.


"Makan dulu Nja, biar cepet pulih." Ucap Bu Mayang.


"Aku suapi ya." Tawar Zian seraya mengambil sekotak makanan yang tadi diberikan oleh perawat.


"Atau mau ini aja? gue bawa lontong soto tadi." Tawar Laras sambil menyodorkan makanan yang masih ada di dalam kantong kresek.


"Makasih Ras, ini aja. Yang itu nanti biar di makan mas Zian." Ucap Anja lemah.


"Ok, gue taruh di meja ya."


Tok... tok... tok...


Terdengar ketukan pintu kemudian muncullah Seno sendirian. Ia mendekat menghampiri Anja yang sedang di suapi oleh Zian.


"Bagaimana keadaan loe Nja?" Tanya Seno.


"Alhamdulillah sudah baikan mas." Jawab Anja lirih.


"Tau darimana loe?" Tanya Zian ke Seno.


"Riani tadi yang ngabari gue. Gue telpon loe dari tadi juga gak di angkat." Ya, memang Riani lah yang memberi tahu Seno kalau Anja di larikan ke rumah sakit saat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit tadi.


Hari sudah beranjak malam, Riani, Laras dan Bu Mayang memutuskan untuk pulang.


"Naik apa loe?" Tanya Anja lemah.


"Naik taksi lah, masak iya naik odong-odong." Canda Riani mencoba menghibur sahabatnya.


"Sen, tolong anterin mereka." Pinta Zian kepada Seno.


"Baiklah, mari Bu, Ras, Ri."


"Gue pamit sekalian kalau begitu. Cepet sembuh Nja." Sambungnya.


"Untung tadi gue bawa mobilnya pak Raffi." Batin Seno.


"Kami pulang dulu Nja, makan yang banyak biar cepet sembuh." Pamit Bu Mayang.


"Iya Bu, terimakasih."


*****


Sudah dua hari Anja di rawat di rumah sakit. Akhirnya hari ini ia diperbolehkan pulang. Saat sampai di rumah, Anja tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia memilih duduk di teras. Ia kembali menangis seraya meraba perutnya. Anja benar-benar menyesal karena tak menyadari kalau dirinya sedang hamil.


"Sayang sudah." Zian merengkuh istrinya seraya membimbingnya masuk ke dalam untuk beristirahat.


Anja meringkuk seperti bayi di atas tempat tidur. Sejak tadi air matanya tak berhenti mengalir. Zian mendekap istrinya dari belakang.


"Maafkan aku mas, aku salah."


"Sttttt! jangan seperti ini sayang. Aku sakit melihat mu seperti ini. Sudah ya, kita ikhlaskan saja. Mungkin memang belum saatnya kita diberikan kepercayaan." Zian mencoba menguatkan sang istri sekali lagi.


"Nanti aku bikinin lagi baby yang banyak." Ucap Zian mencoba menghibur suaminya.


"Apa sih mas." Anja memukul bahu suaminya pelan yang membuat Zian tergelak.


*****


Sudah seminggu ini Zian cuti menemani sang istri. Keadaan Anja juga sudah membaik. Akhirnya ia putuskan esok akan kembali bekerja.


"Sayang, aku besok masuk kerja ya. gak enak sama pak Raffi kalau terlalu lama cutinya."


"Iya gak papa mas."


" Kamu di rumah atau mau aku anterin ke warung aja biar gak kesepian."


"Aku juga bosan di rumah terus gak ngapa-ngapain. Aku ke warung aja ya."


"Baiklah, tapi jangan terlalu cape dan jangan lupa makan." Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.


*****


*****


*****


*****


*****


Semangat Nja πŸ’ͺ entar emak bantu bikinin bayi yang banyak 🀭


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚