Aruna Story

Aruna Story
Ucapan Dinara



Setelah selesai membersihkan pecahan dari vas bunga miliknya kini Dinara memilih untuk Segera menuju ke arah  dapur untuk membuatkan minuman bagi Nevan yang kini tengah membersihkan tubuhnya di kamar laki-laki tersebut.


 Dinara tahu jika kini laki-laki tersebut pasti sedang berada dalam keadaan tidak baik dan membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya. Dinara tak ingin sesuatu yang menenangkan bagi Nevan itu adalah minuman beralkohol jadilah kini ia ingin membuatkan minuman hangat untuk laki-laki tersebut.


Setelah selesai Membuatkan minuman untuk Nevan kini dengan segera Dinara menuju ke arah kamar Nevan untuk memberikan minuman yang sudah ia buat untuk laki-laki tersebut pada Neva dan kini masih berada di kamarnya


Setelah sampai di  depan kamar Nevan, Dinara kini  mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan sambil memanggil Nevan. Namun ia malah tidak mendapatkan jawaban dari orang di dalam sana Akhirnya kini dengan pelan Dinara membuka pintu kamar tersebut hingga ia mendapati Nevan yang kini tengah menangis di bawah ranjangnya.


Melihat hal tersebut langsung saja kini Dinara menghampiri laki-laki tersebut dan memeluk Nevan dengan begitu eratnya berusaha untuk menenangkan laki-laki tersebut. Ini adalah pertama kalinya bagi Dinara melihat Nevan dengan keadaan yang seperti ini. Nevan yang biasa ia kenal sebagai laki-laki yang begitu menakutkan dan begitu dingin kini malah menangis hanya karena seorang perempuan. Benar-benar di luar dugaan Dinara.


“Dinara Kenapa sesakit ini saat tahu jika gadis yang aku sukai ternyata memiliki laki-laki di sisinya? Bukankah seorang psikopat tidak bisa memiliki perasaan dan yang mereka tahu hanyalah rasa sakit dan sebuah kenikmatan saat melihat orang lain sakit? Lalu Mengapa aku malah memiliki perasaan yang begitu dalam pada Aruna?”  Nevan pada Dinara yang kini masih memeluk nelpon dengan begitu eratnya.


Sedangkan Dinara yang mendengar pertanyaan tersebut kini hanya diam karena ia pun tak tahu harus menjawab seperti apa. Dinara kini malah berpikir bagaimana bisa Nevan mencintai gadis yang baru ia temui dengan begitu tulusnya sedangkan Ia yang sudah lama bersama dengan Devan tidak bisa nelpon lihat sedikitpun perasaannya.


“Nevan kamu harus bisa untuk tetap bertahan dan bangkit dari rasa sakit ini aku tahu pasti sulit buat kamu untuk ikhlas tapi mau tidak mau kamu harus berusaha untuk mengikhlaskan dia karena dia memang bukan untuk kamu dan dia sudah menjadi milik orang lain,”  ucap Dinara sambil mengelus punggung Nevan yang kini berada di dalam pelukannya namun tangis Nevan bukannya merendah melainkan semakin deras. perasaannya kini benar-benar terluka dan ia benar-benar begitu hancur saat ini.


Setelahnya tak ada lagi percakapan di antara mereka kini mereka saling terdiam Dinara yang hanya bisa untuk menenangkan Nevan sambil mengelus Bunda laki-laki tersebut Sedangkan Nevan kini hanya bisa melampiaskan amarahnya dengan sebuah tangis. Entah kenapa kini ia tidak ingin untuk menyakiti Dinara. Biasanya di saat ia setengah marah ia akan melampiaskan kekesalannya pada gadis yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun tersebut. Namun untuk kali ini ia malah tidak ingin untuk menyakiti Dinara dan lebih memilih untuk melampiaskan sakit hatinya dengan tangis. Apakah psikopat bisa setulus ini?


Dinara terus memeluk Nevan dan menenangkan laki-laki tersebut hingga ia benar-benar tenang dan kini Nevan malah tertidur dalam pelukan Dinara yang begitu nyaman. Dengan kesusahan kini Dinara membantu Nevan untuk naik ke atas ranjangnya karena tidak ingin melihat Nevan kesakitan harus  tidur dengan cara duduk.


“Kamu tahu melihat keadaan kamu seperti ini aku juga terluka Nevan,  aku lebih memilih untuk melihat kamu bahagia dan mengikhlaskan kamu bersama dengan gadis yang kamu cintai daripada melihat kamu terluka seperti ini,”  ungkap Dinara sambil mengelus Puncak kepala Nevan dengan begitu lembutnya, jika Nevan bangun ia jelas tidak bisa mengatakan hal tersebut kini ia mengatakannya saat Nevan sudah terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya.


Setelah membantu Nevan untuk memakai selimutnya Dinara kini memutuskan untuk segera keluar dari kamar Nevan dan masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat juga. Melihat keadaan Nevan yang seperti ini ia jadi ikutan lelah juga karena ia pun juga harus menenangkan laki-laki tersebut.


***


Entah keberanian dari mana kini Dinara dengan langkah tegasnya berjalan ke arah fakultas kedokteran. Namun kali ini tujuannya untuk datang ke sana bukanlah untuk menemui Nevan melainkan untuk menemui Aruna, gadis yang membuat keadaan Nevan begitu hancur.


Dengan langkah tegasnya kini gadis tersebut menuju ke arah dimana fakultas kedokteran berada. Sedikitpun tak ada rasa takut pada  gadis tersebut saat ini ia akan menemui Aruna. Meskipun ia tahu bisa saja saat Nevan mengetahui apa yang di sini dilakukan olehnya maka laki-laki tersebut akan begitu marah.


Dinara sama sekali tidak peduli akan hal tersebut karena yang ia pedulikan saat ini adalah berbicara dengan Aruna dan memberi peringatan pada garis tersebut untuk tidak lagi dekat dengan Nevan jika hanya akan membuat Nevan terluka.


Ia memang mencintai Nevan namun ia tidak ingin melihat Nevan terluka. Dan tak lama di sinilah kini ia berada di  fakultas kedokteran. Meskipun ia tidak tahu Taruna kini tengah berada di mana namun Dinara tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus mencari Aruna.


“Aruna,”  Panggil Dinara saat ini gadis tersebut sudah berada di depan Aruna yang tengah bersama dengan Adina Kedua gadis tersebut kini tampak menaikkan sebelah alisnya dengan tetapan umumnya melihat gadis yang berada di depannya kini tampak melihat Aruna dengan kekesalannya padahal sebelumnya Aruna tidak pernah bertemu ataupun berinteraksi dengan gadis tersebut.


“Bisa kita bicara sebentar?”  tanya gadis tersebut dengan tatapan tegasnya. Aruna yang telah kebingungan kini sontak melihat ke arah sahabatnya sambil menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya apakah ia harus menyetujuinya?


Adina kini hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat pada sahabatnya tersebut untuk mengikuti saja apa yang diinginkan oleh gadis di depannya itu.


“Gue tunggu di sini,”  ucap Adina pada Aruna yang kini menganggukkan kepalanya


Setelahnya kini Aruna segera pergi dari sana mengikuti Dinara yang berjalan lebih dulu darinya. Mereka kini  berjalan menuju ke daerah yang sepi di koridor dekat perpustakaan yang memang jarang dilalui oleh mahasiswa lainnya.


“Ada apa ya?” tanya Aruna dengan tatapan penasarannya pada Dinara yang kini hanya menatapnya dengan tatapan datarnya. Padahal ialah yang mengajak Aruna untuk berbicara namun kini gadis tersebut mengabulkan membuat Aruna semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh gadis itu banyak itu.


“ Sebelumnya kenalin gue Dinara sahabatnya Nevan, gue cuma mau bicara sama lo tentang Nevan,” ucap Dinara dengan tatapannya yang begitu tegas menatap Aruna yang kini malah menaikkan sebelah alisnya, karena ia merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Nevan. Jelas aja Ia tak mengetahui bagaimana hancurnya Nevan saat tahu jika Aruna ternyata sudah memiliki tunangan.


Karena Aruna hanya berpikir selama ini Nevan murni membantunya sebagai seorang kenalan saja juga sebagai seorang senior bukan sebagai laki-laki yang mencintai perempuan.


“Sorry tapi aku sama Nevan nggak ada hubungan apapun dan kita nggak Sedekat Itu kok,”  jelas Aruna dengan tatapan seriusnya meyakinkan gadis di depannya itu jika ia memang tidak memiliki hubungan yang serius dengan Nevan. Ia tak ingin jika gadis di depannya tersebut ternyata kini tengah cemburu dan tangan melabraknya ya tak ingin berada dalam masalah.


Dari tatapan gadis tersebut pun nya Aruna sudah mengetahui jika Dinara sebenarnya menyukai Nevan buktinya kini ia terus menetap Aruna dengan tatapan menilainya namun menyembunyikannya dengan sangat baik dan tetap tampan tajamnya.


“Bagus kalau lu emang nggak sedekat itu sama Nevan. Gue harap kedepannya lo juga menjauh dari Nevan. Jangan deketin dia, kalau tujuan lo cuman menyakiti dia dan gue peringatin sama lo untuk siapapun cowok yang deket sama lo. Lo harusnya kasih tahu dia di awal kalau lo udah punya tunangan bukannya jadi sok polos dengan tetap diam dan bukan membiarkan laki-laki lain buat deket sama lo tanpa tahu Status Lu sebenarnya.” Dinara kini memperingati  Aruna dengan begitu tegasnya.


Aruna yang mendengar peringatan dari Dinara terdengar begitu menusuk dan sarkas baginya, mengingatkannya jika selama ini ia bukan pada Nevan tentang hubungannya dengan Alister.


“Lo tuh bukan polos tapi bego, lo lagi mamerin ke cantikan lo dan berusaha memikat banyak cowok biar lo bisa deket semua cowok dengan kecantikan? Lo bungkam tentang hubungan lo biar mereka gak pergi? Cara lo itu murahan. Gue harap setelah ini lo bisa untuk lebih memperbaiki tentang sikap lo itu,” tegas Dinara yang setelah nya segera pergi dari sana. Aruna yang mendengar ucapan Dinara kini hanya diam, dan bungkam.


Kini rasanya ia seperti terkena tembakan yang menyasar karena ia dikatakan dengan ucapan yang begitu tajam nya, namun sebenarnya yang terjadi bukan lah hal seperti itu.


***