Aruna Story

Aruna Story
Apa Kakak Malu?



Aruna kini tengah berdiri di depan rumah nya, ia baru saja selesai home schooling. Guru nya pun sudah pulang setengah jam lalu. Kini ia tengah menunggu Alister untuk pulang, Aruna hanya tak sabar untuk menunggu Alister menyampaikan kabar bahagia untuk nya.


Yang Aruna tahu hari ini Alister tengah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS dan haru ini lah pemilihan OSIS. Aruna begitu yakin jika laki-laki tersebut akan memenangkannya dan mendapatkan posisi tersebut, sesuai dengan keinginannya.


“Kok ada di sini Sayang?” tanya Casia yang kini menghampiri Aruna. Aruna tersenyum ke arah Casia yang kini tampak menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Aku tunggu kak Alister Bun,” ucap Aruna yang membuat Casia terkekeh lalu mengelus puncak kepala gadis tersebut dengan sayang.


“Bunda ambil minuman sama makanan ringan ya, kita tunggu sama-sama,” ucap Casia yang Aruna balas dengan anggukan. Setelah nya Casia dengan segera menuju ke arah dapur untuk mengambil minuman dan makanan ringan untuk mereka.


Aruna kini masih setia menunggu Alister yang belum juga datang. Tak lama Casia datang dengan makanan dan minumannya lalu meletakkan di meja yang berada di sana. Aruna tersenyum berterima kasih pada wanita yang kini menjadi Ibu nya tersebut.


“Bunda seneng tau ngeliat kamu dan Alister yang sekarang semakin deket. Bahkan gak bisa dipisahin,” ucap Casia dengan senyumannya sambil mengelus tangan Aruna yang kini berada di atas pegangan kursi roda nya. Aruna yang mendengar hal tersebut ikut tersenyum. Ia pun merasa demikian, ia merasa begitu senang dengan kedekatannya dengan Alister sekarang. Laki-laki tersebut adalah laki-laki yang begitu baik.


Apalagi selama ini Alister banyak mengorbankan waktu mainnya hanya untuk Aruna. Untuk menemani Aruna terapi. Dan mereka pun juga harus pindah demi Aruna.


“Aruna juga seneng Bun. Aruna bahagia dipertemukan dengan orang baik seperti Bunda, Papa, dan Kak Alister,” tutur Aruna dengan senyuman lebar nya. Casia menganggukkan kepalanya sambil mengelus tangan anak sahabat nya yang kini sudah menjadi anaknya tersebut dengan sayang.


“Makasih ya Bun. Udah mau bantu Aruna dan nemenin Aruna sejauh ini,” ucap Aruna dengan begitu tulus nya. Casia kini menatap Aruna dengan begitu sedih mendengar ucapan Aruna yang menurut nya begitu menyentuh namun ia tak suka mendengar nya karena menurut nya Aruna adalah anaknya dan orang tua jelas akan melakukan apapun untuk anak nya.


“Jangan berbicara seperti itu. Bunda sedih denger nya. Aruna sekarang kan anak Bunda, apapun yang terjadi pada Aruna tentu saja akan Bunda dampingi selalu,” jelas Casia. Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Makasih Bunda,” ucap Aruna yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh Casia.


“Nah itu dia yang ditunggu akhirnya dateng juga.” Casia yang pertama kali melihat kedatangan Alister dengan motor nya kini  datang. Laki-laki tersebut menghentikan motornya di garasi rumah nya lalu berjalan ke arah Aruna dengan membawa kue juga bunga.


Aruna yang melihat hal tersebut menaikkan sebelah alisnya.


“Buat si cantik,” ucap Alister sambil memberikan buket bunga juga cake yang dibawanya. Aruna yang mendengar ucapan Alister kini hanya terkekeh lalu mengambil apa yang diberikan oleh Alistes.


“Apa ini?” tanya Aruna dengan kebingungannya.


“Ulang tahun kamu kemarin kan?” tanya Alister. Aruna menganggukkan kepalanya.


“Telat dong,” ucap Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya.


“Sengaja telat biar jadi orang terakhir yang ngucapin. Yang terakhir itu yang paling bermakna loh. Bakalan diingat terus,” ucap Alister dengan alibi nya yang membuat Aruna tertawa mendengar nya.


“Makasih kak,” ucap Aruna dengan senyumannya. Ia tak menyangka Alister mengingat nya. Ia pikir laki-laki tersebut akan melupakannya.


“Ayo masuk,” ajak Alister lalu mendorong kursi roda Aruna. Aruna kini tersenyum dengan senang sambil melihat apa yang diberikan oleh Alister dengan begitu bahagia.


“Oh iya kak. Pe….pemilihan ketua OSIS nya gimana?” tanya Aruna sambil mendongak untuk melihat ke arah Alister.


“Menurut kamu gimana?” tanya Alister dengan senyuman bahagianya.


“Aku percaya kakak bisa,” tegas Aruna penuh percaya dirinya. Alister menganggukkan kepalanya. Sedangkan Aruna yang mendengar nya kini sudah membelalakkan matanya, meskipun ia yakin jika Alister akan mendapatkan apa yang ia inginkan namun tetap saja rasanya tak percaya.


Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Aruna ikut bahagia denger nya,” ucap Aruna merasa senang.


“Oh iya Bun, untuk merayakan ini. Nanti malam temen Alister bakalan dateng katanya mau makan-makan,” ucap Alister. Casia yang mendengar nya kini tampak bersemangat. Karena semenjak mereka pindah, Alister belum pernah mengajak teman-temannya untuk datang ke rumah mereka. Jadi orang tuanya tak tahu siapa teman Alister saat ini.


“Wah bagus tuh. Biar Bunda masakin banyak makanan untuk kalian,” ucap Casia yang kini tampak begitu bersemangat.


“Gak perlu banyak-banyak Bun. Teman Alister yang dateng cuma tiga. Mereka temen dekat Alister selama disini,” jelas Alister.


“Kalau gitu Bunda bikin cemilan juga untuk kalian,” ucap Casia yang tampak begitu bersemangat bahkan setelah nya ia segera pergi menuju ke arah dapur. Aruna dan Alister yang melihat nya hanya menggelengkan kepalanya.


“Bunda semangat banget,” ucap Aruna dengan tawanya yang membuat Alister mengangguk sambil tertawa kecil.


“Kakak anter ke kamar kamu ya?” tanpa menunggu persetujuan dari Aruna, kini Alister dengan segera membawa menuju ke arah lift untuk menuju ke arah lantai tiga, di mana kamar Aruna berada.


Karena Aruna yang masih belum bisa berjalan akhirnya mereka membuat rumah mereka memiliki lift untuk membantu Aruna.


“Kak denger gak, bicara ku sekarang udah hampir lancar,” ucap Aruna tiba-tiba saat mereka kini tengah berada di lift.


“Hm kakak denger. Kakak seneng denger nya. Kamu harus bisa sembuh dengan baik. Setidak nya sebelum kakak purna nanti, kamu masih bisa melihat kakak menjabat sebagai ketua OSIS,” ucap Alister pada Aruna. Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alister.


“Akan Aruna usahakan.” Aruna kini tersebut sambil mengelus tangan Alister yang kini berada di bahu nya.


“Kamu harus semangat hm. Kakak akan selalu ada untuk kamu,” ucap Alister dengan ketegasannya.


“A…runa tau,” ucap Aruna yang membuat Alister mengacak rambut gadis tersebut sayang.


“Nanti kalau ada temen kakak, kakak akan kenalin,” ucap Alister. Aruna yang mendengar nya kini sontak menoleh ke arah Alister dengan tatapan penuh tanya nya.


“Gak papa? Kakak gak malu?” tanya Aruna dengan tatapan penuh tanya.


Kini mereka sudah keluar dari lift dan berjalan menuju ke arah kamar Aruna. Alister yang mendengar ucapan Aruna kini tampak tak suka.


“Kakak gak suka ya sama pertanyaan kamu. Kamu gak perlu nanya kayak gitu. Karena kakak gak akan malu dengan keadaan kamu. Ngerti?” tanya Alister dengan begitu tegas nya yang membuat Aruna merasa bersalah.


“Maaf,” ucap Aruna. Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Istirahat sekarang ya,” ucap Alister lalu membantu Aruna masuk ke kamar nya.


Setelah nya ia segera menutup pintu lalu menuju ke arah kamar nya sendiri yang berada di sebelah kamar Aruna.


***