
“Wah gila.” Adina rasanya kini masih tak menyangka jika ternyata teman baru nya itu memiliki hubungan dengan para laki-laki yang begitu terkenal di kampus mereka. Aruna yang mendengar nya hanya tersebut.
“Nanti lain kali aku kenalin,” ucap Aruna yang dibalas dengan anggukan semangat oleh Adina. Memangnya siapa yang tak ingin untuk berkenalan dengan kedua laki-laki tersebut? Hanya sekedar kenal pun tak masalah.
Lama mereka saling berbincang kini di depan mereka berhenti sebuah mobil berwarna hitam. Dan tak lama kini sang pengemudi keluar, seorang laki-laki dengan wajah datar nya yang sama sekali tidak mengurangi wajah tampan nya. Malah membuatnya semakin terlihat keren.
Aruna yang melihat laki-laki yang tak lain adalah Alister, dengan segera berdiri.
“Kamu pulang sama siapa? Mau bareng aja gak?” tawar Aruna yang segera dijawab dengan gelengan oleh Adina.
“Gak usah Run, gue nanti juga dijemput sopir kok,” tolak Adina yang dibalas dengan anggukan oleh Aruna.
“Kalau gitu aku duluan ya,” pamit Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh Adina.
Aruna kini dengan segera masuk ke dalam mobilnya dengan bantuan Alister yang selalu saja memperlakukannya bak ratu. Menjadi orang yang dicintai oleh Alister memang begitu beruntung karena Alister memperlakukannya dengan baik. Dan selalu setia pada Aruna.
“Gimana tadi? Apa perut nya masih sakit? Apa ada yang ganggu kamu? Ada yang buat kamu kesel?” tanya Alister yang kini sudah memberondong Aruna dengan berbagai pertanyaan. Aruna yang mendengar nya kini hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar nya.
“Gak ada Kakak, gak ada yang bikin Aruna kesel. Sejauh ini masih baik semoga aja selalu baik. Dan perut Aruna udah gak sakit lagi,” jelas Aruna dengan senyuman menenangkannya pada Alister yang kini menganggukkan kepala nya mendengar ucapan Aruna.
Jika ada yang membuat gadisnya itu kesal tentu saja Alister tak akan diam saja. Menjaga Aruna dan memastikan gadisnya itu tak merasa sedih adalah tugas nya saat ini.
“Mau langsung pulang atau mau kemana dulu?” tanya Alister yang kini tampak membuat Aruna kini berpikir sejenak.
“Pengen belanja dulu di minimarket,” ucap Aruna yang kini Alister balas dengan anggukan.
“Ok, setelah itu Kakak harus balik lagi ke kampus,” ucap Alister yang membuat Aruna kini sontak melihat ke arah Alister dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Mau ngapain Kak?” tanya Aruna dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Banyak yang harus Kakak urus,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menghembuskan nafas nya kasar. Memiliki tunangan presiden mahasiswa memang begitu merepotkan bagi Aruna. Meskipun Alister selalu menyempatkan waktunya untuk selalu bertemu dengan Aruna. Namun tetap saja, Aruna kadang merasa kesal karena nya.
“Setelah masa jabatan Kakak habis, Kakak mau ikut organisasi apa?” tanya Aruna yang kini melihat ke arah Alister.
“Gak ikut apa-apa, Kakak mau ikut ekskul aja biar waktu kita lebih banyak. Karena kamu sekarang juga udah masuk kuliah, kalau Kakak masih ikut organisasi dan sibuk. Kita makin jarang ketemu,” ucap Alister dengan begitu pengertiannya. Aruna yang mendengar nya kini tersenyum senang karena Alister yang begitu baik mengerti dirinya.
“Kakak mau jadi mahasiswa kupu-kupu?” tanya Aruna namun kini Alister menjawab nya dengan gelengan.
“Kakak mau ikut ekskul aja. Palingan juga ikut basket atau sepak bola,” jelas Alister yang kini Aruna blas dengan anggukan nya.
“Kamu mau ikut ekskul?” tanya Alister yang kini Aruna balas dengan gelengannya.
“Aruna mau jadi mahasiswa kupu-kupu aja,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini terkekeh mendengar nya lalu mengelus puncak kepala Aruna dengan sayang. Merasa gemas dengan gadisnya itu.
“Kalau kamu memang mau ikut organisasi ya ikut aja, Kakak gak papa,” ucap Alister. Ia hanya tak ingin jika Aruna sampai mengorbankan keinginannya hanya untuk Alister. Namun Aruna kini menggelengkan kepalanya.
“Gak niat ikut juga kok Kak,” jelas Aruna.
“Bener?” tanya Alister memastikan, Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Iya Kak,” ucap Aruna yang akhirnya membuat Alister kini menganggukkan kepalanya.
Tak lama kini akhirnya sampai di sebuah minimarket yang tak jauh dari kompleks perumahan mereka. Mereka kini keluar bersama. Alister mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Aruna memasuki minimarket tersebut.
Kini mereka berjalan bersama memasuki minimarket tersebut dengan tangan yang kini saling bergandengan.
“Mau beli apa hm?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. Aruna kini tampak berpikir sejenak.
“Mau coklat, makanan ringan juga,” ucap Aruna. Alister kini segera membawanya menuju ke arah rak makanan ringan. Aruna kini mengambil banyak sekali makanan ringan juga coklat untuk nya mengembalikan mood.
“Ada lagi?” tawar Alister yang kini Aruna balas dengan gelengan. Setelah nya kini Alister dengan segera mengajak Aruna menuju ke arah kasir untuk membayar belanjaan mereka.
“Nanti Kakak pulang jam berapa?” tanya Aruna sambil menatap Alister dengan tatapan penuh tanya nya.
“Mungkin agak malem,” jawab Alister yang Aruna balas dengan angukan.
Setelah selesai dengan belanjaan mereka kpini dengan segera mereka menuju ke arah mobil mereka. Selama di perjalanan kini Aruna banyak menceritakan tentang bagaimana OSPEK nya tadi juga tentang teman baru nya yang malah menceritakan tentang sikap buruk Alister.
“Mangkanya Kakak tuh jangan terlalu dingin,” ucap Aruna yang kali ini memperingati tunangannya itu. Alister yang mendengar nya kini terkekeh sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Kalau kakak berubah jadi laki-laki lembut, humble, dan semua yang kamu katakan tadi. Nanti kamu yang malah gak suka dan cemburu sama Kakak. Karena Kakak bisa aja deket sama banyak perempuan dan disukai lebih banyak perempuan,” ucap Alister. Aruna yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya lalu menganggukkan kepalanya membetulkan ucapan Alister yang ada benar nya juga.
“Oh iya ya, kalau gitu jangan berubah,” peringat Aruna pada Alister yang kali ini tertawa mendengar ucapan Aruna.
“Dasar plin plan,” ucap Alister sambil mengacak rambut tunangannya itu sayang.
“Bukan plin plan Kak. Cuma gak mau ambil resiko aja,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini tertawa mendengar nya sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
“Dengan sikap Kakak ini. Kamu banyak diuntungkan kok. Udah kamu tenang aja,” ucap Alister yang kini Aruna balas dengan anggukan dan senyumannya.
Setelah nya masih banyak lagi yang kali ini mereka ceritakan. Hingga akhirnya tak lama mereka sampai di rumah mereka. Alister bahkan tak sampai masuk mengantar Aruna. Ia harus segera pergi karena ia memiliki banyak hal yang harus ia kerjakan.
***