
Malam minggu memang malam nya bagi para muda mudi untuk menghabiskan waktu mereka bersama dengan sahabat atau kekasih mereka. Seperti malam ini. Alister dan Aruna menghabiskan malam minggu mereka di sebuah tempat yang memang selalu ramai saat malam minggu seperti ini.
Aruna dengan skateboard yang kini di bawa nya berjalan bersama dengan Alister dengan bergandengan tangan. Meskipun kini Aruna menggunakan skateboard nya namun gadis tersebut begitu pintar menyeimbangkan langkah nya dengan Alister.
“Kak, Aruna pengen jagung bakar deh,” ucap Aruna yang tiba-tiba saja menginginkan jagung bakar.
“Tiba-tiba banget?” tanya Alister yang Aruna balas dengan gelengen.
“Udah beberapa hari yang lalu sih,” ucap Aruna yang membuat Alister kini tersenyum sambil menggeleng mendengar nya.
“Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna yang membuat Aruna kini hanya mengerucutkan bibirnya lucu.
“Udah gak ketahan yang sekarang kak. Mumpung ada di luar juga sih sekalian,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini tertawa kecik mendengar nya. Lalu ia segera mengajak Aruna untuk menuju ke arah mobil mereka. Mencari tempat orang berjualan jagung bakar sesuai dengan keinginan Aruna.
Selama mereka berjalan, kini banyak yang menatap mereka dengan tatapan penuh kagum nya. Alister yang tampan dan Aruna yang cantik, tentu saja visual mereka menarik perhatian bagi orang yang melihat nya.
“Aruna juga pengen sate lontong di tempat waktu itu kita pernah beli,” ucap Aruna yang kini menatap Alister dengan tatapan memohonnya.
“Mau apa lagi?” tanya Alister yang kini tampak membuat Aruna berpikir sejenak.
“Mau martabak juga,” ucap Aruna.
“Apalagi?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. Senyumannya kini mengembang melihat Aruna yang tampak memikirkan pertanyaannya itu dengan begitu serius. Jika sudah urusan makanan, sudah tak dapat Alister ragukan lagi tunangannya itu memiliki porsi makan yang cukup banyak.
“Mau sosis bakar juga,” ucap Aruna lagi mulai menyebutkan apa yang kini diinginkannya.
“Emang yakin bisa ngabisin semua nya?” tanya Alister yang kini menatap Aruna dengan senyuman menggoda nya. Aruna yang mendengar pertanyaan dari Alister kini mengerucutkan bibirnya lucu.
“Bisa lah,” ucap Aruna dengan percaya diri nya.
“Ok, kita beli semua yang kamu mau. Tapi kalau gak habis kamu kakak hukum gak jajan malam selama empat hari,” ucap Alister yang membuat Aruna kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Alister.
“Gimana bisa gitu? Gak boleh gitu dong kak,” ucap Aruna sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
“Kan makanannya ada empat,” ucap Alister yang membuat Aruna kini berdecak mendengar nya. Aruna kini tampak berpikir sejenak sampai akhirnya ia menyetujui perjanjian yang Alister buat.
Saat sampai di mobil mereka. Aruna segera turun dari skateboard nya dan memberikannya pada Alister agar laki-laki tersebut meletakkannya di bagasi mobil mereka. Setelah nya. Alister kini membantu Aruna untuk masuk ke dalam mobil nya.
Namun baru saja Alister akan menutup pintu mobilnya. Ponsel nya kini berdering. Nama orang yang menelponnya kini membuat Alister menegang. Laki-laki tersebut menjauh dari Aruna agar Aruna tak mendengar nya.
Aruna yang melihat Alister menjauh darinya saat menerima telepon mengerutkan kening nya bingung. Namun akhirnya ia hanya mengedikkan bahu nya merasa jika telepon tersebut hanya lah dari temen Alister.
Alister kini menjauh dari Aruna. Setelah dirasa aman, barulah ia menjawab telepon tersebut.
“Kenapa?” tanya Alister langsung pada orang di seberang telepon.
“Gue udah dapet sedikit petunjuk Bang. Gue pastiin semua akan jelas besok,” ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah orang suruhan Alister. Orang yang Alister diminta untuk menyelidiki tentang Jacob dan apa yang sudah ia lakukan pada Aruna.
“OK. Besok kabarin aja gue lagi, atau kita ketemuan aja. Nanti gue kasih tau tempat nya,” ucap Alister dengan begitu tegas nya lalu setelah nya ia segera mematikan sambungan teleponnya dan berjalan kembali ke arah Aruna yang kini sudah menunggu nya.
Karena tak ingin membuat Aruna menunggu nya lebih lama lagi. Saat Alister kembali. Aruna sama sekali tak menanyakan apapun pada Alister karena ia terlalu percaya pada laki-laki tersebut. Hingga Aruna tak tahu jika Alister sebenar nya kini tengah menyelidiki nya dengan diam-diam.
***
Aruna dan Casia kini tengah menyiram bunga di taman depan rumah mereka. Casia kini sering mengajak Aruna menanam tanaman ataupun kemana ia pergi jika Aruna hanya sendirian di rumah. Casia benar-benar tak pernah meninggalkan Aruna sendiri di rumah.
Alister kini baru saja turun dari kamar nya. Kini laki-laki tersebut sudah menggunakan pakaian olah raga nya seperti biasanya saat ia akan bermain futsal. Alister memang sangat menyukai futsal.
“Bunda, Aruna. Alister pergi dulu, kalian yang akur di rumah,” pesan Alister sedikit berteriak saat ia berkata pada Aruna dan Ibu nya. Aruna dan Casia kini hanya menggelengkan kepalanya melihat Alister.
“Bukannya malah nyamperin, malah teriak-teriak,” protes Casia pada anaknya itu yang kini hanya membuat Aruna tertawa dengan ringan mendengar ucapan Casia yang tengah protes.
“Emang susah di kasih tau Bun. Padahal Aruna sudah sering bilang buat gak teriak-teriak,” adu Aruna yang kini hanya membuat Casia menggeleng dengan tingkah anaknya itu.
“Kenapa nak?” tanya Casia dengan tatapan bingung dan penuh tanya nya.
“Ponsel nya kak Al lupa Bun,” ucap Aruna sambil menunjukkan ponsel Alister yang kini ia bawa. Casia yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya. Alister dan Aruna, mereka begitu pelupa namun suka sekali bertukar ponsel.
“Yah terus gimana nih Bun?” tanya Aruna dengan tatapan bingung nya [ada Casia.
“Biarin aja. Dia bawa ponsel kamu kan?” tanya Casia. Karena biasanya mereka suka bertukar ponsel sekedar memainkannya. Mereka memang saling mempercayai satu sama lain. Dan memainkan ponsel masing-masing hanya untuk melihat sosmed saja atau bermain game.
“Iya sih, dia bawa ponsel Aruna,” ucap Aruna dengan senyumannya lalu ia mulai kembali dengan bunga di depannya itu.
Hingga tak lama suara dering dari ponsel Alister kini membuat Aruna segera mengeceknya takut jika pesan tersebut penting.
Namun saat Aruna membaca pesannya. Kini mata nya memanas dan tangannya mengepal dengan begitu erat nya.
“Ma. Kayaknya Aruna harus nyusul Kak Al deh, ini ada pesan penting soal nya,” ucap Aruna pada Ibu nya yang kini membuat Casia mengerutkan kening nya bingung.
“Kenapa gak kamu terusin aja ke Alister?” tanya Casia pada Aruna yang kini menggelengkan kepalanya.
“Sekalian ada barang yang Kak Al lupain Bun,” ucap Aruna yang membuat Casia kini menggelengkan kepalanya.
“Dasar pelupa,” ucap Casia sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya udah, kamu siap-siap dulu. Nanti Bunda kasih tau supir,” ucap Casia. Aruna menjawab nya dengan anggukan. Lalu setelah nya ia segera pergi dari sana.
***
Alister baru saja keluar dari mobilnya saat kini ada yang menghentikan langkah nya. Alister yang melihat orang di depannya kini menatapnya dengan tatapan tajam nya.
“Kapan lo dateng?” tanya Alister pada orang di depannya itu yang kini mengikuti langkah kaki Alister.
“Baru lima menit yang lalu,” ucap laki-laki tersebut yang kini Alister balas dengan anggukan.
“Kita bicara di sana,” ucap Alister menunjuk samping gedung yang kini begitu kosong. Orang suruhannya itu hanya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Alister.
Hingga saat kini mereka sampai di gedung samping. Alister manatap laki-laki tersebut dengan tatapan serius nya. Menunggu Info yang ingin disampaikan oleh laki-laki di depannya itu.
“Apa yang lo dapet?” tanya Alister dengan tatapan penuh tanya nya. Laki-laki tersebut mengeluarkan ponsel nya dan menunjukkan rekaman yang di dapat nya.
“Bukannya CCTV di depan itu mati?” tanya Alister. Karena yang Alister tahu entah apa yang terjadi tapi CCTV yang berada di depan kamar hotel dimana Aruna disekap malah mati.
“Bener, dan ini gue dapat rekamannya dari orang yang berada di ruangan seberang. Dia gak sengaja videoin kegiatan dia gitu dan malah nangkep video ini,” ucap orang suruhan Alister yang kini membuat Alister menganggukkan kepalanya mendengar nya.
Alister mengambil alih ponsel tersebut menonton Video yang berada di dalamnya. Hingga bisa ia lihat bagaimana saat itu Aruna berusaha kabur dan melawan. Dan tatapannya kini membola saat melihat Jacob yang menindih Aruna dan akan mencium Aruna. Namun Aruna malah pingsan, Jacob pun menjauh dari Aruna.
Laki-laki tersebut berjalan menuju ke arah tempat lain dan terlihat ia mengambil ponselnya. Tak lama seorang pelayan hotel perempuan datang. Jacob terlihat berbincang dengannya. Lalu setelah nya ia segera masuk ke kamar mandi, sedangkan pelayan tersebut kini malah membuka pakaian Aruna dan tak lama menyelimutinya.
“Jadi Jacob gak pernah nyentuh Aruna?” tanya Alister dengan tatapan tak percaya nya.
“Terus kenapa dia hanya diam selama ini? Padahal dia bisa membela diri dan hukumannya dikurangi,” ucap Alister dengan bingung memikirkan tentang Jacob dan Aruna.
“Gue gak tau tentang itu. Tapi info kalau dia gay mungkin benar, karena dia hidup di lingkungan seperti itu. Ayah dan Ibu nya bercerai karena ayah nya ketahuan Gay. Ibu nya kabur dan dia hidup dengan ayah nya,” ucap orang suruhan Alister tersebut yang membuat Alister kini membelalakkan matanya mendengar hal tersebut.
“Tentang dia yang Cuma diem dan gak mau mengungkapkan semua nya. Itu masih jadi tanda tanya buat gue,” ucap nya yang membuat Alister kini menganggukkan kepalanya.
“Tentang itu gak perlu lo selidiki lagi. Biarin Jacob ,mendekam di sana,” tegas Alister yang kini dijawab dengan anggukan oleh orang suruhannya.
“Aku kira kamu bener-bener percaya sama aku,” ucapan tersebut kini mengagetkan Alister. Bahkan Alister yang semula menyandar di dinding kini langsung menegakkan tubuh nya.
***