Aruna Story

Aruna Story
Malam Indah



“Alister,” panggilan tersebut membuat Alister yang kini baru saja menuruni tangga sontak menoleh ke arah Ibu nya yang memanggilnya dengan tatapan penuh tanya nya.


“Kenapa Bun?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. Menatap Ibu nya tersebut dengan tatapan bingung nya.


“Sini deh. Bunda mau nunjukin foto bagus,” ucap Casia dengan begitu hebat nya memanggil anaknya tersebut.


Alister yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya lalu berjalan menuju ke arah Ibu nya dengan tatapan bingung nya. Ibu nya kini tengah berada di ruang tamu bersama dengan Ayah nya sambil menonton televisi.


“Liat deh, bagus kan?” tanya Casia dengan senyumannya. Alister yang melihat foto tersebut membelalakkan matanya. Foto yang menampilkan Alister dan Aruna yang tidur dengan saling berpelukan di dalam mobil. Sepertinya foto tersebut diambil saat mereka ke makam orang tua Aruna beberapa waktu lalu.


“Bunda iseng banget sih. Hapus Bun, suka ngaco deh,” kesal Alister dan sudah akan menghapus foto tersebut namun Casia dengan segera mengambilnya.


“Enak aja hapus. Bunda susah nih dapetin angel yang bagus. Lagian ini bagus tau, serasi banget,” goda Casia yang kini berhasil membuat Alister malu mendengar nya. Bahkan kini wajahnya sudah memerah. Casia yang melihat reaksi anaknya itu tersenyum dengan senang. Ia bisa melihat cinta yang ada di mata anaknya itu untuk Aruna.


“Bunda sama Papa gak masalah loh kalau kamu suka sama Aruna. Malah kita dukung kalian sampai menikah, kalau bukan Aruna menantu Bunda, Bunda kayaknya bakalan kecewa deh,” ucap Casia dengan wajah sendu nya. Alister yang mendengar hal tersebut hanya memutar bola matanya malas lalu segera pergi dari sana.


“Gak usah mikir terlalu jauh Bun,” kesal Alister lalu segera pergi dari sana. Casia yang melihat hal tersebut hanya bersungut kesal. Bagas yang melihat nya hanya menggelengkan kepalanya.


“Bunda jangan iseng deh. Biarin aja mereka menentukan pilihan mereka sendiri. Meskipun Aruna gak jadi menentu Bunda, Aruna tetep anak Bunda,” peringat Bagas pada Istrinya tersebut yang kini hanya memberengut mendengar nya.


“Iya tau, orang cuma pengen liat reaksi Alister aja. Liat deh anak Papa itu suka sama Aruna, Bunda liat Aruna juga suka sama Alister,” jelas Casia.


Bagas mengelus puncak kepala istrinya tersebut, “Udah biarin terserah mereka aja, nanti kalau bukan malah kecewa lagi.”


Perkatakan Bagas membuat Casia menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya patuh.


Di sisi lain kini Alister tengah memegangi pipinya yang masih terasa panas karena terlalu malu pada Ibu nya tersebut. Alister menghembuskan nafas nya kasar lalu segera mengambil minuman lalu pergi menuju ke arah kamar Aruna karena sedari tadi ia berada disana menamani Aruna.


Saat melewati kedua orang tuanya Alister seolah memilih tak melihat mereka dan tetap menuju ke arah lift untuk sampai ke kamar Aruna.


Dengan pelan Alister membuka kamar Aruna, namun Aruna dapat merasakan kedatangan Alister langsung mengalihkan perhatiannya dari televisi yang di tontonnya ke arah Alister.


“Lama banget Kak,” sungut Aruna yang membuat ALister terkekeh mendengar nya.


“Ngobrol bentar sama Bunda,” jelas Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


Alister berjalan ke arah Aruna yang kini berada di ranjang nya lalu ikut duduk di samping gadis tersebut. Alister membantu Aruna untuk duduk dan minum karena kini gadis tersebut tengah merebahkan tubuh nya.


Setelah nya kini Alister duduk di samping Aruna. Aruna menggeser tubuh nya dan meletakkan kepala di atas paha Alister yang membuat Alister terkejut namun ia membiarkannya saja. Senyumannya kini bahkan mengenbang dengan begitu sempurna nya.


Alister kini memainkan ponsel memainkan game di ponselnya sedangkan Aruna kini memilih menonton.


Setelah nya tak ada lagi perbincangan. Aruna yang fokus dengan tayangan di depannya sedangkan Alister fokus dengan game nya.


Tak lama suara ponsel Alister kini berbunyi menampilkan nomor baru di sana. Alister mengerutkan kening nya bingung. Namun tetap saja akhirnya ia menjawab panggilan tersebut tanpa berpindah dari tempat nya.


Aruna kini menaikkan sebelah alisnya menatap Alister dengan tatapan penuh tanya nya. Alister menunjukkan ponsel nya memperlihatkan nomor tak dikenal.


Alister menjawab nya dan menempelkannya telinga nya. Laki-laki tersebut hanya diam menunggu orang di seberang sana berbicara lebih dulu.


“Halo Al. Al gue abis kirim email buat proposal classmeet,” ucap orang di seberang sana yang masih bisa didengar oleh Aruna. Aruna yang mendengar nya menggeleng. Jika sudah begitu pasti Alister tak menyimpan nomor tersebut. Mendengar orang di seberang sana mengatakan tujuannya tanpa memperkenalkan diri lebih dulu


“Kebiasaan sih gak suka save nomor orang,” ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya.


Suara Aruna jelas terdengar oleh orang di seberang sana. Alister yang mendengar nya hanya tersenyum sambil berbisik kecil, “Lupa.”


Aruna hanya menggelengkan kepalanya.


“Ok Hana, nanti gue baca. Thank ya,” ucap Alister memecah keterkejutan Hana, sekretaris OSIS nya yang kini tengah terkejut mendengar suara seorang perempuan bersama dengan Alister.


“Eh iya Al,” ucap Hana. Setelah nya Alister segera menutup panggilannya.


“Udah mau classmeet? Emang ujiannya kapan kak?” tanya Alister dengan tatapan penuh tanya nya pada Alister.


“Masih tiga bulan lagi cuma mulai persiapain aja. Kalau udah mendekati ujian kita udah sibuk buat ujian,” jelas Alister yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mengerti mendengar ucapan Alister.


“Udah malem, sekarang waktu nya tidur,” ucap Alister lalu mengambil remote tv nya lalu mematikannya.


“Kak Alister, aku masih pengen nonton kak,” ucap Aruna dengan wajah nya yang kini sudah memberengut.


“No. Ini udah malem, sekarang waktu nya tidur,” tegas Alister. Alister kini segera meletakkan kepala Aruna di ranjang nya, menurunkannya dari paha nya. Lalu setelah nya ia menggendong Aruna dan membantu Aruna merebahkan tubuhnya di ranjang.


Setelah nya Alister memakaikan selimut Aruna lalu mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Have a nice dream girl,” ucap Alister dengan senyumannya lalu ia segera menghidupkan lampu tidur nya dan mematikan lampu utama nya. Aruna tak menyukai gelap, oleh karena itu masih ada lampu lain yang menyala tak begitu terang.


Alister kini segera menuju ke arah kamar nya yang berada di samping kamar Aruna. Kini ia memilih untuk memeriksa proposal yang dikirim oleh Hana. Kini setelah menemani Aruna ia memilih untuk mengerjakan tugas nya sendiri.


Kini ia sudah harus bisa membagi waktu nya antara sekolah, belajar, Aruna, juga kegiatan OSIS nya. Kini ia membagi waktunya bermain bersama dengan temannya dengan mengajak Aruna jadi ia bisa memiliki banyak waktu dengan gadis tersebut.


***