
Bahagia? Tentu. Setelah dua tahun lebih ia hidup dengan kursi roda dan menumpang hidup dengan punggung Alister kini akhirnya Aruna dinyatakan sembuh dan bisa berjalan kembali seperti sebelumnya.
Setelah berbulan-bulan ia menggunakan tongkat kini akhirnya Aruna bisa menggunakan Kaki nya dengan baik. Bahkan senyuman gadis tersebut terus saja merekah sedari ia bisa berjalan dengan baik. Meskipun begitu Aruna masih harus tetap melakukan kontrol. Jelas itu bukan lah masalah untuk Aruna yang sudah sering melakukan.
“Bahagia banget hm?” tanya Alister yang membuat Aruna kini menatapnya dengan tatapan menantang nya.
“Jelas seneng dong Kakek,” ucap Aruna dengan begitu bahagianya. Alister mengelus puncak kepala Aruna karena terlalu gemas pada gadis tersebut.
“Buat merayakannya gimana kalau kita adain syukuran?” tanya Casia yang kini berada di bagian belakang kemudi.
“Boleh Bun. Oma sama Opa pasti bakalan seneng denger nya,” ucap Aruna memikirkan Kakek dan nenek nya itu.
“Bunda tebak mereka akan langsung terbang ke sini kalau tahu sih,” ucap Casia yang membuat Aruna kini terkekeh mendengar nya.
“Nanti biar Aruna aja yang ngasih tau Oma sama Opa,” ucap Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh Casia.
“Nanti malam gimana kalau kita makan malam bersama?” tawar Casia lagi.
“Bunda banyak banget ya acaranya.” Alister kini hanya memutar bola matanya merasa jengah dengan Bunda nya itu.
“Bunda kan lagi seneng.” Casia mendengus dengan kesal.
“Gak papa Bun. Lakuin aja yang buat Bunda bahagia,” ucap Aruna yang kali ini ikut menimpali. Alister yang mendengar nya hanya berdecak.
Casia yang mendapatkan pembelaan dari Aruna kini tersenyum dengan menantang pada Alister. Laki-lak tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Hingga tak lama kini akhirnya mereka sampai di depan rumah Alister yang kini sudah banyak pelayan yang menyambut mereka dan membukakan pintu untuk mereka.
Alister dengan terburu-buru kini keluar dari mobilnya lalu membantu Aruna untuk berjalan menuju ke arah kamar gadis tersebut.
“Aruna udah bisa sendiri Kakek,” protes Aruna yang sama sekali tidak di pedulikan oleh Alister.
“Kamu tuh baru bisa jalan, gak perlu banyak protes,” tegas Alister yang membuat Aruna kini hanya berdecih mendengarnya. Namun akhirnya tetap saja ia membiarkan Alister melakukan apa yang laki-laki itu suka.
Mengantar Aruna menuju ke arah kamar nya.
“Tunggu di sini ya, Kakak ambil makanan dulu,” perintah Alister yang Aruna balas dengan anggukan.
Aruna kini memilih untuk memainkan ponselnya dengan sesekali ia menatap kaki nya yang kini sudah bisa untuk berjalan kembali. Rasanya ia kini begitu bahagia.
Tak lama Alister sudah datang dengan membawakan makanan untuk Aruna juga untuk dirinya sendiri. Mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama dengan sesekali bercerita dan Alister yang mendengarkan ungkapan kebahagiaan dari Aruna.
***
Aruna kini sudah tampak begitu cantik dengan dress berwarna hitam nya yang kini membalut tubuhnya dengan begitu sempurna.
Tatapan nya kini terus tertuju pada kaki jenjang nya yang menggunakan heals. Sesuatu yang sedari dulu ingin ia gunakan dan kali ini akhirnya ia gunakan juga.
Malam ini mereka berencana untuk makan malam bersama dengan keluarga mereka. Apa lagi kini kakek dan nenek Aruna juga dateng, mereka pun akhirnya berencana untuk makan malam bersama. Tak hanya kakek dan nenek Aruna. Bahkan kini kedua orang tua Casia dan Bagas juga datang dan ikut makan malam bersama.
“Tapi lebih cantik lagi kalau heels nya diganti sama flat shoes,” ucap Alister sambil menunjukkan flatshoes yang di bawanya. Aruna yang mendengar ucapan tersebut kini mengerucutkan bibirnya.
“Kakak gak suka dibantah ok,” tegas Alister karena melihat wajah cemberut Aruna.
Alister kini mengeluarkan kotak sepatu dari tote bag yang dibawanya lalu berjongkok di depan Aruna dan memberikan flat shoes yang dibelinya pada Aruna, meletakkan di depan kaki Aruna.
“Aruna pengen pake Heels loh kak,” ucap Aruna dengan tatapan memohonnya pada Alister yang kini menggelengkan kepalanya mendengar permintaan Aruna.
“Aku baru sembuh satu minggu, jadi jangan banyak protes. Satu bulan lagi kamu boleh pake heels,” tegas Alister.
Tak bisa lagi membantah ucapan Alister, Aruna akhirnya hanya bisa mengalah dan memakai apa yang di bawakan oleh Alister untuk nya.
“Nah gini kan cantik. Ayo turun, yang lainnya udah nunggu,” ajak Alister yang Aruna balkas dengan anggukan. Kini gadis tersebut merangkul tangan Alister dan membawa nya keluar dari kamar gadis tersebut.
Saat baru saja mereka keluar dari lift, keluarga mereka kini sudah menyambutnya karena kini semua tengah berkumpul di rumah Alister. Mengingat mereka sudah berasal dari luar kota dan luar negri. Jadilah kini rumah Alister begitu ramai.
“Wah cucu Oma cantik banget,” puji Rindia yang merupakan Ibu dari Alm. Ayah Aruna.
“Kalian serasi banget deh, Oma jadi pengen Aruna bukan sekedar cucu angkat Oma tapi juga Cucu menantu,” ucap Shea yang merupakan Ibu Bagas.
“Iya kan Ma. Casia juga mau nya gitu,” ucap Casia dengan senyumannya yang begitu lebar merasa jika kini ia menemukan pendukung nya.
“Sudah jangan berdebat karena itu. Biarkan mereka memilih pasangan mereka, meskipun sebenarnya Oma juga mendukung kalian tapi Oma mau kalian bahagia,” ucap Tania yang merupakan Ibu Casia.
“Bagas juga udah pernah bilang gitu Ma,” ucap Bagas. Casia yang mendengar nya hanya berdecih saja.
Sedangkan Alister dan Aruna kini berusaha menahan detak jantung mereka yang kini sudah berdetak dengan tidak normal. Bahkan kini rasanya pipi mereka sudah memerah dan terasa begitu panas karena apa yang diucapkan keluarga mereka membuat mereka salah tingkah.
“Udah jangan berdebat, kita pergi sekarang aja biar tidak semakin malam,” saran Ayah Bagas yang dijawab dengan anggukan oleh yang lainnya.
Kini mereka akhirnya berjalan bersama menuju ke arah mobil yang kini sudah terparkir dengan rapi di depan rumah mereka.
Alister dan Aruna kini satu mobil. Memilih untuk memisahkan diri dari keluarga mereka.
“Ucapan tadi gak perlu dipikirin ya,” ucap Alister pada Aruna yang membuat Aruna kini menoleh dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau menurut kakak ucapan tadi gimana?” tanya Aruna yang membuat Alister kini menaikkan sebelah alisnya menatap Aruna dengan bingung.
“Maksud kamu, tanggepan kakak?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Alister yang mendengar pertanyaan Aruna kini jadi penasaran untuk apa Aruna menanyakan hal tersebut.
Sedangkan Aruna kini terus saja menatap Alister dan menunggu jawaban dari Alister. Ia hanya penasaran bagaimana tanggapan Alister. Meskipun ia sudah tahu jika Alister menyukainya, namun ARuna hanya takut jika Alister sudah menghapus perasaan itu dan menggantinya dengan gadis lain.
“Kakak keberatan,” ucap Alister yang kini berhasil membuat Aruna terdiam mendengar ucapan Alister. Apa lagi kini laki-laki tersebut mengatakannya dengan wajah serius nya.
***