Aruna Story

Aruna Story
Akhir?



Aruna kini menatap laki-laki di depannya dengan tatapan nanar nya. Sedangkan Alister yang melihat keberadaan Aruna kini tampak begitu terkejut.


“Kamu gak bener-bener percaya sama aku,” ucap Aruna lagi dengan tatapan sendu nya. Kini bahkan air matanya sudah mengalir membasahi wajah cantik nya. Alister yang melihat nya kini menjadi begitu tak tega dan merasa bersalah.


Orang suruhan Alister kini memilih untuk pergi karena merasa tak pantas berada di sana.


“Apa ini yang namanya sebuah kepercayaan?” tanya Aruna dengan sendu pada Alister yang kini menggelengkan kepalanya.


“Kamu salah paham Aruna,” ucap Alister berusaha untuk menenangkan Aruna. Namun untuk kali ini Aruna sudah begitu kecewa sekaligus marah. Alister adalah orang yang begitu ia percayai, Alister adalah orang yang ia pikir tak akan menyakitinya. Namun kali ini ia benar-benar di patah kan dengan ekspektasi nya sendiri tentang Alister.


“Apa yang salah paham Kak?  Aku salah paham kalau kakak bener-bener nerima aku apa adanya ? Ya aku salah paham akan itu, kakak gak salah kok. Karena memang siapa yang mau menerima gadis seperti aku. Apa lagi Kakak memang lai-laki baik-baik,” ucap Aruna dengan Air matanya yang kini sudah mengalir dengan deras nya. Alister yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak pernah berpikir seperti itu.


“Bukan seperti itu Aruna. Aku melakukan ini karena aku tau, kamu akan selalu menyalahkan diri kamu sendiri, aku tahu kamu akan selalu merasa gak pantas untuk aku karena keadaanmu , aku mencari tahu semua itu demi kamu,” tegas Alister yang kini malah membuat Aruna tertawa dengan hambar mendengar nya.


“Demi aku? Enggak. Kamu cuma melakukan untuk diri kamu sendiri. Kalau Kakak memang melakukannya demi Aruna, kakak gak akan menyembunyikan ini dari Aruna. Karena yang butuh info ini adalah Aruna,” tegas Aruna dengan nada suara nya yang kini mulai meninggi.


“Kakak gak ngasih tau ini karena Kakak gak mau kamu akan berpikir seperti ini, Kakak akan memberitahu kamu Aruna, tapi nanti. Saat semua nya sudah jelas, Kakak gak mau kamu kecewa dengan hasil nya,” ucap Alister meyakinkan Aruna . Namun Aruna sudah terlanjur kecewa pada Alister hingga ia tak lagi bisa untuk mendengar ucapan Alister yang menjelaskan semua nya pada Aruna .


Ketiga orang yang begitu kita percaya mengkhianati kita. Memang  begitu sulit akhirnya untuk tidak kecewa dan menganggap semua nya pada akhirnya hanya lah omong kosong. Besar kepercayaan yang diberikan menentukan bagaimana kekecewaan yang akan didapatkan saat ia membuat kita kecewa atas apa yang dilakukan.


“Aruna kecewa sama kakak,” ucap Aruna dengan tatapan sendu nya pada Alister yang kini menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak bisa membuat gadis yang begitu ia cintai itu kecewa padanya.


“Mari kita akhiri semua nya. Jangan pernah temui Aruna lagi, Aruna memang tidak pantas untuk Kakak,” ucap Aruna yang setelah nya segera pergi dari sana. Alister yang mendengar nya kini sontak membelalakkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak, bagaimana bisa perjuangan selama belasan tahun untuk mendapatkan Aruna kini harus di hancur kan hanya dalam waktu beberapa jam? Alister kini dengan segera mengejar Aruna yangs udah lebi dulu naik ke mobil dan sudah melaju tersebut.


 Aruna terus saja menangis sedari tadi. Ia masih tak percaya jika kini ia malah dibuat hancur oleh laki-laki yang selama ini selalu mendukung nya dan selalu ia percayai. Supir Aruna yang sedari tadi melihat Aruna yang terus menangis jadi bertanya-tanya apa yang membuat gadis tersebut menangis. Padahal tadi ia mengatakan jika ia akan bertemu dengan Alister.


Biasanya gadis tersebut akan tersenyum jika bertemu dengan Alister. Selalu bersemangat jika akan bertemu dengan Alister. Namun kini Aruna malah murung dan pulang menangis. Tak berani untuk bertanya jadi kini ia hanya membiarkan saja Aruna yang tengah menangis.


Hingga tak beberapa lama kini mereka akhirnya sampai di rumah besar milik Alister. Aruna segera keluar tanpa menunggu ada yang membukakan pintu untuknya. Aruna kini berjalan memasuki rumah nya dengan air mata nya yang sudah mengalir dengan begitu derasnya.


Casia yang baru saja keluar dari dapur kini tampak mengerutkan kening nya bingung melihat Aruna yang terburu-buru masuk ke dalam lift. Dan tak lama ia melihat Alister yang kini menyusul nya. Entah mengapa Casia kini merasa ada yang tak beres dengan sepasang kekasih tersebut.


“Alister, Aruna. Kalian kenapa buru-buru?” tanya Casia yang kini masih menunggu Lift turun, sedangkan Alister kini memilih untuk lewat tangga. Casia menghembuskan nafas nya, firasat nya kini mengatakan hal buruk telah terjadi.


Hingga saat pintu lift terbuka. Casia dengan segera menuju ke arah anak-anak nya berada. Sedangkan Aruna di kamar nya kini sudah mengeluarkan koper nya. Tak banyak yang ia bawa. Hanya barang-barang penting nya saja dan dua dress. Tak ada lagi yang dibawanya.


Aruna kini mengambil album foto, hingga saat di nakas ia melihat foto nya bersama dengan Alister. Aruna segera melempar nya ke sembarang.


“Alister sialan,” maki  Aruna dengan emosinya yang kini sudah meledak-ledak. Air mata nya kini terus saja membanjiri wajah cantik tersebut.


“Aruna benci kakak,” ucap Aruna sambil melempar ponsel milik Alister yang sudah ia buang dinding. Alister yang baru saja masuk, begitu terkejut melihat kamar Aruna kini sudah berantakan. Banyak pecahan beling dari figura foto mereka yang memang banyak terpasang di kamar tersebut.


Yang lebih membuat nya terkejut kini adalah kopr yang sudah berada di atas ranjang nya. Alister dengan segera menghampiri Aruna lalu memeluk Aruna yang kini tengah meletakkan barang-barang nya ke koper, dari belakang.


“Jangan sentuh Aruna, Kakak terlalu suci untuk aku yang kotor,” ucap Aruna dengan tangis nya. Alister yang sedari tadi berusaha menahan amarah nya kini akhirnya meledak juga.


“Bisa berhenti katakan jika kamu kotor? Kakak muak mendengar itu Aruna,” tegas Alister pada Aruna yang kini malah menatapnya dengan tatapan sinisnya.


“Kenapa? Bukankah Kakak menyelidiki itu untuk mengetahui semua ini?” tanya Aruna dengan begitu tajam nya pada Alister yang kini menggelengkan kepalanya.


“Apa ini? Apa yang terjadi? Aruna kamu kenapa? Kamu mau kemana?” tanya Casia yang baru saja datang dan sudah dikejutkan dengan pertengkaran antara Aruna dan Alister. Belum lagi kanar Aruna yang berantakan juga koper yang kini berada di samping gadis tersebut.


“Aruna mau pergi Bun. Aruna banyak ucapin terima kasih sama Bunda karena sudah merawat Aruna. Aruna udah nganggap Bunda kayak Ibu kandung Aruna sendiri. Aruna gak tau gimana Aruna harus ngucapin terima kasih dan berpamitan sama Bunda. Tapi Bunda, maaf. Aruna sudah tidak bisa untuk tinggal bersama Kak Al,” tegas Aruna yang kini membuat Casia semakin terkejut mendengar ucapan Aruna. Casia yang mendengar nya kini tampak kebingungan namun juga merasa sedih dan terkejut.


Tatapannya kini tertuju pada Alister yang hanya diam saja sambil menundukkan kepala nya/.


“Kita bicara dengan tenang dulu ya? Aruna kamu tenang dulu ya nak,” ucap Casia dengan begitu lembut nya pada Aruna. Ia masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini.


“Kakak Alister menyelidiki tentang Aruna dan Jacob Bun. Kak Alister gak bisa percaya sama Aruna. Ucapan Kak Alister yang selama ini selalu mengatakan jika dia akan menerima Aruna apa adanya, nyatanya omong kosong. Karena terbukti sekarang Aruna mendengar dengan telinga Aruna sendiri kalau Alister menyelidikinya,” ucap Aruna dengan senyuman sinisnya pada Alister yang kini memejamkan matanya.


Casia yang mendengar nya kini hanya membeku. Sambil menatap Alister dengan tatapan kecewa nya. Ia tak pernah mengharapkan semua ini pada anaknya.


“Bukannya kamu sudah janji sama Bunda buat gak memperpanjang masalah ini dan akan menerima Aruna?” tanya Casia yang dengan begitu lemahnya. Tatapannya kini begitu sendu pada Alister yang hanya menatap Aruna dengan tatapan lelah nya.


“Alister udah jelasin semua nya ke Aruna Bun. Alister menyelidiki ini semua untuk Aruna, karena Alister gak pengen liat Aruna yang terus saja menyalahkan dirinya ,” ucap Alister menjelaskan pada Ibu nya dengan begitu lembut nya.


Ia sudah lelah, dan kini tatapannya hanya fokus pada Aruna yang sedari tadi hanya menangis.


Seorang pelayan kini datang  dengan terburu-buru menghampiri ketiga orang yang kini tengah bersitegang tersebut.


“Aruna kita selesaikan dengan tenang dan kepala dingin dulu ya. Kita duduk dulu,” ucap Casia dengan begitu lembut ya pada Aruna.


“Nyonya, di bawah ada orang kepergian Mr. Alex,” ucap pelayan yang kini menghampiri mereka. Casia yang mendengar nya kini tampak terkejut begitu pun dengan Alister. Sedangkan Aruna kini sudah mengambil koper nya.


Saat di mpbil ia memang sudah mengatakan pada Kakek nya itu untuk menjemputnya karena ia ingin pergi. Awalnya Kakeknya menanyakan apa yang terjadi. Namun karena Aruna yang sudah bersikeras akhirnya Kakek nya itu mengiyakannya dan akan menanyakannya saat mereka sudah bertemu.


“Aruna, kita bicara dulu nak,” ucap Casia sambil mengejar Aruna. Aruna kini hanya menangis lalu ia memeluk Casia sebelum ia pergi.


“Bunda, Aruna sayang banget sama Bunda. Nanti kita ketemu lagi ya,” ucap Aruna dengan tangius nya. Lalu melepaskan [pelukannya dari Casia. Casia berusaha memeluk Aruna dengan begitu erat nya. Namun Aruna tetap saja bisa melepaskannya.


Alister kini berusaha mengejarnya, dan memohon pada Aruna namun Aruna sama sekali tidak mendengar kannya. Saat sampai di bawah ini orang suruhan Kakek nya dengan segera mengambil alih koper Aruna.


Antara kecewa dan tak ingin pergi kini menjadi satu bagi Aruna. Begitu berat bagi Aruna meninggalkan keluarga yang selalu merawat dan menjaga nya. Namun kekecewaanya pada Alister kini membuat ego nya begitu memuncak untuk pergi dari sana.


***