Aruna Story

Aruna Story
Purna



Alister baru saja sampai di apartemennya saat jam kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan lelah nya kini laki-laki tersebut memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan mengganti jas formal nya dengan pakaian santai.


Setelah selesai Alister segera menuju ke arah ranjang nya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang nya tersebut. Tatapannya kini terarah pada jari manisnya yang terselip cincin pertunangannya dengan Aruna.


Malam ini Aruna dan Alister resmi bertunangan. Setelah kemarin Alister sibuk dengan kepindahannya ke apartemen. Akhirnya kini ia resmi bertunangan. Senyuman laki-laki tersebut tak sedikit pun memudar.


Rasanya masih tak bisa Alister percaya, jika cinta pertamanya kini menjadi tunangannya. Akan Alister buktikan, selama hidup nya ia hanya akan mencintai Aruna. Cinta pertama hingga menjadi cinta terakhir untuk nya.


“You only my mine Aruna,” ucap Alister sambil memandangi cincin yang melingkar indah di jari manisnya.


Hari ini pertunangannya hanya keluarga saja. Makan malam bersama juga melakukan pertunangan. Setelah mengantarkan Aruna pulang, baru lah Alister kembali ke Apartemennya sendiri.


Suara dari dering ponselnya membuat Alister kini mengalihkan tatapannya pada ponselnya. Hingga kini terlihat ada panggilan masuk dari Aruna. Alister yang melihat hal tersebut kini tersenyum senang, dengan segera ia menjawab panggilan video dari Aruna.


Saat ia menjawab nya kini terlihat Aruna yang tengah tersenyum ke arahnya.


“Udah malem, kenapa belum tidur?” tanya Alister sambil menaikkan sebelah alisnya. Menatap Aruna dengan tatapan lembut nya.


“Aruna kangen sama Kakak. Biasanya sebelum tidur ketemu dulu,” ucap Aruna sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat Alister kini begitu gemas melihat hal tersebut.


“Gak papa. Kakak di apartemen cuma numpang tidur kan? Besok kita udah ketemu,” ucap Alister berusaha untuk menenangkan Aruna yang kini tetap saja mengerucutkan bibirnya lucu.


“Tadi Bunda yang anter minum ke sini,” ucap Aruna mengadu pada Alister yang kini menganggukkan kepalanya.


“Sekarang tidur ya? Udah waktu nya tidur. Besok pagi Kakak jemput,” ucap Alister yang akhirnya membuat Aruna mengalah dan menganggukkan kepalanya.


“Have a nice dream my queen,” ucap Alister dengan senyumannya yang membuat Aruna juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah nya Aruna segera menutup panggilan tersebut.


Alister memilih untuk meletakkan ponsel nya di atas nakas. Lalu memejamkan matanya untuk segera menuju ke alam mimpi.


***


Hari kini berlalu dengan begitu cepat. Bahkan tanpa terasa sudah lima hari Alister tinggal di Apartemennya. Dan hari-hari tersebut terasa begitu sulit untuk Aruna yang biasanya selalu mengandal kan Alister.


Dan hari ini adalah pemilihan OSIS baru. Aruna dan Mutia kini tengah duduk di pinggir lapangan untuk mendengarkan visi dan misi calon OSIS juga wakil nya. Hubungan Aruna dan Mutia kini juga membaik. Shifa pun kini sudah tak pernah lagi untuk berbicara sinis pada Aruna. Kini Aruna hanya berharap jika hubungannya dan Shifa juga bisa segera membaik.


“Lo mau pilih siapa Ar?” tanya Mutia pada Aruna yang kini tengah memainkan ponselnya.


“Yang ganteng aja lah aku pilih,” ucap Aruna dengan tawa kecil nya yang membuat Mutia kini ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“Kak Alister kurang ganteng gimana sih Aruna?” tanya Mutia sambil menggelengkan kepalanya yang membuat Aruna kini tertawa mendengar nya.


“Bukannya kurang ganteng. Dia mah kelewat ganteng, tapi kan aku juga butuh cuci mata, seumur hidup itu terlalu lama,” jawab Aruna yang membuat Mutia kini menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut.


“Heboh bener, ngomongin apa sih?” pertanyaan tersebut membuat kedua gadis tersebut kini menoleh ke arah sumber suara. Hingga tatapan mereka kini tampak terkejut, melihat keberadaan Shifa yang kini berada di belakang mereka sambil tersebut.


“Kenapa dah ngeliat gue udah kayak liat hantu aja,” ucap Shifa dengan candaannya yang membuat Mutia dan Aruna kini tersenyum senang melihat keberadaan Shifa.


“Duduk sini,” ucap Aruna pada Shifa sambil menepuk bagian tengah antara dirinya dan Mutia. Shifa dengan segera duduk di sana.


“Diluar prediksi BMKG,” ucap Mutia dengan candaannya yang membuat Shifa kin tertawa mendengar nya. Sedangkan Aruna kini menganggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan Shifa.


“Kebiasaan lo gak berubah ya. Masih aja berlebihan,” ucap Shifa mendengus pada Mutia yang kini hanya tertawa dengan ringan mendengar nya.


“Gue minta maaf ya Shif, masalah waktu itu,” ucap Mutia pada Shifa yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Udah lah, gue juga udah lupain. Jangan di ulangi lagi aja, sekarang mah kita fokus sama apa yang terjadi di masa depan aja,” ucap Shifa yang Mutia balas dengan anggukan bahagianya.


Tak mereka sangka kini akhirnya mereka bisa berbaikan dan bersama sebagai seorang sahabat. Semoga saja tak ada lagi yang mengganggu pertemanan mereka. Aruna yang baru dalam pertemanan tersebut ikut merasa senang melihat Shifa yang sudah memaafkan Mutia juga memaafkan dirinya.


“Btw kamu gak ngurus OSIS?” tanya Aruna pada Shifa yang kini malah bersantai bersama mereka.


“Udah kelar dong tugas gue,” ucap Shifa dengan senyuman senang nya.


“Oh iya, lo gak ikut seleksi OSIS lagi?” tanya Mutia yang kali ini di jawab dengan gelengan oleh Shifa.


“Gak lagi-lagi deh. Capek banget,” ucap Shifa yang membuat Mutia dan Aruna kini hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“Lo tau, dia ikut OSIS gak niat. Awal nya cuma pengen deket sama pacar lo,” adu Mutia pada Aruna yang kini tampak membelalakkan matanya tak percaya mendengar ucapan Mutia.


“Wah, lo jangan buka kartu dong,” ucap Shifa yang membuat Mutia dan Aruna kini tertawa mendengar nya.


Baru saja mereka membicarakan Alister kini laki-laki tersebut sudah berjalan ke arah mereka dengan membawa bungkus belanjaan.


“Nanti pulang bunda yang jemput ya. Kakak sore baru pulang,” pesan Alister sambil menyerahkan makanan yang di bawanya pada Aruna. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.


“Di makan. Kakak pergi dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungin Kakak,” pesan Alister yang lagi Aruna balas dengan anggukan dan senyuman. Setelah nya Alister segera pergi dari sana.


“Bentar deh, gue salfok sama cincin kalian,” ucap Mutia dengan tatapan menyelidik nya. Shifa pun kini menatap ke arah Aruna dengan tatapan menyelidik nya. Aruna yang mendengar nya kini hanya tersenyum sambil memamerkan cincin milik nya.


“Kita udah tunangan,” ucap Aruna yang membuat kedua gadis tersebut kini membelalakkan matanya tak percaya.


“Serius?” tanya Shifa yang Aruna balas dengan anggukan dan senyuman lebar nya.


“Hm, kita tunangan setelah aku posting foto kita ciuman,” tawa Aruna kini meledak yang membuat kedua temannya kini juga tertawa mendengar nya.


***