Aruna Story

Aruna Story
CONFESS



Pagi kini tengah bersinar dengan begitu cerah nya. Seolah mendukung untuk bepergian. Alister kini sudah begitu rapi begitu pun dengan Aruna yang kini sudah tampak begitu rapi. Hari ini mereka berniat akan pergi ke makam kedua orang tua Aruna. Karena semenjak satu bukan lalu Aruna bisa berjalan mereka baru sempat untuk datang ke makam kedua orang tua Aruna.


Namun kali ini hanya Aruna dan Alister saja yang bisa pergi karena kedua orang tua Alister yang kini memiliki kesibukan. Tak ingin menunda lagi untuk datang ke makam orang tua Aruna jadilah kini mereka hanya pergi berdua.


“Bunda sebenernya pengen banget buat ikut. Cuma Bunda kali ini harus ke butik karena ada klean penting yang akan datang,” ucap Casia dengan tatapan sendu nya. Casia memang memiliki butik. Namun ia begitu jarang datang. Ia hanya akan datang saat mengurus clean atau meeting.


Wanita tersebut lebih suka mengerjakan pekerjaan nya di rumah. Apalagi ia harus mengurus Aruna juga. Ia jelas tak keberatan mengurus Aruna. Ia bahkan merasa senang karena bisa mengurus Aruna meskipun ia akan jarang ke butik.


Casia sudah memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengurus butik. Ia pun j8uga memantaunya dari rumah.


“Gak papa Bun. Kita bisa pergi bareng-berang lagi lain kali,” ucap Aruna dengan senyuman menenangkannya pada Casia yang kini masih tampak sendu. Namun akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Kalian hati-hati ya. Alister, bawa mobil yang bener,” tegas Casia pada Alister yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Bunda tenang aja. Insya Allah Al pastiian kita berdua kembali tanpa lecet sedikitpun,” ucap Alister menangkan Ibu nya itu. Semenjak kecelakaan yang Aruna alami. Terkadang Casia memang masih sedikit parno.


“Ya sudah mending kalian langsung berangkat. Takut malah kemaleman pulang nya,” ucap Casia yang dijawab dengan anggukan oleh Alister.


Mereka akhirnya sama-sama menyalami Casia secara bergantian lalu segera masuk ke dalam mobil mereka. Seperti sebelumnya, Alister lebih dulu membantu Aruna untuk masuk ke dalam mobil nya. Setelah nya baru lah Alister masuk ke dalam kemudi dan mulai melajukan mobilnya demngan kecepat sedang membelah jalanan menuju ke arah kota yang dulu mereka tinggali.


Aruna kini tampak begitu sibuk dengan ponsel milik Alister yang kini ia gunakan.


“Kakak, Aruna bikinin medsos ya?” izin Aruna pada Alister yang kini menoleh ke arah Aruna dengan kening nya yang berkerut.


“Buat apa?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Ya buat liat foto-foto Aruna lah kak. Nambah followers Aruna,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini terkekeh mendengar nya.


“Terserah kamu aja,” ucap Alister yang membuat Aruna kini tersenyum senang mendengar nya.


“Nah ini cakep buat profil,” ucap Aruna dengan senyumannya sambil memperlihat kan sekilas pada Alister saat kini mereka tengah di lampu merah.


“Followers nya juga cuma Aruna, nanti Aruna tambahin temen Kakak,” ucap Aruna dengan senyumannya. Alister yang mendengar nya kini mengerutkan kening nya.


“Emang kamu tau namanya?” tanya Alister. Aruna yang mendengar nya kini hanya tersenyum dengan misterius nya.


“Kakak gak tau aja cewek itu setara intel kalau udah stalker. Lagian tinggal cari nama mereka aja nanti aja kok kak. Kakak nih gimana sih? Aruna yang udah lama gak main hp aja tau, masak kakak gak tau,” ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya. Alister yang mendengar nya hanya terkekeh.


“Nah tuh liat udah Aruna follow semua temen Kakak, setelah ini gak perlu follow yang lain ya  lagi ok?” tegas Aruna yang membuat Alister kini menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ia pun tak berniat untuk melakukannya.


“Wau keren, liat deh kak. Baru aja buat udah banyak yang follow nih kak. Liat bahkan udah mau tiga ribu, keren banget kak,” ucap Aruna menatap percaya pada yang kini baru di lihat nya. Alister sama sekali tak peduli dengan semua itu.


Dengan iseng nya kini Aruna membuat insta story di sosmed Alister.


Algavri_Bhupendra



Tak lama berselang kini banyak DM yang masuk ke sosmed Alister namun Aruna memilih untuk mengabaikannya. Ia lebih memilih untuk berbincang dan bercerita banyak hal pada Alister.


Hingga tak terasa mereka sudah menempuh waktu dua jam lebih hingga sampai di kompleks pemakaman. Alister kini membantu Aruna untuk keluar dari mobilnya. Lalu mereka berjalan bersama menuju ke arah pemakaman tersebut.


Aruna meletakkan bunga yang di bawahnya, juga menaburkan bunga di makam kedua orang tuanya. Kini ia perlahan bisa lebih tabah dan menerima. Walau rasa rindu masih selalu saja memeluknya.


“Assalamualaikum Ma, Pa. Aruna dateng, lihat deh Ma, Pa. Aruna sekarang udah bisa jalan lagi loh. Dan semua ini berkat doa dan dukungan dari keluarga kak Alister. Mereka orang yang baik Ma,” ucap Aruna yang kini mulai bercerita pada kedua orang tuanya. Menganggap mereka masih berada disana dan bisa mendengar cerita Aruna.


“Aruna kangen sama Mama dan Papa. Tapi sekarang perlahan Aruna udah bisa buat nerima semua ini. Mama sama Papa tenang aja di sana. Di sini banyak orang baik yang jagain dan nemenin Aruna,” ucap Aruna dengan senyumannya. Kali ini ia ingin bercerita sambil tersenyum pada kedua orang tuanya, agar mereka bisa tenang melihat Aruna yang kini sudah baik-baik saja.


Alister yang mendengar nya kini ikut tersebut. Dengan begitu lembut nya kini Alister mengelus punggung Aruna. Seolah menenangkan dan memberikan kekuatan pada Aruan.


Setelah lama berada disana dan bercerita banyak hal serta mendoakan kedua orang tua Aruna. Mereka memutuskan untuk segera pergi dari sana. Alister kini merangkul pundak Aruna untuk menuju ke arah mobil mereka.


“Kak, makasih ya udah selalu ada buat Aruna. Udah selalu jagain Aruna, selalu nemenin Aruna. Dan masih banyak waktu Kakak untuk nemenin dan jagain Aruna. Makasih ya Kakak udah nemenin Aruna untuk sembuh, bukan hanya fisik tapi juga hati Aruna,” ucap Aruna saat mereka kini sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan pelan.


Alister yang mendengar nya kini memilih untuk meminggirkan mobilnya dan menghentikannya agar ia bisa melihat ke arah Aruna.


“Kamu kenapa? Kamu ada masalah? Cerita sama Kakak,” ucap Alister dengan tatapan khawatirnya pada Aruna yang kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar kekhawatiran Alister.


Alister kini semakin mengerutkan kening nya bingung dan menatap Aruna dengan tatapan bingung nya. Hingga ucapan Aruna selanjut nya berhasil untuk membuat Alister terdiam mendengar nya.


“Aruna suka sama Kakak. Aruna sayang sama Kakak sebagai perempuan yang menyayangi seorang laki-laki. Dan Aruna cinta sama Kakak.”


***