
Suara pintu yang dibanting dengan begitu kerasnya bersamaan dengan seorang laki-laki yang kini tiba-tiba saja datang dan marah-marah masuk ke apartemen Dinara membuat gadis tersebut terkejut. Dinara yang kini awalnya Tengah membersihkan tubuhnya di kamar mandi karena ia baru saja datang dari kampus dibuat terkejut dengan kedatangan orang yang membuat keributan tersebut.
Merasa jika ada sesuatu yang terjadi dengan segera kini Dinara keluar dari kamarnya setelah gadis tersebut hanya memakai kimono handuk saja. Setelah keluar dari kamarnya kini Dinara dikejutkan dengan kehadiran Nevan yang datang dengan tubuhnya yang penuh dengan darah melihat hal tersebut Dinara kini bisa menebak jika laki-laki tersebut baru saja membunuh seseorang.
“Nevan Apa yang terjadi? Kamu kenapa?” tanya Dinara dengan takut pada Nevan yang kini menatapnya dengan tatapan datarnya tatapan tersebut masih penuh akan kemarahan Dinara yang sudah mengenal Nevan begitu lama jelas mengetahui jika saat ini laki-laki tersebut sedang tidak baik-baik saja.
Melihat keadaan Nevan yang seperti ini sebenar nya membuat Dinara begitu takut. Karena Nevan biasanya selalu saja melampiaskan amarahnya pada Dinara. Walau bukan Dinara yang melakukannya dan membuat Nevan kesal namun tetap saja ia yang akan menjadi korban dari laki-laki tersebut.
“Nevan, sebenarnya apa yang tadi? Jangan membuat aku takut,” ucap Dinara dengan gugup. Bukannya menjawab pertanyaan Dinara. Kini Nevan malah memecahkan vas yang berada di sana lalu mengambil pecahan bilang nya dan mengarahkannya pada Dinara. Dinara yang melihat Apa yang kini tengah dilakukan Evan kepadanya sontak meminjamkan matanya merasa takut jika Nevan bisa saja membunuhnya saat itu juga.
“Nevan aku salah apa?” tanya Dinara dengan begitu lirihnya berusaha untuk mencari tahu sendiri apa yang membuat Nevan begitu marah, Ia takut jika memang ialah yang membuat kesalahan pada Nevan hingga Nevan kini begitu marah.
“Aruna ternyata sudah punya tunangan Din, gue udah sayang banget sama dia tapi ternyata dia udah menjadi milik orang lain,” ungkap Nevan yang kini akhirnya mengatakan apa yang terjadi pada laki-laki tersebut hingga membuatnya begitu marah seperti ini. Dinara yang mendengar alasan dari apa yang terjadi pada Nevan saat ini rasanya begitu marah hingga tanpa sadar kini tangannya mengepal.
“Hanya karena dia kamu seperti ini? dan bahkan kamu melampiaskan kemarahan kamu bukan pada orangnya melainkan padaku,” tatapan Dinara kini tampak begitu sendu menatap ke arah Nevan yang malah kini semakin menajamkan tatapannya pada Dinara saat mendengar Dinara seolah meremehkan masalahnya saat ini.
“Hanya?” Tanya Nevan dengan tatapan sirusnya pada Dinara.
Dinara tahu jika saat ini ia sudah salah bicara pada laki-laki di depannya tersebut yang tengah marah. Harusnya ia tidak ikut terbawa emosi saat berbicara dengan Nevan mengingat emosi laki-laki tersebut saat ini memang sedang tidak stabil. Namun apa yang bisa ia lakukan untuk menahan amarahnya sendiri jika kini ia melihat laki-laki yang begitu dicintainya tersebut terlihat begitu hancur hanya karena mengetahui jika gadis yang ia cintai sudah memiliki laki-laki lain.
Dinara sebenarnya marah bukan karena Nevan yang kini hancur karena Aruna namun ia lebih marah karena Nevan yang malah melampiaskan amarahnya pada orang yang tidak bersalah. Bahkan di narakin yakin jika orang yang dibunuh oleh Nevan bukanlah orang yang bersangkutan.
“Hanya kata kamu? Lo nggak tahu seberapa besar perasaan gue sama Aruna gue sayang banget sama dia gue cinta sama dia. Dia orang pertama yang gue kenal yang bisa gue baikin tanpa kekasaran sedikitpun, gue gak pernah kasar sama dia Din gue memperlakukan dia dengan baik tapi ternyata yang gue dapet adalah sebuah fakta kalau dia udah punya laki-laki lain” ucap Nevan dengan tatapan sedihnya. Tatapan yang semula begitu tajam tersebut kini sudah berubah kembali menjadi tatapan yang begitu sendu.
Nevan tak pernah merasakan ini sebelumnya ya Ia tahu hanyalah cara menyakiti orang bukan cara mencintai seseorang namun saat ia mengenal Aruna ia tahu bagaimana cara mencintai seseorang yang sesungguhnya. Apakah pada akhirnya cinta yang ia kenal untuk pertama kalinya ini akan mengajarkannya tentang luka juga.
“Gue nggak bisa ngontrol ini Dinara, gue marah gue kecewa dan gue rasa gue juga terluka. Bukankah orang lain juga harus terluka kayak gue?” ucap Nevan pada Dinara yang kini sontak menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Nevan.
“Nggak, lo nggak boleh memaksakan Apapun yang terjadi kalau juga harus terjadi ke orang lain. mereka bukan orang yang bersalah mereka bahkan nggak tahu apa yang terjadi tiba-tiba lo udah mengantar mereka pada malaikat maut,” Ucap Dinara yang kini masih berusaha untuk menanamkan laki-laki di depannya itu namun Nevan kini menggelengkan kepalanya tidak menyukai apa yang baru saja Dinara katakan padanya karena menurutnya apa yang ia rasakan harus dirasakan juga oleh orang lain dan ia bisa melakukan apa yang ia sukai tanpa perlu memikirkan orang lain.
“Nggak perlu ngajarin gue tentang perasaan juga cinta, Emangnya lo tau apa soal cinta?” tanya Nevan dengan senyuman sinisnya pada Dinara. Dinara ingin sekali rasanya menertawakan Nevan mendengar pertanyaan dari laki-laki tersebut padanya yang mempertanyakan soal cinta. Nevan seolah meremehkan Dinara yang tidak mengetahui tentang cinta padahal tanpa Nevan tahu Dinara sangat mengetahui tentang cinta dan juga tentang luka.
“Lo salah kalau lo bilang gue nggak tahu apa-apa soal cinta karena gue tahu dengan jelas Apa itu cinta. lo nggak akan tahu kan kalau sebenarnya gue itu suka sama lo gue cinta sama lo, dan gue pernah denger pernyataan Cinta dari lo tapi bukan untuk gue melainkan untuk wanita lain apa Lo pikir gue nggak tersiksa untuk itu? Gue lebih tahu apa itu cinta dan apa itu luka lebih dari yang lo tau Nevan, karena gue udah berulang kali merasakan luka yang dibuat oleh elu,” batin Dinara yang jelas aja tidak bisa ia ungkapkan secara langsung pada Nevan. Nyalinya terlalu kecil untuk menyatakan hal tersebut sebuah kalimat proses dan semua kalimat yang selalu ia tahan di dalam hatinya agar tidak keluar begitu saja.
“Yang gue tahu Cinta itu bukan hanya tentang memiliki namun juga tentang mengikhlaskan, Kalau dia emang udah menjadi milik orang lain atau kalau dia emang udah memilih orang lain yang harus kita lakukan hanyalah mengikhlaskan dia bersama orang yang ia pilih bukan memaksanya untuk mencintai kita dan berada di sisi kita karena disaat seperti itu kita hanya akan memiliki raganya namun tidak dengan hatinya,” terang Dinara yang membuat Nevan kini terdiam mendengarnya. Ucapan tersebut jelas saja ia ungkapkan dari dalam hatinya sendiri.
“Sekali lagi lo ajari gue tentang cinta gue akan benar-benar menusukkan kaca ini ke leher lu,” tegas Nevan yang kini mulai mengancam Dinara. Lihat saja bagaimana akhirnya Dinara lebih memilih untuk menyimpan perasaannya sendiri daripada mengungkapkannya badan Nevan, seperti inilah Nevan ia selalu berbuat sesukanya dan jika ia tidak suka dengan apa yang orang lain katakan untuknya maka ia bisa saja melukai orang tersebut.
“Maaf,” cicit Dinara pada Nevan yang kini menghembuskan nafasnya kasar. Memikirkan semua hal yang baru saja terjadi padanya dan rasa sakit di hatinya membuat Nevan rasanya begitu frustasi.
Nevan kini memilih untuk pergi dari sana menuju ke arah kamarnya yang berada di apartemen Dinara. namun belum terlalu jauh ia melangkah kini ia kembali menoleh ke arah Dinara dengan tatapan seriusnya.
“Kaki lu jangan sampai menginjak beling dari vas bunga itu, sedikit aja gue lihat ada darah di sana gue pastiin kaki lu bukan hanya terluka sedikit tapi sampai gue yang akan menjahitnya,” tegas Nevan pada Dinara yang setelahnya langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. Nevan kini hanya ingin membersihkan tubuhnya yang sudah penuh oleh darah sisa dari korbannya yang baru saja ia bunuh.
Ucapan Nevan tersebut selalu saja Dinar anggap sebagai sebuah bentuk perhatian dari laki-laki tersebut namun dengan cara yang berbeda Oleh karena itu ia tidak pernah mengalami hati dengan ucapan Nevan namun Ia tetap berhati-hati untuk tidak melanggar apa yang baru saja Nevan katakan. Karena perhatian yang Nevan katakan, di dalam nya ada kalimat ancaman yang tak main-main.
***