Aruna Story

Aruna Story
Pacar Sempurna



“Ini serius gak papa gue ikutan?” tanya Adian pada Aruna saat kini Aruna mengajak Adina untuk berkumpul bersama dengan sahabat Aruna . Sebenar nya Aruna mengajak bukannya ingin membuat Adina canung. Namun ia pun sudah memiliki janji dengan Adina untuk mengajak gadis tersebut berkenalan bersama dengan temannya. Jadi lah kini saat ada kesempatan Aruna mengajak Adina untuk berkumpul bersama dengan temannya yang lain.


“Gak papa Adina, nanti kalau ada yang marah kamu bilang aja ke aku. Aku yang bakalan marajin balik,” tegas Aruna dengan nada galak nya yang membuat Adina kini terkekeh kecil melihat Aruna yang tengah berekspresi marah.


“Gak cocok sama sekali kalau kamu marah gitu Run,” ucap Adina dengan siasa tawanya yang membuat Aruna kini juga ikut tertawa karena nya.


“Gimana? Udah mau ikut kan?” tanya Aruna kembali memastikan. Adina kini akhirnya menganggukkan kepalanya setuju mendengar pertanyaan Aruna.


“Nah gitu doang,” ucap Aruna dengan senyumannya. Lalu setelah nya  ia dengan segera merangkul tangan Adina untuk pergi ke kantin.


Kini mereka tengah  berada di koridor setelah mereka selesai kelas pertama. Jadilah kini Aruna mengajak Adina menuju ke arah kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.


“Temen lo banyak yang ikut?” tanya Adina yang kini masih mempertanyakan tentang acara kumul tersebut. Sebenarnya dia masih ragu untuk ikut karena takut jika ia malah mengganggu acara bermain Aruna bersama dengan temannya.


Dan takut jika ada teman Aruna yang tak menyukai nya. Entah mengapa ia merasa insecure duluan saat mengingat tentang circle Aruna adalah Kai dan Alister. Dua laki-laki tampan dan juga berpengaruh.


“kalau yang cewek ada dua lain nya yang ikut, pacar nya Kai sama satu lagi sahabat kita,” jelas Aruna yang kini Adina balas dengan anggukan.


“Udah jangan dipikirin. Mereka semua orang baik kok,” jelas Aruna dengan senyumannya yang membuat Adina menghembuskan nafas nya lalu menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna. Meskipun ia masih memikirkannya namun ia berusaha untuk menepis semua itu.


Adina kini menghembuskan nafas nya kasar. Aruna yang mendengar nya kini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berusaha untuk mengerti Adina. Karena jika ia berada di posisi Adina ia pun pasti akan merasa canggung.


“Mau pesen apa?” tanya Aruna saat kinimerasa sudah sampai di kantin.


“Biar gue aja yang pesen. Lo cari tempat aja,” ucap Adina yang akhirnya Aruna balas dengan anggukan.


Setelah nya Aruna segera mencari tempat untuk mereka sedangkan Adina yang kini memesan makanan untuk mereka.


Aruna memilih untuk menunggu Adina sambil memainkan ponsel nya. Untuk menghubungi Alister dan sekedar bertanya apa yang sedang ia lakukan dan apa laki-laki itu sudah makan. Atau membuat laporan jika kini ia sudah berada di kantin dan tengah makan bersama dengan Adina.


Hal yang wajib Aruna lakukan adalah laporan pada Alister tentang apa yang akan ia lakukan.


                                                                        By


                                                                                                                          Aku lagi di kantin, lagi makan.


                                                                                                                            Kakak udah makan?


Setelah mengirim pesan tersebut kini Aruna memilih untuk meletakkan ponsel nya. Namun tak lama pesannya itu sudah di balas oleh Alister tanpa menunggu waktu yang lama.


By


Udah sayang.


Ini lagi makan sama Kai.


Setelah membacanya kini Aruna hanya memberikan reaksi emot love pada pesan tersebut lalu setelahnya ia segera meletakkan ponsel nya itu.


Tak lama kini Adina sudah datang dengan membawa pesanan mereka. Lalu meletakkan di depan mereka.


“Makasih Adina cantik,” ucap Aruna dengan senyuman yang kini malah membuat Adina berdecak mendengar nya namun tak lama ia malah tertawa karena nya.


“Bisa ya lo,” ucap Adina yang setelah nya kini membuat mereka tertawa bersama.


***


Sesuai dengan yang mereka rencanakan kini Aruna dan Adina sudah bergandengan tangan untuk menuju ke arah parkiran.


“Kamu bawa mobil?” tanya Aruna dengan menatap Adian penuh tanya. Adina yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya.


“Kebetulan lagi gak bawa,” jawab Adina. Aruna yang mendengar nya kini tersenyums ambil mengacungkan jempolnya.


“Bagus. Emang udah di rencanakan nih sama tuhan,” ucap Aruna dengan kekehannya yang membuat Adina kini ikut tertawa mendengar ucapan Aruna.


Tak lama kini mereka sudah sampai di parkiran dan ternyata kini di sana sudah ada Kai, Alister, juga Shifa yang sudah berada di sana.


“Kalian tumben banget di parkiran sini?” tanya Aruna dengan senyumannya menyapa Kai juga Shifa.


“Biar bareng aja,” jelas Kai yang kini Aruna balas dengan anggukan.


“Oh Iya, kenalin ini Shifa pacar nya Kai. Dan Shifa kenalin ini Adina temen baru aku,” ucap Aruna memperkenalkan Adina pada Shifa yang kini saling berjabat tangan untuk berkenalan.


“Kamu gak kenalan?” tanya Shifa pada Kai.


“Aku udah kenal. Aruna yang ngenalin pas gak sengaja ketemu Adina,” jelas Kai yang kini Shifa balas dengan anggukan.


“Harusnya gue gak usah tanya, dia kan emang yang paling tau tentang Aruna,” batin Shifa yang jelas tak dapat ia ucapkan secara langsung.


“Udah yuk jalan, takut nya yang lain udah nunggu,” ajak Alister yang dijawab dengan anggukan oleh yang lainnya.


Sejak Kai dan Alister dekat karena mereka satu organisasi dan menjadi partner. Memang teman Kai dan teman Alister kini akhirnya menjadi dekat. Dan akhirnya mereka kini menjadi satu circle. Dan semua itu tentu saja karena Aruna.


Tak heran jika kini mereka sering bermain bersama.


Kembali pada Aruna dan Alister yang kini sudah berada dalam mobil. Adina pun kini berada di belakang mereka. Tak ada yang dapat ia katakan. Alister pun hanya mengajak Aruna berbincang. Tak heran jika banyak orang mengatakan Alister orang yang dingin karena nyatanya memang seperti itu.


Ia hanya menjadi hangat pada Aruna saja. Bahkan sedari tadi Adina berada di sana. Alister tak sekalipun melihat pada nya dan hanya fokus pada Aruna.


“Tuhan mau yang kayak Kak Al satu,” pekik nya dalam hati yan jelas tak bisa ia ungkapkan atau Alister akan menurunkannya di jalanan.


“Kamu mau beli makanan dulu?” tanya Alister pada Aruna yang kini tampak berpikir lalu tak lama ia segera menoleh ke arah Adina sebentar.


“Kamu mau belanja dulu?” tanya Aruna pada Adina yang kini menggelengkan kepalanya.


“Gue ikut lo aja Run,” ucap Adina yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya.


“Beli es krim sama minuman aja kak. Eh sama makanan ringan juga deh,” ucap Aruna yang kini membuat Alister kini menganggukkan kepalanya.


Melihat Alister yang begitu lembut pada Aruna, Adina ikut merasa senang namun juga iri karena ia belum menemukan sosok seperti Alister.


Setelah nya di perjalanan hanya diisi dengan pembicaraan dari Aruna yang mengajak Adina atau Alister berbicara. Tak ingin membuat Adina merasa diabaikan, Aruna begitu baik dapat mengontrol suasana. Membuat Adina merasa nyaman berada di sana walau dengan ditemani dinginnya Alister.


***