Aruna Story

Aruna Story
Rumah Sakit



Aruna kini hanya menatap kosong ke arah depan. Ingatannya kini terus mengarah, pada kejadian dua hari lalu yang ia alami. Jacob benar-benar membuat nya trauma. Kini gadis tersebut tengah bersama Casia karena Alister harus ke kampus.


“Kenapa sayang?” tanya Casia dengan begitu lembut nya sambil mengelus tangan Aruna dengan begitu lembut nya. Aruna yang terkejut langsung menoleh ke arah Casia yang kini tersenyum dengan begitu lembut ke arah gadis tersebut.


“Aruna gak papa kok Bun,” ucap Aruna yang kini berusaha menyembunyikannya dari Casia.


“Nanti ada temen Bunda,  ada yang mau ke sini. Kamu gak papa kan?” tanya Casia pada Aruna yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Sebenar nya Casia sengaja memanggil psikolog untuk membantu Aruna mengatasi trauma nya. Casia sengaja tidak ingin memberitahu Aruna, karena takut Aruna akan memikirkannya dan memikirkan hal yang macan-macam.


“Kalau ada apa-apa. Cerita ke Bunda sayang, jangan dipendam sendiri,” pesan Casia pada Aruna yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Casia.


“Iya Bunda. Aruna tau, Aruna sekarang gak papa kok Bun,” ucap Aruna dengan senyuman menenangkannya pada Casia yang kali ini hanya menghembuskan nafas nya kasar dan akhirnya ia hanya bisa untuk menganggukkan kepalanya dan mengalah pada Aruna.


 Pintu ruangan Aruna terbuka, hingga kini terlihat Bagas yang baru saja datang dengan membawa tote bag yang berisi pakaian juga makanan yang sudah di bawa nya.


“Aruna gak makan?” tanya Bagas saat melihat makanan rumah sakit Aruna masih tersisa banyak.


“Udah Pa,” ucap Aruna menatap Bagas dengan anggukannya.


“Makan yang banyak biar cepet pulih,” pinta Bagas yang Aruna balas dengan anggukan.


“Bun, makan dulu,” ucap Bagas meminta Casia untuk mendekat ke arah sofa. Kini bagas sudah merapikan makanan yang dibawanya di meja depan sofa.


Suara pintu dibuka kini membuat mereka menoleh. Alister yang baru saja datang dengan senyumannya kini membawa bunga untuk Aruna. Aruna yang melihat hal tersebut, tersenyum dengan begitu sempurna nya. Hanya bersama dengan Alister kini ia bisa merasa begitu bahagia.


Namun saat Aruna melihat kebelakang Alister, ternyata Alister tidak datang sendiri. Ia datang  bersama Kai yang memang selalu datang setiap saat untuk menjenguk Aruna. Bahkan ia selalu menemani Alister menginap di rumah sakit.


“Gimana keadaan kamu?” tanya Alister dengan senyumannya sambil memberikan bunga yang di bawanya pada Aruna yang kini dengan segera mengambilnya.


“Sudah lebih baik,” jawab Aruna yang membuat Alister kini tersenyum senang mendengar nya.


“Kamu rajin banget ke sini,” ucap Aruna dengan senyumannya pada Kai yang kini hanya tertawa kecil mendengar nya.


“Orang gak punya kerjaan mah gitu,” ucap Alister sambil duduk di samping Aruna. Kai yang melihat nya hanya bercak saja.


“Pengen mastiin kalau kamu baik-baik aja,” ucap Kai yang Aruna balas dengan anggukan.


“Alister, Kai. Ayo sini kita makan dulu,” ajak Bagas pada kedua laki-laki tersebut.


Kai segera berjalan ke arah kedua orang tua Alister dan ikut makan dengan mereka. Sedangkan Alister kini tetap berada di samping Aruna dan malah mengambil makanan Aruna yang masih tersisa banyak.


“Kamu gak makan Al?” tanya Casia pada anaknya yang kini menjawab nya dengan gelengan.


“Al udah makan Bun,” jawab Alister yang hanya dijawab dengan anggukan oleh kedua orang tua Alister.


“Ayo makan,” perintah Alister pada Aruna yan kini dengan patuh membuka mulut nya. Casia yang melihat nya hanya tersenyum. Bahkan dengan hal kecil seperti ini saja Casia tahu, jika anaknya memiliki pengaruh yang begitu besar untuk Aruna.


“Kak, Aruna kapan bisa pulang?” tanya Aruna pada Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. menatap Alister dengan tatapan tanya nya.


“Kata dokter, kalau besok kondisi kamu sudah membaik, kita bisa pulang besok,” jawab Alister.


“Aruna udah gak sabar mau pulang,” ucap Aruna yang membuat Alister tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang.


Suara ketukan pintu bersamaan dengan suster dan satu orang dokter datang dengan membawa kotak yang berisi obat. Aruna yang melihat itu menggenggam tangan Alister dengan begitu erat nya.


“Gak papa, ada aku hm,” ucap Alister yang membuat Aruna menganggukkan kepalanya.


Dokter wanita yang menangani Aruna kini mulai memeriksa Aruna.


“Apa masih ada keluhan Aruna?” tanya dokter tersebut yang Aruna balas dengan gelangan.


“Mual dan pusing nya apa masih?” tanya dokter tersebut yang Aruna balas dengan gelangan kembali. Pikiran Aruna kini hanya dipenuhi dengan sakit nya jarum suntik yang akan memasukkan obat ke dalam infus nya itu.


Memang bukan tangannya yang di suntik. Namun saat obat tersebut masuk melalui infusnya, itu sangat menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan dari jarum suntik nya sendiri yang masuk ke dalam tangannya.


“Aruna sudah makan?” tanya dokter tadi yang Aruna balas dengan anggukan.


“Kalau begitu obatnya diminum tiga jam lagi ya,” ucap sang dokter sambil memberikan satu obat untuk Aruna. Alister segera mengambilnya dan meletakkannya di atas nakas samping Aruna.


Dokter tersebut mulai menyuntikkan obat melalui infus nya. Aruna menggenggam tangan Alister dengan begitu erat sambil memejamkan matanya. Tangannya yang kini dipasang infus  begitu sakit rasanya.


Setelah selesai dokter dan suster tersebut segera berpamitan untuk pergi. Alister mengambil kompres yang berada di nakas, lalu membantu Aruna mengompres tangannya agar tak lagi terasa sakit nya.


“Masih sakit?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


Alister kembali mengompres tangan Aruna. Dan hal tersebut sedari tadi tak pernah lepas dari tatapan Kai yang melihatnya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Jika seperti ini saja Aruna merasa begitu kesakitan, lalu bagaimana dulu? Dan ia malah meninggalkan Aruna karena sikap nya yang pengecut.


Suara dering dari ponsel Kai kini membuat atensi semua orang menoleh ke arah sumber suara.


“Shifa. Dia bilang mau ke sini. Kayaknya ada di depan. Aku samperin dulu,” ucap Kai yang di jawab dengan anggukan oleh Aruna. Setelahnya Kai segera pergi untuk menjemput Shifa yang sudah  berada di depan.


“Kayaknya dia nyesel banget,” ucap Bagas dengan senyumannya sambil melihat tempat Kai tadi pergi. Alister yang mendengar ucapan Ayah nya itu menganggukkan kepalanya. Ia pun juga bisa merasakan penyesalan Kai.


“Aruna sudah memaafkannya dan sekarang Aruna berharap dia gak lagi jadi pengecut,” ucap Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh yang lainnya.


“Udah gak sakit lagi?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Alister tersenyum dengan begitu lembut sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang.


Akan ia pastikan Jacob mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang ia lakukan pada Aruna. Karena bisa Alister lihat jika Aruna kini masih trauma dengan apa yang menimpanya.


***