
Aruna dan Alister terkini tengah duduk bersama di depan rumah mereka sambil menikmati pemandangan dari taman milik Bunda Alister. Aruna kini menyandarkan kepalanya pada pundak tunangannya tersebut sambil menikmati kenyamanan yang kini tengah ia rasakan.
“Kak,” Panggil Aruna yang kini membuat Alister menoleh ke arah Aruna dengan menaikkan sebelah alisnya soalnya bertanya untuk apa gadis tersebut memanggilnya.
Namun setelah memanggil alister kini Aruna malah hanya diam saja membuat Alister kebingungan dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh gadisnya itu.
“Kenapa hm? Kok malah diem?” tanya alister pada Aruna saat menyadari jika kini gadisnya itu hanya diam saja.
“Kalau nanti misalnya Aruna bilang kalau Aruna udah nggak sayang sama kakak Aruna udah nggak cinta sama kakak apa Kakak bakalan percaya?” tanya Aruna tiba-tiba yang kini membuat Alister menaikkan sebelah alisnya karena merasa janggal dengan pertanyaan dari tunangannya tersebut. Alister merasa ada yang tidak beres dengan Aruna hingga garis tersebut menanyakan hal aneh seperti itu.
“Kenapa nanya kayak gitu?” tanya alister merasa curiga pada Aruna namun Aruna kini hanya menggelengkan kepalanya masih tidak ingin mengatakan kepada Alister. Aruna hanya tidak ingin melibatkan alister dalam bahaya yang ia buat, oleh karena itu kini Aruna memilih untuk tidak menjawab pertanyaan alister tersebut dan hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya, ya nggak kenapa sih Kak Aruna cuman pengen tau aja apa nggak bakalan percaya kalau suatu saat nanti Aruna bakalan bilang kayak gitu ke kakak?” tanya Aruna lagi karena ia masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkan.
“Kalau dari mulut kamu sendiri yang bilang kakak akan percaya,” jawab alister yang kini membuat Aruna terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.
“Kalau ada yang bilang kayak gitu ke Kakak siapapun itu entah Kakak dengar dari orang lain ataupun dari mulut Aruna sendiri jangan pernah percaya, karena selamanya laki-laki yang akan terus Aruna cintai adalah kakak. Jadi Aruna harap jika suatu saat nanti Aruna ataupun orang lain mengatakan hal tersebut kakak tidak akan percaya dan Kakak akan terus berjuang untuk membawa Aruna kembali,” ucap Aruna dengan begitu tegasnya. Tatapan gadis tersebut kini begitu lembut menatap mata Alister yang justru menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan tatapan curiganya.
Mendengar perkataan Aruna yang seperti itu bagaimana mungkin Alister tidak akan curiga jika kini tunangannya tersebut dengan menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kamu nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari kakak Aruna, dengan ucapan kamu yang kayak gini aja Kakak yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kakak,” ucap Alister dengan begitu tegasnya tatapannya kini bahkan berubah menjadi sendu menatap Aruna yang kini menatapnya dengan begitu teduh dengan senyuman yang begitu manis ditampilkan oleh gadis tersebut.
“Apapun itu kakak hanya cukup percaya kalau Aruna sayang sama kakak Aruna cinta sama Kakak dan kakak adalah satu-satunya laki-laki yang akan Aruna terus cintai bahkan sampai Aruna mati nanti, kakak akan menjadi cinta terakhir untuk Aruna dan kakak harus percaya itu jika sesuatu terjadi maka kakak harus tetap berjuang meskipun Aruna mengatakan jika Aruna membenci kakak,” pinta Aruna pada alistar yang kali ini Terus saja bertanya dalam benaknya Apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya itu. Namun Aruna dengan keras kepalanya tetap mempertahankan apa yang kini ia pikirkan untuk tidak memberitahu Alister dan melibatkan laki-laki tersebut.
“Dan satu lagi Kak kalau nanti Aruna hilang Kakak nggak perlu lapor polisi Kakak cukup cari Aruna karena Aruna selalu pakai jam yang dikasih Kai,” ucap Aruna sambil memamerkan jam yang kini dipegang olehnya, Alister rasanya kini sudah tidak tahan lagi mendengar semua ucapan Aruna yang menjadi tanda tanya dan menurutnya sangat aneh.
“Kamu masih ingat kan apa yang pernah kita katakan kita harus saling terbuka satu sama lain apapun yang terjadi,” peringat Alister yang kini sudah menatap Aruna dengan tatapan tajamnya sebuah tatapan yang perlu pernah Ia berikan pada Aruna namun kali ini ia benar-benar marah atas apa yang Aruna katakan dan atas apa yang tidak Aruna katakan.
“Maaf Kak tapi untuk kali ini Aruna tidak bisa mengatakannya, yang perlu Kakak lakukan hanya menuruti ucapan Aruna. Aruna sayang sama kakak,” ucap Aruna sambil memeluk alistar dan memejamkan matanya. Berbeda dengan Aruna kini Alister tampak semakin ketakutan memikirkan ucapan gadisnya tersebut.
Hingga kini ia menyadari jika Aruna mengatakan yang pernah melihat seseorang yang memasuki tempat kejadian pembunuhan di kampus mereka.
“Siapa orangnya?” tanya Alister pada Aruna yang kini tampak terkejut mendengar perkataan dari tunangannya itu. Namun bukannya menjawab pertanyaan Alister kini Aruna hanya terkekeh sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Kita masuk yuk Kak udah sore,” ajak Aruna yang setelahnya lebih dulu masuk ke dalam rumahnya Alister sudah akan menahannya namun Aruna kini lebih dulu masuk. Alister yang mendengar ucapan Aruna kini hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan sepertinya ia sendiri yang harus menyelidiki ini.
Memikirkan ucapan Aruna rasanya kini Alister benar-benar kalut, Ia benar-benar takut jika sampai terjadi sesuatu pada gadisnya itu. Namun dengan sikap Aruna yang kini begitu keras kepala akhirnya ia hanya bisa untuk menyelidikinya sendiri.
***
Kini ia jadi mengerti tentang pembicaraan Aruna dua hari yang lalu. Semua ini pasti berkaitan dengan mobil yang mengikuti mereka tersebut dan orang yang sudah menjadi pelaku Dari pembunuhan yang terjadi di kampus mereka.
Namun sampai saat ini Arun masih memilih untuk bungkam dan tidak mengatakan Siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini.
“Hari ini sepertinya Kakak pulang malam lagi, Jangan pergi kemanapun tanpa Kakak ataupun papa. Untuk saat ini kakak nggak bisa buat mempercayai siapapun,” tegas alister pada Aruna yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari kekasihnya tersebut. Aruna pun juga tak ingin untuk keluar tanpa alister.
“Kakak juga hati-hati ya,” perintah Aruna yang kini membuat alister menganggukkan kepalanya mendengar ucapan gadisnya itu.
Tak lama kini mereka akhirnya sampai di depan rumah Aruna, Aruna kini lebih dulu keluar dari mobilnya lalu ia melambaikan tangannya pada Alister masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan jika Aruna aman sampai di rumah barulah alister memilih untuk pergi menuju fakultasnya kembali karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan.
Dengan langkah cepatnya kini Aruna memasuki rumahnya. Gadis tersebut kini terlihat buru-buru memasuki rumahnya namun belum sempat ia memasuki rumahnya sebuah panggilan kini terlihat di ponselnya.
Nama Nevan kini terpampang dengan jelas di sana yang membuat detak jantung Aruna kini berpacu dengan begitu cepatnya bukan karena ia menyukai Nevan tapi karena ia begitu takut pada laki-laki tersebut. Sebelumnya Aruna memang sudah menyimpan nomor Nevan dengan tidak sengaja karena saat itu ia tengah menanyakan beberapa materi pada laki-laki tersebut dan alister pun mengijinkannya untuk menyimpan kontak laki-laki tersebut karena takut jika nanti kontaknya malah hilang jika Aruna tidak menyimpannya, yang akhirnya malah membuat Aruna bingung untuk menanyakan kepada siapa lagi tentang materi.
Karena alister pun tahu jika Nevan adalah orang yang pintar dan berbakat dalam kedokteran. Jadi menurutnya tak salah jika akhirnya Aruna bertanya tentang ilmu kedokteran pada laki-laki tersebut sekedar saling sharing.
Merasa ragu akhirnya Aruna membiarkan panggilan tersebut dan menutupnya begitu saja. Namun tak lama kini sebuah pesan masuk dalam ponselnya yang membuat Aruna segera membukanya membaca pesan tersebut, namun sebelum itu ia mematikan tanda baca agar orang diseberang sana tidak mengetahui jika Aruna sudah membaca pesannya tersebut.
Kak Nevan
Gue di depan rumah lo, keluar sekarang
Atau tunangan lo itu akan jadi korban gue selanjut nya
Sebuah pesan yang penuh akan ancaman tersebut membuat tangan Aruna kini terasa gemetar karena terlalu takut dengan Pesan yang disampaikan oleh Nevan. Aruna kini rasanya begitu bingung harus menemui Nevan atau tidak karena ia takut jika ia tidak menemui Nevan maka laki-laki tersebut akan mencelakai Alister.
Setelah memantapkan dirinya kini Aruna mengecek semua barang milik nya. Semua hal yang ia rasa akan ia butuh kan. Setelah memastikan semua nya aman kini Aryna dengan segera menuju ke arah depan di mana Nevan berada.
Untuk Alister ia tak masalah jika harus mengorbankan nyawanya. Karena selama ini laki-laki tersebut sudah banyak melakukan hal hanya untuk Aruna.
Aruna kini berjalan menuju ke arah mobil yang sudah ia ketahui sebagai mobil Nevan. Mobil yang selama beberapa hari ini selalu saja mengikutinya.
Namun baru saja Aruna akan mengetuk pintu mobil tersebut kini jendela mobilnya terbuka.
“Masuk,” perintah Nevan di dalam sana yang membuat Aruna kini segera masuk ke dalam mobil tersebut. Namun baru saja Aruna akan membuka suara, sebuah jarum suntik kini terasa masuk ke leher nya. Hingga tak lama kini yang Aruna lihat hanya lah kegelapan.
***