Aruna Story

Aruna Story
Suara Aruna



Suara tepuk tangan yang begitu meriah kini meramaikan aula fakultas kedokteran. Kini mereka tengah berada di aula untuk malam keakraban. Dari mulai senior hingga maba banyak yang kini menyumbangkan bakat mereka.


Senyuman Aruna kini tampak mengembang melihat penampilan di depannya. Empat orang maba perempuan yang kini tengah melakukan dance untuk penampilan mereka. Seperti nya mereka dulu nya memang suka dance, atau seorang kpopers.


Saat Aruna kini tengah asyik melihat acara di depannya, seorang laki-laki kini duduk di samping Aruna. Aruna kini sontak menoleh ke arah orang yang duduk di samping nya. Hingga senyumannya kini mengambang melihat siapa yang duduk di samping nya.


“Gak mau nyumbang bakat?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Nevan, laki-laki yang kini duduk di samping Aruna.


“Kakak aja dulu. Kan Kakak Gubma,” ucap Aruna dengan senyumannya. Adina yang berada di samping Aruna kini terlihat mengintip di samping Aruna untuk melihat siapa yang berada di samping Aruna.


“Oh iya kenalin Kak, temen Aku. Adina,” ucap Aruna sambil memperkenalkan Adina pada Nevan yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Setelah ini acara nya apa Kak?” tanya Adina pada Nevan, sekedar membuka pembicaraan karena ingin dekat dengan senior nya itu. Memang nya siapa yang tak ingin dekat dengan Nevan, sekedar berbincang seperti mereka saat ini.


“Game,” jawab Nevan yang di jawab dengan anggukan oleh Adina dan Aruna.


“Setelah game pulang?” tanya Aruna yang kini malah membuat Nevan tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Aruna. Aruna kini malah mengerjapkan mata beberapa kali karena tak mengerti mengapa Nevan kini malah tertawa.


“Gak sabar banget buat pulang?” tanya Nevan dengan sisa tawanya yang membuat Aruna kini menyengir karena nya.


“Gak gitu kak,” elak Aruna. Nevan kini hanya menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari pertanyaan gadis di samping nya itu.


“Setelah game lanjut pensi. Jadi diselingi gitu. Jam delapan baru bubar,” jelas Nevan yang membuat gadis di samping nya itu menganggukkan kepalanya mengerti.


“Lo mau nyumbang suara? Nanti gue yang main gitar,” ajak Nevan pada Aruna yang kini tampak berpikir sejenak sambil menggigit bibir bagian bawah nya.


“Suara aku jelek Kak. Ini sama Adina aja,” ucap Aruna yang kali ini malah menumballamn sahabat nya. Adina yang mendengar nya kini membelalakkan mata nya. Tanpa Aruna tahu kini wajah Nevan seolah tak bersahabat mendengar penolakan dari Aruna dan Aruna yang malah menawarkan sahabatnya yang lain.


“Dih apaan? Gue Kalau nyanyi semua yang ada di sini pada bubar, yakin deh. Udah mending lo aja,” tolak Adina dan kini ikut memaksa Aruna hingga wajah Nevan yang tadi sudah terlihat begitu menyeramkan kini kembali bersahabat. Laki-laki tersebut sebenarnya memang sangat tidak suka dibantah dan menerima penolakan. Namun bersama Aruna ia berusaha untuk menahannya, dan lagi saat ini begitu banyak orang yang tengah memperhatikan mereka.


“Kakak gak akan kabur kan ya denger suara aku?” tanya Aruna dengan wajah takut nya yang sontak membuat tawa Nevan kini terdengar.


“Gak bakalan Aruna, udah ayo,” ajak Nevan sambil mengulurkan tangannya dan lebih dulu berdiri dari Aruna. Aruna kini tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menerima uluran tangan tersebut.


Banyak tatapan yang kini tertuju pada mereka. Banyak tatapan eri juga tak suka saat melihat Aruna yang kini bersama dengan Nevan saat ini berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju ke arah stadium depan.


Nevan kini segera mengambil gitar nya. Lalu mereka berjalan bersama menuju ke arah depan.


“Halo selamat malam. Aku Aruna Ilona Amartya dari jurusan ilmu bedah,” sapa Aruna yang kini juga memulai perkenalannya. Suara tepuk tangan kini terkenal begitu meriah nya. Para laki-laki kini bahkan banyak yang memuji kecantikan Aruna, dan para perempuan yang memuji ketampanan Nevan.


Sebagian kini malah menshipper pasangan tersebut, sedangkan sebagian lainnya yang merasa iri tak menyukai kedekatan tersebut. Mereka hanya belum tahu saja jika Aruna sudah memiliki tunangan.


“Lagu apa?” tanya Aruna sambil menoleh pada Nevan. Kini ia mendekat ke arah Nevan yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Nevan kini tampak terlihat serius dengan ponsel nya.


“Seluruh cinta, tau lagu nya?” tanya Nevan sambil memperlihatkan ponsel nya pada Aruna.


“Boleh di bawa aku gak Kak? Aruna gak terlalu hafal lagu nya,” ucap Aruna pada Nevan yang kini menjawab nya dengan anggukan.


“Bawa aja,” ucap Nevan.


Lalu setelah nya kini suara petikan gitar dari Nevan mulai terdengar. Aruna kini mulai bersiap. Hingga suara Aruna yang terdengar begitu merdu nya kini membuat yang berada di sana langsung terdiam seolah menikmati lagu yang kini dibawakan oleh Aruna dan Nevan.


Suara Aruna yang berpadu dengan suara Nevan kini benar-benar membius semua yang berada di sana.


“Tiada cinta yang setulus cintamu (cintamu). Tiada yang sanggup gantikan dirimu. Tiada rasa seindah kasihmu. Tiada yang mampu temani diriku, ho-oh,” nada tinggi dari suara Aruna kini sontak membuat yang berada di sana bertepuk tangan dengan begitu meriahnya.


Nevan yang melihat nya kini sontak menoleh ke arah Aruna dengan senyumannya. Melihat beta cantik dan gadis tersebut dan bagaimana merdu nya suara Aruna benar-benar membius siapapun yang berada di sana.


Hingga tak lama mereka akhirnya menyelesaikan lagu mereka. Suara tepuk tangan yang begitu meriah kini kembali terdengar membuat senyuman Aruna kini mengambang dengan begitu sempurna nya.


Awal nya ia begitu takut jika ada yang menghina suara nya, namun di luar dugaannya kini ia malah mendapatkan tepuk tangan yang begitu meriah. Nevan pun kini juga ikut bertepuk tangan. Aruna sontak menoleh ke arah Nevan yang kini mengacungkan jempol untuk Aruna.


Aruna dan Nevan kini sama-sama sedikit menundukan kepala mereka sebelum akhirnya mereka segera turun dari sana.


“See, suara lo emang sebagus itu. Lihat kan gimana orang ngasih tepuk tangan buat lo?” tanya Nevan yang kini membuat Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya karena terlalu senang.


Nevan kini kembali mengikuti Aruna yang kembali pada sahabat nya. Adina kini sontak tersenyum sambil bertepuk tangan dengan begitu heboh nya lalu mengacungkan jempol nya pada Aruna.


“Lo emang keren,” ucap Adina yang membuat Aruna kini tertawa kecil mendengar nya.


Acara tersebut kini terus berlanjut. Mulai dari game hingga kembali pada penampilan para maba maupun senior mereka. Nevan pun seolah begitu betah berlama-lama berada di dekat Adisti. Hingga akhir acara Nevan selalu bersama dengan Aruna. Bahkan tak jarang laki-laki tersebut juga membantu Aruna.


***