Aruna Story

Aruna Story
Siapa Pelakunya?



Aruna Baru saja sampai di kampusnya saat ini ia mendengar sebuah berita yang begitu menghebohkan karena di kampusnya kini ditemukan sebuah mayat yang merupakan salah satu dari mahasiswa yang berada di kampusnya dan ditemukannya tersebut berada di fakultasnya.


Hal tersebut tentu saja membuat heboh satu kampus apalagi melihat banyaknya bekas luka jahitan yang berada pada tubuh mayat tersebut. Kini fakultas mereka Tengah begitu ramai dengan para polisi juga detektif yang berada di sana untuk menyelidiki tentang kematian salah satu mahasiswa tersebut.


“Kok jadi serem gini ya?”  tanya Adina sambil berbisik pada Aruna yang sedari tadi hanya diam sambil melihat ke arah ruangan di mana mayat tersebut ditemukan. Bahkan kini tubuhnya menegang saat menyadari sesuatu. Kemarin ya begitu jelas melihat Nevan yang  masuk ke ruangan tersebut dan Dinara yang malah menahannya untuk menemui Nevan hal tersebut merasa janggal bagi Aruna, namun tak lama ia segera menggelengkan kepalanya menghapus semua yang ada dipikirannya tersebut dan berusaha untuk berpikir realistis jika Nevan tidak akan melakukannya.


Nevan adalah seorang dokter dan dokter bertugas untuk menyelamatkan nyawa pasiennya Lalu bagaimana bisa dokter malah menjadi seorang psikopat. hal tersebut jelas di luar nalar dan tidak akan terjadi.


“Lu lagi mikirin apa sih?”  tanya Adina pada Aruna dengan tatapan penasarannya namun Aruna kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya seolah mengatakan pada sahabatnya tersebut tidak ada yang sedang ia pikirkan.


“Ngapain masih di sini, balik sekarang jangan di sini,”  ucap sebuah suara di belakang Aruna yang ternyata adalah Nevan. Entah mengapa saat bertemu dengan Nevan ia malah ketakutan saat ini meskipun ia sudah berusaha untuk menghilangkan pemikiran buruknya tersebut tentang Nevan namun begitu sulit untuknya melakukan hal tersebut karena orang yang terakhir kali ia lihat masuk ruang tersebut adalah Nevan.


Nevan yang melihat Aruna malah terbengong kini menaikkan sebelah alisnya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Aruna. Aruna berdengung sejenak sebelum akhirnya ia tersebut pada nisan dan menjalankan kepalanya.


“Kan lumayan Kak buat belajar medis,”  ucap Aruna dengan cemilannya pada Nevan yang kini mengkilapkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.


“Kalian itu masih ada di semester satu dan baru sebulan kuliah hal kayak gini belum seharusnya kalian lihat Apalagi itu kejadian yang sadis bukannya belajar medis ini malah belajar jadi psikopat”  jelas Nevan pada Aruna ambil menampung-nepuk puncak kepala Aruna dan tersenyum para gadis tersebut.


“Ini serius nggak ada yang bisa kita pelajari Kak?”  Tanya Aruna pada Nevan dengan tatapan seriusnya namun Nevan kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Hanya metode cara menjahitnya saja yang bagus,  Kakak juga bisa buat menjahit sebagus itu kalau kamu mau nanti kakak bisa ajarin kamu,”  ucap Nevan dengan senyumannya yang kini malah terasa begitu menakutkan bagi Aruna.


Awalnya ia ingin berpikir jika ia melakukan hal tersebut bukanlah Nevan namun mendengar ucapannya Nevan kini ialah  meyakinkan dirinya jika pelakunya memang adalah Nevan karena ini tidak ada yang boleh mendekat ke arah tempat kejadian namun Nevan malah sudah begitu tahu tentang kondisi dari korban pada saat dibawa keluar korban sudah ditutupi dengan plastik jenazah.


Tatapan Aruna pada Nevan kini terlihat begitu menyelidiki, namun ia berusaha untuk  dengan pemikiran Nevan sebagai ketua BEM sudah melihat nya lebih dulu saat korban ditemukan. Dan Nevan yang kemarin ke sana hanya lah semua atau ada orang lain gang masuk setelahnya..


"Lo kenapa sih?" Tanya Nevan saat kini ia melihat Adisti yang terus saja melihat ke arah Nevan. Adisti yang melihat ke arah Nevan kini dibuat bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi pada Aruna.


"Hm gak papa Kak, Aruna cuma mau minta maaf kok ke Kakak," ucap Aruna yang kini membuat Nevan semakin kebingungan mendengar permintaan maaf dari gadis yang berada di samping nya itu.


"Apaan sih Run?" Tanya Nevan namun Aruna malah menyengir dan menggelengkan kepalanya. Aruna kini sebenarnya ingin meminta maaf atas kejadian di antara mereka. Namun melihat Nevan yang kini biasa saja padanya dan seolah tidak mempermasalahkannya membuat Aruna mengurungkan niat nya untuk bertanya. Karena dari pada ia bertanya pada Nevan dan tanpa ia sadari malah membuat masalah yang sudah selesai ini malah kembali lagi akhirnya Aruna mengurungkan niat nya untuk bertanya.


"Bukan apa-apa kok Kak. Aruna pergi dulu ya. Dah Kak Nevan," ucap Aruna melambaikan tangannya sambil menarik sahabat nya itu untuk pergi. Adina yang masih ingin melihat apa yang terjadi membelalakkan mata nya. Namun pada akhirnya ia tetap saja mengalah dan segera pergi dari sana bersama Aruna.


"Padahal gue masih pengen liat," ucap Adina dengan wajah mengerucutnya. Aruna yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya.


"Gak usah, dari pada nanti pembunuhnya ada di sana dan target dia selanjutnya adalah kita mending kita menjauh aja," ucap Aruna memperingati sahabat nya itu yang kini jadi ngeri sendiri mendengar nya.


"Iya ya. Ayo deh kita pergi," ajak Adina yang kini membuat Aruna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan gadis tersebut.


***


Aruna malam ini rasanya tak bisa tidur. Ia terus saja memikirkan tentang pembunuhan yang ada di kampus nya itu. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi di kampus nya.


Aruna rasanya kini begitu takut sekedar membuka mata nya. Karena saat ia memejamkan matanya maka ingatan tentang pembunuhan tersebut lah yang terlihat.


"Aku gak bisa tidur tuhan," kesal Aruna. Padahal kini ia sudah begitu mengantuk.


Dengan kekesalannya kini akhirnya ia pergi dari kamar nya dan menuju kamar yang berada di sebelah nya. Aruna mencoba membuka pintu kamar di samping nya dan beruntung kamar tersebut tidak terkunci.


Setelah berhasil masuk ke kamar Alister kini Aruna mengunci pintu tersebut. Lalu mengecek jendela dan balkon yang sudah terkunci.


Setelah memastikan semua aman, kini Aruna segera naik ke atas ranjang Alister dan masuk ke dalam selimut nya. Lalu ia tidur dengan tangan Alister sebagai bantahan lalu memeluk Alister dengan begitu erat nya.


Alister yang terganggu dengan pergerakan di samping nya kini langsung membuka matanya dan mengerutkan kening nya melihat siapa yang kini berada di samping nya.


"Aruna? Kenapa di sini sayang? Kenapa belum tidur?" Tanya Alister dengan tatapan bingung dan penuh tanya pada Aruna yang malah terus mencari kenyamanan dalam pelukan Alister.


"Aruna gak bisa tidur Kak. Masih mikirin pembunuhan di kampus tadi," papar Aruna yang membuat Alister kini menghembuskan nafas nya kasar mendengar ucapan Aruna. Ppp


"Siapa suruh kamu nonton hm, kalau takut tuh jangan nonton yang kayak gitu, ujung nya malah keinget terus kan," peringat Alister. Namun Aruna tidak menjawab nya. Kini ia lebih memilih untuk mencari kenyamanan dalam delapan Alister. Alister yang sudah tak tega harus memarahi gadisnya itu lagi. Kini akhirnya ia membalas pelukan Aruna dan membiarkan Aruna untuk tidur bersamanya.


“Kak,” panggil Aruna pada Alister yang kini bergumam mendengar panggilan Aruna masih dengan memejamkan mata nya.


“Kemarin aku ada liat orang keluar dari ruangan tempat pembunuhan itu, apa menurut Kakak dia pelaku nya? Tapi aku liat nya pas siang sih,” jelas Aruna sambil mendongak dan melihat ke arah Alister yang kini tersenyum mendengar ucapan Aruna. Kini Aruna hanya menyampaikan apa yang tengah ia pikirkan.


“Jangan terlalu dipikirin dan gak perlu untuk terlibat. Biarin aja, polisi dan detektif yang mengurus,” ucap Alister. Ia hanya tak ingin untuk terlibat dan malah menempatkan mereka dalam bahaya. Karena mungkin saja orang yang Aruna maksud memang adalah pelaku nya. Meskipun kemungkinannya tidak banyak. Karena tak ada yang tahu kapan korban di bunuh.


“Jangan kasih tau apa yang kamu bilang ke Kakak ini ke orang lain ya,” ucap Alister mengingatkan Aruna yang kini membuat Aruna menganggukkan kepalanya dengan patuh.


“Udah jangan dipikirin lagi. Mending sekarang kamu tidur,” perintah Aloister dan kini semakin mengeratkan pelukannya pada Aruna.


Aruna kini berusaha untuk memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Mencari kenyaman dari pelukan Alister hingga akhirnya ia terlelap dan masuk ke alam mimpi.


Alister kini memikirkan ucapan Aruna tentang pelaku tersebut, bukannya apa. Ia hanya takut jika pelaku tersebut malah mengetahui jika Aruna melihat nya masuk ke ruangan tersebut. Ia takut terjadi sesuatu pada gadisnya itu. Bohong jika Alister mengatakan ia tak khawatir. Sepertinya setelah ini ia harus menempatkan pengawal di sekitar Aruna. Untuk menjaga gadis tersebut dari jauh.


***