
Langit pagi kini bersinar dengan begitu cerah nya. Padahal malam tadi, langit terus saja menumpahkan air nya. Membuat wangi petrichor masih saja menguar, hawa dingin dari sisa hujan semalam pun kini menjadi udara yang membuat segelintir orang malas untuk beraktifitas.
Namun semua itu tidak berlaku bagi Aruna. Lihat saja, bahkan kini gadis tersebut sudah siap dengan celana sepanjang lutut dan kaos over size yang membalut tubuh nya. Rambut nya kini dibiarkan tergerai begitu saja.
Sekolah nya hari ini libur karena para guru yang tengah rapat untuk persiapan ujian kelulusan. Ya, tidak terasa memang sebentar lagi ia sudah akan lulus saja. Padahal menurut nya ia baru saja kembali bersekolah namun kini ia sudah akan lulus saja.
Aruna, dengan langkah riang nya kini menuju ke arah ruang kecil yang berada di depan rumah nya di mana kini dijadikan sebagai kandang untuk kucing nya bermain. Alister benar-benar melakukan yang terbaik. Bahkan laki-laki tersebut yang membeli semua mainan untuk kucing nya yang diberi nama Lion.
“Aruna mau kemana sayang?” tanya Casia yang kini tengah menyiram tanamannya. Ia menatap Aruna yang sudah begitu rapih.
“Mau ngajak Lion jalan dulu Bun,” jelas Aruna yang kini sudah membawa kucing nya, dengan memegang tali yang kini mengikat leher nya. Sudah seperti anjing.
“Kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi orang rumah atau Alister,” peringat Casia. Ia hanya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna. Bisa ia yang terkena amarah anaknya.
“Siap Bunda,” ucap Aruna dengan mengacungkan jempol nya sambil mengedipkan sebelah matanya. Casia hanya tersebut dan menggelengkan kepalanya.
Setelah berpamitan kini Aruna segera pergi dari sana. Berjalan-jalan di sekitar kompleks rumah nya. Bangunan rumah mewah kini berjejer rapi di sana. Individualisme nya pun tinggi. Bahkan selama Aruna berada di sana ia tak mengenal banyak tetangga nya. Karena yang tinggal di sana kebanyakan adalah orang-orang sibuk.
Yang datang ke rumah hanya untuk beristirahat. Dan selebih nya mereka akan berada di kantor. Bahkan saat di rumah pun mereka banyak menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Lion kalau capek bilang ya, nanti aku gendong,” perintah Aruna pada Lion sambil mengelus puncak kepala kucing tersebut dengan senyumannya.
Setelah nya kini mereka dengan segera berjalan sambil memakan makanan yang dibawanya dari rumah kini ia membawa Lion jalan-jalan.
Hingga saat ia keluar dari kompleks perumahannya kini ia melihat taman yang tak jauh dari sana terlihat kini sebuah taman yang cukup besar, Aruna yang melihat hal tersebut memilih untuk mengajak Lion menuju ke arah sana.
Langkah nya yang ringan kini berjalan dengan begitu santai nya menuju ke arah taman tersebut. Setelah sampai di sana kini gadis tersebut duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Sekedar beristirahat sebentar dan menikmati suasana taman yang pagi ini begitu menyegarkan.
Taman pagi ini masih begitu sepi, jelas saja karena banyak yang kini masih harus bersekolah. Hanya Aruna saja yang kini bersantai di sana.
Lama berada di sana sambil memainkan ponselnya, Aruna tak sadar jika Lion kini sudah melepaskan dirinya karena Aruna yang tanpa sengaja malah melepaskan tali yang sedari tadi di pegang nya.
Menyadari ada yang hilang dan aneh, Aruna segera melihat sekeliling. Hingga ia membelalakkan matanya saat melihat kini Lion sudah tak lagi bersama nya.
“Loh Lion kemana?” tanya Aruna pada dirinya sendiri saat tak mendapati keberadaan kucing nya.
Dengan panik kini Aruna mencari keberadaan kucing nya itu.
“Lion,” panggil Aruna mengitari taman untuk mencari keberadaan kucing nya.
Ia kini benar-benar takut jika sampai Lion hilang. Aruna melihat ke sekitar mencari keberadaan kucing nya.
“Lion,” panggil Aruna yang membuat kucing tersebut kini segera berlari ke arah Aruna.
Tak hanya Lion. Laki-laki tersebut kini juga menoleh ke arah Aruna dengan tatapan bingung nya. Aruna berjalan ke arah laki-laki tersebut yang kini akhirnya tersenyum ke arah Aruna.
“Hai, makasih ya udah nemuin kucing aku,” ucap Aruna dengan senyuman tulis nya pada laki-laki di depannya yang kini ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Laki-laki tersebut jauh lebih tinggi dari Aruna hingga kini Aruna harus mendongak untuk berbincang pada laki-laki tersebut.
“Sama-sama, kucing lo lucu,” ucap nya sambil mengelus Lion yang kini berada dalam gendongan Aruna. Aruna yang mendengar nya kini tersenyum sambil melihat ke arah Lion yang kini hanya mendusul lengan Aruna.
“Makasih,” ucap Aruna dengan senyumannya.
“Oh iya, kenalin gue Nevan,” ucap nya sambil mengulurkan tangan pada Aruna yang kini juga membalas uluran tangan tersebut.
“Aruna,” balas Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh Nevan.
“Nama yang cantik, kayak orang nya,” puji nya yang kini justru membuat Aruna tertawa kecil mendengar nya.
“Woy Nev, mau lanjut main atau pdkt lo?” tanya temen Nevan yang sedari tadi memperhatikan mereka. Ya, kini laki-laki tersebut tidak sendiri berada di sana. Ada dua teman laki-laki tersebut yang kini juga berada di sana.
Mendengar pertanyaan itu Nevan menatap temannya dengan tatapan datar nya. Temannya kini mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk piss.
“Gak papa, kamu main aja. Aku juga mau pulang, sekali lagi makasih ya. Dah,” pamit Aruna sambil melambaikan tangannya pada Nevan yang kini masih saja menatap kepergian Aruna.
“Lain kali jangan suka ngilang. Untung ada yang nemuin kamu,” kesal Aruna yang kini mulai mengajak berbicara kucing nya itu. Namun jelas saja tak ada jawaban dari kucing tersebut.
Gadis tersebut kini memilih untuk segera kembali ke rumah nya karena ia sudah pergi begitu lama. Tak ingin membuat Casia khawatir kepadanya.
Disisi lain kini Nevan memilih untuk kembali bermain basket bersama dengan temannya yang lain.
“Cantik ya?” goda temannya yang kini membuat Nevan yang tengah mendrible bola yang di berikan padanya tampak menipiskan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya. Aruna memang begitu cantik, bahkan kini wajah cantik gadis tersebut masih bisa ia bayangkan.
“Aruna,” gumamnya sambil tersenyum membayangkan Aruna saat tersenyum padanya.
“Lo minta wa atau sosmed nya?” tanya temannya yang Nevan balas dengan gelengan. Ia melupakannya. Kini ia hanya bisa berharap semoga di lain waktu ia bisa bertemu dengan gadis tersebut lagi.
***