
Hari ini di kampus Alister akan ada Expo kampus. Dan Alister sengaja mengajak Aruna untuk datang ke kampus nya, kali ini Shifa juga datang bersama dengan Kai. Mereka pun juga mengajak Mutia untuk ikut dengan mereka.
“Rame juga ya,” ucap Aruna saat kini mereka tengah berjalan bersama mengelilingi fakultas Alister.
“Nanti kalian bertiga gak papa kan kita tinggal? Aku sama Kai jadi panitia soalnya,” ucap Alister pada Aruna yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Nanti kalau butuh sesuatu ada apa-apa. Kalian telpon kita aja ya,” pesan Kai yang kali ini kembali di jawab dengan anggukan patuh oleh ketiga gadis tersebut.
Setelah nya Alister dan Kai segera pergi dari sana meninggalkan ketiga gadis tersebut untuk melihat-lihat sendiri karena mereka sebagai ketua dan wakil BEM kini begitu sibuk dengan kegiatan expo tersebut.
“Lo ada niat masuk sini gak sih?” tanya Mutia saat kini mereka hanya bertiga saja. Berjalan menuju ke arah pusat acara berlangsung.
“Gue sih ada, tapi masih gak tau juga sih,” ucap Shifa menjawab pertanyaan Mutia.
“Aku ikut Kak Alister aja,” ucap Aruna dengan cengirannya yang kini hanya membuat sahabat nya menatapnya dengan tatapan datar sambil menggelengkan kepalanya sudah terbiasa menghadapi sahabatnya yang satu itu.
“Bucin emang beda,” ucap Mutia yang membuat Aruna dan Shifa kini tertawa kecil mendengar nya.
“Aruna, Hai,” sapa seorang laki-laki pada Aruna yang Aruna balas dengan senyuman juga.
“Alister mana Run?” tanya laki-laki lainnya pada Aruna saat melihat keberadaan Aruna di sana.
“Tadi sama Kai. Lagi ngurus acara katanya,” jawab Aruna dengan senyumannya.
“Have fun Aruna,” ucap yang lainnya yang Aruna balas dengan senyuman dan anggukan.
Mutia dan Shifa yang melihat jika Aruna mengenal banyak orang yang berada di sana membuat mereka kagum dengan Alister. Bagaimana Alister memperlakukan Aruna. Bahkan laki-laki tersebut selalu mengajak Aruna pergi kemanapun ia pergi. Dan mengenalkan Aruna pada orang-orang yang dikenal nya.
“Pemes juga ya lo Run,” ucap Shifa pada Aruna yang kini hanya terkekeh mendengar nya.
“Sering ketemu aja karena Kak Alister,” jelas Aruna yang membuat sahabat nya kini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.
“Btw kalian duluan aja. Gue mau ke toilet sebentar,” ucap Aruna berpamitan pada sahabat nya yang kini menjawabnya dengan anggukan.
“Mau kita temenin aja gak?” tanya Shifa yang kini dijawab dengan gelengan oleh Aruna.
“Gak papa, kalian duluan aja,” ucap Aruna dengan senyumannya yang akhirnya dijawab dengan anggukan oleh kedua sahabat nya.
Setelah nya mereka segera berpisah, Aruna yang menuju ke arah bilik toilet yang tadi mereka lalui, sedangkan Shifa dan Mutia kini menuju ke arah tempat acara.
Setelah menyelesaikan panggilan alam nya. Aruna dengan segera keluar dari kamar mandi dan merapikan penampilannya sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari sana. Namun saat ia akan pergi, suara di belakang nya kini menghentikannya.
“Gue liat makin bahagia aja lo,” ucap nya yang membuat Aruna kini membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah laki-laki yang kini tengah bersandar di dinding dengan tatapan tajam nya.
“Kenapa? Iri?” tanya Aruna dengan begitu sombong nya yang membuat laki-laki yang tak lain adalah Jacob tersebut kini menatapnya dengan tatapan datar nya.
“Iri? Gue bahkan bisa merebut nya kalau gue mau,” ucap Jacob yang membuat Aruna kini tertawa mendengar ucapan penuh percaya diri itu.
“Kalau gue?”tanya Aruna dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Gue gak tau kehidupan sulit seperti apa yang lo jalani sampai lo bisa kayak gini. Tapi sedikit saran, lo itu ganteng cewek yang mau sama lo pasti banyak. Jadi mending lo mulai mikirin buat deket sama cewek dari pada ganggu cowok orang,” ucap Aruna dengan begitu tegas nya pada Jacob.
“Lo pikir gue akan nyerah cuma karena ucapan lo? Sayang nya engga. Gue gak akan nyerah gitu aja. Kita liat aja nanti gimana,” ucap Jacob dengan begitu tegas dan tajam nya. Aruna menganggukkan kepalanya.
“Gue bisa yakinin lo seratus persen kalau Kak Alister gak akan mungkin berpaling dari gue,” ucap Aruna lalu setelah nya gadis tersebut segera pergi dari sana. Meninggalkan Jacob yang kali ini hanya bisa untuk mengepalkan tangannya karena terlalu kesal dengan ke angukan Aruna.
***
Aruna kini hanya terdiam sambil menatap lurus ke arah depan. Setelah kembali dari toilet kini Aruna memilih untuk duduk di tempat yang tak banyak kerumunan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menuju ke arah temannya nanti.
Entah mengapa kini ucapan Jacob terus saja mengganggunya. Seperti yang Alister pernah katakan, padahal saat ada gadis lain yang mendekati Alister ia tak pernah memikirkan hal tersebut. Namun entah mengapa kini saat ada laki-laki yang mendekati tunangannya ia menjadi begitu gelisah.
“Kenapa?” pertanyaan itu membuat Aruna menoleh dan kini ia sudah mendapati Kai yang berjalan ke arah Aruna dan duduk di samping Aruna dengan tatapan bingung nya melihat Aruna yang kini tampak begitu gelisah.
“Lagi mikirin sesuatu aja,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Kai kini mengangykjkan epalanya mengerti, jika saat ini Aruna tak ingin untuk bercerita.
“Hal yang gak perlu dipikirin gak usah dipikirin, tambah beban pikiran aja loh,” pesan Kai pada Aruna. Walau ia tak tahu apa yang dialami oleh Aruna namun ia tetap saja mengatakan hal tersebut. Aruna yang mendengar ucapan Kai kini hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, aku mau ngasih ini ke kamu tapi lupa terus,” ucap Kai. Aruna yang mendengar nya mengerutkan keningnya lalu mengambil kotak yang di sodorkan oleh Kai.
“Jam tangan?” tanya Aruna yang Alister balas dengan anggukan.
“Kamu dari dulu pengen jam tangan modelan begitu kan? Nah itu keluaran terbaru yang aku beliin buat kamu,” ucap Kai dengan senyumannya. Aruna tersenyum senang lalu segera memakainya.
“Dan sesuai ucapan kamu dulu, aku udah menghubungkan jam tangan itu dengan GPS. Nanti aku kasih ke Alister,” ucap Kai yang kini Aruna balas dengan anggukan. Jam tangan tersebut dulu Aruna ingin miliki agar ia tahu kemana Kai pergi begitu pun sebaliknya. Jadi jam tangan tersebut ada sepasang.
“Ke sana yuk. Jangan di sini sendiri, nanti ada penunggu yang nyamperin tau rasa,” ucap Kai yang membuat Aruna kini tertawa mendengar nya. Setelah nya ia segera menuju ke arah sahabat nya kembali. Sedangkan Kai kini menuju ke arah lain.
Lama mereka berada di sana. Sampai akhirnya Alister menghampiri Aruna dan mengajak Aruna untuk segera pulang karena hari yang semakin sore.
“Tadi Kai ada ngasih jam tangan?” tanya Aruna yang membuat Alister mengangguk dan memamerkan jam tangan yang digunakannya. Melihat itu Aruna tersenyum dengan senang karena Alister mau untuk memakainya.
“Makasih ya Kak,” ucap Aruna yang membuat Alister kini justru mengerut bingung mendengar ucapan Aruna yang malah mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Buat apa?” tanya Aruna dengan tatapan bingung nya.
“Karena udah mau pake,” ucap Aruna yang membuat Alister kini terkekeh mendengar nya namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Aruna sebelumnya berpikir jika Alister tak akan mau memakai nya karena jam tangan tersebut pemberian Kai. Namun ia salah. Karena ternyata Alister mau untuk menggunakannya.
Tak lama mobil Alister berhenti di depan sebuah minimarket. Aruna yang melihat nya kini mengerutkan kening nya.
“Kakak mau beli air sebentar,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Setelah nya Alister segera pergi, sedangkan Aruna memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
Namun tak lama mobil di samping Aruna terbuka. Aruna segera menoleh dan tersenyum. Mengira jika yang membukanya adalah Alister. Namun saat melihat yang kini berada di depan nya bukan lah Alister senyumannya memudar. Apalagi saat kini ada yang membekap mulut dan hidung nya hingga ia kehilangan kesadarannya.
***