Aruna Story

Aruna Story
Keajaiban Dunia



Langit di luar sana bahkan masih begitu gelap, namun gadis dengan rambut nya yang kini masih tergerai dengan membawa sisir dan ikat rambut sudah berdiri di depan kamar tunangannya. Dengan tangannya yang kini terus mengetuk pintu di depannya dengan tidak sabaran, membangunkan tunangannya.


"Kakak bangun," teriak nya dari luar kamar tunangannya. Gadis tersebut tak lain adalah Aruna, gadis cantik yang kini tengah membangunkan tunangannya dengan tidak sabaran.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu kamar Alister kini terbuka. Menampilkan Alister dengan wajah bantal nya kini menatap Aruna dengan wajah sayunya.


"Kakak masih tidur? Lihat, ini udah jam berapa? Nanti kalau Aruna telat gimana?" Sungut Aruna dengan tatapan kesal nya pada Alister yang kali ini menghembuskan nafas nya kasar mendengar ucapan Aruna.


"Ini masih pagi Sayang, lihat di luar bahkan lampu dunia belum nyala," ucap Alister sambil menggelengkan kepalanya melihat kekesalan tunangannya itu.


"Gak usah banyak protes kak. Nanti kalau Aruna terlambat gimana? Kakak enak ketua BEM, siapa yang marah kalau terlambat? Kalau Aruna yang terlambat, nanti yang mau ngehukum tuh antri," kesal Aruna. Alister kini akhirnya memilih mengalah dan menganggukkan kepalanya.


"Tunggu Kakak mau mandi dulu mau siap-siap," ucap Alister yang akhirnya lebih memilih untuk mengalah dan tidak memperpanjang masalah mereka.


"Rambut Aruna dulu beresin," kesal Aruna sambil menyerahkan ikat rambut juga sisir pada Alister yang kini dengan segera mengambilnya.


Terlalu lama tidak pernah mengikat rambut nya akhirnya membuat Aruna terbiasa dengan Alister yang selalu mengikat rambut nya jika ia ingin mengikat nya. Alister kini membawa gadisnya itu untuk masuk.


Dengan begitu telatennya kini Alister mengikat rambut Aruna. Membuat nya di kepang ke belakangan. Terlihat begitu cantik.


"Nah, udah," ucap Alister dengan senyumannya. Aruna kini memeriksa rambut nya dan menatap penampilannya dari cermin di depannya. Setelah merasa puas, Aruna dengan segera pergi dari kamar Alister dengan senyumannya yang kini mengambang.


Alister yang melihat hal tersebut kini hanya menggelengkan kepalanya. Setelah nya ia memilih untuk menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuh nya karena tak ingin membuat Aruna menunggu lebih lama dan berujung gadis tersebut akan ngambek.


Di ruang makan kini Aruna sudah duduk dengan manis. Bahkan asisten rumah tangga di rumah nya pun dibuat kebingungan karena Aruna yang datang begitu pagi. Biasanya gadis tersebut akan datang ke ruang makan paling belakang.


Kini bahkan belum ada makanan di atas meja namun ia sudah datang dengan senyumannya yang merah dan sudah begitu rapih.


“Pagi banget Non,” sapa salah satu asisten rumah tangga yang umur nya sudah tidak lagi muda pada Aruna. Sambil menyajikan segelas susu di depan gadis tersebut.


“Iya Bi, hari pertama masuk kampus dan lagi harus OSPEK jadi gak mau terlambat. Takut dihukum,” jujur nya yang kali ini sontak membuat wanita yang di panggil Bibi tersebut tertawa kecil mendengar nya.


“Kalau ada Aden mah aman Non,” balas nya yang kini dijawab dengan gelengan oleh Aruna.


“Kita udah beda Fakultas Bi. Fakultas aku jauh dari Kak Al,” papar Aruna yang kali ini dijawab dengan anggukan oleh asisten rumah tangga nya itu.


“Ah gitu ya Non. Ya udah Bibi bikin sarapan dulu, biar Non bisa berangkat pagi dan gak terlambat,” pamit nya yang Aruna balas dengan anggukan. Asisten rumah tangga itu pun segera pergi dari sana.


“Aruna? Tumben pagi banget Nak?” anya Casia dengan senyumannya sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan tatapan penuh tanya pada Aruna yang kali ini malah menyengir mendengar nya.


“Iya Ma, biar gak terlambat,” ucap Aruna yang membuat Casia kali ini terkekeh mendengar nya. Lalu ia menganggukkan kepalanya dan menuju ke arah dapur untuk membantu asisten rumah tangga mereka membuat sarapan.


Begitu lah Casia. Meskipun asisten rumah tangga nya sudah begitu banyak. Namun tetap saja ia akan membantu memasak makanan dan ,menyiapkannya. Karena ia juga ingin menyiapkan makanan untuk keluarga nya.


“Morning,” sapa Alister yang kali ini baru saja datang dan langsung duduk di samping Aruna.


“Kamu juga pagi Al?” tanya Casia yang kini juga menatap ke arah anaknya yang menganggukkan kepalanya.


“Nih gara-gara tuan putri. Masih pagi, udah bangunin Al,” ucap Alister yang tentu saja ucapan anaknya itu kini membuatnya tertawa.


“Semangat banget ya yang mau masuk kampus,” ucap Casia dengan tawa kecil nya sambil menyiapkan minuman untuk Alister.


“Takut terlambat Bun. Nanti kalau terlambat yang bakalan menghukum tuh ngantri,” jelas Aruna yang kini dibalas dengan anggukan oleh Casia.


Tak lama kini suami Casia juga datang. Sama seperti yang lainnya. Ia juga tampak terkejut melihat kedatangan Aruna yang kini sudah berada di ruang makan. Duduk dengan tenang sambil memakan makanan yang kini sudah tersisa separuh.


“Wah pagi banget,” ucap Bagas dengan senyumannya yang kali ini membuat Aruna menyengir mendengar nya.


“Jangan salah pah, penunggu ruang makan pertama nih. Dia juga yang bangunin Al, sebuah keajaiban dunia kan Pa, Aruna bangun pagi tanpa di bangunin,” ucap Alister dengan senyuman ,mengejek nya yang kali ini sontak membuat Aruna dengan kekesalannya memukul tangan Alister.


Casia yang melihat nya hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun ia merasa bahagia melihat anak dan calon menantu nya itu yang kini terlihat begitu akur.


“Kamu jangan godain menantu Bunda terus, cepet habisin makanan kamu,” perintah Casia pada anaknya itu yang kali ini memutar bola matanya malas dan menipiskan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya. Rasa terkuat di rumah mereka memang lah Aruna. Selalu mendapatkan dukungan dari segala sisi.


“Bunda emang yang terbaik,” ucap Aruna sambil mengacungkan jempol nya pada Casia yang kini dengan segera mengusap rambut Aruna dengan gemas.


Setelah nya mereka memilih untuk menghabiskan sarapan mereka. Aruna kini masih tampak bersemangat untuk ke kampus. Setelah selesai dengan makanan mereka. Aruna dengan segera menarik Alister untuk berpamitan dan menuju ke arah kampus mereka.


Aruna kini memang begitu bersemangat. Di dalam perjalanan bahkan gadis tersebut tak ada hentinya mengatakan betapa ia kini begitu deg degan dan takut melakukan kesalahan. Namun ia juga begitu bersemangat untuk hari nya saat ini.


Alister tentu saja yang mendengar nya hanya memberikan nasihat pada tunangannya itu dan berusaha membuatnya tenang.


***