Aruna Story

Aruna Story
Teman Baru



 Aruna kini sudah tampak cantik dengan dengan dress yang membalut tubuhnya dengan baik. Rambut nya kini dibiarkan tergerai, make up tipis yang menghiasi wajah nya semakin menambah kecantikan gadis tersebut.


Suara ketukan pintu membuat Aruna menoleh. Ia segera membawa kursi roda nya menuju ke arah pintu untuk membukakan orang di luar sana pintu.


“Udah siap?” tanya Alister yang kini sudah berdiri di depan Aruna saat gadis tersebut membuka pintu kamar nya.


“Udah kak,” jawab Aruna dengan senyumannya yang kin mengembang dengan begitu indahnya.


“Kita pergi sekarang?” tanya Alister yang dibalas dengan anggukan oleh Aruna.


Alister kini segera mendorong kursi roda Aruna untuk turun. Saat di ruang keluarga seperti biasanya. Kini kedua orang tuanya yang tengah menonton televisi bersama terlihat begitu mesra.


Alister memang berada di lingkungan keluarga cemara. Kedua orang tuanya meskipun sudah menikah begitu lama namun mereka masih seperti pasangan yang baru menikah. Ayah nya adala laki-laki yang begitu dingin dan cuek jika bukan menyangkut keluarga  nya. Namun jika hal tersebut sudah menyangkut keluarga nya dia adalah orang yang paling hangat dan juga pengertian.


Ayah nya memang begitu sibuk dengan pekerjaan nya namun selalu bisa meluangkan waktu nya untuk bisa menghabiskan waktu dengan istrinya itu.


“Loh kalian mau kemana malem-malem gini?” tanya Casia saat melihat kedua anaknya yang sudah rapi dan melihat Alister yang kini menggunakan baju olahraga nya.


“Aku mau main futsal Bun. Sekalian ngajak Aruna keluar, kasian kalau di rumah terus,” jelas Alister pada Ibu nya sekaligus berpamitan. Casia yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya mengerti.


“Ya udah tapi pulangnya jangan malem-malem ya. Aruna kalau kamu capek bilang ya ke Alister biar dia bisa anter kamu pulang,” peringat Casia pada kedua anaknya itu yang kini menjawab dengan anggukan mengerti.


“Ya sudah kalian hati-hati. Inget buat selalu jagain Aruna, Alister,” peringat Casia pada Alister yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ibu nya tersebut.


Setelah nya mereka menyalami tangan Casia juga Bagas. Alister pun akhirnya kini membawa Aruna menuju ke arah mobil nya. Setelah membantu Aruna masuk ke dalam mobilnya dan dirasa gadis tersebut sudah aman. Alister segera menuju ke arah kemudi dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Hingga tak beberapa lama kini akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat bermain futsal. Alister kini mengeluarkan kursi roda milik Aruna, setelah nya baru lah ia membantu Aruna untuk keluar dari mobil nya.


“Aku jadi deg degan deh kak,” ucap Aruna sambil menoleh ke arah Alister yang kini berada di belakang nya mendorong kursi roda Aruna.


“Kenapa?” tanya Alister dengan kerutan di kening nya.


“Gak tau, tapi ini pertama kali ini aku ketemu temen kakak yang lain,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini terkekeh mendengar nya.


“Tenang aja, mereka gak gigit,” ucap Alister yang membuat Aruna tertawa kecil mendengar nya.


“Nanti kalau kamu masih ngerasa gak nyaman bilang aja. Kita pulang,” tegas Alister. Aruna menghembuskan nafas nya kasar lalu menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alister. Alister kini mengelus puncak kepala Aruna sayang lalu setelahnya ia segera masuk ke ruangan tersebut.


Saat kini Alister dan Aruna memasuki gedung olahraga tersebut, banyak yang kini menatap mereka. Aruna bahkan menggigit bibirnya karena merasa malu menjadi pusat perhatian. Bahkan saat kini mereka memasuki ruangan yang sudah di sewa oleh Alister juga teman-temannya kini mereka langsung menjadi pusat perhatian.


Vian yang melihat keberadaan Aruna kini segera menuju ke arah Aruna dengan senyuman cerah nya. Sahabat nya yang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya.


“Aruna kamu ikut?” tanya Vian dengan begitu bersemangat nya. Aruna yang sedari takut jika teman-teman Alister tidak dapat menerima keberadaannya kini sontak membuat Aruna merasa lebih lega dengan respot Vian.


Ia dan Vian padahal tak begitu dekat. Namun Vian yang selalu bersemangat tiap bertemu dengan Aruna membuat Aruna merasa senang karena nya.


Vian kini berjalan ke arah belakang Aruna lalu mendorong Alister untuk menjauh. Alister kini bahkan dibuat menganga karena nya.


“Lo apaan sih?” kesal Alister dan kini kembali mengambil alih kursi roda Aruna untuk mendorong nya.


“Lo yang apaan, orang gu cuma mau bantu Aruna,” sungut Vian dengan kekesalannya sambil bersedekap dada.


“Dia bini gue, ngapain lo ikutan sih?” tanya Alister dengan kekesalannya. Aruna yang mendengar ucapan Alister kini bahkan berhasil dibuat membeku. Detak jantung nya kini bahkan sudah berpacu karena nya.


“Dia adek gue,” ucap Vian tak mau mengalah.


“Sejak kapan dia jadi adek lo?” tanya Alister dengan tatapan menantang nya.


“Aruna, kamu mau gak jadi adik aku? Meskipun aku telat dari Alister buat dapetin kamu, gak papa kok yang penting aku bisa jadi kakak kamu,” ucapan Vian tersebut yang kini menepuk tangan Aruna menyadarkan Aruna dari keterkejutannya, namun kini ia malah kembali dibuat terkejut dan bingung dengan ucapan Vian.


“Nah denger kan? Mulai sekarang dia adik gue dan lo adek ipar gue, jangan ngelawan lo jadi adek,” ucap Vian yang setelah nya langsung membawa Aruna pergi dari sana. Alister kini bahkan dibuat tercengang. Setelah sadar jika Aruna kini sudah dibawa oleh Vian, Alister segera berjalan ke arah nya dengan helaan nafas nya.


“Kenalin nih adek gue namanya Aruna, dia bininya Alister. Harusnya jadi bini gue tapi gue kalah gercep sama Alister,” ucap Vian memperkenalkan Aruna yang membuat Aruna kini terkekeh mendengar bagaimana Vian memperkenalkan dirinya.


“Lo sama Alister tuh gak cocok buat bersaing. Udah kalah telak dari segi muka maupun finansial,” ucap salah satu teman mereka yang berada di sana. Aruna kini hanya tersenyum sambil tertawa kecil mendengar nya.


Pertengkaran tersebut juga diiringi oleh teman-teman Alister yang kini mulai memperkenalkan dirinya pada Aruna.


Namun melihat bagaimana kini Vian memperkenalkan Aruna dengan teman-teman mereka dan melihat Aruna yang bisa tersenyum bahkan tertawa membuat senyuman Alister kini mengambang.


Selama ini teman Aruna hanya lah dirinya, dan kini akhirnya ia memiliki teman lain selain Alister. Melihat itu membuat Alister senang melihat nya.


“Kamu tunggu sini dulu ya. Nanti kalau bosen atau capek langsung bilang hm,” pesan Alister saat kini ia berada di hadapan Aruna. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum patuh pada Aloster.


Alister membalas senyumannya lalu mengelus puncak kepala Aruna sayang. Melihat bagaimana Alister memperlakukan Aruna, membuat mereka tahu jika Aruna memang begitu berarti bagi Alister.


“Woy itu mau main gak?” tanya Irgi dengan teriakannya memanggil Alister yang kini sudah menatapnya dengan datar.


“Aku main dulu ya, ingin pesan kakak,” peringat Alister lagi dengan senyumannya sebelum akhirnya ia menuju ke arah lapangan. Aruna yang kini mendengarnya hanya bisa tersenyum senang.


Ia tak pernah menyangka jika akan ada masa ia bisa bahagia lagi seperti ini. Memiliki Alister juga berada di lingkungan yang begitu baik. Aruna begitu bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.


***