
Bulan demi bulan berlalu, hari demi hari kini terlewati. Tak terasa kini waktu begitu cepat berlalu, tanpa mereka sadari kini Alister sudah harus berada di kelas tiga, sedangkan Aruna kini sudah berada di kelas dua.
Dan mulai hari, hari pertama masuk sekolah setelah libur selama dua minggu setelah kenaikan kelas. Aruna juga akan ikut kembali bersekolah seperti biasanya. Sebelumnya Alister dan orang tuanya sudah memaksa Aruna untuk tetap homeschooling hingga lulus SMA. Namun Aruna menolak nya. Ia mengatakan ingin memiliki banyak teman dan merasakan bangku SMA. Akhirnya Alister dan keluarga mereka hanya bisa mengalah dan menuruti permintaan Aruna.
Hubungan Aruna dan Alister pun kini tanpa mereka sadari sudah berjalan selama empat bulan. Masih Aruna ingat dengan begitu jelas. Saat ia mengungkapkan perasaannya kepada Alister saat mereka baru saja kembali dari makam orang tua Aruna.
Setelah Aruna mengungkapkan perasaannya saat itu Alister tampak menatap Aruna dengan tatapan terkejut nya.
“Jadi kamu mau nya kita pacaran, tunangan, atau langsung nikah aja?” tanya Alister saat itu dengan tatapan serius nya yang malah membuat Aruna tertawa mendengar nya dengan pipi nya yang menampak kan kemerahan karena terlalu salah tingkah dan blushing akibat ucapan Alister.
“Kakak apaan sih pertanyaannya? Jauh banget,” ucap Aruna dengan kekehannya yang membuat Alister juga ikut tertawa kecil mendengar nya.
“Jadi mau nya apa?” tanya Alister yang masih saja menggoda gadis di depannya itu. Tak tahukan Alister jika kini Aruna sudah begitu malu, belum lagi detak jantung nya yang kini berpacu dengan begitu cepatnya.
“Gak jadi deh, Kakak ngeselin,” ucap Aruna dengan wajah cemberut nya. Alister yang mendengar nya kini terkekeh lalu setelahnya ia segera memeluk Aruna. Membawa gadis yang begitu dicintainya itu ke dalam rengkuhan nyamannya.
“Terus cintai kakak, terus seperti ini. Dan janji sama kakak, kamu gak akan ninggalin kakak. Kakak seperti ini sampai kamu siap kita ke hubungan yang lebih serius. Karena kakak gak akan ngelepasin kamu,” ucap Alister yang kini masih memeluk Aruna. Aruna menganggukkan kepalanya. Ia jelas begitu percaya pada Alister. Bahkan saat ia malu dengan keadaannya sendiri yang tidak bisa berbicara dan berjalan serta tangannya yang masih tak berfungsi dengan baik. Alister selalu menemaninya dan menjaganya. Menjadi penyemangat untuknya. Kepercayaannya pada Alister begitu besar, tanpa rasa takut jika suatu saat Alister bisa saja menyakitinya.
Sebuah kenangan yang tidak akan Aruna lupakan. Aruna hanya berharap tak ada masalah besar kedepannya yang akan mengganggu mereka. Karena kini pun Aruna begitu takut kehilangan Aruna.
Suara ketukan di pintu kamar nya membuat Aruna segera menoleh ke arah pintu lalu setelahnya ia segera menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu orang di luar sana.
“Kakak Al? Kenapa kak?” tanya Aruna dengan kening nya yang berkerut menatap Alister dengan tatapan penuh tanya nya.
“Mau jemput kamu lah, rambut nya jangan diikat kayak gitu,” protes Alister yang membuat Aruna mengerutkan kening nya. Alister kini menarik Aruna menuju ke arah meja rias nya lalu membuka rambut Aruna yang kini diikat kuda.
Alister menyisir rambut Aruna lalu membelahnya menjadi dua lau mulai mengumpulkannya dari yang kanan dan bergantian di sebelah kiri, menyilangkannya hingga membentuk kepang ekor ikan. Setelah selesai Alister tersenyum senang.
“Kakak emang paling pinter kalau di suruh ngerapihin rambut,” puji Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya.
Selama Aruna sakit Alister banyak belajar cara mengepang rambut dan mengikatnya hingga rapi. Jadi tak heran kini dengan mudah ia melakukannya.
“Udah cantik. Ayo kita sarapan dulu,” ajak Alister yang dijawab dengan anggukan oleh Aruna. Hingga mereka berjalan bersama menuju ke arah ruang makan. Tas Aruna kini Alister yang membawakannya. Perlakuan Alister memang begitu baik pada Aruna.
Saat sampai di lantai bawah kini kedua orang tua Alister sudah berada di sana menikmati sarapannya.
“Rok sama baju nya mau di pendekin gak Sayang? Apa gak terlalu panjang rok di bawah lutut gitu?” tanya Casia saat melihat rok milik Aruna yang dibelikan oleh Alister berada sedikit di bawah lutut.
“Gak usah, itu udah pas segitu. Jangan terlalu pendek gak bagus,” tegas Alister yang kini menimpali ucapan Ibu nya itu. Aruna yang mendengar nya kini hanya berdecak.
“Dasar posesif,” ucap Casia sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Alister yang mendengar nya hanya diam saja sambil menikmati makannya. Tak peduli ia dikatakan posesif. Namun ia tak ingin milk nya menjadi tontonan laki-laki lain.
“Udah?” tanya Alister yang kini sudah selesai dengan makannya. Aruna menenggak minumannya lalu menganggukkan kepalanya.
“Bunda, kita berangkat dulu ya,” pamit Aruna sambil menyalami tangan Aruna dan Bagas bergantian.
“Assalamualaikum,” salam Aruna dan Alister dengan begitu kompak nya lalu mereka menuju ke arah mobil Alister yang kini sudah terparkir dengan rapi di depan rumah Alister.
Setelah semua nya aman kini Alister langsung melajukan mobilnya menuju ke arah sekolah mereka.
“Aruna seneng banget tau Kak. Akhirnya Aruna bisa sekolah lagi,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Alister kini ikut tersenyum mendengar nya.
“Kakak juga seneng karena kamu bisa ikut hadir saat kakak harus Purna,” ucap Alister dengan senyuman senang nya. Sebuah harapan yang kini akhirnya terwujud.
“Akh sayang banget Aruna gak liat pas masa kakak udah menjabat. Kakak sih, kan Aruna udah bilang kalau Aruna masuk sekolah di semester dua kelas satu aja. Tapi kakak malah maksa pas kelas dua,” kesal Aruna dengan bibirnya yang mengerucut. Alister kini mengelus puncak kepala Aruna lalu menggenggam tangan gadis nya itu dan membawanya ke atas paha nya.
“Kakak lebih baik kamu gak liat masa jabatan kakak. Daripada kesehatan kamu yang jadi taruhannya. Kamu baru sembuh jadi kakak gak mau ada masalah kedepannya,” jelas Alister pada Aruna.
Aruna anya diam dan kini menyandarkan kepalanya pada lengan Alister. Ia merasa begitu beruntung memiliki Alister sebagai kekasih nya. Laki-laki yang begitu baik. Entah di kehidupan sebelumnya kebaikan apa yang ia lakukan hingga ia memiliki Alister sebagai kekasih nya.
“Makasih ya kak, selalu memikirkan Aruna. Aruna sayang sama kakak,” ungkap Aruna yang kini tak lagi malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Alister. Alister mengecup kening Aruna dengan begitu lembut.
“Apapun untuk gadis kakak,” ucap Alister. Hingga senyuman Aruna kini mengembang dengan begitu sempurna nya. Merasa senang dan bahagia memiliki Alister. Memiliki Alister memang merupakan keberuntungan tersendiri untuknya.
Akan ia jaga Alister dan hubungan itu dengan baik.
***