
Aruna kini menatap ke sekitar nya dengan canggung. Ia kini masih belum memiliki teman di kampus baru nya hingga kini ia tak tahu siapa yang kini harus ia ajak berbicara. Saat kini mereka tengah duduk menunggu pengumuman selanjut nya. Aruna kini hanya duduk di pinggir lapangan seorang diri sambil melihat ke sekitar. Tak ada yang dapat ia lakukan karena ponsel semua Maba kini dikumpulkan ke senior mereka.
Teman nya yang lain kini sudah mulai berbaur. Namun Aruna yang begitu sulit berbaur jika tidak di kenal kan dan di dekati lebih dulu akhirnya kini hanya terdiam sambil melihat sekitar. Membuat nya kini begitu bosan.
Hingga tak lama kita seorang gadis menghampirinya dengan senyumannya yang mengambang indah.
“Gue liat lo sendiri aja,” ucap gadis tersebut sambil duduk di samping Aruna. Aruna yang mendengar nya kini hanya tersenyum dengan canggung.
“Oh iya kenalin gue Adina,” ucap nya memperkenalkan diri pada Aruna yang kali ini menjawab uluran tangan tersebut.
“Aruna,” jawab Aruna dengan senyumannya yang dijawab dengan anggukan oleh gadis cantik di samping Aruna.
“Lo dari jurusan apa?” tanya nya lagi yang kali ini berusaha mengakrabkan diri dengan Aruna.
“Ilmu Bedah,” jawab Adisti yang kali ini tapak membuat teman baru nya tersebut terkejut mendengar nya.
“Wah kita satu jurusan,” ucap Adina dengan begitu semangat nya yang kini juga tampak membuat Aruna terkejut sekaligus senang karena ia kini mendapatkan teman baru yang bisa satu jurusan dengannya.
“Serius?” tanya Aruna yang Adina balas dengan anggukan. Mereka kini tampak begitu senang karena akhirnya mereka menemukan teman yang satu jurusan. Jadi nanti mereka tidak perlu lagi pusing memikirkan teman baru di jurusan mereka.
“Btw nih ya gue denger BEM fakultas kita ganteng banget tau,” ucap Adina dengan begitu bersemangat nya memberitahu Aruna yang kini hanya tersenyum mendengar nya. Jangan salah. di matanya kini hanya Alister lah yang paling tampan.
“Kamu emang udah liat?” tanya Adisti yang kini di jawab dengan gelengan oleh Adina yang membuat Aruna tertawa mendengar jawaban dari gadis tersebut.
“Katanya sih gitu, ganteng tapi misterius. Tapi itu katanya lebih minus sifat nya ketua BEM kampus, ganteng banget sih katanya cuma ya gitu anti cewek, cuek, tegas, galak, banyak minus nya lah,” ucap Adina yang kini membuat Aruna menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Adina.
“Dia gak kayak gitu kok. Dia orang yang baik,” ucap Aruna yang tentu saja akan membela laki-laki yang tak lain adalah tunangannya sendiri. Ya, Alister memang lah BEM kampus mereka.
“Emang lo tau sama orang nya?” tanya Adina. Ia hanya tak tahu saja jika kini ia tengah berbincang dengan tunangan dari ketua BEM kampus nya. Aruna yang kini mendengar nya menganggukkan kepalanya.
Namun belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan mereka. Kini mereka sudah dipanggil untuk mulai berbaris. Para Maba kini sontak berlarian menuju ke arah lapangan karena mereka tak ingin mendapatkan hukuman.
Saat mereka sudah berbaris kini satu persatu senior mereka datang, hingga tatapan Aruna kini tertuju pada laki-laki yang tampak tak asing untuk nya namun ia lupa pernah bertemu dimana dengan laki-laki tersebut.
“Ganteng kan?” tanya suara Adina di samping nya yang kini membuat Aruna sontak menoleh ke arah Adina dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Dia ketua BEM fakultas kita,” jelas Adina yang kini membuat Aruna menganggukkan kepalanya. Meskipun kini ia masih bingung dengan laki-laki yang tampak tak asing itu namun akhirnya ia memilih untuk mengabaikannya karena ia tak ingin jika mendapatkan hukuman hanya karena melihat laki-laki di depan sana.
“Kenapa?” tanya Aruna dengan menaikkan sebelah alisnya bingung. Menatap teman baru nya itu dengan tatapan bingung nya.
“Lo lagi datang bulan?” tanya Adina dengan tatapan terkejut nya yang kini sontak membuat Aruna membelalakkan matanya menatap Adina dengan tatapan terkejut nya.
“Lo ke kamar mandi. Biar gue yang izin sama senior nya,” ucap Adina yang kini sontak membuat Aruna menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adina.
Akhirnya Aruna segera menuju ke arah kamar mandi. Kini ia benar-benar bingung sekaligus malu karena ia ketahuan tengah datang bulan dan malah bocor.
Saat di kamar mandi kini ia bertemu dengan senior nya yang begitu cantik dan terlihat baik tengah berjalan ke arah kamar mandi juga.
“Kak,” panggil Aruna yang sontak membuat gadis tersebut menoleh ke arah Aruna dengan tatapan penuh tanya nya.
“Kenapa ya?” tanya gadis tersebut dengan tatapan bingung nya pada Aruna yang kini malah tampak menggigit bibir bawah nya karena terlalu malu untuk mengatakannya.
“Hm boleh pinjem hp nya gak Kak? Buat nelpon tunangan aku? Aku lagi datang bulan dan tembus Kak,” ucap Aruna dengan malu mengatakannya. Gadis di depan Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu setelah nya ia dengan segera memberikan ponsel nya pada Aruna.
Aruna tersenyum lalu mengambil ponsel nya dan mulai mengetikkan nomor ponsel milik Alister yang sudah begitu ia hafal. Tak membutuhkan waktu lama untuk Alister menjawab nya. Walau tak terdengar suara di seberang sana. Begitu lah Alister saat yang menempelnya adalah nomor baru.
“Kak, ini Aruna,” sapa Aruna dengan bergetar menahan tangis nya.
“Hey kenapa Sayang?” tanya Alister di seberang sana dengan nada suara nya yang terdengar begitu khawatir.
“Aruna datang bulan, terus bocor,” cicit Aruna yang masih bisa didengar oleh Alister di seberang sana.
“Kamu tunggu di kamar mandi dulu, biar Kakak belanja dulu, nanti Kakak bawain,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Setelah nya ia dengan segera mematikan ponsel nya dan segera memberikannya kembali pada sang empu nya.
“Makasih ya Kak,” ucap Aruna yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh senior nya itu.
“Tunangan lo bakalan ke sini kan?” tanya Senior nya itu yang kini Aruna balas dengan anggukan.
“Ya udah, gue duluan ya kalau gitu,” uca nya yang setelah nya segera pergi dari sana. Aruna pun kini memilih untuk menunggu Alister yang akan membawakan keperluannya. Ia benar-benar merasa bersyukur karena memiliki laki-laki seperti Alister.
***