
Tatapan Aruna kini begitu lurus menatap ke arah kolam ikan di depannya. Kini ia tengah berada di taman sekolah nya, bersama dengan Kai yang kini duduk di samping nya. Sebelumnya Kai tengah mendekati Aruna, hingga kini akhirnya Aruna berhasil untuk mengajak Kai untuk berbicara berdua.
Namun kini mereka masih saja terdiam. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Kedua remaja tersebut memilih untuk diam dan menikmati setiap waktu yang terus berjalan.
“Gimana kabar kamu setelah kecelakaan itu?” tanya Aruna yang kali ini lebih dulu membuka suara untuk bertanya pada Kai yang kini menatap sekilas ke arah Aruna lalu memfokuskan kembali perhatiannya ke arah depan.
“Buruk, banyak yang aku berubah hanya untuk melupakan kamu. Banyak harapan dan keinginan yang akhirnya gugur,” ucap Kai dengan senyuman sinisnya. Tatapannya kini begitu sendu menatap ke arah depan. Banyak penyesalan dalam tatapan tersebut yang sangat sulit untuk ia ungkap kan.
Aruna kini terus menatap ke arah Kai. Dan ia bisa melihat bagaimana hancurnya Kai. Namun tak bisa ia bohongi, ia juga merasa kecewa pada Kai.
“Penyesalan aku mengubah semua nya. Aku terlalu pengecut saat itu, aku terlalu takut untuk menghadapi nya. Sampai aku harus mengorbankan cinta aku karena diri aku sendiri. Aku jahat kan?” tanya Kai sambil menatap ke arah Aruna. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Hm kamu jahat. Kamu jahat udah ninggalin aku di saat aku butuh kamu,” ucap Aruna jujur. “Aku tahu, aku emang jahat. Waktu itu aku ketakutan Run, aku takut ngedenger keadaan kamu yang gak baik-baik aja. Aku takut kamu dan keluarga kamu nyalahin aku. Meskipun aku tahu aku memang salah karena udah ngajak kamu jalan, ngebolehin kamu buka helm, dan nyetir gak bener, tapi tetep aja aku ngerasa takut,” ucap Kai yang kini sudah meneteskan air matanya. Aruna yang melihat hal tersebut menggenggam tangan Kai, sekedar menenangkan mantan kekasih nya tersebut.
“Aku gak pernah menyalahkan kamu atas kecelakaan yang kita alami. Aku hanya menyalahkan kamu yang malah pergi, kamu yang jadi pengecut, dan kamu yang ninggalin aku. Kamu gak tau aku berusaha berjuang untuk sembuh. Bukan hanya sembuh secara fisik, tapi juga hati aku atas kekecewaan yang kamu bawa,” ucap Aruna dengan begitu lembut nbya pada Kai yang kini semakin menangis. Setelah sekian lama kini akhirnya air mata tersebut kembali tumpah dan semua itu kembali karena Aruna.
“Aku pikir dengan aku pergi. Aku bisa untuk melupakan kamu, aku bisa untuk menghapus rasa bersalah aku. Tapi nyatanya enggak, aku gak bisa untuk melupakan kamu, aku gak bisa ngehapus rasa bersalah itu yang malah makin besar. Dua tahun belakangan ini aku juga melewati hari aku dengan buruk, banyak yang berubah,” ucap Kai dengan senyuman sendu nya. Aruna menganggukkan kepalanya. Karena ia pun melihat sendiri bagaimana perubahan Kai saat ini.
“Kenapa kamu ngelakuin itu? Kenapa kamu sekarang jadi kasar? Kenapa kamu suka nyakitin orang? Dimana Kai yang lembut? Kai yang pintar? Kai yang ramah? Kai sang calon ketua osis?” tanya Aruna yang membuat Kai kini semakin menundukkan kepalanya dalam.
“Aku udah ngebunuh dia. Karena Kai seperti itu yang buat aku kehilangan kamu,” ucap Kai. Aruna yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya.
“Kai, tanpa kamu sadari dengan sikap kamu sekarang. Kamu hanya menghancurkan diri kamu sendiri. Dan ditambah dengan sikap kamu sekarang yang berusaha buat dapetin aku lagi. Kamu bukan hanya nyakitin dulu kamu sendiri,” ucapan lembut Aruna kini berusaha untuk menyadarkan Kai jika apa yang ia lakukan bukan lah hal yang baik.
“Aku, Shifa, dan Alister. Kita semua tersakiti Kai. Aku dan Shifa dulunya temen Kai. Dia orang yang baik, tapi sejak kita ketemu lagi, Shifa jauhin aku. Aku ngerasa kehilangan Kai. Apa kamu tega membuat aku merasa kehilangan untuk kedua kali nya?” tanya Aruna yang kini hanya membuat Kai terdiam mendengar setiap ucapan yang kini Aruna sampaikan padanya.
“Dan Shifa, dia yang bantu kamu untuk melewati hari kamu yang sulit. Dia dateng seperti obat untuk kamu, harusnya kamu gak nyakitin orang yang pernah membuat kamu sembuh. Aku gak mau kamu jadi jahat hanya karena aku Kai,” lanjut Aruna yang tak memberikan kesempatan untuk Kai menyampaikan ucapannya. Kini hanya Aruna yang membuat suara nya dan meyakinkan Kai untuk mengakhiri semua nya.
“Maaf sudah membuat kamu kehilangan mimpi kamu sebagai ketua OSIS. Tapi apa gak bisa kamu kasih aku sedikit kebahagian dengan mengakhiri semua ini? Kita bisa berteman Kai, kamu bisa menjadi kakak untuk aku,” pinta Aruna. Kai kini memejamkan matanya sambil menganggukkan kepalanya. Semua ucapan Aruna masuk begitu saja kedalam kepalanya, membuat hati dan otak nya yang seolah sudah tak berfungsi kini kembali berfungsi untuk memikirkan semua yang terjadi.
“Bukan salah kamu, aku gak bisa jadi OSIS. Semua ini karena kesalahan aku sendiri,” ucap Kai dengan senyumannya.
Aruna yang melihat air mata yang kini masih mengalir di wajah Kai segera menangkupnya dan menghapus air mata tersebut dengan begitu lembut nya.
“Boleh peluk aku sebentar aja?” tanya Kai meminta pada Aruna yang kini menjawab nya dengan anggukan, lalu setelah nya ia segera memeluk Kai. Saling memejamkan mata untuk mengobati kerinduan semua menghapus semua masalah di antara mereka.
Setelah lama mereka saling berpelukan kini mereka saling menatap satu sama lain, lalu saling tersenyum. Menampilkan senyum terbaik nya.
“Maaf ya udah pergi gitu aja. Ngebiarin kamu ngelewatin semua nya sendiri,” ucap Kai yang membuat Aruna terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
“Gak sendiri. Ada Kak Alister dan keluarga nya yang dukung aku,” ucap Aruna yang membuat Kai tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya.
“Sekarang aku akan menjadi pelindung untuk kamu, sebagai seorang kakak,” ucap Kai yang membuat Aruna menganggukkan kepalanya.
“Kita selesai?” tanya Aruna yang Kai balas dengan anggukan.
Setelah nya mereka memilih untuk tetap berada di taman tersebut sambil berbincang ringan dan menceritakan bagaimana haru mereka selama dua tahun terakhir. Kai menceritakan bagaimana hancurnya dia saat itu hingga ia bertemu dengan sahabat-sahabat nya dan masuk ke klub motor juga pertemuannya dengan Shifa yang akhirnya membuat mereka menjalin hubungan.
Aruna pun menceritakan bagaimana ia harus melewati semua terapi yang membuat nya lelah dan bosan. Juga tentang Alister yang selalu menem,aninya. Kai begitu menyesal mendengar cerita Aruna, namun Aruna meyakinkannya jika kini ia sudah baik-baik saja.
***