Aruna Story

Aruna Story
Makan Malam Bersama



Malam ini rumah Alister begitu ramai dengan sahabat mereka. Sesuai dengan ucapan Casia, kini sahabat Aruna juga Alister sudah datang ke rumah Aruna untuk makan malam bersama. Kini tak hanya ada sahabat Alister, namun juga sahabat Kai yang ikut bersama mereka.


“Vidcall Vian, biar dia makin iri,” ucap Irgi yang kini sudah mengeluar kan ponsel nya dan melakukan video call bersama dengan Vian. Namun laki-laki tersebut malah menolaknya yang membuat Irgi kini dibuat menganga karena nya.


“Wah parah, ditolak woy,” ucap Irgi dengan kekesalannya. Aruna yang mendengar nya kini hanya tertawa.


“Biar Aruna yang coba,” ucap Aruna lalu setelah nya ia segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Vian melalui video call. Tak membutuhkan waktu lama bagi Vian untuk menjawab nya. Melihat hal tersebut kini Irgi berhasil dibuat tercengang sedangkan sahabat nya yang lain sudah tertawa.


“Sini Run, gue pengen buat perhitungan sama dia,” ucap Irgi meminta ponsel Aruna. Aruna yang mendengar nya dengan segera memberikannya pada Irgi. Aruna yang melihat nya hanya terkekeh.


“Wah sialan lo ya, gue tang vidcall gak ada bersuara lo,” kesal Irgi pada sahabat nya itu yang kini malah hanya menatap nya dengan datar.


“Muka lo terlalu ngeselin buat gue liat,” sungut Vian yang kini berjalan membuat sahabat nya itu tercengang. Ia rasanya begitu kesal karena mendengar ucapan sahabatnya itu. Bahkan setelah lama tidak bertemu sikap menyebalkan sahabat nya itu tidak hilang.


“Gak usah ngeselin lo ya,” kesal Irgi yang kini hanya menatapnya dengan datar sambil memutar bola matanya malas.


“Vian. Lo harus liat sih, gue kita lagi kumpul. Gue mau buat lo iri,” ucap Dery yang kali ini mengambil alih ponsel Vian.


Dery kini mengerahkan kamera nya untuk melihat ke sekeliling taman belakang nya kini dijadikan tempat makan bersama. Saat melihat Kai juga sahabat laki-laki tersebut kini Vian mengerutkan kening nya.


“Gue liat penampakan yang belum gue liat sebelum nya,” ucap Vian. Kai yang merasa jika ia yang dimaksud kini hanya menatapnya dengan datar. Vian memang belum mengetahui jika kini hubungan pertemanan mereka begitu dekat.


“Bilang aja lo iri,” sungut Kai pada Vian dengan kekesalannya. Setelah nya ia lebih memilih untuk melanjutkan acara makannya. Vian yang mendengar nya kini hanya terberdecih.


“Kalian ada acara apa kumpul-kumpul begitu?” tanya Vian dengan penasarannya.


“Aruna keterima SNMPTN Kak,” ucap Aruna yang kali ini mengambil alih ponsel nya. Vian yang mendengar nya kini sontak tersenyum sambil menatap Aruna dengan tatapanmu tak percaya nya.


“Serius?” tanya Vian yang kini Aruna menganggukkan kepalanya dengan semangat.


“Congrat Aruna, btw jurusan apa?” tanya Vian yang memang belum mengetahui jurusan yang di ambil oleh Aruna.


“Fakultas kedokteran, jurusan ilmu bedah,” ucap Aruna yang kini berhasil membuat temannya yang lain ikut terkejut juga. Sebelumnya mereka hanya tahu jika Aruna hanya masuk fakultas kedokteran dan tidak mengetahui jurusan apa yang diambil oleh Aruna. Setelah mendengar nya kini mereka benar-benar dibuat terkejut karena nya.


“Lo serius?” tanya Shifa pada Aruna yang kini sontak membuat Aruna menoleh ke arah Shifa dan menganggukkan kepalanya.


Shifa kini bertepuk tangan mendengar nya.


“Kayak nya abis ini keluarga kalian bakalan jadi keluarga super sibuk,” ucap Mutia sambil menggelengkan kepalanya. Mengingat jika Alister juga memiliki banyak perusahaan. Dan yang mereka tahu jika kebanyakan dokter bedah selalu sibuk.


“Dia mah kuliah doang, kalau udah nikah juga gak bakal gue bolehin kerja,” ucap Alister dengan santai nya. Aruna yang melihat nya kini sontak melihat ke arah Alister dengan tatapan tajamnya.


“Kita udah buat kesepakatan ya, kamu jangan lupa,” peringat Aruna pada Alister mengingat laki-laki tersebut tentang kesepakatan yang dibuat nya. Jika Aruna dapat bekerja namun Alister akan membalasnya dan setelah mereka memiliki anak baru lah Aruna akan berhenti bekerja dan hanya akan mengurus rumah sakit dari rumah.


“Udah lah tutup aja, kita lanjut makan-makannya. Yang deket deket aja, yang jauh gak di ajak,” ucap Dery menyindir Vian.


“Gue pulang, abis lo,” kesal Vian yang hanya mendapatkan wajah mengesal kan pada Dery.


“Aruna tutup dulu ya Kak. Sampai ketemu nanti,” ucap Aruna yang Vian balas dengan anggukan. Setelah nya Aruna segera menutup panggilan tersebut.


“Kalian berdua gimana? Keterima?” tanya Dery yang kali ini bertanya pada kedua sahabat Aruna.


“Keterima,” ucap Shifa dengan senyuman semangat nya.


“Kalau gue emang gak ikut SNMPTN, mau daftar SBM aja,” jawab Mutia. Sahabat nya sudah mengajaknya untuk mendaftar bersama namun Mutia malah menolak nya karena terlalu tak percaya diri.


“Ambil jurusan apa?” tanya Kai yang kali ini bertanya sambil memakan makananya dengan santai.


“Gue ambil jurusan tata busana,” ucap Mutia yang memang begitu menyukai Fashion.


“Aku psikolog,” jawab Shifa. Alasanya mengambil psikolog sederhana. Karena ia ingin membantu lebah banyak orang dengan mental nya yang terganggu. Mengingat kekasih nya pun pernah mengalami hal tersebut. Jadi ia ingin menyelamatkan lebih banyak nyawa yang mati karena bunuh diri, atau over dosis. Kenakalan remaja yang akhir tragis tentu saja banyak di antara nya karena keadaan mental anak yang tidak baik. Hingga lambat laun malah menyebar bak virus ke lingkungan lainnya.


“Semoga berhasil deh buat kalian. Oh iya, btw kapan kalian perpisahannya?” tanya Irgi. Laki-laki tersebut kini tengah memakan makanan ringan yang disiapkan oleh Ibu Alister.


“Satu minggu lagi. Kalau kalian mau dateng gak papa dateng aja. Nanti aku bilang ke Kakek buat nyiapin kursi buat kalian,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat sahabat nya itu membelalakkan matanya senang dengan senyuman lebar nya yang kini mengembanmg.


“Serius?” tanya Irgi memastikan yang Aruna balas dengan senyuman dan anggukan nya.


“Ok kita dateng, sekalian Vian aja. Kayak nya dia juga pulang,” ucap Dery yang Aruna balas dengan anggukannya.


“Ini kita begini aja? Gak mau main gitu?” tanya Gathan karena mereka sedari tadi hanya lah berbincang.


“Main game seru kali ya,” ajak Danu dengan begitu antusias nya.


“Nah setuju. Enak nya main apa ya?” tanya Mutia yang kali ini juga ikut menimpali dengan semangat.


“Aku ada balok uno di atas, aku ambil dulu ya,” ajak Aruna yang dijawab dengan anggukan oleh sahabat nya yang lain. Baru saja Aruna akan berdiri kini Alister malah menhannya.


“Aku aja,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


Akhirnya malam itu mereka memainkan game sambil berbincang hingga jam sudah menunjukkan pukul 10.30 ALister malah mengusirnya karena Aruna harus beristirahat. Alister jelas lebih mementingkan kesehatan dan jam istirahat Aruna daripada sahabat nya itu.


***