Aruna Story

Aruna Story
Persiapan OSPEK



Beradaptasi dengan lingkungan baru dan mencari teman baru. Rasanya begitu melelahkan untuk Alister. Dan mulai besok ia harus berada di lingkungan baru sebagai mahasiswa baru. Lelah rasanya jika harus mencari teman baru lagi.


Alister dan Dery berada di kampus dan bahkan di fakultas yang sama, mereka hanya berbeda jurusan saja. Sedangkan Ivan kini memilih untuk kuliah di luar provinsi. Irgi berada di kampus yang sama dengan Alister namun berada di fakultas yang berbeda.


Saat ini Alister tengah berada di rumah nya bersama dengan Aruna kini ia tengah mempersiapkan kebutuhan untuk masa orientasi kampus nya. Aruna kini tampak begitu bersemangat memperispaknya, berbeda dengan Alister yang kini malah hanya merebahkan tubuhnya di sofa belakang Aruna.


Aruna kini duduk di karpet berbulu sambil mempersiapkan apa saja yang akan dibawa oleh Alister. Kembali mengecek ulang. Aruna tampak begitu bersemangat, namun yang akan menjalaninya kini malah begitu lesu.


“Kenapa sih kak?” tanya Aruna dengan kekesalannya pada Alister yang sedari tadi terus saja menghela nafas nya dengan kasar.


“Aku tuh males harus mulai perkenalan dari awal lagi,” ucap Alister dengan jujur pada Aruna yang kini hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Alister. Aruna jelas sudah begitu mengetahui bagaimana tunangannya itu yang memang begitu sulit untuk beradaptasi.


“Kalau gak mau perkenalan yaudah gak perlu kenalan. Main sendiri aja,” ucap Aruna dengan begitu santai nya. Alister yang mendengar nya kini hanya menghela nafas nya kasar. Walau ucapan Aruna ada benar nya namun tetap saja saat ospek nanti ia tetap harus beradaptasi entah pada senior atau teman Maba nya.


Alister mendekat ke arah Aruna lalu memeluk leher Aruna dari belakang. Melingkarkan tangannya di leher Aruna. Sedangkan kini kepalanya menelungkup pada tengkung Aruna.


“Kamu apa aja sih yang dikerjain dari tadi?” tanya Alister saat melihat Aruna yang begitu sibuk dengan kegiatannya sendiri.


“Siapin barang yang bakalan Kakak bawa lah,” ucap Aruna.


Alister yang mendengar nya hanya diam saja membiarkan Aruna melakukan apa yang ia ingin lakukan.


“Nah, beres,” ucap Aruna dengan senyuman cerah nya. Setelah selesai dengan apa yang ia kerjakan kini Aruna segera bangun, melepaskan tangan Alister yang melingkar di leher nya lalu meregangkan tubuh nya.


“Duduk sini,” perintah Alister yang kini sudah mengubah posisi nya menjadi duduk dan menepuk sofa di sebelah nya untuk Aruna duduk. Aruna mengerutkan kening nya bingung. Namun akhirnya ia tetap saja duduk di samping Alister.


Alister merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Aruna sebagai bantalannya. Lalu memeluk Aruna, melingkarkan tangannya di pinggang Aruna dan menelungkupkan wajahnya di perut Aruna.


Aruna yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Aruna mengambil ponsel Alister yang berdering menandakan ada pesan masuk.


“Ada chat nih kak,” ucap Aruna menyerahkan ponsel milik Alister pada sang empunya.


“Buka aja ,” ucap Alister yang sama sekali tidak memperdulikan pesan tersebut. Aruna yang mendengar nya dengan segera membuka pesan tersebut. Hingga kini ia dapat melihat pesan dari nomor tidak dikenal.


Aruna beralih melihat bagian info dan akhirnya ia mengetahui jika nomor tersebut satu grup Maba yang satu jurusan dengan Alister. Aruna dengan segera melihat nya.


+6285676***


Halo Al. Sorry nih gue tiba-tiba chat lo.


Sebelumnya kenalin gue Mika, kita satu jurusan nih.


Btw kita juga satu kompleks perumahan beda gang aja.


Aruna yang melihat pesan tersebut kini mengerutkan kening nya bingung. Lalu apa hubungannya dengan Alister? Dengan lincah kini jari-jari Aruna menari diatas keyboard tersebut untuk menanyakan apa maksud pesan itu.


                                                             +6285676***


                                                                                                                                                                     terus?


Tak membutuhkan waktu lama gadis tersebut sudah menjawab pertanyaan dari Aruna.


                                                             +6285676***


Gue boleh berangkat bareng lo gak ya?


                                                             +6285676***


Di rumah lo gak ada mobil? Setau gue ini lingkungan orang kaya. Ya kali gak ada supir atau mobil!


Lagian Alister itu udah punya tunangan dan gue tunangannya Alister.


Tak sampai disana saja. Bahkan kini Aruna mengirimkan foto Alister yang tengah tertidur dalam pelukannya. Selanjutnya tak ada lagi balasan dari gadius tersebut. Aruna yang melihat nya hanya tertawa membuat Alister yang tidak benar-benar tertidur kini sontak mengurai pelukannya dan menatap Aruna dengan tatapan tanya nya.


“Kenapa sih?” tanya Alister pada Aruna.


“Ada yang berani godain Kakak. Belum tau aja kalau Kakak udah punya Aruna,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut.


“Sini,” pinta Alister pada Aruna. Aruna segera memberikan ponselnya, mengetahui jika Alister meminta ponsel nya.


Aruna mengerutkan kening nya, namun tak lama Alister memperlihatkan ponselnya pada Aruna. Hingga kini terlihat foto profil Alister yang sudah berganti dengan foto mereka saat bertunangan. Aruna yang melihat hal tersebut tersenyum dengan senang.


“Kakak emang yang terbaik,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Alister kini tersenyum dengan begitu bangga pada Aruna.


“Udah, ayo tidur. besok sekolah,” perintah Alister. Aruna menganggukkan kepalanya lalu segera menuju ke arah kamar nya. Sedangkan Alister lebih dulu menuju ke arah dapur untuk mengambilkan minuman untuk Aruna. Setelah nya ia menuju ke lamar Aruna, sekedar memberikan air.


Baru setelah nya ia berpamitan untuk kembali ke apartemennya.


***


Pagi-pagi sekali kini Alister sudah berada di rumah nya untuk menjemput Aruna. Karena ia harus ke kampus dan datang pagi jadilah Aruna kini harus mengalah dan datang pagi ke sekolah nya.


“Kamu gak papa kan, kita berangkat pagi?” tanya Alister saat kini mereka sudah berada di dalam mobil.


“Gak papa kok Kak. Udah tenang aja, asal sama Kakak berangkat nya, mau pagi mau siang gas aja lah,” ucap Aruna dengan cengirannya yang kini membuat Alister tersenyum mendengar nya.


Dengan lembut nya kini Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Aku liat Kakak pake atribut dan baju begini tuh lucu tau.” Aruna kini menatap penampilan Alister dengan tawanya. Alister yang mendengar nya kini sontak menatap Aruna dengan tatapan datar nya.


“Dasar ngeselin,” ucap Alister yang membuat Aruna semakin tertawa karena begitu lucu dengan apa yang digunakan oleh Alister.


“Imut banget sih tunangan Aruna.” Aruna kini semakin menggoda Alister yang semakin membuat Alister kesal.


“Aruna diem ya. Kakak buat dateng hari ini aja butuh niat besar,” ucap Alister berusaha untuk menghentikan Aruna. Aruna akhirnya berusaha untuk menghentikan tawanya dan menganggukkan kepalanya.


“Fine. Gak lagi ok,” ucap Aruna dengan cengirannya. Namun Aruna masih saja menatap Alister dengan tatapan mengejek nya.


Alister akhirnya memilih untuk diam dan menahan kekesalannya hingga mereka sampai di depan sekolah Aruna.


“Kamu hati-hati ya, nanti kalau udah pulang. Lima belas menit sebelum nya chat Kakak dulu,” perintah Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


“Aruna sekolah dulu ya. Kakak semangat OSPEK nya,” ucap Aruna sambil mencium pipi Alister yang kini sontak tersenyum. Energi nya seperti langsung meningkat karena ulah Aruna.


Sedangkan sang pelaku kini sudah keluar dari mobil lalu melambaikan tangannya pada Alister yang juga melambaikan tangannya.


Setelah melihat kepergian Aruna dan memastikan gadis itu aman, baru lah setelah nya Alister segera pergi dari sana dan menuju ke arah kampus nya.


***