
Gadis kini tengah menatap ke arah laki-laki yang berada di depannya dengan tatapan takutnya. Laki-laki tersebut kini terus saja menatap serius ke arahnya merasa jika memang ada yang disembunyikan oleh gadis di depannya tersebut dan ia ingin tahu apa yang disembunyikan oleh gadis itu.
“Ada apa?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Nevan pada gadis yang berada di depannya yang tak lain adalah Dinara. Dengan takutnya kini Dinara hanya bisa untuk saling menautkan jari-jarinya berusaha untuk menekan rasa takut nya.
“Korban di kampus, apa kamu yang melakukannya?” tanya Dinara dengan hati-hati dan menekan rasa takut nya. Nevan yang mendengar pertanyaan dari Dinara kami menaikkan sebelah atasnya karena tidak biasanya di nampak mempertanyakan tentang korbannya.
“Memangnya kenapa? Nggak biasanya lo akan mempertanyakan tentang korban gue,” tanya Nevan dengan tatapan seriusnya pada Dinara, mempertanyakan jawaban yang sebenarnya dari gadis tersebut yang kini semakin ketakutan saat melihat tatapan tajam dari laki-laki di depannya.
“Katakan sekarang atau kamu selanjutnya akan menjadi korban gue,” ancaman Nevan pada Dinara yang kini hanya menatap Nevan. Tatapan Nevan kini sudah begitu tajam membuat Dinara akhirnya menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata nya sebelum akhirnya ia memulai cerita nya.
“Aruna ngeliat kamu masuk ke ruangan itu,” ucap Dinara sambil memejamkan mata nya. Bahkan kini ia tak mampu untuk melihat Nevan karena terlalu takut melihat laki-laki di depannya itu yang kini bahkan sudah siap untuk membunuhnya.
Sebuah tarikan di rambut nya kpini berhasil membuat Dinara mendongak. Nevan yang melakukan hal tersebut kini menatapnya dengan tatapan tajam nya.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa ngeliat gue?” tanya Nevan dengan tatapan penuh tanyamu karena sebelumnya ia tidak pernah sama sekali ketahuan oleh seseorang, namun sekalinya ia kini ketahuan malah ia ketahuan oleh gadis yang ia cintai.
“Maaf Nevan aku nggak bermaksud untuk mempermalukanmu atau pun mau merendahkan harga diri kamu. Jadi setelah malam loh yang nangis karena dia besok paginya aku cari dia buat ngasih dia peringatan. Tapi nggak disangka dia malah datang buat cari kamu, untuk minta maaf dan dia malah ngeliat kamu masuk ke ruangan itu, dia udah ,mau nyamperin kamu tapi aku lebih dulu narik dia karena kebetulan saat itu aku ada di sana.” Dinara kini akhirnya menjelaskan semua yang terjadi pada Nevan. Nevan yang mendengar hal tersebut tentu saja begitu marah pada Dinara selama ini menurutnya harga dirinya begitu tinggi namun tiba-tiba saja gadis tersebut malah mendatangi Aruna untuk membelanya seolah dengan menurunkan harga diri Nevan karena mengandung pada seorang gadis.
“Apa Gue pernah nyuruh lo buat ngelakuin itu? Lo lagi mempermalukan harga diri gue? Lu pikir gue nggak bisa buat nyelesain semuanya sendiri? Lo kira gue selama itu?” Nevan kini terlihat begitu marah pada Dinara bahkan tanpa segan kini laki-laki tersebut menarik rambut Dinara hingga membuat gadis tersebut terseret akibat tarikannya yang begitu kuat. Tenaga Dinara jelas saja tidak kuat untuk melawan Nevan hingga kini ia hanya bisa merasakan sakit yang begitu sangat di kepalanya karena rambutnya yang ditarik dengan begitu kuat, bahkan rasanya kini rambutnya sudah akan copot karena tarikan tersebut.
“Nevan maaf Aku tahu aku salah aku ngelakuin itu karena aku nggak mau ada orang yang nyakitin kamu, aku juga mau ngasih peringatan ke dia secara baik-baik kok nggak ada kekasaran,” ucap Dinara dengan memohon kepada Nevan namun laki-laki tersebut sama sekali tidak memperdulikan Apa yang kini diucapkan oleh Dinara Ia tetap saja membawa Dinara untuk menuju ke arah kamar gadis tersebut.
Saat mereka berjalan ke arah kamar Dinara, Nevan terlihat mengambil sebuah pisau yang berada di atas nafas sebuah pisau buah yang tampak kecil tapi begitu tajam. Dinara yang melihat hal tersebut tentu saja kini semakin ketakutan bahkan tanpa sadar kini air matanya mulai menetes, namun dengan cepat Dinara menghapus air mata tersebut tidak ingin membuat Nevan semakin marah saat melihat Dinara menangis.
“Gue paling nggak suka kalau ada orang yang ikut campur dalam masalah gue apalagi lu mau jadi sok pahlawan untuk gue?” ucap Nevan dengan begitu tegasnya yang kini semakin membuat Dinara merasa ketakutan.
Saat kini mereka sampai di kamar Dinara, Nevan langsung menghempaskan tubuh gadis tersebut begitu saja. Tubuh gadis tersebut kini bahkan sudah menghantam pinggiran ranjangnya menciptakan rasa sakit pada punggungnya mungkin kini punggungnya sudah memar atau bahkan berdarah akibat benturan tersebut.
Nevan kini berjalan ke arah Dinara lalu tanpa belas Kasihannya kini ia menggoreskan pisau tersebut pada wajah Dinara namun tidak menciptakan luka.
“Lu tahu gue paling nggak suka sama orang cengeng?” tanya Nevan yang sebenarnya hanya sebuah alibi untuk menutupi kata jika ia tidak menyukai saat melihat Dinara menangis, karena menurutnya jeritan dan Tangis dari orang lain adalah sebuah lagu yang menenangkan untuknya apalagi jika tangis dan jeritan tersebut adalah akibat dari ulahnya.
“Hapus air mata lu,” tegas Nevan pada Dinara yang kini dengan segera menghapus air matanya karena terlalu takut jika Nevan akan semakin marah.
“Aku paham,” ucap Dinara dengan sisa air matanya yang kini tetap saja mengalir meskipun sudah ia tahan.
“Sepertinya setelah ini lo akan punya teman baru,” ucap Nevan lalu setelahnya ia malah menggoreskan sebuah luka di leher dan bagian dada Dinara. Setelah melakukan hal tersebut tanpa rasa bersalahnya kini Nevan segera pergi dari sana membuat Dinara akhirnya melepaskan tangisnya.
Dinara yang mendengar ucapan Nevan tersebut akhirnya tersadar akan sesuatu, karena jelas ucapan Nevan bukanlah tanpa alasan karena mungkin setelah ini Aruna bisa saja bersama dengannya.
“Maaf Aruna tapi ngelakuin ini buat ngelindungin Nevan gue nggak mau kalau karena lu ngelaporin Nevab akhirnya dia akan mendekam di penjara, Nevan adalah satu-satunya yang gue punya gue akan melakukan apapun demi Nevan,” Paper Dinara dengan tangisnya sambil memegangi lukanya yang kini sudah berdarah.
***
Nevan kini tampak berdiri di depan sebuah rumah mewah dengan chat berwarna putih dan emas yang menampilkan kesan mewah nya yang begitu ketara. Setelah Tadi ia mengikuti Aruna pulang dari kampus kini ia dapat melihat rumah Aruna.
Namun tak ada yang kini Nevan lakukan di depan rumah tersebut karena penjagaannya yang begitu ketat jadilah ia hanya diam sambil mengawasi gadis tersebut dari jauh. Setelah memastikan jika rumah tersebut memang adalah rumah Aruna kini Nevan memilih untuk segera pergi dari sana bukan kini ia akan melancarkan aksinya namun jika waktunya sudah tepat ia akan mengambil Aruna.
Di sisi lain kini Aruna tengah berada di kamarnya memandangi sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya. Setelah pulang tadi bersama dengan Alister, Aruna yang memang begitu peka akan sekitar mengetahui jika ia telah diikuti namun ia sama sekali tidak mengatakannya pada Alister. Aruna hanya takut jika tebakannya salah oleh karena itu ia kini masih memilih bungkam dan akan mengatakannya nanti jika kecurigaannya memang benar.
“Maaf Kak sepertinya untuk kali ini aku harus balik menyembunyikan sesuatu dari kakak karena menurutku ini juga berbahaya dan aku nggak mau membahayakan kakak,” Ucap Aruna sambil melihat mobil berwarna hitam tersebut kini mulai menjauh dari rumahnya.
Aruna menghembuskan nafasnya kasar sepertinya kali ini ia harus lebih berhati-hati tidak hanya dirinya namun ia juga harus memperingati alister agar laki-laki tersebut lebih berhati-hati ke depannya. Tentang pembunuhan di kampusnya tersebut kini masih belum ada penjelasan pasti apa yang melatarbelakangi terbunuhnya gadis tersebut dan pelaku pun masih belum bisa dipastikan.
“Hei lagi ngeliatin apa? Bahkan Bunda masuk pun kamu nggak nyadarin,” ucap Casia yang kini sudah berdiri di samping Aruna sambil melihat keluar jendela untuk melihat apa yang kini tengah dilihat oleh putrinya itu namun di sana ia tidak melihat apapun kecuali pemandangan dari tamannya.
“Bunda? Bukan apa-apa kok Bun cuman lagi lihatin Taman Bunda aja kayaknya sekarang bunganya lebih beragam ya dari yang kemarin-kemarin,” ucap Aruna yang kini memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Casia yang mendengarnya kini menganggukkan kepalanya dan ikut melihat ke arah Taman bunganya yang kini terlihat tumbuh begitu cantik.
“Bunda emang baru aja Nanam bunga-bunga baru. Nanti lain kali kita berkebun bareng lagi,” ajak wanita yang biasa Aruna panggil Bunda tersebut.
“Udah yuk mending kita makan aja, udah waktunya makan siang juga,” ajak Casia yang kini membuat Aruna menganggukkan kepalanya lalu setelahnya mereka kini menuju ke arah lantai bawah di mana ruang makan berada untuk mengisi perut mereka.
***