Aruna Story

Aruna Story
Sakit Tidak Selalu Berdarah



Dua orang berbeda jenis kelamin kini tengah berjalan bersama di mall yang berada di salah satu kota mereka. Mereka bukanlah sepasang kekasih, namun melihat bagaimana laki-laki tersebut bersikap posesif pada gadis yang kini berada di samping nya itu pasti akan membuat banyak orang berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih.


"Setelah ini mah makan malam di mana?" Tanya laki-laki yang kini menggenggam tangan gadis yang tak lain adalah Dinara tersebut dengan kening nya yang berkerut. Dina yang mendengar nya kini tampak berpikir sejenak.


"Terserah kamu aja deh," ucap nya akhirnya karena ia tak tahu apa yang untuk saat ini ia inginkan. Ia pun sebenarnya juga tidak mengetahui banyak tempat makan yang berada di kota nya sendiri karena ia selalu saja dibatasi oleh laki-laki yang kini bersama nya utu. Laki-laki yang tak lain adalah Nevan.


"Ok," ucap Nevan dengan wajah datar nya.


Kini mereka tengah berjalan bersama di mall membeli kebutuhan milik Danira di apartemennya.


"Btw kita masak yang di beli ini aja gak sih kak?” tanya Dinara sambil menunjuk ke arah troli mereka yang kini sudah terisi berbagai jenis sayuran juga daging.


“Gak usah, itu buat keperluan di rumah aja. Mumpung lagi di lapar mending makan di luar aja,” ucap Nevan yang membuat Dinara kini menganggukkan kepala nya mendengar. Tak ingin menolak atau berdebat dengan Nevan. Mengingat bagaimana sikap laki-laki tersebut.


Jadi daripada ia membuat Nevan marah dan berakhir ia yang terluka lebih baik ia menuruti saja kemauan dari laki-laki di samping nya itu yang kini tengah mendorong troli. Dan tangannya yang terbebas kini menggandeng tangannya.


“Apalagi yang habis?” tanya Nevan yang kini tampak membuat Dinara berpikir lalu setelah nya ia segera mengeluarkan ponsel nya dan melihat catatannya. Melihat kembali apa yang sudah ia beli dan apa yang belum ia beli.


“Tinggal bumbu-bumbu aja Kak,” ucap Dinara yang membuat Nevan kini menganggukkan kepalanya.


“Ayo,” ajak Nevan. Kini mereka berjalan bersama menuju ke arah tempat mereka membeli bumbu dapur.


Nevan kini tampak begitu teliti memilih bumbu dapur nya lalu setelah nya ia meletakkan ke troli mereka.


“Sudah?” tanya Nevan yang kini Dinara balas dengan anggukannya.


“Kak, aku mau beli es krim boleh gak?” tanya Dinara. Saat bersama dengan Nevan ia memang begitu berhati-hati karena tak ingin membuat Nevan marah sedikit pun. Nevan menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia segera membawa Dinara menuju ke arah tempat es krim.


Melihat hal tersebut Dinara kini tersenyum senang dengan mata nya yang kini bahkan sudah berbinar melihat nya. Nevan yang melihat hal tersebut hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu mengelus puncak kepala Dinara sayang.


Dinara menoleh ke arah Nevan lalu tersenyum dengan begitu manis nya. Nevan yang seperti ini lah yang selalu membuat Dinara merasa beruntung mengenal nya. Nevan yang begitu manis dan memperlakukannya dengan begitu baik. Melupakan bagaimana seorang psikopat berada dalam diri laki-laki tersebut.


“Udah?” tanya Nevan dengan begitu lembut nya saat Dinara kini sudah selesai memilih es krim nya. Dinara menganggukkan kepalanya, lalu setelah nya ia segera merangkul tangan Nevan yang kini membawanya menuju ke arah kasir.


“Kamu mau kemana lagi setelah ini?” tawar Nevan yang Dinara balas dengan gelengan.


“Makan aja, abis itu pulang,” jawab Dinara yang sebenar nya sudah merasa begitu lelah. Ia baru saja pulang dari kampus saat Nevan mengajak nya untuk membeli kebutuhan bulanan yang habis. Awal nya Dinara ingin menolak namun ia tak bisa melakukannya karena terlalu takut pada Nevan.


Oleh karena itu a ingin segera menyelesaikan ini dan pulang untuk beristirahat.


“Setelah anter kamu pulang, aku kamu mau balik ke kampus,” ucap Nevan yang membuat Dinara kini menoleh ke arah Nevan.


“Maaf,” hanya itu yang akhirnya bisa dikatakan oleh Dinara. Tak ada lagi jawaban dari Nevan.


Kini mereka sudah berada di kasir untuk membayar belanjaan mereka. Setelah kasir mengatakan harga yang harus dibayar Nevan dengan segera membayar nya.


Dengan kedua tangannya yang penuh dengan belanjaan mereka kini mereka berjalan bersama keluar dari mall.


“Mau gue patahin tangan lo?” ucapan yang begitu sarkas tersebut membuat Danira yang tengah berjalan di samping Nevan sontak saja tersentak mendengar nya hingga kini gadis tersebut segera berdiri di samping Nevan dan menggandeng tangan Nevan karena tahu itu lah yang membuat Nevan kesal.


Saat bersama dengan laki-laki tersebut memang banyak sekali peraturan yang harus Dinara lakukan. Seperti selalu bergandengan tangan, tidak bisa menatap laki-laki lain, dan tidak bisa bermain ponsel, masih banyak lagi peraturan aneh yang Nevan buat untuk nya. Walau terkadang Danira merasa kesal, namun ia pun tak bisa melakukan apapun karena terlalu takut dengan Nevan.


“Besok Mama pulang, jam sepuluh gue jemput lo buat jemput Mama bareng,” tegas Nevan pada Dinara. Dinara meman begitu dekat dengan Ibu Nevan, dan kini Ibu nya berada di luar negeri dan sering ikut dengan ayah nya untuk perjalanan bisnis.


Kedua orang tua Nevan terbilang orang yang begitu sibuk dengan dunia mereka sendiri, dan Nevan adalah anak tunggal yang membuat nya sering kali merasa kesepian.


“Udah lama Mama gak pulang, jadi kangen,” ucap Dinara dengan senyumannya pada Nevan yang kini hanya tersenyum mendengar nya.


Kini mereka sudah berada basement mall tersebut. Dinara sudah masuk ke dalam mobil Nevan sedangkan Nevan kini tengah memasukkan belanjaan mereka ke bagasi. Setelah nya kini Nevan segera menuju ke arah kemudi.


Hingga mobil tersebut kini mulai melaju meninggalkan basement mall. Selama perjalanan kini tak ada yang memulai pembicaraan. Walau mereka sudah kenal begitu lama namun mereka sama-sama orang yang tak banyak bicara. Apalagi setelah Dinara mengetahui bagaimana Nevan, membuat nya selalu berhati-hati pada laki-laki tersebut. Takut jika apa yang ia katakan membuat Nevan tidak menyukai nya.


Nevan kini hanya fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Dinara kini fokus dengan jalanan di samping nya.


“Gue lagi tertarik sama junior gue,” ucap Nevan tiba-tiba yang kini sontak saja ucapan Nevan membuat Dinara menoleh ke arah Nevan dengan wajah terkejut nya. Entah mengapa hati Dinara rasanya begitu hancur mendengar ucapan Nevan.


Tatapannya kini bahkan begitu sendu pada laki-laki di samping nya tersebut. Nevan mengatakan hal tersebut tanpa memikirkan perasaannya? Lalu bagi Nevan, selama ini apa ia tak pernah menyukai nya? Itu lah yang kini tengah Dinara pikirkan.


“Dia gadis yang cantik dan lembut, gue bahkan tertarik sama dia di awal kita ketemu hampir satu tahun yang lalu,” papar Nevan yang kini semakin membuat Dinara terkejut dan merasa sakit mendengar nya.


“Apa aku selama ini kurang baik untuk kamu Nev?” batin Dinara yang jelas saja tak bisa ia ungkapkan pada Nevan karena terlalu takut akan reaksi Nevan.


“Dia pasti gadis yang sangat cantik,” ucap Dinara, kini gadis tersebut berusaha menyembunyikan rasa sakit nya dengan senyuman manis yang kini ditampilkannya. Nevan yang mendengar nya kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Baginya Dinara adalah orang yang begitu nyaman untuk diajak bercerita. Namun kali ini Nevan tak tahu ada luka yang sebenar nya tengah disembunyikan dengan begitu baiknya. Pembicaraan Nevan tentang gadis yang ia sukai itu terus saja berlanjut. Dan Dinara tentu saja menanggapi nya dengan begitu baik walau ia pun sebenarnya terluka mendengar nya. Nevan kini terlihat begitu antusias menceritakan tentang gadis tersebut.


Mendengar cerita tentang orang yang dicintai oleh orang yang kita cintai. Apa jika kalian berada di posisi Dinara kalian akan merasa baik? Jelas saja tidak, namun kalian pun tak bisa untuk mengatakannya secara langsung jika kalian menyukainya dan kalian merasa terluka dengan perasaan itu bukan? Itu lah yang kini Dinara rasakan. Berusaha terlihat baik walau sebenarnya hati sudah menangis.


***