
Aruna kini sudah terlihat begitu cantik dengan gaunnya yang terlihat begitu indah. Kini mereka tengah bersiap untuk datang ke acara pesta ulang tahun teman Alister yang mengundang Alister. Rambut ya yang kini dibiarkan tergerai namun dengan hiasan di cantik di rambut nya.
Setelah merasa jika kini ia sudah siap dengan segera Aruna menuju ke arah lantai bawah di mana kini Alister sudah menunggu nya. Saat sampai di lantai bawah benar saja jika kini alister sudah terlihat begitu tampan dengan setelan kemeja juga celana bahan yang digunakannya.
Senyuman Aruna kini mengembang dengan begitu sempurnanya saat kini ia melihat keberadaan alister di sana. Alister pun yang melihat keberadaan Aruna kini juga tampak mengembang kan senyum nya. Lalu ia mengulurkan tangannya agar Aruna raih.
“Bunda, Papa. Kita berangkat dulu ya,” pamit Alister pada kedua orang tuanya yang kini tengah berada di ruang keluarga yang sejak tadi berbincang dengan Alister sambil menunggu Aruna yang tdi sedang bersiap.
“Kalian hati-hati ya,” Pesan Ibu Alister pada kedua anaknya tersebut yang kini sudah berjalan menjauh. Aruna yang mendengar ucapan dari ibunya tersebut kini sontak menoleh ke arah wanita tersebut sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum dengan begitu lebarnya.
Seperti biasanya Alister selalu membantu Aruna untuk masuk ke dalam mobil mereka setelah merasa jika gadisnya tersebut aman barulah Alister menuju ke arah balik kemudi dan mulai melajukan mobil nya dengan kecepat sedangnya.
“Liburan nanti kakak udah mau magang?” tanya Aruna sambil melihat ke arah Alister yang kini tengah fokus menyetir.
“Kayaknya sih gitu, Papa juga pasti bakalan nyuruh Kakak buat bantuin di kantor nya. Ya jadi mau gak mau harus tetap bantuin, sekalian magang lah,” jawab Alister yang kini membuat Aruna menjawabnya dengan anggukan.
Mereka saling terdiam beberapa saat. Aruna kini masih berpikir, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada Alister. Namun ia malah melupakannya. Alister yang melihat gadisnya itu kini terlihat tengah berpikir jadi mengerutkan kening nya bingung bertanya-tanya apa yang kini tengah dipikirkan oleh nya.
“Lagi mikirin apa sih?” tanya Alister dengan tatapan penasarannya pada Aruna. Aruna yang mendengar pertanyaan dari Alister kpini menoleh ke arah Alister masih dengan wajah berpikir nya.
“Aku ada yang mau dibicarakan, tapi kok lupa ya Kak?” tanya Aruna yang kini bertanya pada Alister. Ia benar-benar melupakan hal tersebut.
Alister yang mendengar nya kini bahkan tertawa. Apalagi melihat wajah polos Aruna saat ini.
“Emangnya apa sih yang mau kamu bicarain sampai lupa kayak gini?” tanya Alister pada Aruna yang kini malah menggelengkan kepalanya dan masih berusaha untuk berpikir tentang apa yang harus ia sampaikan pada tunangannya itu.
Hingga tak lama kini ia membelalakkan matanya saat mengingat apa yang akan ia katakan pada Alister. Rasanya ia tadi sudah begitu kesal karena melupakan hal yang harus ia katakan kita pasti pernah mengalaminya bukan Saat kita ingin menyampaikan sesuatu tapi ada yang kita lupakan kita akan terus untuk mengingatnya namun kita malah kesal sendiri karenanya.
“Ah iya akhirnya Aruna ingat kak, jadi tuh kemarin ada senior Arjuna yang minta nomor Aruna karena nggak enak buat nolak akhirnya Aruna kasih aja, tapi Aruna nggak save balik kok, jadi kakak tenang aja.” Aruna mengatakannya dengan senyumannya yang begitu lebar meskipun sebenarnya kini ia tengah berusaha menahan ketakutannya, takut jika Alister tidak menyukai apa yang ia lakukan, mengingat laki-laki tersebut memang begitu posesif padanya.
“Siapa?” tanya Alister dengan nada suaranya yang kini terdengar begitu datar. Aruna sudah bisa menebak jika hal ini akan terjadi saat ia mengatakannya pada Alister. Namun Ia pun juga sudah menyiapkan hatinya dan menyiapkan dirinya jika Alister akan marah padanya.
“Kak Nevan,” jawab Aruna dengan jujur. Alister yang mendengar nama yang ia kenali tersebut kini disebut oleh Aruna menganggukkan kepalanya iya jelas tahu bagaimana Nevan dikenal di anggota BEM kampus. Laki-laki dingin dan begitu datar. Tak jauh berbeda dengannya. Jika ia sampai meminta kontak Aruna ia jadi curiga jika laki-laki tersebut menyukai gadisnya itu.
"Jangan terlalu dekat sama dia, kakak nggak suka kalau memang kamu ada perlu atau memang ada pembahasan yang harus dibahas maka lakukan seperlunya saja. Kakak nggak mau membatasi kamu dalam pertemanan juga mencari ilmu tapi kamu juga harus lihat-lihat situasi Kakak percaya kalau kamu bisa untuk tetap menjaga diri kamu dan hati kamu untuk kakak,” Papar Alister dengan wajah serius nya yang membuat Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya. Mengerti jika sebenar nya Alister tengah cemburu. Namun karena ia tak ingin membatasi dan malah menjadi penghalang Aruna untuk berbaur dan mencari relasi akhirnya ia mengalah dan memilih untuk mempercayai Aruna.
Bukankah dalam sebuah hubungan yang terpenting adalah kepercayaan? Itu lah yang saat ini tengah di pegang oleh Aruna dan Alister. Saling percaya satu sama lain jika mereka bisa untuk menjaga hubungan mereka untuk tetap baik seperti ini tanpa adanya orang ketiga di antara mereka.
"Aruna tahu Kak, Kakak tenang aja Aruna pastiin Aruna akan selalu jaga hati Aruna untuk Kakak dan Aruna yakin Aruna nggak akan buat Kakak kecewa atau patah hati,” ucap Aruna dengan senyumannya yang kini mengembang dengan begitu sempurna meyakinkan Alister jika apapun yang terjadi ia akan terus bersama dengan laki-laki tersebut dan tidak akan selingkuh atau meninggalkannya demi laki-laki lain.
Alister yang mendengar pengakuan Aruna yang begitu manis tersebut kini mengulas senyumnya sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan begitu lembutnya Ia hanya berharap jika tak ada lagi yang akan memisahkan mereka di kemudian hari.
Alister tahu jika hubungan tanpa masalah hanya seperti sebuah masakan tanpa garam begitu hambar, namun Alister terlebih memilih untuk berada di zona hambar ini daripada harus keluar dari zonanya yang beresiko membuat hubungan mereka hancur dan ia akan kehilangan gadis yang begitu ia cintai itu.
"Yang terpenting sekarang kita adalah saling percaya dan saling terbuka karena kunci sebuah hubungan bisa bertahan dan terus berada dalam hubungan yang harmonis adalah dua hal tadi yang Kakak bilang, jadi Kakak harap apapun yang terjadi kedepannya kamu harus terbuka sama Kakak,” peringat Alister pada Aruna, mereka tak akan tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Namun untuk mencegahnya kini Alister hanya mengatakan hal tersebut sebagai bentuk dari pencegahan di kemudian hari. Hubungan mereka sudah pernah berada di jurang karena sebuah kesalahpahaman akibat tidak adanya saling keterbukaan di antara mereka, jadi kini alister tak ingin hal serupa terjadi lagi.
Terlarut dalam pembicaraan mereka hingga mereka kini tak sadar jika mereka sudah sampai di depan sebuah gedung yang dijadikan sebagai tempat untuk acara ulang tahun tersebut. Sebagai mobil kini sudah terparkir dengan begitu rapinya di depan sebuah gedung tersebut. Dengan banyaknya penjaga yang kini berada di sana, dari sana saja Aruna bisa memastikan jika teman tunangannya itu adalah orang dari keluarga kaya raya.
Alis terkini menggandeng tangan Aruna untuk masuk ke dalam gedung yang sudah dihias dengan begitu indahnya itu. Saat memasuki gedung tersebut senyuman Aruna kini mengembang melihat ke arah sekitar yang sudah dihias dengan. Dekorasi berwarna pink perpaduan dengan putih juga biru langit kini terlihat begitu selaras dengan hiasan kupu-kupu juga angsa putih dari dekorasi tersebut.
“Wah indah banget ya kak,” ucap Aruna sambil melihat dekorasi nya yang begitu indah.
“Ulang tahun kamu mau dirayakan seperti ini juga?” tawar Alister pada Aruna. Namun Aruna kini malah menggelengkan kepalanya.
“Aruna gak suka terlalu ramai gini. Aruna lebih suka yang hadir hanya keluarga juga sahabat aja, kayak tahun tahun sebelumnya,” jelas Aruna. Aruna memang tak terlalu menyukai keadaan yang begitu ramai begini. Ia memang sudah kenal dengan teman-temannya di kampus dan ia memiliki banyak teman yang bisa ia undang. Namun menurutnya acara seperti ini begitu melelahkan. Menyambut begitu banyak tamu bukanlah keahlian Aruna.
“Kai sama Shifa gak dateng Kak?” tanya Aruna. Karena yang ia tahu dari Alister jika Kai juga diundang di acara ulang tahun ini.
“Dateng, paling juga lagi menjelajah makanan. Kan Shifa suka makan,” ucap Alister yang kini membuat Aruna tertawa mendengar nya. Mereka jelas mengingat bagaimana Shifa jika sudah kumpul dan ada banyak makanan. Gadis tersebut lah yang paling bersemangat dan memakan banyak.
“Kamu mau juga?” tawar Alister.
“Kita gak usah cari yang punya acara dulu Kak?” tanya Aruna yang kini dijawab dengan gelengan oleh Alister.
“Kakak udah lupa orang nya yang mana. Jadi gak perlu di pusingin,” ucap Alister. Ia benar-benar lupa dengan gadis yang mengundang nya itu.
“Ya udah lah cari Kai sama Shifa aja,” ucap Aruna. Alister dengan begitu posesif nya kini merangkul pinggang Aruna. Memberitahu pada siapapun yang melihat nya jika gadis yang berada di dalam rangkulannya itu adalah milik nya.
“Nah itu Kai,” tunjuk Aruna pada laki-laki dan perempuan yang kini tengah sibuk dengan makanan nya.
“Tebakan Kaka bener tuh,” ucap Aruna pada Alister yang kini tersenyum bangga padanya. Namun saat mereka akan pergi. Seorang gadis kini menghampiri mereka dengan gaun nya yang begitu cantik. Melihat hal tersebut Aruna yakin jika gadis itu lah tokoh utama malam ini.
“Halo Kak,” sapa gadis tersebut dengan senyumannya pada Alister, namun saat melihat ke arah Aruna kini senyumannya memudar.
“Oh hai. Lo yang ngundang gue kan? Hbd ya,” ucap Alister pada gadis di depannya itu yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, kenalin. Ini tunangan gue, Aruna,” ucap Alister sambil memperkenalkan Aruna. Aruna hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sebagai ungkapan sapaan.
“Oh iya Kak, btw kalian have fun ya,” pamit nya yang setelah nya ia segera pergi dari sana meninggalkan Aruna dan Alister yang kini saling tatap.
“Dia pasti suka Kakak,” tebak Aruna yang sudah bisa menebak nya hanya dengan melihat gadis tadi.
“Siapa yang peduli?” ucap Alister dengan acuh. Setelah nya mereka segera pergi untuk menghampiri Kai dan Shifa yang sudah datang lebih dulu.
Tatapan para tamu kini banyak yang menatap mereka dengan tatapan iri juga memuji. Bahkan tak jarang yang mendukung hubungan mereka. Namun tak sedikit juga yang malah menghina Aruna, namun Aruna memilih untuk menatap kedua telinga nya.
Ia hanya memiliki dua tangan yang hanya cukup untuk menutup telinga nya. Kedua tangannya jelas tak akan mampu untuk menutup semua mulut orang.
***