Aruna Story

Aruna Story
Aruna Pergi



Aruna kini mengerjakan matanya beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya saat ini ia membuka matanya,  tatapannya kini menjelajah seisi ruangan sebuah kamar yang begitu luas dengan ranjang besar juga terdapat TV dan sofa yang berada di ruangan tersebut.


Kamar tersebut  didominasi dengan warna putih juga hitam yang membuat kesan ruangan tersebut terlihat maskulin. Wangi dari kamar tersebut pun begitu menjelaskan jika sang pemilik adalah seorang laki-laki.


“Sudah bangun?”  tanya laki-laki yang kini baru saja masuk ke dalam kamar  tersebut sambil membawakan makanan juga minuman yang ia letakkan di atas bagi yang kini ia bawa. Tatapan laki-laki tersebut kini terlihat begitu teduh menatap Aruna namun berbeda dengan laki-laki tersebut Aruna malah terus menatapnya dengan tatapan datar seolah tak menyukai apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut.


“Apa yang kamu mau? Kalau cuman mau bicara mending kita selesaikan sekarang setelah itu kakak harus melepaskan aku,” Ucap Aruna yang kini tengah mencoba untuk berdiskusi pada laki-laki di depannya tersebut agar mau untuk melepaskannya,  Ia tak ingin membuat Alister khawatir.  Karena bisa ia tebak jika kini laki-laki tersebut pasti begitu khawatir mengetahui jika ia tidak berada di rumah.


“Kalau yang aku mau itu kamu gimana bisa aku ngelepasin kamu?”  tanya laki-laki di depannya yang tak lain adalah Nevan yang kini terus menatap Aruna dengan senyumannya yang begitu manis. Senyuman yang Terlukis indah di wajah laki-laki tersebut mungkin membuat sebagian orang akan merasa senang melihatnya namun berbeda dengan Aruna yang  kini semakin merasa ketakutan saat melihat senyuman tersebut.


“Aku mohon Kak jangan lakuin ini aku udah punya tunangan, aku pun masih punya keluarga yang kini pasti khawatir sama aku,” Pinta Aruna dengan tatapan memohonnya pada Nevan yang kini malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya seolah mengartikan pada Aruna jika ia tak akan melepaskan gadis tersebut begitu saja.


“ Udah aku bilang kan kalau yang aku mau itu kamu jadi gimana bisa aku ngelepasin kamu?”  tanya Nevan dengan tatapan seriusnya pada Aruna yang kini merutuki dirinya sendiri karena mau untuk bertemu Nevan. Dan kini akhirnya ia malah berakhir di tempat ini.


“ Aruna Aku suka sama kamu aku sayang sama kamu Apa kamu nggak bisa untuk melihat semua perasaan dan apa yang aku lakukan ke kamu itu tulus?”  tanya Nevan yang kini melihat Aruna dengan tatapan sendunya.


“Kak perasaan tersebut bukan hanya dapat digambarkan dengan bisa saling memiliki namun juga harus mengikhlaskan jika memang yang kakak  sukai sudah memiliki  laki-laki lain di sisinya.”  Aruna kini berusaha untuk menasehati Nevan agar laki-laki tersebut terbuka pikirannya.


"Makan makanan lo, kalau butuh sesuatu di bawah ada pelayan. Jangan coba-coba buat kabur," tegas Nevan pada Aruna yang kini memejamkan matanya mendengar ucapan Nevan.


"Gimana sama orang tua aku?" Tanya Aruna saat kini Nevan akan membuka pintu kamar tersebut untuk keluar.


“Gimana sama Kak Alister? Aku yakin mereka sekarang lagi cari aku,” ucap Aruna dengan senyuman sinisnya pada Nevan yang kini menaikkan sebelah alisnya dan kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Nevan merogoh saku celana nya lalu setelah nya ia langsung memberikan ponsel milik Aruna pada gadis tersebut.


“Lo bisa telpon orang tua lo dan katakan kalau lo lagi di rumah temen lo. Dan Lo kasih tau Alister kalau lo udah gak suka sama dia dan mau membatalkan pertunangan kalian. Gue gak bisa melepaskan lo begitu aja, karena selain gue sayang sama lo, gue juga gak mau lo ngebongkar tentang keadaan gue,” tegas Nevan pada Aruna. Aruna kini hanya menundukkan kepalanya, hingga tanpa sadar kini air mata nya mulai mengalir. Bagaimana bisa ia membohongi orang-oran yang ia cintai itu?


Namun dengan tangan nya yang getar kini Aruna mengambil ponsel tersebut. Nevan kini berdiri di samping Aruna untuk mengawasi pesan yang gadis tersebut tulis untuk keluarga nya juga untuk Alister.


A.Love


Kak, Kakak inget apa yang pernah aku bilang?


Aku pernah bilang kan kalau aku udah gak cinta lagi sama Kak?


Maaf ya Kak aku harus lakuin ini. Tapi aku mohon sama Kak.


Kakak gak perlu buat memperpanjang masalah ini


dan kak GAK perlu buat cari aku


Pesan tersebut lah yang kini Aruna kirim untuk Alister. Aruna harap Alister mengerti pesan yang ia kirim pada laki-laki tersebut dan segera mencari nya tanpa melapor pada polisi.


“Kak cinta itu gak bisa di paksa. Kakak gak bisa memaksakan sesuatu yang Kakak rasakan pada orang lain,” ucap Aruna memperingati Nevan yang kini hanya menatap Aruna dengan tatapan datar nya.


“Gue bisa melakukannya, bahkan kalau lo gak mau sama gue. Gue bisa buat ngehilangin Alister biar lo bisa sama gue,” tegas Nevan. Aruna yang mendengar ucapan Nevan kini malah tersenyum dengan begitu sinisnya.


“Bukannya sebuah cinta yang akan Kakak dapat dari aku melainkan sebuah kebencian yang akhirnya akan aku berikan kepada kakak, karena Alister segalanya buat aku. Aku bisa melakukan apapun untuk Alister,”  tegas Aruna dengan tatapannya yang kini menunjukkan sebuah peperangan pada Nevan.  Nevan yang mendengar ancaman dari Aruna kini menaikkan sebelah alisnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Kita lihat saja siapa disini yang akan menang,”  ucap Nevan yang setelahnya langsung pergi dari sana meninggalkan Aruna yang kini Langsung menangis setelah kepergian Nevan.


Aruna yang kini masih berada di dalam kamar tersebut hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya sendiri,  diyakini juga memikirkan tentang alistar dan keadaan laki-laki tersebut saat tahu jika kini Arunanya sudah tidak berada di rumah.


***


Alister  terkini tengah melakukan rapat bersama dengan anggota BEM yang lainnya. Namun selama rapat ia benar-benar tidak fokus pada apa yang tengah dibahas saat ini. Kai bahkan beberapa kali menegur Alister yang membuat kayak kini bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki tersebut. Namun  Kai bisa menebak Apapun yang terjadi pada alis teras saat ini pasti ada hubungannya dengan Aruna.


Hingga setelah rapat selesai akhirnya Kai memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Alister dan mempertanyakan soal yang membuat laki-laki tersebut menjadi seperti ini.


“Lu kenapa sih gue lihat dari tadi lu kayak nggak fokus gitu ada masalah?” tanya Kai dengan begitu penasarannya pada laki-laki yang kini sudah dianggap sebagai sahabatnya sendiri. Alister yang mendengar pertanyaan dari Kai kini menghembuskan nafasnya kasar sedikit berpikir Haruskah ia mengatakannya pada laki-laki tersebut tentang apa yang terjadi pada Aruna belakangan ini? Karena bahkan pada orang tuanya sendiri pun Alister tidak menceritakannya.


“Kita cari tempat lain buat bicara,” ajak Alister yang akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kai Apa yang sebenarnya terjadi antara Aruna.


Kai gini tampak mengerutkan keningnya merasa jika memang ada yang tidak beres tengah terjadi dan ini bukanlah hal kecil malaikat sesuatu yang besar yang sedang terjadi pada aroma juga Alister. Bahkan untuk membicarakannya pun kini Alister mengajak Kai untuk ke tempat yang sepi.


“Ada apa?”  tanya Kai saat kini mereka sudah berada di belakang kampus yang begitu sepi. Tempat yang tidak akan dilewati oleh siapapun karena memang biasanya saat masih ada jam kampus  hanya mahasiswa berandalan saja yang berada di sana.


“Lo ingat tentang korban yang jadi korban pembunuhan di kampus kita?”  tanya Alister tiba-tiba pada Kai yang kini tampak terkejut mendengar apa yang ditanyakan oleh Alister namun pada akhirnya Kai menganggukkan kepalanya. Ia jelas masih mengingatnya karena sampai saat ini masih banyak yang membicarakannya akibat dari detektif yang belum juga menangkap siapa pelakunya menjadi ketakutan sendiri bagi para mahasiswa kampus mereka.


“Apa hubungannya hal tersebut sama kalian?”  tanya Kai dengan tatapan penasarannya pada alisker yang kali ini menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya Ia menceritakan apa yang terjadi pada mereka.


“ Aruna tau siapa pelakunya.  Awalnya dia pikir semua masih belum pasti karena dia cuma ngeliat pelakunya datang pas masih jam kampus  sekitar jam 10-an mangkanya dia masih pikir kalau lima puluh banding lima puluh. Tapi yang buat sedikit yakin pelaku nya bicara sama dia tentang keadaan korbannya padahal selain detektif dan orang juga dosan gak ada yang liat,” papar Alister yang kini tentu saja ucapan laki-laki tersebut membuat Kai kini membelalakkan mata nya mendengar penjelasan Alister.


“Lo tau, setelah itu dia jadi susah tidur. Dan beberapa hari belakangan ini setiap kita pulang dari kampus, kita selalu dibuntuti sama mobil,” jelas Alister.


“Pelakunya tau kalau Aruna sudah tahu?” tanya Kai yang membuat Alister kini menganggukkan kepalanya.


“Gue kira pelaku itu tahu, dan kemarin Aruna bilang ke gue buat gak buat percaya kalau gue nanti dia bilang kalau dia gak cinta lagi sama gue,” jelas Alister yang kini terus menceritakan apa yang sudah ia ungkapkan.


“Orang itu adalah orang yang suka Aruna? Jadi dia pikir kalau dia sampai di culik sama orang tua, orang itu gak akan membunuh Aruna, tapi akan menyimpan Aruna menjadi milik nya. Dan akan minta Aruna untuk putus sama lo?” tanya Kai dengan tebakannya. Alister sebelumnya tak pernah memikirkan hal tersebut, hingga Kai mengatakannya baru lah kini Alister menyadari maksud dari ucapan Aruna.


“Nevan?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya merasa tak percaya.


“Nevan?” tanya Kai yang kini juga dibuat bingung mendengar pertanyaan Alister.


“Gue pernah bilang ke Aruna kalau Nevan itu suka sama dia. Dan sehari sebelum kejadian, dia lagi nyari Nevan, Gubma fakultas kedokteran,” jelas Alister yang kini membuat Kai yang sedari kebingungan kini dibuat menganga karena nya.


“Dokter? Psikopat? Wah, apa dia lagi cari bahan praktek?” tanya Kai dengan tak percaya.


“Dari drakor yang gue tonton bareng Aruna, emang kebanyakan psikopat tuh jadi dokter. Karena dia bisa melakukan suatu kekerasan, dia gak punya nurani,” jelas Alister dengan senyuman sinisnya.


“Jadi lo juga suka nonton drakor?” tanya Kai pada Alister dengan tatapan menghina nya.


“Apa drakor sekarang penting?” tanya Alister yang membuat Kai menyengir mendengar nya.


Hingga tak lama suara dering dari pesan masuk kini membuat kedua gadis tersebut menghentikan pembicaraan mereka. Saat Alister melihat pesan yang dikirim Aruna, Alister membelalakkan mata nya.


“Aruna di culik,” ucap Alister dengan tak percaya nya.


***