Aruna Story

Aruna Story
Hp Baru



“Ini buat Aruna?” tanya Aruna dengan tatapan penuh tanya nya pada Alister sambil memperlihatkan ponsel yang kini di pegang nya. Alister yang mendengar nya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Aruna yang masih tak percaya.


“Aruna masih gak butuh kak, ambil lagi aja,” ucap Aruna sambil menyodorkan ponselnya pada Alister. Alister yang mendengar nya kini menghembuskan nafas nya.


“Kakak gak nerima penolakan, kalau gak mau ya udah di buang aja. Lagian sekarang kamu udah mulai pulih kan?” tanya Alister dengan ketegasan dalam ucapannya. Aruna yang mendengar nya kini menghembuskan nafas nya. Alister memang begitu pemaksa.


“Dasar pemaksa,” kesal Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya.


“Yes i’m,” ucap Alister dengan kekehannya.


“Kakak udah simpen nomor kakak, Papa, Bunda, sama Opa Oma kamu,” ucap Alister sambil menunjukkan kontak ponsel Aruna yang hanya berisi enam kontak saja, tentu saja satu nya merupakan kontak nya sendiri.


“Makasih ya kak,” ucap Aruna yang dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna. Aruna kini berusaha menahan detak jantung nya yang malah berdetak tak menentu saat Alister mengelus puncak kepalanya. Padahal ini bukanlah kali pertama Alister melakukannya.


“Ada apa sama aku?” batin Aruna sambil memejamkan matanya.


“Aruna, kenapa?” tanya Alister yang Aruna balas dengan gelengan.


“Kakak gak mau tambahin kontak temen-temen kakak? Kan mereka juga temen Aruna,” ucap Aruna yang dibalas dengan gelengan oleh Alister.


“Gak usah, nanti mereka gangguin kamu. Udah itu aja cukup,” ucap Alister dengan tegas nya yang membuat Aruna terkekeh mendengar nya.


Aruna kini menyandarkan kepalanya pada pundak Alister dengan tatapannya yang kini lurus menatap langit malam yang bertabur bintang. Kini mereka tengah berada di balkon kamar Aruna, duduk sambil melihat indahnya langit malam.


“Udah malem, tidur ya,” ucap Alister lalu menggendong Aruna menuju ke arah ranjang gadis tersebut. Dengan begitu lembut Alister Membantu Aruna memakai selimut nya.


“Tidur yang nyenyak ya,” ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna lali setelah nya ia segera keluar dari kamar Aruna.


Setelah kepergian Alister. Tiba-tiba saja ia ingin untuk melihat ponselnya, ada sesuatu yang ingin di carinya. Aruna membuka sosial media nya yang masih begitu ia ingat kata sandi nya. Karena ia selalu menggunakan kata sandi yang sama di semua akun sosmed nya yang memerlukan kata sandi.


Setelah berhasil log in tujuannya kini adalah melihat akun sosial mantan kekasih nya. Hingga tatapanya kini tampak begitu sendu dengan senyuman sinisnya saat melihat jika akun sosmed milik mantan kekasih nya itu kini tidak memiliki sorotan ataupun postingan sama sekali.


“Dia menghapus semua nya,” gumam nya dengan senyuman sendu nya.


“Apa yang kamu harepin Aruna? Dia ninggalin kamu dia saat kamu butuh dia aja udah nunjukin kalau dia gak setulus itu sama kamu,” ucap Aruna yang kini tengah bermonolog meyakinkan dirinya sendiri yang masih memberikan ruang pada mantan kekasih nya itu untuk segera mengusir nya dari ruang tersebut.


“Sekarang yang perlu aku lakuin adalah berusaha untuk sembuh.” Aruna kini menyemangati dirinya sendiri lalu segera menutup ponselnya dan memilih untuk istirahat. Memegang dan memainkan ponsel hanya dengan satu tangan yang aktif jelas melelah kan bagi Aruna yang baru memegang ponsel kembali setelah beberapa tahun ia tak memegang ponsel.


Aruna kini akhirnya memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh nya. Meskipun luka itu masih ada namun kini Aruna sudah tak pernah lagi menangisi mantan kekasih nya. Tujuan dan tekad nya lebih kuat, apalagi dengan orang yang selalu berada di sisi nya untuk menemani nya selama ini.


***


“Data siswa yang ikut lomba udah di impun?” tanya Alister pada Hana yang kini menjawab dengan anggukan sambil memperlihatkan laptop nya.


Alister menganggukkan kepalanya.


“Nanti kita bagi tugas untuk setiap lomba bakalan ada yang mengawasi dan butuh mc nya masing-masing,” jelasAlister pada anggota nya yang kini semua berkumpul di ruang OSIS. Mereka semua menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alister.


“Kita istirahat dulu tiga puluh menit setelah ini balik ke kelas masing-masing dan sepulang sekolah kita kumpul lagi,” tegas Alister sambil melihat jam di tangannya yang kini sudah memperlihatkan waktu istirahat.


Namun tak seperti anggota lainnya yang memilih membubarkan diri untuk istirahat. Kini Alister lebih memilih untuk mengecek kembali semua data. Tak hanya sendiri kini Januar juga menemaninya. Tak lama pembina OSIS juga datang.


“Gimana persiapannya Al?” tanya Mr. Erlo, pembina OSIS yang kini masuk ke ruangan OSIS.


“Masih aman dan lancar Mr,” ucap Alister yang dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Mr. Erlo.


“Halo permisi epribadi, Dery yang baik ini membawakan makanan untuk ketua dan wakil OSIS kita,” ucap Dery yang masuk ke ruangan OSIS bersama dengan kedua sahabat nya yang lain lalu memberikan makanan yang di beli nya di kantin pada Alister dan Januar yang tersenyum sambil mengambilnya.


“Thanks ya,” ucap Januar yang Dery balas dengan senyuman dan anggukannya.


“Gue yang beli. Dia mah cuma modal gantri. Mana bayaran buat beli ini lebih mahal dari yang dibeli lagi,” sungut Alister yang hanya membuat Dery menyengir mendengar nya. Sedangkan guru mereka hanya menggeleng melihat tingkah persahabatan mereka.


Suara dering dari ponsel Alister membuat laki-laki itu kebingungan mencari ponsel nya.


“Nih, dari Queen,” ucap Dery yang kini memegang ponsel Alister yang berada di tas laki-laki tersebut yang kebetulan berada di samping nya.


“Emak lo ya?” tanya Ivan karena yang mereka tahu Aruna tidak memiliki ponsel. Dan tak mungkin Alister memiliki gadis lain jika dilihat bagaimana Alister memperlakukan Aruna.


“Aruna,” jawab Alister singkat yang membuat sahabat nya kini membelalakkan matanya lalu dengan terburu-buru menyodorkan ponsel mereka membuat Mr. Erlo dan Januar kini mengerjapkan matanya beberapa kali bingung dengan apa yang dilakukan oleh sahabat Alister.


“Ogah,” tegas Alister lalu segera pergi dari sana untuk menerima panggilan dari Aruna. Meninggalkan sahabat nya yang kini menatap nya dengan kesal.


“Nanti kita ke rumah dia aja, minta sendiri ke Aruna. Dasar emang tukang cemburu posesif banget,” saran Ivan yang di balas dengan anggukan setuju dari temannya yang lain.


“Emang Aruna secantik itu ya?” tanya Januar merasa penasaran.


“Udah lo gak perlu tau, nanti fomo lo,” ucap Ivan yang membuat Januar kini hanya berdecih mendengarnya.


***