
Selama diperjalanan menuju ke arah rumah mereka kini Aruna hanya terdiam. Alister yang melihat nya kini menaikkan sebelah alisnya dan sesekali menatap Aruna dengan tatapan penuh tanya nya.
Alister kini mengulurkan tangannya sambil menggapai tangan Aruna dan mengelus nya dengan begutu lembut. Aruna yang merasakan sapuan lembut pada tangannya kini menoleh ke arah Alister dengan helaan nafas nya.
“Kenapa hm? Kepikiran mantan kamu itu?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. Aruna yang melihat ekspresi Alister kini justru tertawa karena nya.
“Kakak cemburu?” tanya Aruna dengan senyuman menggoda nya pada Alister yang kini hanya menganggukkan kepalanya. Begitu lah Alister, ia tak pernah menyembunyikan perasaan yang tengah dirasakannya. Karena menurutnya sudah cukup ia menyembunyikan perasaannya pada Aruna begitu lama. Kini ia tak ingin lagi menyembunyikan apapun dari Aruna.
“Kakak gak perlu cemburu. Karena sedikitpun aku gak bakalan berpaling dari Kakak. Sekarang yang aku pikirin bukan lagi Kai. Tapi hubungan pertemanan aku sama Shifa. Dia satu-satu nya temen yang aku punya, tapi sekarang dia malah ngejauhin Aruna,” ucap Aruna dengan helaan nafas nya sambil bercerita pada Alister yang kini mengerti kegelisahan Aruna. Alister mengelus tangan Aruna yang kini berada dalam genggaman tangannya dengan begitu lembut nya.
“Kasih dia waktu. Dia cuma butuh waktu. Dan kita butuh waktu buat nyelesain ini. Dan juga butuh kerja sama dari Kai. Cuma Kai yang bisa menyelesaikan kesalahpahaman kalian,” saran Alister yang Aruna balas dengan anggukan dan helaan nafas kasar nya.
“Itu juga yang aku pikirin kak. Apa lagi tadi tuh Shifa juga bilang gitu. Dia bilang mungkin Aruna gak bakalan pindah hati ke Kai, tapi bagaimana dengan Kai? Aruna jadi ngerasa bersalah banget sama Shifa karena Aruna yang menampak kan diri di depan Kai,” ucap Aruna dengan helaan nafas kasar nya.
“Kamu manusia, jadi wajah kalau nampak,” ucap Alister berusaha untuk mencairkan suasana untuk bercanda. Aruna yang mendengar nya kini tertawa kecil sambil memukul lengan Alister dengan tangannya yang terbebas. Begitu kesal dengan Alister yang masih bisa bercanda di saat ia tengah berbicara dengan serius.
“Ngeselin banget,” keluh Aruna yang hanya membuat Alister kini tertawa dengan kecil mendengar nya.
“Udah jangan terlalu dipikirin lagi. Kamu baru sembuh. Semua butuh waktu. Jadi kita tunggu saja dan selesaikan semua nya perlahan,” saran Alister yang akhirnya hanya membuat Aruna menganggukkan kepalanya. Akhirnya selama di perjalanan mereka menceritakan banyak hal. Sekedar perbincangan ringan seperti yang biasa mereka lakukan.
***
Seperti malam-malam sebelumnya. Alister akan menamni Aruna belajar, dan setelah nya mereka memilih untuk bersantai di balkon kamar Aruna.
“Bunda sama Papa, kapan pulang ya? Aruna jadi kangen deh,” keluh Aruna pada Alister mengingat tentang kedua orang tua Alister yang kini tengah melakukan perjalanan bisnis selama dua hari. Ini kali pertama untuk Casia, mengikuti perjalanan bisnis suaminya lagi setelah ia harus merawat Aruna selama dua tahun ini ia hanya berada di rumah.
“Besok, kamu sabar ya. Lagian mereka pergi baru tadi deh,” ucap Alister yang membuat Aruna kini mengerucutkan bibirnya lucu.
“Mau tadi atau kemarin juga kalau udah kangen mah susah,” kesal Aruna menjawab ucapan Alister yang kini hanya membuat Alister menganggukkan kepalanya.
“Iya deh percaya,” ucap Alister dengan senyumannya.
“Kak, Aruna kapan boleh buat main skateboard lagi?” tanya Aruna dengan tatapan memohonnya pada Alister yang kini menghembuskan nafas nya sambil menatap Aruna dengan tatapan serius nya.
“Nanti ya,” ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna. Aruna yang mendengar nya kini hanya mendengus dengan kesal. Pasalnya ia sudah begitu bosan mendengar jawaban Alister yang sama saja setiap ia menanyakan hal tersebut.
“Ya udah kamu istirahat aja. Kalau butuh apa-apa panggil Kakak.” Alister segera keluar dari kamar Aruna setelah mengatakan hal tersebut. Sedangkan Aruna kini hanya bisa merutuk dengan kesal karena Alister yang kini meninggalkannya.
***
Aruna kini keluar dari lift dengan malas. Dengan langkah lelah nya kini ia menuju ke arah ruang makan yang ternyata kini sudah ada Alister yang tengah menikmati makanannya.
“Udah bangun Queen? Ayo sarapan dulu,” ajak Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Meskipun kemarin malam ia begitu kesal dengan Alister. Namun kali ini ia sudah bersikap seperti tak ada yang terjadi kemarin malam.
“Apa hari ini Shifa bakalan masih marah sama Aruna, Kak?” tanya Aruna tiba-tiba pada Alister. Alister yang mendengar nya kini tersenyum sambil mengelus tangan Aruna dengan begitu lembut nya.
“Gak papa kalau masih marah. Kita kasih Shifa waktu dulu ya,” pesan Alister yang membuat Aruna kini hanya bisa untuk menghembuskan nafas nya kasar sambil menganggukkan kepalanya.
“Ayo makanannya dihabisin, takut telat,” ucap Alister. Aruna segera menghabiskan makananya sesuai apa yang Alister katakan. Walau ia masih saja memikirkan tentang Shifa.
Setelah selesai dengan makananya kini mereka memilih untuk segera menuju ke arah sekolah mereka. Selama di perjalanan, Aruna banyak menyampaikan tentang kekhawatirannya. Namun lagi-lagi Alister selalu bisa untuk menenangkannya dan memberikan pengertian pada Aruna.
Hingga saat mereka sampai di sekolah, Aruna menggenggam tangan Alister dengan begitu erat nya. Gosip memang menyebar dengan begitu cepat. Berita tentang Kai yang memeluk Aruna saat di kantin dan tepat di hadapan Shifa membuat banyak yang kini memberikan Aruna. Entah sebuah pertanyaan, pujian, ataupun hinaan.
“Uda gak usah di dengerin ya,” ucap Alister berusaha untuk menenangkan Aruna. Aruna yang mendengar ucapan Alister kini hanya bisa untuk menghembuskan nafas nya dengan kasar.
“Mereka cuma lagi iri sama kamu,” ucap Alister dengan senyumannya sambil mengelus puncak kepala Aruna.
“Tapi risih tau Kak dengerinnya,” ucap Aruna dengan tata[anm kesal nya. Alister yang mendengar nya kini hanya tersenyum dengan begitu lembut lalu memberikan earphone pada Aruna.
“Lebih baik?” tanya Aruna sambil berbisik pada Aruna yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Seenggak nya masih ada suara bagus di telinga Aruna,” puji Aruna yang membuat Alister tertawa kecil mendengar nya. Lagu yang kini tengah di putar nya adalah lagu yang Alister nyanyikan untuk Aruna.
Kini interaksi mereka menjadi pusat perhatian. Banyak yang menatapnya dengan tatapan iri nya. Melihat bagaimana Alister memperlakukan Aruna. Bahkan kali ini mereka dapat melihat Alister yang selalu berwajah kaku akhirnya bisa tersenyum juga. Sebuah keberuntungan yang sebenar nya hanya bisa dinikmati oleh Aruna dengan sepuas nya.
***