Aruna Story

Aruna Story
Iri Ya?"



“Kamu pulang sama siapa Din?” tanya Aruna pada Adina saat kini merek sudah keluar bersama dari aula. Kegiatan OSPEK hari terakhir kini akhirnya selesai juga. Tak terasa memang waktu memang begitu cepat sekali berlalu hari ini. Mungkin karena memang kegiatan yang begitu menyenangkan.


“Gue bawa mobil, lo sama Kak Alister?” tanya Adina pada Aruna yang kini menganggukkan kepalanya sambil menunjuk ke arah depan, dimana kini Alister sudah berjalan ke arah nya. Adina yang melihat nya ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Kalau gitu gue duluan ya, lo hati-hati,” pesan Adina yang kini Aruna balas dengan anggukan.


“Lo juga hati-hati,” ucap Aruna yang Adina balas dengan anggukan. Setelah nya kini Adina segera pergi sambil melambaikan tangannya sedangkan Aruna kini berjalan dengan cepat menuju ke arah Alister dan tiba-tiba saja ia langsung memeluk Alister yang dibalas dengan pelukan erat oleh Alister.


“Kangen,” keluh Aruna pada Alister yang kini tersenyum mendengar ucapan Aruna karena ia pun juga sangat merindukan tunangannya itu. Seharian ini bahkan mereka hanya bertemu saat tadi Alister memberikan pakaian juga keperluan Aruna saja. Itupun hanya sebentar. Padahal biasanya mereka bisa menghabiskan waktu seharian bersama.


“Kakak juga kangen,” ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna. Setelah nya Alister kini langsung melepaskan pelukan mereka lalu mengambil barang-barang yang dibawa oleh Aruna. Tidak membiarkan Aruna membawa apapun.


Dengan satu tangannya yang terbebas kini Alister menganga, tangan Aruna dan membawanya pergi dari sana. Kini banyak yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya nya. Merasa semakin penasaran dengan Aruna. Tentang siapa Aruna sebenar nya.


Bahkan tak jarang juga yang membicarakan mereka. Namun Aruna dan Alister lebih memilih untuk menutup telinga mereka.


“Aruna nih jampi-jampi nya kuat juga ya. Gila aja semua cogan di embat,” ucap suara yang kali ini berhasil membuat Alister menajamkan pendengarannya.


“Iye woy, mulai dari Presma, wapresma, sama Gubma pun dia embat. Cantik sih, tapi tetep aja aneh,” ucap suara lainnya yang kali ini menyahut.


Alister yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya. Jika yang mereka maksud Kai mungkin Alister tidak akan mempertanyakannya lagi mengingat bagaimana mantan kekasih tunangannya itu. Namun Gubma? Alister kini jadi bertanya-tanya bagaimana Aruna bisa dekat dengan laki-laki itu.


“Kamu deket sama gubma Fakultas kamu?” tanya Alister tiba-tiba saat kini mereka berjalan bersama menuju ke arah fakultas Alister.


“Gak sengaja kenal aja waktu itu Kak, pas aku lagi ngajak Leon main dan malah ilang, untuk ditemukan sama. Itu kejadian udah dulu, cuma tadi kita gak sengaja interaksi dan dia masih inget Aruna. Kita coma ngobrol bentar, ya Kakak tau lah gimana akhirnya bisa ada gosip begitu,” jelas Aruna dengan jujur. Ia jelas tak ingin jika berita tersebut mempengaruhi hubungannya dengan Alister. Alister yang mendengar ucapan Aruna kini menganggukkan kepalanya mengerti. Tak perlu memastikannya lagi karena ia sudah begitu percaya pada gadisnya itu.


“Oh iya, ini kamu gak papa nunggu Kakak bentar? Kakak masih ada rapat bentar, cuma sebentar kok, tiga puluh menit. Tunggu Kakak tiga puluh menit,” ucap Alister sambil melihat ke arah jam tangan yang kini melingkar di tangannya. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.


“Mau nunggu di mobil atau ikut Kakak?” tanya Alister sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan penuh tanya nya.


“Nunggu sama Kakak aja,” ucap Aruna dengan cengirannya yang kini dibalas dengan anggukan oleh Alister. Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang. Hingga tak lama kpini akhirnya mereka sampai di depan ruangan yang tak lain adalah ruangan BEM.


“Tunggu sini ya, nanti Kakak keluar tia puluh menit lagi,” ucap Alister yang kini Aruna balas dengan anggukannya.


Setelah nya kini Alister segera masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Aruna yang kini berada di depan ruangan BEM.


“Woy ada di sini juga lo?” tanya sebuah suara menyapa Aruna saat Aruna tengah fokus memainkan ponsel nya. Aruna segera mendongak hingga ia mendapati sahabat nya yang kini tersenyum ke arah Aruna.


“Ih udah lama kita gak ketemu baby,” ucap Aruna dengan begitu antusias nya dan langsung memeluk sahabat nya yang tak lain adalah Shifa. Shifa yang mendengar nya kini terkekeh lalu membalas pelukan sahabat nya itu.


“Lo nunggu Kak Al?” tanya Shifa yang kini Aruna balas dengan anggukannya.


“Udah di dalem, gue di suruh nyamperin sama dia,” jelas Shifa yang kini dibalas dengan anggukan mengerti oleh Aruna. Setidak nya kini ia merasa senang karena bukan saja bisa bertemu dengan sahabat nya itu namun ia juga memiliki teman menunggu Alister. Meskipun kini di depan sana ramai dengan senior yang merupakan anggota BEM yang tidak mengikuti rapat dan hanya sedang membereskan sisa dari ospek hari ini.


“Btw kucing lo gimana? Kapan mau kita nikahin?” tanya Shifa pada Aruna. Kini setiap mereka bertemu pembicaraan mereka tak akan jauh dari kucing.


“Kucing aku belum siap jadi bapak, kata Kak Al gitu,” ucap Aruna yang kini membuat Shifa terkekeh mendengar nya. Sahabat nya yang satu itu memang begitu penurut pada tunangannya.


“Yang belum siap kayak nya Kak Alister deh,” ucap Aruna dengan tawanya Mengingat memang yang mengurus kucing Aruna adalah Alister.


“Iya kali ya,” ucap Aruna dengan tawa nya. Pembicaraan mereka kini terus berlanjut hingga kini seorang gadis menghampiri mereka dengan wajah sinis nya.


“Kalian gak pulang? Ngapain malah ribut di sini?” tanya gadis tersebut dengan begitu sinis nya dan terlihat tidak menyukai kedua junior nya itu.


“Eh Sorry Kak. Gak bakalan ribut lagi,” ucap Shifa. Mereka memang rada tidak sadar diri sudah begitu ribut padahal di dalam sedang rapat, begitu lah mereka karena sudah lama tidak bertemu, ada saja banyak hal yang mereka perbincangkan dan dijadikan candaan.


“Mending pulang deh lo berdua. Ngapain masih di sini? Maba yang lain udah pulang, mau ngelonte atau cari target lo dini?” tanya Senior nya itu yang kini berhasil membuat Shifa mengana mendengar hinaan tersebut.


“Ngapain mau cari target? Kita udah punya pacar, dia malah udah punya tunangan. Dan kita disini masih nunggu mereka rapat di dalam,” tegas Shifa dengan tidak terima nya. Aruna yang mendengar pertengkaran tersebut kini menahan tangan sahabat nya itu.


“Kakak sorry ya. Kita gak bakalan rame lagi kok,” ucap Aruna masih dengan begitu tenang nya karena tak ingin membuat masalah di lingkungan orang.


“Siapa tunangan dan pacar kalian? Biar gue panggilin, biar bisa cepet bawa kalian pulang. Nyampah aja kalian di sini,” sinisnya yang membuat Shifa kini sudah tak tahan lagi mendengar nya. Namun Aruna kini dengan segera menahannya lalu menggelengkan kepalanya.


“Apa nih rame-rame?” tanya Kai yang kini tiba-tiba muncul dengan tatapan penasarannya melihat kekasih nya kini terlibat pertengkaran. Kai jelas saja tak sendiri melainkan bersama dengan Alister.


“Mereka nih Ndra, rame banget. Kata nya nunggu pacar sama tunangan mereka, mau gue panggilin biar dibawa pulang. Ganggu aja,” ucap senior mereka itu yang kini membuat Kai menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Alister kini segera mengambil barang-barang milik Aruna. Yang membuat gadis yang merupakan senior mereka itu kebingungan.


“Kita udah minta maaf kok Kak,” ucap Aruna mengatakan pada Alister yang kini menganggukkan kepalanya.


“Ayo pulang,” ajak Alister sambil mengulurkan tangannya pada Aruna yang kini dengan segera menggapai tangan tersebut membuat senior nya itu kini membelalakkan matanya melihat hal tersebut.


“Mereka udah tunangan, dan ini pacar gue. Kalau dia udah minta maaf seenggaknya gak perlu lo perpanjang lagi, itu yang malah bikin rame,” peringatan Kai yang kini makin membuat gadis tersebut terkejut. Sedangkan Shifa kini tersenyum kemenangan pada senior nya itu.


“Ayo balik,” ajak Kai pada Shifa yang menganggukkan kepalanya. Shifa dengan sengaja kini mengibaskan rambut nya belakangan. Sama sekali tidak takut pada senior nya yang kini sudah menahan keterkejutan juga kekesalannya.


Mereka yang sedari tadi menjadi pusat perhatian semakin membuat orang yang berada di sana terkejut mendengar nya. Tak menyangka jika kedua laki-laki idaman mereka sudah memiliki pasangan. Jika di akun sosmed milik Alister sudah terlihat jelas namun mereka berusaha untuk tidak mempercayainya namun kini akhirnya mereka melihat sendiri.


Sedangkan di akun sosmed Kai memang tak terlihat dengan jelas tentang Shifa. Jelas saja masih jarang yang mengetahuinya.


***