Aruna Story

Aruna Story
Kedekatan Nevan



“Yakin gak mau ke kantin?” pertanyaan tersebut sudah berulang kali Adina tanyakan pada Aruna namun tetap saja jawaban Aruna sama.


“Gak Adina, udah kamu aja. Aku mau ke perpustakaan dulu. Ada buku yang mau aku cari,” jelas Aruna pada Adina yang entah untuk keberapa kali nya. Karena Adina memang sudah bertanya hal yang sama beberapa kali.


Adina yang mendengar nya kini akhirnya hanya bisa untuk menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Aruna.


“Mau pesen aja gak? Nanti gue bawain ke perpus,” tawar Adina yang kini Aruna jawab dengan gelengannya.


“Aku masih gak laper, udah sana kamu ke kantin aja,” ucap Aruna dengan senyumannya yang kini mengusir Adina. Adina akhirnya menghembuskan nafas nya lalu setelahnya ia segera pergi dari sana menuju ke arah kantin.


Sedangkan Aruna kini berbelok ke arah koridor yang berbeda dengan Adina. Dengan langkah ringannya kini Aruna menuju ke arah perpustakaan. Hingga saat ia berada di perpustakaan, ternyata perpustakaan tak sepi seperti yang ia pikirkan.


Dengan pelan kini Aruna menuju ke arah rak buku dan mencari buku yang ia inginkan. Sebuah buku tentang kesehatan. Setelah selesai ia kini segera menuju ke arah meja yang berada di sana untuk membaca buku tersebut.


Tatapannya kini begitu serius membaca buku di depannya itu. Semua ini bukan lah tanpa sebab, Aruna ingin mencari tahu tentang penyakit yang menurut nya begitu menarik. CIPA, penyakit itu lah yang kini ingin Aruna dalami.


Dan semua ini karena drama yang baru saja di tontonnya. Sebuah drama dari negeri gingseng tentang kedokteran memang patut diacungi jempol karena setiap penjelasan tentang kedokteran yang di sampi kannya begitu detail dan jelas. Oleh kerana itu lah Aruna yang baru masuk jurusan kedokteran selama dua minggu kini malah mengetahui banyak hal tentang kedokteran dari drama Korea.


“CIPA?” tanya sebuah suara di belakang Aruna yang membuat Aruna kini dengan segera menoleh ke arah belakang nya. Hingga kini dapat ia melihat seorang laki-laki yang berdiri di belakang Aruna sambil mencondongkan kepalanya untuk melihat apa yang Aruna lihat.


“Boleh duduk?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Nevan pada Aruna yang kini menjawabnya dengan anggukan.


Nevan kini dengan segera duduk di samping Aruna lalu setelahnya ia ikut membaca apa yang kini Aruna baca.


“Cipa?” tanya Nevan lagi yang kini Aruna balas dengan nggukan.


“Hm aku lagi pengen belajar banyak tentang penyakit ini Kak, langkah kan penyakitnya,” ucap Aruna menjelaskan pada Nevan yang kini menjawab nya dengan anggukan.


“Bener, ini penyakit langkah yang diwarisi dari gen,” jelas Nevan yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Nevan.


“Kamu tau dari mana? Belum ada di pelajaran kamu kan?” tanya Nevan yang membuat senyuman  Aruna kini mengembang dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Nevan.


“Gak sengaja tau pas nonton drakor genre medis,” jelas Aruna dengan cengirannya yang membuat Nevan kini menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Aruna.


“Penyakit CIPA itu seperti bom waktu kata nya ya Kak?” tanya Aruna. Mengikuti ucapan yang pernah ia dengar dari drama korea tersebut.


“Yap benar. CIPA itu kayak bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Karena penderita nya gak bisa merasakan apapun jadi mereka tak tahu kalau ternyata tubuh nya rusak kan? Jangan kan penyakit dalam, bahkan luka kecil aja dia gak bisa merasakan. Kalau penyakit dalam, ya tinggal menunggu waktu saja kapan meledak nya, karena penyakit dalam kan gak kelihatan dari luar,” jelas Nevan yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mengerti mendengar ucapan Nevan.


“Terus pengobatannya gimana Kak?” tanya Aruna dengan tatapan penasaran. Buku yang berada di depannya kini bahkan sudah tertutup karena ia sudah memiliki sumber lain untuk info yang ia inginkan.


Aruna yang mendengar nya pun ikut menghembuskan nafas nya. Merasa kasihan dengan penderita nya.


“Tapi penderita CIPA itu spesial,” ucap Aruna. Nevan yang mendengar nya kini menoleh ke arah Aruna lalu menganggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan Aruna.


“Ya, mereka adalah orang yang spesial.” Nevan kini mengusap rambut Aruna dengan begitu lembut nya. Aruna yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja merasa terkejut.


Dengan gugup kini Aruna melihat ke arah jam yang kini melingkar indah di tangannya hingga kini ia terkejut melihat jam di tangannya.


“Kak maaf kayaknya aku harus balik ke kelas. Bentar lagi kelas aku mulai,” ucap Aruna dengan terburu-buru merapikan peralatan miliknya. Nevan yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.


“It’s ok,” jawab Nevan dengan begitu lembut nya.


“Makasih ya Kak penjelasannya,” ucap Aruna sambil melambaikan tangannya. Setelah nya kini ia segera pergi dari sana. Meninggalkan Nevan yang kini hanya tersenyum mendengar nya.


“Dia gadis nya?” tanya sebuah suara yang sedari tadi hanya bersembunyi sambil melihat kedekatan antara Nevan dengan Aruna. Nevan kini tersenyum ke arah gadis tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


“Sini duduk,” perintah Nevan pada gadis yang tak lain adalah Dinara. Dinara yang mendengar perintah Nevan kini dengan segera duduk di samping Nevan. Melihat wajah cerah dan senyuman indah tersebut kini rasanya Dinara semakin sakit saja melihat nya.


“Kamu gimana bisa ada di sini?” tanya Nevan pada Dinara setelah Dinara kini duduk di samping nya.


“Aku tadi gak sengaja lewat sini,” alibi Dinara. Karena sebenarnya ia datang untuk mengajak Nevan makan bersama di kantin. Namun dengan bodoh nya kini Nevan hanya menganggukkan kepalanya, tanpa banyak bertanya. Tidak seperti Nevan bagi Dinara.


“Apa kamu begitu menyukai dia, sampai gadis itu bisa mengendalikan kamu yang biasanya begitu posesif dan pemarah? Atau malkah gadis tersebut yang berhasil buat kamu akhirnya mau lepasin aku?” batin Dinara yang kini memikirkan banyak hal di kepalanya.


“Tadi gadis yang kamu suka itu?” tanya Dinara lagi mengulang pertanyaannya yang belum dijawab oleh Nevan dengan jelas.


“Hm dia gadis nya, cantik kan?” tanya Nevan. Dinara yang mendengar nya kini sontak tersenyum dengan paksa. Karena perasannya kini jelas begitu terluka.


“Iya, dia gadis yang cantik,” ucap Dinara yang membuat Nevan tersenyum dengan lebar. Tak bisa Dinara tampik karena nyatanya Aruna memang begitu cantik, ia juga merasakan gadis tersebut adalah gadis yang begitu baik dan begitu lembut.


“Aku jadi pengen berjuang buat dapetin dia,” ucap Nevan yang membuat Dinara terkejut mendengar nya. Jika Nevan bersama dengan gadis itu bagaimana dengan nya dan perasaanya?


Dinara tahu ia begitu bodoh masih saja mencintai Nevan setelah tahu bagaimana laki-laki tersebut. Namun Dinara benar-benar mencintai Nevan. Karena terlepas dari bagaimana Nevan. Ada sisi di mana ia begitu baik pada Dinara. Dan keluarga Nevan yang membuat nya merasa jika ia tak akan bisa jika harus kehilangan Nevan.


“Aku akan dukung kamu,” hanya itu yang akhirnya keluar dari mulut nya. Tak ada sebuah kalimat penolakan. Malah kalimat persetujuan yang ia ucapkan. Memang begitu bodoh ia. Atau nyatanya ia hanya lah takut pada Nevan? Dinar benar-benar bingung.


***