Aruna Story

Aruna Story
Keputusan



Kai, benar-benar menepati ucapannya untuk tidak lagi mengganggu Aruna. Ia hanya akan menyapa Aruna jika mereka tak sengaja bertemu. Dan dari yang Aruna lihat kini ia tengah berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Shifa. Ia hanya berharap jika hubungan dan Shifa perlahan  akan membaik. Aruna masih merasa begitu bersalah pada Shifa.


 "Kakak sebenernya males banget buat baikan sama Kai," sungut Alister. Saat kini Aruna dan Alister tengah berada di cafe. Sepulang sekolah Aruna mengajak Alister untuk menemaninya makan es krim.


"Kakak udah janji ya buat baikan dan maafin Kai." Aruna kini memperingati Alister yang membuat laki-laki tersebut kini hanya bisa menghembuskan nafas nya kasar sambil memutar bola matanya malas mendengar ucapan Aruna.


"Fine," ucap Alister yang akhirnya menyetujui. Aruna yang mendengar nya kini hanya tertawa kecil sambil mengelus tangan Alister.


"Bunda pulang hari ini sama Papa. Udah siap," tanya Alister mengingatkan Aruna kembali tentang postingan Aruna saat itu. Aruna yang mendengarnya kini menelan salivanya susah payah saat mengingat kembali hal tersebut.


“Semoga yang di marah cuma Kakak,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini menatap Aruna dengan tatapan datar nya sedangkan Aruna kini hanya tersenyum karena nya.


“Cepet habisin makanannya, kita langsung pulang,” ajak Alister pada Aruna sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan begitu lembut nya. Setelahnya Aruna memilih untuk menghabiskan makanannya.


 Setelah selesai dengan makanannya. Aruna dengan segera mengajak Alister untuk pulang. Karena hari kini sudah semakin sore.


“Udah gak mau kemana-mana lagi kan?” tanya Alister yang Aruna balas dengan gelengan.


Dengan langkah ringannya kini sepasang kekasih tersebut berjalan ke arah mobil mereka. Setelah nya Alister melajukan mobilnya dengan kecepatan ringan. Membelah jalanan di depannya yang kini tampak begitu ramai.


***


Aruna baru saja membersihkan tubuhnya, saat kini ia tengah berada di balkon kamar nya sambil menunggu kedua orang tua Alister yang mengatakan akan kembali hari ini.


“Nunggu Bunda?” tanya Alister yang masuk ke kamar Aruna dan kini berjalan ke arah Aruna yang tengah duduk di sofa yang berada di balkon kamarnya. Aruna yang mendengar pertanyaan Alister kini menganggukkan kepalanya.


“Gapapa, ada Kakak,” ucap Alister yang mengerti kegelisahan dari kekasih nya tersebut.


Alister kini duduk di samping Aruna. Aruna meletakkan kepalanya pada pundak Alister sambil memejamkan matanya. Pikirannya kini terus saja tertuju pada akibat yang akan didapatkannya akibat ulah nya itu. Alister pastilah menjadi yang paling disalahkan membuat Aruna merasa bersalah.


Tak lama suara deru mobil kini memasuki pekarangan rumah nya. Hingga kini terlihat orang tua Aloster yang keluar dari mobil. Namun tak hanya orang tua Alister. Kini bahkan kakek dan nenek Aruna juga datang bersama mereka. Aruna yang melihat hal tersebut membelalakkan matanya lalu ia menatap Alister dengan tatapan bingung nya.


“Gak papa,” ucap Alister berusaha untuk menenangkan Aruna sambil mengelus puncak kepala Aruna.


Setelah nya kini mereka dengan segera keluar dari kamar Aruna yang sengaja tak mereka tutup. Lalu setelah nya kini mereka berjalan bersama menuju ke arah lantai bawah untuk menyambut kedua orang tua Alister juga Kakek dan Nenek Aruna.


“Bunda,” panggil Aruna lalu segera memeluk Ibu Alister yang ki juga membalas pelukannya lalu. Sebenar ya kini ia berharap jika orang tua Alister tai mengetahui atau melupakan masalah nya. Karena semenjak kejadian tersebut tak ada pembahasan apapun tentang masalah tersebut.


“Oma,” ucap Aruna yang kini bergantian memeluk Kakek dan Nenek nya. Alister juga menyalami tangan Kakek dan Nenek Aruna lalu berganti pada kedua orang tuanya. Bagas kini menunjuk Alister sambil menggelengkan kepalanya. Alister sudah mengerti jika hal tersebut adalah peringatan dari Ayah nya hanya diam saja.


“Kita bersih-bersih dulu ya. Nanti kita bicara di ruang keluar,” ucap Bagas yang membuat Aruna ini terdiam sambil menelan saliva nya susah payah mendengar ucapan yang penuh ketegasan tersebut.


Aruna hanya menganggyujkjan kepalanya. Lalu setelah nya mereka menuju ke arah ruangan yang berbeda dan Aruna serta Alister kini menuju ke arah ruang keluarga sesuai dengan perintah bagas.


“Kakak beneran gak papa?” tanya Aruna pada Aliste ryang kini menjawab dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya.


“Kak,” panggil Aruna pada Alister sambil menoleh ke arah Alister dengan tatapan sendu nya. Alister yang melihat nya kini justru tertawa. Terlalu gemas dengan kekasih nya itu.


“Gak papa Aruna. Udah tenang aja,” ucap Alister dengan senyumannya.


“Palingan juga dinikahi,” canda Alister yang membuat Aruna kini mengerucutkan bibirnya lucu karena candaan dari Alister.


“Ih Kakak mah,” kesal Aruna yang berhasil mengundang tawa dari Alister.


“Kamu gak mau nikah sama Kakak?’ tanya Alister dengan raut wajah sedih nya.


“Mau, tapi nanti,” ucap Aruna yang di jawab dengan anggukan oleh Alister.


Hingga tak lama kini akhirnya Kakek dan Nenek Aruna serta kedua orang tua Alister kini sudah berada di sana. Menatap bergantian pada remaja yang kini sudah saling bergandengan tersebut.


“Kalian gak lagi mau nyebrang,” ucap Casia memperingati sepasang kekasih tersebut dengan senyumannya yang kini membuat Alister menyengir sedangkan Aruna kini hanya mengerucutkan bibirnya lucu.


“Kalian mulai kapan pacaran?” tanya Bagas. Karena selama ini ia tak mengetahui tentang hubungan Aruna dan Alister. Terlalu biasa melihat kasih sayang dan sikap posesif Alister pada Aruna hingga membuat mereka tak menyadari hubungan Aruna dan Alister.


“Tujuh bulan,” jawab Alister yang kini berhasil membuat keempat orang tua di depannya menganga karena tak terlalu terkejut.


“Sudah selama itu dan kalian tidak tahu?” tanya Kakek Aruna yang dibalas dengan gelengan oleh Bagas.


“Melihat kemesraan mereka sudah biasa untuk kami. Mangkanya kami gak sadar kalau mereka pacaran,” ucap Casia menjelaskan yang membuat Kakek dan Nenek Aruna kini menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut.


“Kalian mau langsung nikah atau tunangan dulu?” tanya Nenek Aruna yang membuat Aruna kini mengerucut lucu.


“Cuma ciuman aja disuruh nikah,” sungut Aruna yang membuat Neneknya kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Aruna.


“Kalian itu sudah tinggal bersama. Jadi wajah kalau kami lebih memilih kalian agar segera menikah,” ucap Kakek Aruna yang kali ini menimpali ucapan cucu nya itu.


“Tapi kan Aruna di sini di angkat anak. Lagian Aruna juga masih sekolah,” ucap Aruna menjawab Kakek nya.


“Sekarang gak lagi kan? Kamu itu udah jadi calon mantu,” ucap Casia menimpali.


“Masalah sekolah ya kenapa? Lagian sekolah punya kakek kamu,” ucap Nenek Aruna yang kini juga ikut angkat suara.


Aruna baru saja akan menjawab ucapan Nenek nya namun Alister kini menahannya dengan memegang tangannya.


“Kita tunangan dulu aja Kek. Nanti biar Alister di apartemen aja,” ucap Alister yang kini akhirnya membuat keputusan. Aruna yang mendengar nya kini sontak menatap ke arah Alister. Tak suka mendengar Alister akan pindah ke apartemen. Namun peringatan dari Alister yang meminta nya untuk diam akhirnya hanya membuat Aruna diam.


“Baiklah kita putuskan seperti itu dulu. Sekarang sudah malam dan kita juga baru sampai. Jadi sekarang kita istirahat,” perintah Bagas yang membuat Aruna kini mendengar kesal sedangkan lister kini masih berusaha untuk menenangkan Aruna dengan senyumannya.


***