Aruna Story

Aruna Story
Makam



Hari-hari belakangan ini Aruna lalui dengan begitu bahagia, Banyak hal baru yang ia alami selama beberapa hari belakangan ini. Apa lagi dengan Alister yang kini sudah tidak lagi ngurung nya, mengajak Aruna untuk berkumpul dan bermain bersama dengan sahabat laki-laki tersebut membuat Aruna menjadi lebih semangat untuk sembuh agar ia bisa untuk memiliki sahabat sendiri.


Sahabat nya saat SMP sudah lama ia tak pernah menghubungi  nya karena Aruna yang tak memiliki ponsel dan ia juga terlalu sibuk dengan pengobatannya. Kebahagiannya kali ini begitu sederhana. Hanya dengan Alister yang selalu ada untuk nya saja Aruna sudah merasa begitu senang.


Alister juga benar-benar menepati ucapannya dengan sering mengajak Aruna untuk jalan-jalan dan kemanapun laki-laki itu akan pergi. Dan hari ini, Aruna bersama dengan Alister dan juga orang tua Alister akan mengunjungi makam orang tua Aruna.


Sudah lama sekali rasanya ia tak datang ke makam orang tuanya. Alister dan Aruna yang saat itu akan mengunjungi makam orang tua Aruna harus tertunda karena tiba-tiba saja Aruna sakit. Dan kini mereka baru bisa untuk pergi bersama.


“Aruna mau sekalian ke rumah dulu? Siapa tau ada barang yang pengen Aruna ambil,” tawar Casia yang kini berada di bagian depan bersama dengan Bagas yang tengah mengemudikan mobil nya.


“Gak ada b…barang yang mau di ambil Bunda, t…tapi kalau mau mampir gak papa kok,” jawab Aruna. Sebenar nya jika bisa ia tidak ingin untuk datang ke rumah lama nya karena hanya akan membuat nay kembali mengingat tentang kenangannya dulu bersama dengan orang tuanya.


Kepergian orang tuanya memang sudah lama berlalu, namun sampai saat ini Aruna masih belum bisa untuk membiasakan dirinya jika kini ia sudah kehilangan dua orang yang begitu dicintainya itu. Alister yang berada di samping Aruna dapat melihat kegelisahan pada gadis tersebut.


“Langsung balik aja Bun. Besok Alister ada kegiatan OSIS takut telat,” pinta Alister yang mengerti dengan keinginan Aruna. Ia tahu jika Aruna tak enak untuk menolak permintaan Ibu nya itu. Selama Aruna tinggal di rumah nya gadis tersebut memang tak pernah lagi mengunjungi rumah masa kecil nya. Aliste tahu jika sebenarnya Aruna ingin untuk mengunjungi rumah masa kecil nya namun ia masih tak bisa melakukannya.


“Ya udah kalau gitu kita langsung balik, gak papa kan Aruna?” tanya Casia meminta persetujuan dari Aruna. Aruna hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Ibu angkat nya itu.


Alister yang berada di samping Aruna kini menggenggam tangan Aruna membuat Aruna menoleh ke arah nya. Aruna merasa benar-benar bersyukur karena dipertemukan dengan Alister juga kedua orang tua laki-laki tersebut.


“Kalau capek bilang ya,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


“Mau nonton?” tawar Alister sambil memberikan ponsel nya pada Aruna. Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu setelah nya aia dengan segera mengambil ponsel Alister dan memilih untuk menonton drama dengan ponsel laki-laki tersebut.


Saat Aruna tengah fokus dengan tontonannya tiba-tiba saja kini Alister menarik kaki nya membuat Aruna terkejut den melihat ke arah Alister dengan tatapan bingung juga terkejut nya.


“Nyandar di kaca. Kaki kamu jangan terlalu lama ditekuk,” ucap Alister memerintah. Aruna hanya tersenyum sambil menuruti ucapan laki-laki tersebut dan kini ia memilih untuk menyandarkan bahu nya di bagian samping dengan kaki nya yang kini berada di atas paha Alister.


“Sini hp nya,” pintau Alister yang membuat Aruna kini menaikkan sebelah alisnya namun tetap saja akhirnya ia memberikan ponsel nya itu pada Alister.


Kini Alister memegang ponsel nya dan membiarkan Aruna untuk tetap menonton. Senyuman Aruna mengembang dengan begitu indah nya karena apa yang dilakukan oleh Alister. Detak jantung kini bahkan sudah berdetak dengan tidak menentu.


Begitu lama di perjalanan membuat Aruna mereka mengantuk. Hingga kini gadis tersebut sudah tertidur. Melihat hal tersebut Alister mendekatkan dirinya pada Aruna dengan kaki Aruna yang masih berada di atas paha nya.


Setelah begitu lama berada dalam perjalanan kini akhirnya mereka sampai di sebuah komplek pemakaman mewah.


“Aruna bangun, kita udah sampai,” ucap Alister sambil membangunkan Aruna. Aruna mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya ia membuka matanya dan melihat ke sekitar.


Di samping pintu mobilnya kini sudah ada Casia yang menunggu nya sambil membawa kursi roda nya. Alister segera keluar dari mobil untuk membantu Aruna. Namun kali ini ia malah kalah cepat dari Ayah nya yang sudah lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Aruna.


Melihat hal tersebut Alister menatap sinis pada Ayah nya. Dengan kekesalannya kini ia mengambil alih kursi roda Aruna lalu membawa nya lebih dulu menuju ke arah makam kedua orang tua Aruna.


Kedua orang tua Alister yang melihat hal tersebut dibuat kebingungan dengan tingkah anaknya itu.


Sebuah batu nisan dengan nama Klarisa Atmaja dan Gunawan Amartya tercetak jelas dan dua batu nisan yang saling bersisian tersebut.


“Ma, Pa. Aruna dateng, Aruna d…dateng sama dua sahabat Mama dan Papa yang s…sekarang jadi orang tua Aruna. A…aruna juga dateng sama kakak Alister,” sapa Aruna saat ia baru saja sampai. Tatapannya kini tampak begitu sendu menatap makam di depannya.


Air mata sudah siap untuk turun, hingga sebuah genggam di tangannya seolah menguatkannya.


“U…udah lama kan Aruna gak m…main ke sini, Aruna mengalami kecelakaan Ma, Pa. T…tapi Bunda Casia, Papa Bagas, dan Kak Alister menjaga Aruna dengan baik jadi Mama dan Papa gak perlu khawatir,” ucap Aruna dengan senyumannya yang kini berusaha menahan air matanya yang sudah siap untuk turun.


“Klarisa, aku dateng calon besan kamu,” goda Casia yang sebenar nya ingin menggoda sahabat nya itu namun tanpa ia ketahui kini ada dua insan yang menoleh dengan kompak ke arah Casia dengan terkejut.


“Bunda cuma bercanda, tapi kalau beneran ya syukur,” ucap Casia menyadari anaknya yang kini menatap nay dengan tatapan terkejut nya.


Alister yang mendengar nya tersenyum senang dalam hati karena ia seolah mendapatkan lampu hijau dari orang tuanya itu.


“Kalian harus tenang di sana. Percayakan anak kalian pada kami. Kita akan menjaga anak kalian dengan baik dan memperlakukannya seperti anak kami sendiri,” ucap Bagas yang kini ikut menimpali perbincangan tersebut.


Kini Aruna sudah tak lagi dapat menahan air matanya hingga air mata yang sudah ia tahan sedari tadi itu mengalir juga. Alister yang merasakan Aruna yang menangis langsung memeluk nya. Ia mengerti jika gadis tersebut pasti merindukan orang tuanya.


Lama mereka berada disana, berbincang dan berdoa untuk kedua orang tua Aruna sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari yang semakin siang.


***