Aruna Story

Aruna Story
Kai



Tatapan Aruna kini hanya lurus menatap ke arah depan. Di mana kini teman sekelas nya bersama dengan kela XI IPA 2 tengah olah raga. Orang tua Alister sudah mengatakan jika Aruna masih tak bisa untuk mengikuti olahraga pada sekolah nya. Jadilah kini Aruna hanya melihat melihat teman-temannya yang tengah bermain basket.


Hubungannya dengan Shifa kini semakin renggang membuat Aruna hanya sendiri di kelas nya. Tak ada yang berani mendekati Aruna. Karena Aruna yang selalu bersikap sinis saat mereka membicarakan kejelekan Shifa, Kai, atau pun Alister. Tak jarang Aruna akan berkata jika ia tak butuh teman jika hanya untuk membicarakan ketiga orang tersebut. Bukannya sombong namun Aruna juga merasa jika ia hanya dimanfaatkan saja, jika ada yang berteman jika hanya untuk itu.


Tak heran jika Aruna lebih waspada, mengingat selama ini ia memang tak memiliki teman selain Alister.


“Lo gak ikut olah raga?” pertanyaan tersebut membuat Aruna menoleh dan mendapati Mutia yang kini duduk di samping nya. Hanya gadis tersebut lah yang gencar mendekati Aruna. Dan Aruna begitu muak akan hal tersebut.


“Kalau ujung nya kamu cuma mau ngomongin Shifa sama Kai mending pergi deh,” kelas Aruna pada Mutia yang membuat gadis tersebut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Janji kali ini gak bicarain mereka. Tapi lo harus tau Aruna, gue bukan orang sejahat itu. Gue juga ngelakuin itu karena kebodohan gue. Gue yang lebih dulu suka sama Kai, tapi karena gue gak berani ngungkapin itu ke siapapun akhirnya Shifa yang lebih berani yang lebih maju,” ucap Mutia dengan senyuman sendu nya. Aruna yang mendengar nya kini menoleh dan menatap Mutia dengan tatapan serius nya.


“Udah tau salah, harusnya kamu gak perlu untuk mencari masalah lagi yang buat kamu semakin salah,” ketus Aruna memperingati Mutia yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.


“Karena gue terlalu egois dan ingin memiliki. Tapi setelah ketemu lo dan kenal lo beberapa hari ini gue sadar. Gue salah, gue cuma mau enak nya doang. Shifa yang bantu Kai sembuh dari luka terdalam nya, tapi gue dengan seenak nya masuk dan ngerusak semua itu. Karena kesalahan gue, gue kehilangan sahabat baik gue. Gue kangen sama dia,” ucap Mutia sambil menatap lurus ke arah Shifa yang kini tengah bermain basket.


“Ngapain lo di sini? Mau ngeracunin pikirin Aruna? Pergi lo sana,” usir suara yang tiba-tiba saja muncul.


Mendengar ucapan tersebut kini membuat Aruna dan Mutia serta orang yang berada di lapangan pun menoleh karena suara nya yang cukup keras.


“Kai, apaan sih?” tegur Aruna dengan tatapan sinisnya pada Kai yang kini mendekat ke arah nya lalu duduk di tengah-tengah antara Aruna dan Mutia.


“Dia bukan orang yang baik, udah percaya sama aku,” ucap Kai sambil menatap Aruna yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar nya.


Mutia yang merasa tak nyaman berada di sana di tambah dengan keberadaan Kaivandra dengan segera pergi dari sana. Aruna menghembuskan nafasnya kasar hingga tatapannya kini tertuju pada Shifa yang terus memperhatikan mereka dengan tatapan tajam nya.


Bahkan kini sudah banyak yang membicarakan mereka. Terutama membicarakan Kai. Namun yang dibicarakan sama sekali tidak peduli dengan semua itu.


“Kamu ngapain di sini? Gak enak dilihat Shifa, gak enak juga telinga aku dengar ocehan orang,” kesal Aruna pada Kai yang kini justru hanya tertawa kecil mendengar ucapan Aruna.


“Biarin aja sih, suka-suka mereka aja mau bicara apa.” Kai sama sekali tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang di sekitarnya saat ini. Fokus nya hanya lah Aruna.


“Kita bicara bentar buat selesaikan ini?” tanya Aruna dengan tatapan serius nya namun Kai malah menggelengkan kepalanya.


“Aku lebih milih buat gak bicara berdua sama kamu, daripada harus menyelesaikan semua ini,” ucap Kai dengan senyuman nya. Aruna yang mendengar hal tersebut kini memejamkan matanya menahan kekesalannya pada laki-laki di depannya itu.


“Apa aku egois jika aku bilang ingin memiliki kalian berdua?” tanya Kai pada Aruna dengan tatapan lurus nya menatap Shifa. Aruna yang mendengar ucapan Kai kini justru tertawa.


“Bukan egois, tapi gila,” ketus Aruna. Aruna kini membenar kan posisi duduk nya lalu menatap Kai dengan serius.


“Kai, kita udah selesai se….” belum selesai Aruna mengatakan kalimat nya kini Kai justru sudah berdiri sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan sayang.


“Kini bicara lagi nanti ya. Maaf, cuma itu yang bisa aku ucapin ke kamu,” ucap Kai lalu segera pergi dari sana. Namun belum terlalu jauh ia pergi kini Kai membalikkan tubuh nya.


“Aruna, satu lagi yang bisa aku ucapin ke kamu. I love you,” teriak Kai dengan senyumannya lalu segera pergi dari sana. Aruna yang mendengar nya kini memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


Lalu ia menatap ke arah Shifa yang kini melemparkan bola yang di pegang nya kini ke arah lain lalu segera pergi dari sana. Aruna yang mendengarnya kini hanya memejamkan matanya, ia merasa bersalah pada Shifa, namun ia pun tak bisa melakukan apapun, ia sudah berusaha, namun Kiv justru tak mendengarkannya.


“Gue kira Kai benar-benar anti cewek, ternyata dia cuma belum bisa lepas dari masa lalu nya aja.”


“Gue jadi kasian sama Shifa, tapi kayaknya emang itu resiko mencintai orang yang belum selesai sama masa lalu nya.”


Banyak ucapan yang kini terus di tujukan pada Kai.


“Gak salah sih kalau Kai masih gamon, Aruna nya juga cantik gitu.”


“Tapi Aruna nya juga udah milih Kak Alister.”


“Aruna tuh ada di posisi pilih yang mana aja untung. Sama-sama cinta bangt sama dia, sama-sama ganteng juga.”


Banyak lagi ucapan lainnya yang dapat Aruna dengar. Hingga ia merasa jengah sendiri dengan semua perbincangan tersebut. Terlalu malas berada di sana akhirnya Aruna dengan segera pergi dari sana.


Tanpa ia sadari sedari tadi Alister terus memperhatikannya dari lantai atas kelas nya bersama dengan sahabat nya yang lain.


“Mau lo samperin?” tanya Irgi pada Alister yang kini menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia segera pergi dari sana, Alister tahu di saat seperti ini, Aruna membutuhkannya. Karena kini hanya Alister lah rumahnya dan menjadi tempat nya untuk memberikan keluh kesah nya.


***