Aruna Story

Aruna Story
Aruna Hilang



Alister baru saja selesai membeli minumannya saat ia kembali dan sudah mendapati Aruna yang sudah tak berada di mobilnya. Hal tersebut tentu saja membuat Alister panik. Dengan terburu-buru ia mencari Aruna di sekitar minimarket tersebut. Takut jika Aruna sedang berada di sekitar saat ia tengah melihat pedagang yang lewat. Namun nihil, ia malah tak mendapatkan apapun.


“Kamu kemana?” tanya Aliter dengan begitu gusar nya. Dengan langkah cepat nya kini Alister menuju ke arah minimarket tersebut untuk menanyakan perihal CCTV berharap jika CCTV menangkap apa yang terjadi dengan begitu jelas.


“Mas, saya boleh lihat rekaman CCTV?” tanya Alister pada kasir di minimarket tersebut.


“Maaf mas, ada keperluan apa ya?” tanya kasir tersebut dengan tatapan penuh tanya nya. Ia hanya lah seorang kasir, tentu ia harus waspada karena takut disalahkan jika asal memberikan rekaman CCTV.


“Tunangan saja hilang Mas. Tadi ada di dalam mobil, tapi sekarang gak ada,” ucap Alister dengan begitu panik nya. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Aruna.


“Waduh maaf Mas. Tunangan Mas nya kan udah besar mungkin lagi keliling Mas. Lebih baik di cari dulu ya. Nanti saja bantu untuk laporan Mas nya agar bisa untuk melihat CCTV,” ucap kasir tersebut yang membuat Alister kini mengusap wajah nya gusar.


“Lihat CCTV aja ribet,” maki Alister dengan amarah nya. Dengan terburu-buru kini ia segera menghubungi orang tuanya. Karena Alister yakin orang tuanya akan bisa untuk membantu nya dan melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Meskipun belum dua puluh empat jam, namun apa yang tak bisa diselesaikan dengan uang?


Alister mengeluarkan ponselnya lalu segera menghubungi Ibu nya, tak membutuhkan waktu lama bagi Alister untuk menunggu panggilannya di jawab. Bahkan di dering kedua panggilannya kini sudah dijawab oleh Ibu nya itu.


“Halo kenapa Al?” tanya Casia di seberang sana dengan begitu lembut nya.


“Bunda, Aruna hilang,” ucap Alister yang membuat Ibu nya kini terdiam mendengar ucapan tersebut. Namun tak lama terdengar suara teriakan dari Ibu nya itu.


“Kamu bercanda? Gimana Aruna bisa hilang? Di mana kamu sekarang?” marah Casia yang terdengar begitu jelas. Alister kini bahkan menjauhkan telepon tersebut dari telinga nya sambil meringis karena terlalu sakit telinga nya mendengar teriakan Ibu nya.


“Alister sekarang lagi di minimarket deket lampu merah mau ke kampus. Tolong bantu Alister lapor polisi ya Bun, biar bisa liat rekaman CCTV nya,” ucap Alister meminta pada Ibu nya itu yang kini terdiam di seberang sana sebelum akhirnya menjawab nya.


“Ok. Bunda kasih tau Papa dulu. Kamu cari di sekitar minimarket,” perintah sang Ibu pada Alister yang Alister balas dengan anggukan. Walaupun ia tahu jika Ibu nya itu tak akan mengetahuinya.


Tak lama Alister segera mematikan sambungan teleponnya. Dan keluar dari minimarket. Menuju ke arah mobilnya untuk mencari Aruna di sekitar minimarket tersebut. Saat berada di dalam mobil, Alister tak sengaja melihat ponsel Aruna yang terjatuh di bawah kursi.


“Ini penculikan,” tegas Alister saat melihat jika ponsel Aruna kini berada di bawah dan masih dalam keadaan hidup.


Alister kini memilih untuk menghubungi temannya yang lain untuk membantunya mencari Aruna. Ia bahkan juga menghubungi Kai untuk membantu nya. Awalnya Kai begitu marah mengetahui jika Aruna hilang namun laki-laki tersebut tetap saja mau untuk membantu nya.


Hingga kini mereka bersama-sama mencari Aruna. Namun Casia meminta mereka untuk bertemu di rumah Alister. Pasalnya polisis sudah mendapatkan rekaman CCTV dan memang benar ada yang menculik Aruna dan Alister juga Kai mengenali laki-laki sebagai Jacob.


“Jacob?” tanya Kai dengan begitu terkejut nya saat melihat jika laki-laki tersebut adalah teman satu kelas mereka.


“Dia suka sama Aruna?” tanya Dery kini dengan tatapan terkejut nya namun Alister yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya.


“Dia suka sama gue,” ucap Alister yang kini berhasil menciptakan keheningan di sana. Tak ada yang membuka suara nya. Bahkan jangkrik pun rasanya begitu takut untuk membuka suara nya.


“Ini candaan?” tanya Irgi yang akhirnya membuka suara nya berusaha untuk mencairkan suasana yang kini terasa hening.


“Lo pikir gue lagi bercanda?” tanya Alister balik pada Kai yang kini membuat Kai mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Gila, temen kalian ada yang belok.” Irgi kini bergidik dengan ngeri mengetahui semua itu.


“Lo tau dari mana?” tanya Kai pada Alister masih tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Alister.


“Dari Aruna, dia yang bilang ke gue. Dia sebelumnya di ancam sama Jacob, tapi gue gak nyangka kalau Jacob bakalan sampai sejauh ini,” ucap Alister sambil mengusap wajah nya dengan gusar. Casia kini sudah menangis di dalam pelukan Bagas, ia begitu takut terjadi sesuatu pada Aruna.


Polisi juga detektif yang sudah disewa oleh keluarga Aruna kini berusaha melacak keberadaan Aruna melalui plat nomor pelaku.


“Sepertinya plat nomor pelaku ini bodong,” ucap salah satu detektif wanita yang membuat mereka semua kini menghela nafas nya kasar mendengar semua itu.


“Gimana saa CCTV di jalanan?” tanya Alister sambil menunjuk CCTV jalanan yang berada di dalam rekaman CCTV minimarket.


“Al, jam tangan lo,” ucap Kai pada Alister yang membuat Alister kini membelalakkan matanya. Bagaimana sedari tadi mereka begitu bodoh dengan hanya diam saja dan melupakan jam tangan yang Alister gunakan?


“Lo kenapa baru bilang,” marah Alister pada Kai yang kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Alister yang malah menyalahkannya.


“Lo yang dari tadi make kenapa gak ngerasa?” balas Kai dengan begitu tajam nya.


“Berhenti. Apa kalian cuma mau bertengkar?” marah Casia yang kali ini rasanya sudah begitu pening melihat perdebatan antara tunangan dan mantan kekasih Aruna.


“Pusing gue liat dua orang nih,” ucap Dery sambil menggelengkan kepala nya.


“Ada yang bisa jelaskan?” tanya salah satu detektif yang berada di sana pada kedua laki-laki yang kini masih saling menatap dengan tatapan tajam nya itu.


“Lepasin,” perintah Kai pada Alister yang dengan segera melepaskannya dan meletakkannya di meja yang kini mereka lingkari.


“Jam tangan ini gue kasih ke Aruna sesuai de….” belum selesai Kai dengan ucapannya kini Alister sudah lebih dulu menyela ucapan Kai.


“Di jam tangan ini ada GPS yang menyatu dengan milik Aruna,” jelas Alister secara singkat. Kai yang mendengar nya kini hanya berdecak.


“Emang beda ya yang beneran dingin dan gak banyak omong. Sama yang berubah sikap karena keadaan,” ucap Irgi berbisik pada Dery yang kini menjawab nya dengan anggukan.


Para detektif itu kini segera melacak keberadaan Aruna. Hingga mereka menghembuskan nafas lega saat mengetahui keberadaan Aruna. Entah harus lega atau khawatir dengan posisi Aruna saat ini yang berada di tempat yang kurang bagus.


***