
“Alister coba cek ini deh. Masih ada yang kurang gak sih?” tanya Hana sambil memperlihatkan data yang ia buat. Dengan sengaja gadis tersebut jini bahkan mendekatkan tubuh nya pada Alister.
Alister dengan segera melihat nya dan memeriksa data yang diberikan oleh Hana.
“Al, cewek tadi itu yang dibilang anak sekolah. Pacar lo itu ya?” tanya Kirana untuk menjawab rasa penasarannya. Alister yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat data yang kini tengah ia periksa.
“Kalian tinggal serumah?” tanya Maura dengan tatapan terkejut nya dan kali ini di jawab dengan anggukan oleh Alister. Jawaban dari Alister yang hanya menyetujui tanpa memberikan alasan yang jelas kini membuat mereka semakin terkejut hingga banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.
“Kalian mau nikah? Atau udah nikah?” tanya Tio yang kali ini ikut menimpali dengan pertanyaannya.
“Kita mau bahas kegiatan buat bulan bahasa atau kalian dateng buat interview sama gue?” tanya Alister dengan tatapan datar nya menatap satu persatu temannya itu yang kini sontak menutup mulut nya.
“Tau lo pada. Kepo banget,” sungut Hana yang membuat Kirana dan Maura kini hanya berdecih mendengarnya.
“Cemburu bilang, iri gak perlu soalnya dia kayaknya lebih cantik dan baik dari lo,” ucap Kirana dengan sinisnya yang membuat Hana kini membelalakkan matanya mendengar ucapan salah satu rekan OSIS nya itu.
“Kalau kalian masih mau tengkar mending kalian pulang,” tegas Seno. Seno adalah ketua koordinis semua bidang. Sikapnya yang tegas dan tergolong serius membuat nya akhirnya mendapatkan jabatan tersebut.
Kirana dan Hana akhirnya hanya bisa memilih untuk diam karena tak ingin lagi mencari masalah dan berujung mereka di usir.
“Al Bunda mau ke rumah sebelah lagi ada hajatan. Aruna belum makan nanti di lihat ya udah makan apa belum. Dia lagi di ruang atas katanya, makannya Bunda taruh di kamar,” ucap Casia yang kini tiba-tiba datang dan sudah menggunakan pakaian panjang lengkap dengan hijab nya.
“Iya Bun, nanti biar Alister yang cek lagi,” ucap Alister yang membuat Casia menganggukkan kepalanya.
“Tante pergi dulu ya, kalian yang santai aja disini anggep rumah sendiri,” ucap Casia dengan senyuman pada teman-teman Alister yang kini ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Casia.
“Udah ini udah pas. Kirana gimana sama uang iuran wajib?” tanya Alister pada bendahara yang mengurus iuran wajib di sekolah nya. Setiap minggu nya memang ada iuran wajib yang biasanya digunakan untuk kepentingan di saat ada kegiatan sekolah.
“Nih Al,” ucap Kira sambil menyerahkan laptop nya pada Alister.
Baru saja Alister mengambil laptop tersebut. Kini suara ponselnya yang berdering membuat Alister segera meli9hat ponsel nya. Hingga terlihat nama salah satu penjaga yang kini berjaga di rumah nya tertera di sana. Kening Alister mengerut namun akhirnya ia tetap menjawab panggilkan tersebut.
Baru saja Alister akan membuka suara nya, namun kini suara di seberang sana sudah lebih dulu menyapanya membuat senyuman Alister mengembang mengetahui suara milik Aruna yang kini menyapa nya.
“Iya cantik kenapa?” tanya Alister dengan begitu lembut nya yang membuat teman-temannya kini mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap Alister dengan tatapan tak percaya nya.
Alister yang mereka tahu kini menjadi Alister yang begitu berbeda saat bersama dengan gadis tersebut.
“Aruna gak bisa jalan balik ke kamar. Capek mau jalan,” ucap nya di seberang sana dengan suaranya yang terdengar jelas jika Aruna sedang merasa kesal.
“Kakak kesana sekarang. Kamu juga belum makan,” ucap Alister. Tanpa mengatakan apapun lagi Aruna segera menutup panggilan tersebut membuat Alister hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Saat sampai di ruang pengawas, Alister segera masuk ke ruangan tersebut dan kini terlihat Aruna yang tampak sedang kesal.
“Kayaknya cemburu sama Aden. Dari tadi ngeliatin CCTV sambil ngedumel,” ucap penjaga yang berada di sana sambil berbisik pada Alister yang membuat Alister tampak terkejut mendengar nya lalu menoleh ke arah penjaga tersebut dengan menaikkan sebelah alisnya yang kini dijawab dengan anggukan oleh penjaga tersebut.
“Ayo balik ke kamar,” ajak Alister yang membuat Aruna kini merentangkan tangannya dan meminta agar Alister menggendong nya. Alister hanya tersenyum lalu segera menggendong Aruna untuk ia bawa menuju kamar nya.
Saat berada di kamar nya kini Alister meletakkan Aruna di sofa ruangannya.
“Kamu makan dulu ya. Kakak ke bawah dulu,” ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna sedangkan Aruna kini hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar nya.
Alister pun akhirnya melanjutkan kegiatannya dan Aruna makan dengan kekesalannya.
***
Seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. malam minggu kali ini Alister juga mengajak Aruna untuk menikmati malam minggu mereka di luar rumah. Menikmati malam yang begitu ramai.
Kini mereka tengah berada alun-alun kota sambil menikmati keramaian di tempat tersebut. Aruna dan Alister kini tengah duduk di kursi yang berada di sana sambil memakan es krim nya.
“Cobain deh kak, ini enak loh.” Aruna kini menyuapi Alister. Alister menganggukkan kepalanya setelah mencoba es krim milik gadis tersebut.
Hingga tak lama kini tatapan Aruna tertuju pada orang yang tengah bermain skateboard. Alister yang melihat tatapan Aruna yang kini tampak begitu sendu mengikuti pandangan Aruna hingga tatapannya kini juga tertuju pada seorang laki-laki yang tengah memainkan skateboard tersebut.
“Aruna pengen deh main skateboard lagi,” ucap Aruna dengan tatapan sendu nya yang membuat Alister kini menghembuskan nafas nya mendengar ucapan Aruna.
Aruna memang begitu suka bermain skateboard sedari kecil. Ayah nya begitu suka bermain skateboard hingga membuat Aruna akhirnya juga ikut belajar dan bisa memainkannya dengan begitu jago.
“Nanti kalau udah sembuh pasti bisa lagi, cuma tunggu sebentar lagi kan? Lihat kamu udah melalui sejauh ini. Sebentar lagi kamu pasti bisa berjalan dan bisa melakukan apa yang kamu suka lagi.” Alister menyemangati Aruna. Aruna menghembuskan nafasnya. Sebenarnya ia begitu lelah dengan keadaannya saat ini. Lelah dengan semua terapi dan pengobatan yang dijalaninya. Namun sekali lagi Alister dan keluarga nya selalu mendukung nya dan memberikan semangat agar tidak menyerah.
“Aruna harus lebih semangat lagi nih,” ucap Aruna sambil melihat ke arah Alister yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.
“Udah malem, kita pulang ya,” ucap Alister sambil mengeratkan jaketnya yang kini ia pakaikan di tubuh Aruna. Aruna hanya menganggukkan kepalanya setuju.
Alister segera berjongkok di depan Aruna dengan membelakanginya. Baru setelah nya Aruna naik ke gendongan Alister. Karena mereka memang tidak membawa tongkat Aruna.
Mungkin selama dua tahun belakangan ini Aruna menumpang hidup di punggung Alister. Alister tentu saja tak masalah ia justru merasa senang dan bahagia karena bisa direpotkan dan selalu berada di sisi Aruna.
***