
Alister dan Aruna kini tengah berada di ruang keluarga menikmati malam mereka dengan menonton televisi. Hari ini mereka bisa lolos dari orang tua Alister karena kedua orang tua Alister kini harus keluar negeri selama tiga hari. Meskipun tahu jika mereka tak akan terus bisa lolos dari orang tua Alister. Namun setidaknya untuk saat ini mereka bisa sedikit bernafas.
“Tunggu disini dulu. Biar kakak buatin coklat hangat sekalian ambilin makanan ringan,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Alister meletakkan kepala Aruna yang semula berada di pahanya kini Alister pindahkan ke atas sofa yang sudah ia berikan bantal.
Setelah nya Alister memilih untuk segera menuju ke arah dapur dan membuatkan Aruna coklat hangat, juga makanan ringan.
Aruna yang bosan kini hanya sendirian di ruang tamu, dengan segera berjalan ke arah dapur dan menghampiri Alister. Senyumnya kini mengembang dengan begitu sempurna nya, saat melihat Alister yang kini tengah membuatkan coklat hangat untuknya.
Aruna yang melihat hal tersebut dengan segera berjalan ke arah Alister lalu memeluknya dari belakang. Alister yang merasakan pelukan Aruna kini hanya tersenyum sambil mengelus tangan Aruna yang membelit pinggangnya.
"Kenapa hm?" Tanya Alister dengan begitu lembutnya pada Aruna yang kini sudah memejamkan matanya.
"Gapapa sih, cuma kangen aja sama kakak," ucap Aruna yang kini sontak membuat Alister tertawa mendengarnya lalu ia segera membalikkan tubuhnya hingga mereka kini saling menatap.
"Kangen? Kakak baru pergi beberapa menit lalu," ucap Alister dengan tawanya yang kini malah membuat Aruna mengerucutkan bibirnya lucu mendengar nya.
"Emang gak boleh Aruna kangen?" Tanya Aruna dengan wajah cemberutnya. Alister yang mendengar nya kini memindahkan rambut Aruna yang di gerai ke belakangan telinga gadis tersebut.
"Emang gak berat? Kata Dilan rindu itu berat loh," ucap Alister yang membuat Aruna berdecak mendengar nya, sedangkan Alister kini hanya tertawa kecil.
"Udah, ayo balik lagi di dalem. Kakak udah selesai," ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan.
Lalu setelah nya kini mereka dengan segera menuju ke arah ruang keluarga kembali. Alister meletakkan coklat hangat yang ia buat di meja.
"Aruna jadi kepikiran ucapan Shifa deh Kak. Apa baiknya Aruna pindah aja?" Tanya Aruna pada Alister, sambil menatap Alister dengan tatapan penuh tanya nya. Alister yang mendengar ucapan Aruna kini menatap Aruna dengan tatapan datar nya.
"Jangan punya pikiran kayak gitu, kamu mau pindah kemana? Apa kata Opa nantinya? Lagian bentar lagi Kai juga bakalan lulus. Udah jangan dipikirin," ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang. Aruna yang mendengarnya kini hanya menghembuskan nafasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Besok Aruna sudah harus bicara sama Alister dan nyelesain semua ini. Aruna juga capek kalau kayak gini mulu," ucap Aruna. Alister mengelus puncak kepala Aruna. Ia akan mendukung apapun yang akan dilakukan oleh kekasih nya itu.
***
Keadaan kantin kini begitu ramai. Apa lagi dengan keberadaan Alister dan sahabatnya yang kini berada di kantin kelas XI yang semakin membuat keadaan kantin kelas XI semakin ramai.
"Pemilihan OSIS kapan sih?” tanya Dery sambil menikmati makanan nya saat kini mereka tengah berada di kantin. Berkumpul bersama sambil membicarakan hal random.
“Satu minggu lagi,” jawab Alister yang membuat sahabat nya dan juga Aruna kini menatap Alister dengan tatapan sendu nya. Sedangkan ALister yan kni ditatap seperti itu mengerutkan kening nya bingung.
“Kenapa?” tanya Alister sambil menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingung nya.
“Setahun tuh cepet banget ya,” ucap Irgi saat mengingat rasanya baru kemarin ia melihat Alister dilantik sebagai ketua OSIS.
“Jangankan satu tahun. Tiga tahun aja rasanya tu bentar. Liat aja kita yang masih ngangong nganggong ini bentar lagi udah bakalan lulus,” uca[p Dery menimpali ucapan sahabat nya itu.
“Lama,” sungut Aruna yang kali ini menyanggah ucapan sahabat dari kekasih nya tersebut sambil mengerucutkan bibirnya.
“Dua tahun aja bagi Aruna udah lama banget,” sunguit Aruna. Mengingat bagaimana ia melewati harinya dua tahun belakangan ini dengan banyak harapan dan keinginan mereka, hari bergulir dengan cepat dan berharap jika hari esok ia sudah bisa sembuh.
Sahabat Alister yang mendengar nya kini hanya terdiam. Karena mereka tak mengetahui bagaimana hari yang dilalui oleh Aruna. Bahkan mereka yang hanya melihat sedikit perjalanan Aruna untuk sembuh saja sebenar nya merasa kasihan dan selalu berpikir bagaimana Aruna melalui harinya sebelum nya.
“Tapi kamu berhasil melalui semua itu,” ucap Alister yang kali ini menjawab ucapan Aruna sambil tersenyum dengan begitu lembut pada Aruna yang kini menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Ya, ia berhasil melalui waktu sulit nya.
“Gue masih gak ngerti gimana Kaivandra bisa ngelakuin itu,” ucap Dery sambil menggelengkan kepalanya. Ia masih tak menyangka jika laki-laki yang selama ini terlihat badboy ternyata memiliki jiwa pengecut juga.
“Lebih gak masuk akal dia sekarang malah ngejar-ngejar Aruna lagi. Padahal udah punya pacar, kasian gue ama pacar nya itu,” ucap Irgi sambil menggelengkan kepalanya.
“Dia mah keliatannya aja badboy aslinya letoy.” Ivan yang sedari tadi hanya diam pun kali ini juga ikut menimpali. Aruna yang mendengar nya menggelengkan kepalanya.
“Kai tuh dulu gak Badboy. Dia tuh siswa berprestasi, orang nya lemah lembut, ramah juga. Gak tau kenapa sekarang bisa berubah gitu. Aruna aja kaget ngeliat perubahan Kai,” jelas Aruna yang kini tampak menarik perhatian ketiga sahabat Alister tentang pembicaraan mereka.
“Serius? Wah gak nyangka ya dia dulu begitu,” ucap Irgi yang Aruna balas dengan anggukan. Alister kini lebih memilih untuk diam dan mendengarkan saja perbincangan tentang Kai. Karena ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan tersebut.
“Patah hati kali,” ucap Dery yang dijawab dengan anggukan setuju oleh sahabat nya yang lainnya.
“Itu mah salah nya sendiri jadi pengecut,” ucap Alister yang kini akhirnya membuka suaranya. Rasanya ia begitu tak tahan untuk tidak menghina Kai.
“Terus, masalah kalian gimana?” tanya Ivan yang membuat Aruna kini menghembuskan nafas nya.
“Pengen cepet diselesaikan Kak. Niat nya hari ini, tapi Kai nya gak ada muncul,” ucap Aruna sambil menipiskan bibirnya.
“Semoga cepet selesai deh ya. Biar gak berlarut terus, kasian di elo nya gue mah,” ucap Ivan. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Semoga,” ucap Aruna dengan penuh harap nya.
Mereka berada di kantin sampai waktu masuk kelas tersisa lima menit. Setelahnya barulah mereka kembali ke kelas masing-masing. Namun lebih dulu mereka mengantar Aruna menuju kelas gadis tersebut.
***