
Aruna kini rasanya begitu bosan berada di kamar nya. Ia baru saja menyelesaikan drama China yang di tontonnya dan kini ia merasa begitu bosan. Dengan langkah malas nya kini gadis tersebut turun dari ranjang nya dan keluar kamar nya.
Mengetuk pelan kamar di samping nya yang tak lain adalah kamar Alister. Memang sejak kejadian Aruna diculik, Alister belum lagi kembali tinggal di apartemennya. Menemani Aruna di rumah nya dan menjaga gadis tersebut kini menjadi prioritas nya.
“Masuk,” ucap Alister di dalam sana pada Aruna yang dengan segera membuka pintu kamar tersebut.
Dengan senyumannya kini Aruna memasuki kamar Alister hingga terlihatlah kini laki-laki tersebut yang terlihat Tengah memainkan ponselnya di sofa yang berada di kamar laki-laki tersebut. Aruna yang melihat hal tersebut segera menuju ke arah Alister.
“Ngapain Kak?” Tanya Aruna dengan tatapan penasarannya pada Alister yang kini hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh kekasihnya itu.
“Sini temenin Kakak main game,” Panggil Alister yang segera membuat Aruna mengulurkan tangannya untuk membalas genggaman tangan tersebut. Aruna kini duduk di depan Alister sedangkan Alister kini memeluknya dari belakang.
“Mau coba main?” tanya Alister pada Aruna sambil menelepon sebelah alisnya menatap Aruna yang kini berada tepat di sampingnya.
Aruna mengerjakan matanya beberapa kali dengan detak jantung yang kini sudah berdetak dengan tidak karuan. Namun akhirnya gadis tersebut menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan hal Alester.
“ Gimana cara mainnya?” tanya Aruna dengan tatapan dinginnya. Kini ia sudah memegang ponsel milik Alister.
“Yang ini buat jalan, yang ini buat nyerang,” jelas Alister yang Aruna balas dengan anggukan oleh Aruna.
“Udah ngerti?” tanya Alister yang kini kembali dijawab dengan anggukan oleh Aruna.
Dengan percaya dirinya kini Aruna mulai menjalankan game nya. Awas ya, kalau gak ada yang kecil ini jangan maju deketin yang merah itu, nanti kamu kalah,” jelas Alister. Laki-laki tersebut terus saja memberikan pengarahan untuk Aruna yang kini tengah bermain dengan begitu serius nya.
“Mundur, jangan maksa maju. Nyawa kamu udah kritis itu,” ucap Alister dan membantu Aruna untuk memundurkan hiro nya. Aruna hanya menurut dan terlihat begitu fokus dengan game yang kini dimainkannya.
Lama mereka bermain hingga akhirnya Aruna menang. Gadis tersebut menghembuskan nafasnya lega lalu setelahnya ia segera memberikan ponselnya pada Alister.
“Gak mau main lagi,” ucap Aruna dan kini sudah bangun dari duduk nya.
“Mau balik bertapa di kamar lagi?” tanya Alister dengan senyumannya sambil menaikkan sebelah alis nya menatap Aruna dengan tatapan tanya nya. Namun Aruna kini menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah ranjang Alister dan merebahkan tubuh nya di sana.
“Akh drama nya udah abis, tapi Aruna masih baper jadi gamon deh. Males mau nonton yang lain akhirnya,” jelas Aruna yang kali ini malah menelungkupkan wajah nya di bantal. Alister yang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
“Acara nobar nya, lusa kan?” tanya Alister mengingatkan Aruna tentang nobar yang akan gadis itu lakukan.
“Hm lusa,” ucap Aruna yang tak berminat menjawab pertanyaan Alister. Alister yang melihat nya kini hanya menggelengkan kepalanya.
“Mau jalan?” tawar Alister yang melihat Aruna yang tampak lesu. Namun kini gadis tersebut malah menggelengkan kepalanya. Ia rasanya kini begitu malas pergi kemanapun.
“Kakak buatin coklat hangat dulu,” ucap Alister yang setelah nya segera pergi dari sana. Meninggalkan Aruna yang kini masih saja menelungkupkan dirinya.
“Tujuannya buat sosmed apaan coba,” ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya melihat ponsel Alister.
Tak lama ponsel tersebut berdering dan menampilkan nama Kai di sana. Aruna memilih untuk menjawab panggilan tersebut.
“Kenapa Kai?” tanya Aruna saat kini ia sudah menjawab panggilan tersebut. Malah dengan iseng nya kini Aruna menggantinya menjadi panggilan video. Hingga menampilkan wajah Kai yang kini menaikkan sebelah alisnya.
“Alister mana? Aku ada yang mau dibahas sama Alister, tentang BEM,” ucap Kai dengan begitu lembut nya pada Aruna.
“Alister lagi bikinin aku coklat hangat, tunggu bentar juga udah,” ucap Aruna yang Kai balas dengan anggukan.
Lama mereka saling diam. Aruna hanya tersenyum ke arah Kai yang membuat Kai kini menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingung nya.
“Kenapa senyum-senyum hm?” tanya Kai melihat Aruna yang sedari tadi hanya tersenyum ke arah nya.
Aruna yang mendengar nya hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku lagi bangga aja sama kamu. Karena kamu udah bisa bangkit lagi dan sekarang kamu bisa mewujudkan keinginan kamu walau dengan tempat yang berbeda,” jelas Aruna dengan senyumannya yang membuat Kai kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna. Ia tahu yang Aruna maksud adalah keinginannya untuk menjadi anggota OSIS yang belum sempat ia realisasi kan namun kini ia berhasil menjadi wakil BEM menggantikan posisi OSIS yang pernah ia lepaskan begitu saja karena keadan.
“Dan semua berkat kamu yang sudah datang kembali dan mau maafin aku. Kamu mau untuk menasehati aku,” ucap Kai.
“Kedepannya jangan kayak gitu lagi ya. Kamu harus bisa lebih bahagia dan menghadapi masalah yang terjadi bukannya lari,” peringat Aruna yang Kai balas dengan senyuman dan anggukannya.
“Sayang coklat hangat nya,” ucap Alister yang kini masuk ke kamar nya sambil membawa dua coklat hangat untuk nya dan untuk Aruna.
“Siapa yang nelpon?” tanya Alister melihat Aruna yang kini tengah berbincang dengan orang di ponselnya.
“Kai, katanya mau bahas soal BEM,” jelas Aruna sambil memberikan ponselnya pada Alister. Alister dengan segera menerimanya dan menampilkan wajah datang nya pada Kai.
“Gak bisa nelpon aja? Gue enek liat muka lo,” ucap Alister. Aruna yang mendengar nya kini hanya memutar bola matanya malas sedangkan Kai kini berdecak dengan kesal.
“Lo kira gue mau liat muka lo?” tanya Kai dengan sinisnya.
“Itu tadi aku yang ngubah jadi panggilan video,” jelas Aruna pada Alister yang kini hanya menghembuskan nafasnya datar.
“Kalian tuh berantem mulu. Tapi kok bisa bertahan jad partner ketua dan wakil presma?” tanya Aruna sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan semua itu.
Malas mendengar pertengkaran Kai dan Alister akhirnya Aruna memutuskan untuk mengambil coklat hangat nya dan segera pergi dari sana menuju ke arah kamar nya sendiri.
***