Aruna Story

Aruna Story
Taman Hiburan



Aruna kini tampak begitu bersemangat. Hari ini setelah sekian lama ia hanya berada di rumah dan rumah sakit, kini akhirnya ia bisa melihat dunia luar untuk bermain dan jalan-jalan. Gadis tersebut kini sudah tampak begitu cantik dengan rambutnya yang dikepang dan bagian belakang nya di urai.


Senyumannya kini mengembang dengan begitu indahnya. Pintu kamar nya kini terbuka. Menampilkan Alister yang kini masuk dengan senyumannya.


“Sudah siap?” tanya Alister yang di jawab dengan anggukan oleh Aruna.


“Udah, udah cantik kan?” tanya Aruna yang membuat Alister terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


“Udah cantik pake banget.” Alister dengan senyumannya kini berujar sambil berjalan ke arah Aruna yang tertawa kecil mendengar pujian dari Alister. Pipi nya kini bahkan bersemu, menampilkan pipi nya yang kemerahan.


“Makasih kak,” ucap Aruna dengan senyumannya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


Setelah nya Alister segera mendorong kursi roda Aruna untuk turun. Rasanya Aruna kini sudah tak sabar untuk jalan-jalan.


“Mau kemana kak?” tanya Aruna dengan tatapan penasarannya pada Alister saat mereka kini tengah berada di dalam lift.


“Ke taman bermain?” tawar Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


“Sore nya kita ke pantai? Liat sunset?” tawar Alister lagi yang kini lagi-lagi dijawab dengan anggukan semangat oleh Aruna. Kemanapun mereka pergi kini Aruna hanya akan mengikuti karena sudah lama tidak bermain ke luar ia ingin memuaskan dirinya untuk bermain kali ini.


Setelah sampai di bawah, Alister segera membantu Aruna masuk ke dalam mobil nya. Setelah nya ia juga memasangkan sabuk pengaman untuk Aruna. Melihat itu Aruna berusaha untuk menahan nafas nya, saat wajah Alister kini berada begitu dekat dengan nya. Detak jantung nya kini berdetak dengan tidak menentu.


Setelah Alister memastikan jika Aruna sudah aman, Alister segera mengitari mobil nya lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang kini tampak padat.


Baru kali ini Aruna menikmati perjalanannya. Biasanya saat ke rumah sakit ia hanya memikirkan tentang terapi nya.


Selama di perjalanan kini bahkan gadis tersebut terus melihat keluar jendela mobilnya dengan senyumannya yang kini mengambng dengan begiti indah nya.


“Kak apa aku boleh gak pakai kursi roda?” tanya Aruna pada Alister, menatap Alister kini dengan tatapan penuh harap nya.


“Boleh, kakak akan gendong kamu,” ucap Alister dengan senyumannya lalu mengelus puncak kepala Aruna dengan sayang.


“Aku juga mau coba-coba jalan kak. Sekalian terapi, jadi kakak pegangin aja,” pinta Aruna dengan tatapan penuh harap nya. Alister kini tampak terdiam sebentar memikirkan jawabannya.


“Kak, please,” pinta Aruna yang kini menatap Alister dengan tatapan memohonnya. Alister akhirnya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Kalau ada yang sakit atau capek harus bilang,” tegas Alister yang membuat Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan begitu bersemangat.


Tak beberapa lama kini akhirnya mereka sampai di parkiran sebuah taman hiburan. Tatapan penuh binar kini terlihat dari Aruna. Alister yang melihat reaksi Aruna tertawa kecil sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang.


Alister kini keluar lebih dulu, lalu ia  membantu Aruna untuk keluar. Sebelah tangannya menggenggam tangan Aruna dan satu lagi merangkul pundak Aruna dengan begitu erat menjaga Aruna dengan baik.


"Wah banyak banget wahana nya," ucap Aruna dengan begitu bersemangat nya. Berbeda dengan Aruna yang tampak bersemangat, Alister kini justru merasa begitu khawatir pada gadis tersebut.


"Kamu yakin mau jalan? Kakak gendong ya?" tawar Alister dengan begitu khawatirnya.


Aruna menghembuskan nafas nya kasar menatap Alister dengan tatapan kesal nya.


Alister hanya mengkhawatirkan keadaan Aruna. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis tersebut.


“Janji sama kakak, kalau kamu capek atau ada yang sakit harus langsung bilang,” tegas Alister yang kembali memperingati Aruna. Aruna menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya.


“Iya kak. Aruna janji,” ucap Aruna meyakinkan Alister. Alister menghembuskan nafas nya kasar, akhirnya kini ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Menyetujui permintaan Aruna. Dengan pelan kini Alister membantu Aruna untuk berjalan.


“Mau coba yang mana dulu? Kita gak main wahana ekstrim ya,” peringat Alister yang membuat Aruna berdecak namun ia juga menganggukkan kepalanya. Dari pada Alister mengajak nya untuk pulang jadi lebih baik ia menyetujui nya saja.


“Bianglala boleh kak? Kan duduk,” tanya Aruna dengan tatapan memohonnya pada Alister yang kini berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


“Ayo,” ajak Alister yang membuat Aruna kini bersorak dengan senang.


Saat sudah berada di dalam bianglala kini Aruna menatap takjub ia begitu senang karena setelah sekian lama ia akhirnya bisa menikmati kesenangan seperti ini.


“Wah kak lihat, pemandangannya bagus banget dari atas sini,” ucap Aruna dengan begitu senang nya. Alister kini ikut melihat ke arah bawah karena kini mereka berada di atas. Senyumannya mengembang sambil menganggukkan kepalanya.


“Cantik kan kak?” tanya Aruna lagi.


“Hm Cantik,” ucap Alister sambil menatap Aruna dengan senyuman. Aruna yang kini menoleh ke arah Alister mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya ia tersenyum dengan malu mendengar ucapan dari kakak angkat nya itu.


“Mau naik apalagi setelah ini?” tanya Alister.


Aruna kini tampak berpikir hingga tatapannya kini tertuju pada komedi putar yang tampak begitu indah.


“Komedi putar,” seru Aruna. Namun tanpa berpikir panjang Alister menggelengkan kepalanya.


“Nanti kamu jatoh,” tolak Alister yang membuat Aruna kini mengerucutkan bibirnya dengan matanya yang kini menampilkan puppy eyes nya. Alister menghembuskan nafas nya kasar merasa tak tega pada gadis tersebut.


“Enggak ya Aruna, nanti kalau kamu jatoh gimana?” tanya Alister yang tetap menolak. Bahkan kini laki-laki tersebut menoleh ke arah lain agar tidak melihat Aruna yang terus menatapnya dengan tatapan memohonnya.


“Kak please. Gak akan jatoh kok. Aku pengen banget naik itu, dulu aku selalu naik komedi putar waktu dateng ke tempat ini sama Mama Papa,” ucap Aruna. Baiklah jika sudah begini Alister tak akan tega untuk tetap menolak permintaan Aruna. Namun ia juga takut terjadi sesuatu pada Aruna. Karena kaki dan tangan kiri nya kini masih belum bisa berfungsi dengan baik.


“Kakak di belakang kamu,” tegas Alister yang berhasil membuat Aruna kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Alister.


“Ih kakak apa sih? Gak mau tau kak!” protes Aruna.


“Kakak di belakang atau kita pulang,” ucapan tegas dari Alister kini akhirnya membuat Aruna terdiam dan hanya menuruti kemauan dari Alister.


“Ya udah lah, dari pada gak naik,” sungut Aruna dengan kekesalannya. Alister yang melihat nya hanya tersenyum senang karena kepatuhan Aruna. Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang.


Hari itu mereka benar-benar bersenang-senang. Alister membawa Aruna mencoba wahana yang tak berbahaya untuk gadis tersebut. Menaiki bianglala yang membuat jantung Aruna maupun Kevler rasanya akan meledak saat itu juga karena berdetak dengan tak normal. Namun rasa nyaman yang mereka rasakan pada satu sama lain membuat mereka ingin terus berada di posisi yang begitu dekat.


Hari yang membahagiakan untuk mereka.


***