Aruna Story

Aruna Story
Keinginan Aruna



Kai yang mendengar ucapan Alister yang mengatakan jika Aruna di culik kini langsung membelalakkan mata nya membaca pesan tersebut.


“Kita harus lapor polisi,” ucap Kai namun Alister menahan Kai.


“Aruna gak mau kalau ini sampai di bawa ke polisi, dia mau kita nyelametin dia tanpa membaca polisi. Dia mau melindungi Nevan,” ucap Alister. Kai yang mendengar nya kini membelalakkan mata nya.


“Kayak nya dia emang bener suka sama Nevan deh bukan sama lo,” ucap Kai pada Alister yang sebenarnya kini hanya tengah menggoda laki-laki tersebut. Alister yang mendengar ucapan kayak kini membelalakan matanya ingin sekali rasanya kini ia memberikan sebuah bogeman mentah pada laki-laki tersebut.


“Lo kalau ngomong jangan asal ya,”  kesal Alister pada Kai yang kini hanya mengedipkan bahunya.


“Gue cuman lagi ngomong sesuai dengan apa yang gue lihat ya, lagian ya kalau emang dia nggak suka sama Nevan ngapain dia mau buat nyelesain masalah ini secara damai? Padahal dia sendiri pun tahu kalau Nevan itu seorang pembunuh,” jelas Kai yang kini membuat Alister terdiam mendengarnya namun akhirnya laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak terpakai ucapan kah yang hanya akan memprovokasinya saja.


“Lu mana tahu pemikiran orang baik, pemikiran-pemikiran lu kan pemikiran setan semua,”  kesal Alister pada Kai hingga setelahnya laki-laki tersebut langsung pergi dari sana untuk mencari gadisnya daripada terus meladeni Kai yang hanya membuat nya kesal.


Kayak melihat kepergian Alister dengan segera mengikuti sahabatnya itu untuk membantu mencari Aruna.


Alis terkini segera menuju ke arah mobilnya namun tak lama kini Kai juga masuk ke dalam mobilnya membuat Alister menaikkan sebelah alisnya melihat keberadaan laki-laki tersebut di sana.


“Lu mau ngapain Di Sini?”  tanya alisper saat melihat keberadaan Kai di mobilnya.


“Mau ikut cari Aruna lah lokir mau ngapain lagi Gue kesini?” Tanya Kai dengan begitu sinisnya pada alistar yang kini hanya bisa menghembuskan nafasnya berusaha untuk sabar menghadapi laki-laki di sampingnya itu yang memang begitu menyebalkan.


“Mobil lo mana sih Kenapa nggak bawa mobil sendiri?” Alis terkini Manado kesal ke arah laki-laki yang berada di sampingnya tersebut yang kini malam memenuhi mobilnya.


“ Gue bawa motor bukan bawa mobil,”  ucap Kai dengan begitu santainya.


 Laki-laki tersebut bahkan kini dengan begitu santainya sudah memakan makanan Aruna yang memang disiapkan dashboard mobil.


“Ya udah sih Lo pakai motor lu aja,”  saran alistar pada kain namun kini laki-laki tersebut malah menggelengkan kepalanya tidak menyetujui saran dari Kai.


“ Biar bisa diskusi kita tuh,”  jelaskan yang membuat Alister kini menghembuskan nafasnya kasar namun pada akhirnya ia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan laki-laki tersebut.


“Kita ke rumah gue dulu, BTW nanti mobil lu siapa yang bawa?”  tanya alistar sambil menaikkan sebelah alisnya menatap sekilas ke arah Kai.


“ Gampang temen gue banyak,”  ucap Kai yang kini hanya membuat Alister menganggukkan kepalanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.


Alister terkini mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang kini mereka lalui untuk menuju ke arah rumah Alister. Kini bisa Alister tertebak jika orang tuanya Tengah begitu heboh karena Aruna yang tidak ada di rumah.


Hingga tak beberapa lama kini akhirnya mereka sampai di depan rumah Alister yang benar saja kini begitu heboh karena Aruna yang tidak ada di rumah. Kini alisker juga Kai dapat melihat bagaimana hebohnya memakai dengan para pelayan dan para penjaga yang terus saja berlalu Lalang mencari Aruna ke sekitar rumah.


“Pasti nggak ada yang CCTV,”  rutuk Alister sambil memutar bola matanya malas sepertinya setelah ini ia harus memecat semua  penjaga yang berada di ruang CCTV karena menurutnya mereka tidak bisa bekerja hingga membiarkan Aruna pergi begitu saja juga pada pengawal yang berjaga di depan yang membiarkan Aruna pergi, padahal sebelumnya ia sudah mengatakan pada mereka untuk selalu menjaga Aruna.


Kai dan alis terkini berjalan bersama memasuki rumah hingga terlihat di ruang tamu kini sudah ada kedua orang tuanya yang tampak kebingungan karena tidak mendapati Aruna berada di rumah mereka.


“Alister akhirnya kamu datang juga kita lagi kebingungan cari Aruna coba kamu telepon kamu,” Ucap casia sambil berjalan ke arah alistar dengan begitu hebohnya ditemani dengan Bagas yang kini berada di sampingnya.


“Aruna sedang menghubungi  Alister,  dan Aruna meminta putus dengan Alister,”  ucap yang kini tentu saja membuat kedua orang tuanya tersebut terkejut mendengarnya. Karena yang mereka tahu hubungan antara Aruna dan Alister baik-baik saja lalu mengapa kini Aruna malah meminta untuk putus dari Alister? Tentu saja hal tersebut menjadi tanda tanya bagi mereka.


“Terus sekarang Aruna di mana?”  tanya Bagas pada Alister neng kini mereka pikirkan adalah  keberadaan Aruna. Karena dibandingkan dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan tersebut mereka lebih memikirkan tentang Aruna yang kini entah berada di mana membuat mereka khawatir takut terjadi sesuatu pada garis tersebut.


“Aruna diculik,”  ucap Alister memberitahu  kedua orang tuanya tentang keadaan Aruna saat ini. Ibu kAlister yang benar hal tersebut tentu saja kimia langsung membelalakkan matanya menatap Alister dengan tatapan tajamnya.


“Apalagi kali ini?”  tanya Casia sambil mengusap wajahnya dengan kasar tak sanggup untuk berdiri kini Casia memilih untuk duduk yang ditemani oleh Bagas yang terus-menerus puncak kepala Casia berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


"Untuk saat ini Alister belum bisa Masih tahu apapun ke mama dan papa nanti setelah semua selesai dan alis terbaru menemukan Aruna baru kita membicarakan tentang ini,”  jelas kepada kedua orang tuanya tersebut yang kini akhirnya menganggukkan kepalanya walau dengan berat hati.


Mereka tentu saja kini tengah mengkhawatirkan Aruna takut jika kejadian saat Aruna diculik untuk pertama kalinya itu kembali terulang.


“Kamu harus cepat temuin Aruna Mama khawatir sama dia,”  perintah Casia pada anaknya tersebut yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tidak hanya ibunya Ia pun begitu mengkhawatirkan Aruna dan takut terjadi sesuatu pada garis tersebut.


***


Aruna kini hanya diam berada di kamarnya sambil melihat keluar melalui jendela balkon. Kini tak ada yang dapat ia lakukan Ia hanya bisa berdoa agar Alister cepat menemukannya dan menuruti ucapannya untuk tidak membawa kasus ini ke meja hijau.


Bukan tanpa alasan Aruna tidak ingin Alister membawa kasus ini ke pengadilan Ia hanya tak ingin keadaan Nevan yang ia pikir sedang beras dalam keterpurukan kini semakin terpuruk jika harus mendekam di penjara bukannya sembuh laki-laki tersebut malah akan semakin terluka.


Saat Aruna kini tengah memandangi langit di depannya tiba-tiba saja suara pintu yang dibuka membuat Aruna menoleh namun yang kini masuk ke kamarnya tersebut bukanlah Nevan melainkan gadis yang ia kenal sebagai Dinara.


“qLo udah makan?”  tanya Dinara pada Aruna saat kini gadis tersebut sudah masuk ke dalam kamar yang Aruna tempati dengan tatapannya yang begitu lembut.


“Kamu pikir aku bakalan nafsu makan dengan keadaan yang seperti ini?”  Aruna sambil menatap ke arah gadis cantik tersebut dengan tatapan sendunya.  Dinara yang mendengar hal tersebut kini menghembuskan nafasnya kasar sambil menganggukan kepalanya mengerti dengan keadaan Aruna saat ini.


“Lu tahu kalau Nevan ngelakuin ini bukan semata-mata karena dia tahu kalau lo Ngeliat dia masuk ke tempat Pembunuhan itu?”  tanya Dinara pada Aruna yang kini menjawabnya dengan angkutan. Aruna sudah mengetahui alasan lain dari sikap Nevan padanya semua tak luput karena laki-laki tersebut menyukainya.


“Dia tulus sama lo, dia beneran sayang sama lo. Lu tahu Nevan itu adalah orang yang kasar tapi apa pernah dia kasar sama lo?”  tanya Dinara pada Aruna yang kini menjawabnya dengan celengan karena memang nyatanya Nevan tidak pernah berlaku kasar padanya bahkan sebaliknya laki-laki tersebut begitu lembut padanya.


Aruna yang mendengar pertanyaan dari Dinara kini menggelengkan kepalanya.


“Semua itu Karena dia tulus sama lo dia nggak mau nyakitin lo tapi lo tahu saat bersama gue? Bahkan untuk kesalahan kecil yang gue perbuat pun dia akan marah dia akan langsung nyakitin gue. Dia paling nggak suka lihat Gue deket sama cowok lain dia posesif sama gue bahkan kalau gue  sampai melanggar apa yang dia nggak suka dia bisa berbuat kasar sama gue,  dia nggak suka lihat gue nangis seandainya lihat gue nangis dia akan marah dan melukai gue. Tapi bodohnya gue masih bertahan sama dia gue masih nemenin dia gue masih ada di sisi dia semua itu gue lakuin karena gue sayang sama dia,” ungkap Dinara dengan tatapan sendunya melihat ke arah luar jendela sedangkan Aruna kini sudah menatap Dinara dengan tatapan ibanya. Dari tatapan Dinara dan semua yang telah Dinara lakukan pada Nevan Aruna tahu jika gadis tersebut begitu mencintai Nevan.


Dan sebenarnya dari yang Aruna dengar atas apa yang Nevan lakukan pada Dinara sebenarnya menunjukkan jika laki-laki tersebut mencintai Dinara namun caranya mencintai Dinara dengan cara yang berbeda.


Nevan tidak menyukai Dinara saat menangis karena ia merasa hatinya akan terluka saat melihat gadis yang ia cintai menangis,  Nevan juga tidak menyukai Dinara Saat tengah bersama dengan laki-laki lain semua itu karena Nevan cemburu pada Dinara. Ia tidak ingin jika gadis yang ia cintai bersama dengan laki-laki lain.


“Dia melakukan semua itu keluh karena dia sayang kau dan dia cinta sama milik, sedangkan sama gue dia hanya  sekedar suka, dan kagum semata. Lo tau dia culik gue dan punya kesempatan ini juga cuma karena dia takut kalau gue ngebongkar tentang dia aja,” ucap Aruna menyadarkan Dinara yang kini justru tertawa mendengar ucapan Aruna.


“Lo bercanda? Lo gak tau kan betapa hancur nya Nevan saat tau lo udah punya tunangan?” tanya Dinara dengan begitu tajam nya pada Aruna. Mengionga bagaimana hancur nya Nevan saat itu membuat Dinara begitu kesal dan marah.


“Semua itu karena Kak Nevan berpikir kalau dia suka sama gue. Lo liat setelah hari itu? Dia gak masalah kan? Bahkan saat kita gak sengaja bertemu dia masih baik sama gue. Dan dia gak nyelakain Alister,” tegas Aruna yang kini berhasil membuat Dinara kini terdiam mendengar nya.


Ucapan Aruna kini seolah menyadarkannya. Karena dari yang sudah-sudah saat ia pulang bersama laki-laki lain, besok nya ia akan mendapatkan berita kematian dari laki-laki yang dekat dengannya.


“Tunangan gue juga orang yang posesif. Dan dia ngelakuin itu karena dia sayang sama gue, gue harap lo paham apa yang gue ucapan,” ucap Aruna pada Dinara yang kini hanya terdiam mendengar ucapan Aruna.


“Jangan sok tau dan bicara sembarangan,” tegas Dinara yang setelah nya langsung pergi dari sana meninggalkan Aruna sendiri.


Entah mengapa setelah memikirkan tentan hubungan Dinara dan Nevan kini ia tidak ingin kembali dulu pada Alister dan malah ingin untuk menyadarkan kedua orang tersebut tentang perasaan Nevan. Ia ingin untuk membantu mereka untuk bersama. Dan membantu Nevan untuk sembuh. Apa memang ini yang harus dilakukannya saat ini?


Dengan pasti kini Aruna malah mematikan jam tangannya terlebih dulu. Agar Alister tak bisa melacak nya dan ia akan tetap berada di sini untuk membantu Nevan. Aruna harap keputusannya kali ini tidak salah.


***