
Perkataan Nevan tentang gadis yang dicintai oleh laki-laki tersebut masih saja mengusik Dinara. Semua yang ia lakukan selama ini seolah tak berarti apa-apa untuk Nevan. Sikap laki-laki tersebut begitu posesif. Melarang nya untuk dekat dengan laki-laki lain namun Nevan juga malah menyukai gadis lain.
“Apa gue kurang baik untuk dia selama ini sampai dia bisa suka sama cewek lain? Secantik apa dia sampai lo lebih milih dia? Kenapa lo harus posesif sama gue kalau lo nyatanya suka nya ama cewek lain?” tanya Dinara pada dirinya sendiri. Kini ia tengah berada di kamar nya sendiri merenungkan apa yang baru saja dikatakan oleh Nevan padanya.
“Lo harus nya gak ngelarang gue buat deket sama cowok lain kalau lo juga suka sama cewek lain, sialan,” maki Dinara sambil meninju boneka yang kini ia peang, menganggap jika boneka tersebut adalah Nevan.
Rasanya kini ia begitu kesal dengan Nevan, tak hanya kesal ia juga begitu marah atas apa yang laki-laki itu lakukan. Namun ia terlalu lemah untuk melawan Nevan. Nevan yang selalu bertindak sesuka nya , selalu mengancam nya atau tak segan akan bebar-benar menyakitinya. Bagaimana ia bisa untuk melawan laki-laki seperti Nevan.
Ingin pergi namun ia tak bisa karena Nevan jelas saja akan menemukannya, dan berakhir akan melukai nya jika ia sampai tertangkap. Dinara menghembuskan nafas nya kasar lalu ia berdecak dengan kesal.
Memikirkan Nevan seperti nya tak akan ada habis nya. Membuat Dinara kini rasanya begitu frustasi,
“Berhenti Dinara. Lo gak bisa mikirin ini mulu. Lo harus tidur di Dirana,” perintah Dinara pada dirinya sendiri sambil menepuk wajah nya. Berusaha untuk menyadarkannya dari segala pikiran yang memenuhinya.
Dinara menoleh ke arah jam yang berada di kamar yang kini di tempati nya. Hingga mata nya kini membelalak melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 23.40. Padahal ia berada di kamar besar yang berada di kamar nya sejak pukul 20.02 dan selama itu ia hanya memikirkan tentang Nevan dan cerita laki-laki tersebut.
“Nevan sialan,” maki Dinara yang jelas tak bisa ia ungkapkan secara langsung pada Nevan karena terlalu takut pada laki-laki tersebut.
Merasa hari sudah semakin malam, Dinara memutuskan untuk segera memejamkan mata nya dan masuk ke alam mimpi. Namun begitu sulit untuk nya melakukan itu. Hingga setelah setengah jam berlalu barulah ia bisa terlelap.
Besok ia harus berangkat begitu pagi ke kampus karena Nevan yang berangkat pagi dan ia bukanlah laki-laki yang suka menunggu. Jadi Dinara tidak boleh telat bahkan hanya satu menit saja Nevan bisa marah padanya.
Begitu lah Nevan. Laki-laki yang selalu melakukan apa yang ia mau sesuka nya.
***
Mentari pagi ini bersinar dengan begitu cerah nya, seolah tengah menyapa Aruna yang pagi ini bangun begitu pagi. Bahkan kini ia sudah siap dan tampil cantik dengan dress selutut nya. Rambut nya kini dibiarkan tergerai yang menambah kesan cantik gadis tersebut. Dengan pita kecil di depannya yang membuat nya terlihat begitu imut..
“Sayang udah bangun belum?” teriak suara di luar sana . Aruna yang mendengar nya kini dengan segera membuka pintu nya hingga kini ia dapat melihat Alister yang berdiri di depannya tampak terkejut melihat Aruna yang sudah bangun.
Alister .kini bahkan menaikkan sebelah alisnya melihat penampilan gadis itu yang kini sudah tampak begitu cantik dan siap untuk berangkat ke kampus.
“Udah cantik aja,” ucap Alister sambil mencium kening Aruna yang membuat Aruna kini tersenyum dengan begitu bangga nya mendengar ucapan Alister.
“Iya dong, tadi aku bangun pagi banget,” jelas Aruna yang membuat Alister kini menganggukkan kepalanya mendengar hal tersebut. Aruna kini merangkul lengan Alister yang membuat Alister kini tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan begitu gemas nya.
“Rambut nya mau di biarin di gerai gitu?” tanya Alister yang kini Aruna balas dengan anggukannya.
“Udah cantik aja,” sapa Casia yang membuat Aruna tersenyum mendengar nya. Dengan langkah cepat nya kini Aruna menuju ke arah Casia lalu mencium pipi Casia yang membuat Casia tersenyum karena nya.
“Ada kelas pagi Bun. Kemarin juga udah puas banget tidur,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Casia kini tertawa kecil mendengar nya.
“Bangun jam berapa kemarin Bun?” tanya Bagas yang kali ini merasa penasaran.
“Bangun jam setengah dua belas. Tapi jam setengah dua udah balik tidur lagi sampai jam empat. Kalau Alister gak pulang mungkin masih tidur Pa,” lapor Casia pada Bagas yang kini menganga mendengar ucapan istrinya itu.
Kemarin ia pulang saat Aruna sudah bangun dan sudah berada di ruang keluarga bersama dengan Alister.
“Jago banget tidur nya,” ucap Bagas sambil bertepuk tangan. Aruna yang mendengar nya kini justru cemberut mendengar nya.
“Papa ngehina Aruna ya?” tebak Aruna yang sontak membuat Bagas menggeleng. Walau sebenar nya benar begitu, namun ia tak ingin membuat gadis tersebut kesla dan berujung dengan dirinya yang jadi mangsa dari anaknya itu.
“Enggak kok. Papa lagi muji kamu,” jelas Bagas yang membuat Aruna kini berdecih mendengar nya. Sedangkan Alister yang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah nya kini mereka mulai sarapan mereka bersama dengan diiringi oleh cerita juga tawa. Selayak nya keluarga bahagia. Namun memang mereka adalah keluarga bahagia. Dan semoga saja seterus nya akan seperti itu.
“Nanti Mama ada meeting mungkin Mama pulang sore. Kalau kamu nanti butuh sesuatu pulang kampus minta ke Bibi aja ya,” ucap Casia pada Aruna yang kini menganggukkan kepalanya.
“Nanti ikut aku aja. Pulang kampus aku gak ada kegiatan, mau main sama temen yang lain,” ucap Alister yang membuat Aruna kini sontak menoleh ke arah Alister dan menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia juga sudah lama tidak bertemu dengan temannya yang lain.
“Setuju, Aruna juga udah lama gak main sama Kakak,” ucap Aruna dengan senyumannya.
“Tapi Aruna boleh ngajak temen baru Aruna itu gak?” tanya Aruna meminta persetujuan. Alister yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya setuju.
“Ajak aja siapa yang kamu mau,” ucap Alister membuat senyuman Aruna kini semakin mengambang dengan begitu cerah nya.
“Kakak memang yang terbaik,” ucap Aruna yang kini membuat orang tua mereka hanya tersenyum melihat interaksi Aruna dan Alister. Sedangkan Alister kini menepuk puncak kepala Aruna pelan.
“Habisin makanannya, setelah ini kita berangkat,” perintah Alister yang Aruna balas dengan anggukannya.
Aruna dengan segera kini menghabiskan makanannya. Terlalu bersemangat untuk memulai hari pertama nya di kampus. Setelah OSPEK dan berbagai hal lainnya kini akhirnya ia resmi menjadi mahasiswa, jelas saja kini ia begitu bersemangat. Alister yang melihat Aruna yang begitu ceria tentu saja merasa senang karena kebahagiaannya terletak pada Aruna.
***