
“Nanti kalau uda kelar kelas langsung telpon aja ya,” pesan Alister pada Aruina saat kini mereka sedang berada di dalam mobil, yang sudah terparkir di kampus mereka. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Siap Kak,” ucap Aruna dengan senyuman lebar nya sambil hormat ke arah Alister yang kini justru terkekeh melihat tingkah gadisnya itu.
“Ayo keluar,” ajak Alister. Aruna dan Alister kini keluar bersama dari mobil mereka.
“Mau aku anterin?” tanya Alister menawarkan pada Aruna yang kini menjawabnya dengan gelengan.
“Gak usah Kak, nanti Kakak malah telat karena harus mengantar aku dulu,” tolak Aruna sambil mengelus tangan Alister yang kini menganggukkan kepala.
Setelah nya Aruna langsung melambaikan tangannya dan pergi dari sana. Namun tak jauh Aruna berjalan kini Alister malah memanggilnya yang membuat Aruna langsung menoleh ke arahnya dan menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Kalau ada apa-apa langsung telpon aku,” tegas Alister yang membuat Aruna kini justru tertawa mendengar nya lalu menganggukkan kepalanya. Hal yang selalu Alister katakan padanya saat akan berpisah dengan Aruna. Alister tak pernah lupa mengingat Aruna untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
“Siap Kakak,” ucap Aruna sambil hormat ke arah Alister yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengarnya.
Setelah nya Aruna benar-benar pergi dari sana dan menuju ke arah fakultas nya yang berada di tak jauh dari sana. Selama ia berjalan kini Aruna tak lepas dari ponselnya dan mengirim pesan pada sahabat nya di grup.
Random circle
Nanti aku mau ikut main sama Kak Alister.
Kalian ada yang mau ikut jua gak?
Shifa
Gue ikut Run, Kai tadi juga bilang. Kata nya lo pasti ikut
Jadi dia ngajak gue
Mutia
Gue ikut dong
Irgi
Pada ikut semua nih ya kecuali yang jauh gak di ajak
Yang deket-deket aja
Vian
Bacot setan
Kai
Pagi banget Run buat pengumuman
Gathan
Masih pagi udah berisik aja sih. Ngampur woi
Danu
Ciwi-ciwi pada ikutan, kalian gak ada kemajuan ya temen nya bertiga mulu
Nanti aku ajak temen baru aku Kak.
Shifa
Aruna yang membaca semua pesan tersebut kini hanya tersenyum. Ia terlalu asik dengan pesannya itu hingga tak menyadari jika kini di samping nya ada yang berjalan bersama nya .
“Serius banget sih,” ucap suara di samping nya yang membuat Aruna kini segera menoleh ke arah samping nya hingga senyumannya kini mengembang dengan begitu jelas nya saat melihat keberadaan Nevan yang kini berada di sana.
“Hehe cuma lagi chat sama temen Kak buat janjian main bareng,” jelas Aruna lalu memasukkan ponsel nya ke dalam tas nya. Karena merasa tak enak jika harus bermain ponselnya sedang kan di samping nya kini ada yang mengahjaknya berbicara.
“Temen lo anak sini juga?” tanya Nevan yang Aruna balas dengan anggukan.
“Cuma beda jurusan aja. Tapi ada juga yang beda,” jelas Aruna dengan senyumannya.
“Btw hari ini hari pertama lo mulai kelas ya, gimana perasannya?” tanya Nevan. Aruna yang mendengar nya kini menghembuskan nafas nya lalu tersenyum dengan lebar nya.
“Berasa lagi wawancara ditanya perasaan gini,” kelakar Aruna yang membuat Nevan kini terkekeh mendengar nya.
“Perasaan aku deg degan, pertama kali kan ini Kak. Jadi nanti pasti harus berhadapan dengan banyak orang baru. Sedangkan aku yang susah banget buat deket sama orang baru kalau mereka juga sama-sama pendiem, dan gak ada interaksi,” jelas Aruan yang membuat Nevan kini menganggukkan kepala nya mengerti dengan keadaan Aruna saat ini.
“Sedikit tips buat lo. Kalau lo termasuk orang yang kayak gitu, mending lo berusaha buat abai. Maksud gue, lo gak perlu memikirkan dan memperdulikan terlalu banyak hal. Cukup pedulikan yang memang diperlukan. Mereka terlalu banyak jadi lo bisa anggep mereka patung,” jelas Nevan yang membuat Aruna kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar saran Nevan.
“Kalau nanti ada yang buat lo gak suka, jangan di pedulikan. Kalau memang ada saran dan bentuk dari review tentang diri lo yang harus lo introspeksi ya cukup dengarkan. Kalau memang perlu ya di pake kalau gak perlu ya di buang. Terlalu banyak pembicaraan yang masuk ke hati dan otak tuh sesuatu hal yang gak perlu, yang ada malah jadi kita yang kesel sendiri,” saran Nevan dengan begitu bijak nya.
Aruna kini hanya terdiam mendengar ucapan Nevan seolah memenuhi apa yang Nevan katakan sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju dengan Nevan.
Begitu lah manusia., begitu pandai memberikan saran pada orang lain namun ia sendiri pun tak bisa mengamalkannya. Tak heran jika ada sebuah kalimat yang mengungkapkan. Lihat lah apa yang dia katakan tanpa melihat siapa yang mengatakannya.
Karena orang buruk belum tentu memberikan saran buruk pada kita. Itu lah maksud dari ucapan tersebut yang memang ada benarnya juga.
“Makasih ya Kak,” ucap Aruna dengan begitu tulus nya yang kini dijawab dengan anggukan oleh Nevan sambil tersenyum ke arah Aruna.
“Tentu, udah gue bilang kan kalau lo butuh bantuan taua butuh saran. Mau konsultasi dan tanya-tanya lo boleh tanya ke gue,” ucap Nevan yang kini Aruna balas dengan anggukan dan senyumannya.
Kini mereka sudah memasuki fakultas mereka. Banyak yang kini menatap menatap dengan berbagai tatapan saat melihat Aruna yang datang bersama dengan Nevan. Tentu saja tatapan penasaran juga tatapan iri yang kini mendominan di antara mereka.
“Siap Kak,” ucap Aruna.
“Oh iya. Gue boleh minta kotak lo?” tanya Nevan yang Aruna balas dengan anggukan. Nevan kini segera memberikan ponsel nya pada Aruna yang setelah nya segera Aruna ambil. Dengan begitu lincahnya kini jari jemari yang begitu cantik di atas ponsel Nevan.
Setelah selesai ia segera mengembalikannya pada Nevan.
“Thank ya, nanti gue kirim pesan jadi lo kalau mau tanya-tanya bisa langsung di kontak gue,” ucap Nevan yang Aruna balas dengan anggukannya.
“Kalau gitu gue duluan ya. Semangat Aruna,” ucap Nevan sambil mengepalkan tangannya dan menunjukkannya pada Aruna yang kini juga menunjukkan kepalan tangannya yang memberikan simbol semangat untuk Nevan.
“Kakak semangat juga ya,” ucap Aruna.
Aruna yang melihat nya kini hanya menggelengkan kepalanya.
“Gak bahaya kan ya, aku kasih kotak aku ke Kak Nevan?” tanya Aruna pada dirinya sendiri saat kini ia mengingat bagaimana posesif nya kekasih nya itu. Namnun setelah nya kini Aruna menggelengkan kepalanya.
“Sebelum Kak Al tau sendiri, nanti aku kasih tau aja deh biar dia gak marah,” ucap Aruna dengan senyuman cerah nya. Setelah nya ia dengan segera pergi dari sana menuju ke arah kelas nya sendiri dengan wajah nya yang kini tampak begitu cerah nya.
***