Aruna Story

Aruna Story
Dua Elang



Seorang gadis yang kini terlihat begitu serius dengan buku yang tengah ia coret-coret dengan materi yang baru ia terima itu kini tampak begitu serius. Bahkan ia tak memperdulikan sekitar nya yang kini sudah banyak orang yang berpacaran. Karena kini Aruna sedang berada di taman yang memang biasa menjadi tempat untuk bertemu para kekasih di kampus.


Adina kini tengah tidak bersamanya karena gadis tersebut kini yang sekarang dekat dengan cowok dari jurusan lain. Mereka sekarang tengah melakukan pendekatan. Tadi Adina sudah akan mengajak Aruna, namun Aruna malah menolaknya karena ia ingin menghabiskan waktunya dengan buku-buku miliknya.


"Serius banget sih, lagi nulis apa hm?" Tanya sebuah suara yang kini menyapa Aruna. Aruna yang mendengar nya kini sontak melihat ke arah sumber suara yang kini sudah duduk di samping nya.


"Kak Nevan? Aku lagi nulis catatan dari dosen tadi kak. Gak keburu nulis nya jadi aku rekam," papar Aruna dengan cengirannya yang di jawab dengan anggukan oleh Nevan.


"Pantes aja gue liat dari jauh lo serius banget," ucap Nevan. Ia tadi baru saja datang dari ruangan BEM di fakultas nya saat ia tak sengaja melihat keberadaan Aruna di taman. Tentu saja ia tak akan melewatkannya begitu saja, jadi Nevan segera menghampiri Aruna.


“Iya nih Kak, seolah nya harus kerja ekstra nih selain dengerin juga harus nyatet dan harus beberapa kali di berhentikan karena ada yang kelewat,” jelas Aruna yang dijawab dengan anggukan oleh Nevan. Kini laki-laki tersebut masih setia berada di samping Aruna dan menemani gadis tersebut.


“Kakak gak ada kelas?” tanya Aruna yang sebenarnya kini ingin sekali untuk mengusir Nevan namun ia tak tahu bagaimana caranya untuk mengusir laki-laki tersebut. Merasa tak enak hati jika ia harus mengusir nya secara terang-terangan.


Meskipun Aruna tahu jika Alister tak akan melihatnya namun tetap saja ia merasa jika ia harus menjaga kepercayaan Alister entah dilihat ataupun tidak oleh laki-laki tersebut Ia tetap harus menjauh dari Nevan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alister.


“Gue ada kelas cuman masih bentar, masih lama juga. Kenapa lo keberatan kalau gue di sini?” tanya Nevan yang kini langsung saja dibalas dengan gelengan oleh Aruna dan ekspirasi Aruna tersebut kini malah terlihat begitu lucu bagi Nevan hingga membuat laki-laki tersebut terkekeh melihatnya.


“Kakak jangan suka berburuk sangka ya nggak boleh tahu padahal kan maksud Aruna nanyain itu cuman murni karena bertanya bukan karena mau mengusir kakak,”  sungut Aruna dengan bibirnya yang kini mengerucut begitu lucu berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya Karena apa yang dikatakan oleh Nevan sebenarnya adalah sebuah kebenaran.


Ia memang ingin agar Nevan segera pergi dari sana dan membiarkan ia sendiri. Namun Aruna terlalu sungkan untuk mengatakan hal tersebut Ia juga merasa tak enak hati untuk berterus terang pada Nevan.


“Cuman bercanda kali,”  ucap Nevan dengan senyumannya pada Aruna sambil mengelus puncak kepala gadis tersebut. Bukannya senang Aruna yang mendapatkan perlakuan seperti itu kini justru menutupi Nevan di dalam hatinya. Jika gadis di luaran sana mungkin akan menyukainya namun berbeda dengan Aruna ia jadi merasa begitu bersalah pada Alister.


“Minggu depan gue sama temen gue yang lain mau ke museum Kesehatan dan kedokteran Indonesia Lu mau ikut?”  tanya Nevan menawarkan pada Aruna yang kini sebenarnya begitu berminat untuk ikut namun ia tidak bisa untuk pergi tanpa seizin Alister dan bisa Aruna tebak jika Alister tidak akan mengizinkannya pergi saat tahu jika yang mengajaknya adalah Nevan.


“Duh Sorry ya kak tapi kayaknya gue nggak bisa ikut karena minggu depan gue Ada urusan yang nggak bisa gue tinggalin,” Jelas Aruna dengan alibi yang kini ia buat Nevan tampak menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya berusaha untuk mengerti Aruna yang tidak bisa ikut dengannya.


“It's okay kalau memang nggak bisa ikut kali aja lain kali bakalan gue adain lagi buat pergi ke museum bareng sama anak kedokteran yang lainnya,”  ucap Nevan yang kini dibalas dengan anggukan oleh Aruna. Aruna begitu bersyukur karena Nevan tidak menanyakan lebih banyak tentang urusan yang ia buat tersebut,  jika tidak mungkin ini ia harus kembali memutar otaknya untuk berpikir alibi apalagi yang harus ia gunakan untuk mengelabui laki-laki di depannya itu.


Saat mereka kini tengah asyik berbincang tiba-tiba saja seorang laki-laki menghampiri mereka dengan wajah datarnya. Tak ada senyuman ataupun ekspresi dari wajah tersebut tatapannya kini bahkan begitu tajam menetap dua orang yang tengah berbincang tersebut.


“ Sayang,”  panggilnya dengan begitu lembut pada gadis yang kini berbincang dengan Nevan yang tak lain adalah Aruna. Mendengar suara yang tak asing tersebut kini membuat Aruna sontak menoleh ke arah sumber suara hingga senyumannya kini mengembang dengan begitu lebarnya saat melihat jika yang memanggilnya adalah tunangannya yang tak lain adalah Alister.


Alister dengan begitu posesifnya kini merangkul pinggang Aruna dan hal tersebut tentu saja membuat Nevan rasanya ingin marah namun ia tidak bisa melakukannya saat ini. Terbukti dengan tangannya yang kini mengepal dengan begitu eratnya menahan amarah yang tengah ia tahan melihat gadis yang ia cintai kini malah bersama dengan laki-laki lain.


Melihat Aruna yang tampak begitu senang dengan kehadiran alister tentu saja membuat Nevan paham jika memang ada sesuatu diantara mereka yang tidak Nevan ketahui sebelumnya.


“Kamu kenapa bisa ada di sini?”  tanya Aruna dengan tatapan penuh tanyanya pada tunangannya tersebut yang kini malah hanya menatap Nevan dengan tatapan tajamnya. Aruna bahkan kini dapat merasakan udara sekitar yang menjadi begitu panas pada hari ini langit terlihat begitu mendung dengan angin yang begitu kencang tapi keadaan malah begitu panas hanya dengan kedua laki-laki tersebut yang kini malah saling memberikan tatapan tajamnya seolah tangan berlomba tatapan siapa yang paling tajam dan siapa yang akan terbunuh duluan.


“Ada yang harus aku urus di sini jadi aku ke fakultas kamu dan nggak sengaja aku lihat kamu di sini jadi aku langsung datang ke sini,” jelas Alister yang sebenarnya hanyalah sebuah alibi karena sebenarnya setelah ia mengetahui jika Nevan mulai mendekati tunangannya itu Ia memiliki mata-mata di sana untuk mengawasi pergerakan gadisnya itu.


Tadi setelah ia mendapatkan kabar jika Aruna kini tengah bersama Nevan tentu saja membuatnya tidak terima dan langsung menghampiri Aruna. Alister memang begitu posesif jadi tak heran jika kini ia malah menempatkan mata-matanya.


Namun Aruna yang begitu polos hanya bisa percaya dengan ucapan Alister, tanpa ia ketahui jika kini ia sudah memiliki pengawal sendiri atau lebih tepatnya sebuah CCTV berjalan.


“Oh iya Kak kenalin ini Kak Nevan dia senior aku yang selama ini banyak membantu aku dan kak Nevan kenalin ini tunangan aku Kak Alister,”  ucap Aruna yang kini mulai menyadari Jika ia belum memperkenalkan kedua laki-laki tersebut. Alister terkini lebih dulu mengulurkan tangannya untuk berkenalan namun bukannya hanya saling berjabat tangan mereka kini seperti adu kekuatan dengan menggenggam erat-erat tangan satu sama lain seolah ingin menghancurkan tulang dari tangan tersebut.


Aruna yang menyadari jika tangan tersebut sudah terlalu lama saling menggenggam kini mengelus tangan Alister yang sudah menegang. Aruna kini tengah berusaha untuk menyadarkan Alister dan menenangkan tunangannya tersebut.


“Kakak masih ada urusan di sini? Soalnya aku mau masuk kelas nih Kak bentar lagi udah kelas,”  Papar Aruna yang sebenarnya kini hanya berusaha untuk menjauhkan kedua laki-laki tersebut


Jabatan tangan tersebut kini akhirnya terlepas. Dan Alister kini sontak melihat ke arah Aruna dengan begitu lembut nya.


“Ayo kakak antar ke kelas kamu,”  ajak Alister pada Aruna yang kini menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Alister.


“Kak, aku balik kelas dulu ya,” ucap Aruna sambil melambaikan tangannya pada Nevan yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Aruna.


“Gak usah senyum-senyum gitu,” perinat Alister yang kini membuat Aruna memutar bola matanya malas mendengar ucapan Alister.


Setelah sampai di depan kelas Aruna kini gadis tersebut memilih untuk berpamitan pada Alister. Setelah memastikan jika gadisnya tersebut kini sudah aman baik dari bahaya maupun dari laki-laki yang ingin merebut gadisnya itu Alister memutuskan untuk segera pergi ke fakultasnya sendiri karena sebentar lagi Ia pun juga ada kelas.


***


.