Aruna Story

Aruna Story
Pembully



Sudah dua hari berlalu. Sejak Aruna datang sebagai murid baru di Alexander high school. Namun berita tentang nya dan juga pembicaraan panas AHS masih saja menyangkut Aruna dan Alister.


Kini saat Aruna dan Alister serta ketiga sahabat Alister makan di kantin kelas XI IPA bersama. Banyak yang terus menatap mereka. Bahkan bisa Aruna dengar dengan samar-samar pembicaraan mereka tentang Aruna dan Alister.


Awalnya Aruna cukup terusik dengan semua itu. Mengingat ia sebelumnya tak pernah berinteraksi dengan banyak orang. Kini ia malah menjadi pusat perhatian banyak orang, tentu saja hal tersebut membuat ARuna merasa tak nyaman. Namun beruntung ia memiliki Alister juga sahabat laki-laki tersebut yang selalu memberinya semangat. Dan selalu berusaha untuk membuat Aruna mengabaikan ucapan buruk yang ditujukan untuk nya dengan pujian yang mereka berikan. Jadi kini perlahan Aruna mulai terbiasa dengan semua itu.


“Nanti istirahat Kakak ada rapat, kamu ke kantin sama Shifa dulu gak papa?” tanya Alister pada Aruna yang kini membuat Aruna menaikkan sebelah alisnya.


“Emang Shifa gak ikut rapat? Bukannya dia juga OSIS?” tanya Aruna dengan kening nya yang kini berkerut bingung.


“Enggak, cuma rapat untuk anggota inti aja,” jelas Alister yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mengerti.


“Sama kita juga gak papa sih. Kita kan gak ada yang OSIS,” ucap Ivan menimpali. Merasa kesal karena kini seolah Alister melupakan mereka.


“Gak usah ikutan kalian, udah kalian ke kantin angkatan kita aja,” tegas Alister yang membuat sahabat nya kini berdecak. Menyadari jika Alister sebenar nya hanya tak ingin jika sahabat nya itu dekat dengan Aruna saat tak ada dirinya.


Mereka sebelumnya tak mengetahui jika Aloster ternyata orang yang begitu posesif dan kini akhirnya mereka mengetahui hal tersebut. Dan masih tak habis pikir dengan sikap Alister yang satu itu.


“Dasar posesif,” sungut Ivan yang tidak dipedulikan oleh Alister. Aruna yang mendengar nya kini hanya terkekeh dan melanjutkan sarapannya.


Tadi di rumah ia tak sempat sarapan karena takut terlambat dan Alister yang kini memiliki tugas jaga pagi akhirnya ia kini harus ke kantin untuk sarapan, setelah Alister meminta temannya untuk berjaga lebih dulu.


“Udah makannya?” tanya Alister saat melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 6.50


“Udah,” jawab Aruna setelah ia meneguk minumannya hingga tandas.


“Ayo ke kelas. Kakak harus ke depan setelah ini,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Hingga tak lama mereka akhirnya menuju ke arah kelas Aruna. Mengantar Aruna menuju ke arah kelasnya. Sedangkan sahabat Alister kini memilih untuk langsung menuju ke arah kelas mereka.


***


“Aruna, gue mau nanya deh. Lo kenal Kak Alister udah lama?” tanya Shifa saat kini mereka tengah berjalan bersama menuju ke arah katin IPS. Shifa mengatakan jika ia ingin mengenalkan Aruna dengan kekasih nya.


“Dari kecil. Orang tua kita sahabatan,” jelas Aruna yang kini dijawab dengan anggukan oleh Shifa.


“Terus gak lama karena orang tua aku meninggal karena kecelakaan. Akhirnya aku tinggal di rumah kak Alister, karena keluarga ku yang lain ada di luar negri,” jelas Aruna. Shifa yang mendengar nya kini begitu terkejut. Tatapannya kini tampak begitu iba pada Aruna namun Aruna kini haya tersenyum dengan begitu manisnya. Menunjukkan jika luka nya sudah sembuh.


“Lo kecelakaan bareng orang tua lo?” tanya Shifa yang kini di jawab dengan gelengan oleh Aruna. Tatapannya kini bahkan berubah menjadi kekecewaan dan Shifa kini bisa melihat nya dengan begitu jelas.


“Laki yang pergi gitu aja setelah tahu kondisi aku. Dia kabur gitu aja bareng keluarganya tanpa tahu aku yang berjuang buat sembuh, gimana capek nya aku harus berjuang buat sembuh dan gimana capek nya kak Alister dan keluarganya yang ngerawat aku,” tatapan yang penuh akan kekecewaan dan kebencian kini terlihat dengan begitu jelas di mata Aruan dan Shifa kini dapat melihat nya dengan begitu jelas.


“Ada cowok begitu? Jahat banget dia sama lo,” ucap Shifa yang kini ikut merasa kesal mendengar nya. Aruna menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya.


“Mungkin ini memang jalan nya untuk Allah menunjukkan jika yang terbaik buat aku itu bukan dia melainkan laki-laki lain yang bisa lebih menjaga dan menghargai serta menerima aku apa adanya,” ungkap Aruna yang membuat Shifa kini tersenyum mendengar nya. Shifa merangkul puncak Aruna sambil menepuk nya pelan.


“Yap lo bener. Sekarang lo udah punya Kak Alister jadi sekarang tugas lo adalah menjaga hubungan kalian,” ucap Shifa menasehati yang membuat Aruna kini menjawabnya dengan anggukan.


“Gue pun dulu punya sahabat deket dari SMP, dan ya ternyata di ngehianatin gue, kecewa banget sih gue. Tapi gue tau ini udah jalannya dan cara tuhan buat ngejauhin gue dari orang-orang yang jahat yang gak baik untuk hidup gue,” papar Shifa yang kini juga menceritakan tentang dirinya.


“Sekarang lo pun punya penggantinya. Karena gue mau jadi sahabat lo.” Aruna kini tersenyum dengan begitu lebar ke arah Shifa yang membuat Shifa kini tertawa kecil mendengar nya. Kini mereka saling merangkul berjalan ke arah kantin yang berada di lantai tiga IPS.


Saat mereka melewati koridor, banyak yang melihat mereka dengan berbagai tatapan. Namun mereka memilih tidak mempedulikannya.


“Hobi banget kayaknya mereka ngegosip,” ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya yang membuat Shifa kin terkekeh mendengar ucapan Aruna.


Saat sampai di kantin keadaan kantin begitu ramai dan penuh. Membuat Shifa kebingungan karena tak biasanya kantin akan seramai sekarang, meskipun kantin selalu ramai namun kali ini berbeda.


“Apa di sini lagi ada pertunjukan?” gumam Shifa sambil menarik tangan Aruna dan membawanya memasuki kerumunan tersebut.


Hingga kini mata Shifa membelalak saat melihat seorang gadis yang kini tengah berlutut sambil mengelap sepatu seorang laki-laki. Tatapan laki-laki tersebut kini begitu datar melihat ke depan. Tak memperdulikan dirinya yang kini menjadi pusat perhatian.


Hingga seorang laki-laki dengan kacamata kini mendekati mereka dan menarik gadis tersebut untuk berdiri lalu memukul laki-laki yang memerintahkan gadis dengan kepang dua tersebut untuk membersihkan sepatunya.


Baru saja ia akan memukulnya namun laki-laki tersebut dengan mudah menangkis nya dan menghempaskan laki-laki tadi hingga membentur meja. Kaca mata laki-laki tersebut terlepas membuat nya kini mencari-cari keberadaan kacamatanya.


“Apa ini bentuk sebuah pembullyan?” sinis Aruna melihat adegan di depannya itu.


“Aruna. Itu pacar gue Andra. Lo bantu cowok itu ya, biar gue yang nangin Andra,” ucap Shifa. Kedua gadis tersebut kini berjalan ke arah laki-laki tersebut.


Aruna mengambil kaca mata laki-laki tadi dan memberikannya pada laki-laki tersebut. Yang masih berjongkok. Lalu ia berjalan ke arah laki-laki yang kini membelakanginya dan saling berhadapan dengan Shifa seolah mereka tengah cekcok.


Tanpa banyak berkata-kata kini sebuah pukulan keras menghantam Andra membuat seisi kantin kini berhasil dibuat menganga dan membelalak melihat nya. Begitupun dengan Shifa.


***