Aruna Story

Aruna Story
Nevan



Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam dan topi hitam yang digunakannya kini berjalan menyusuri jalan setapak dengan tatapan tajam nya. Tak ada sedikitpun rasa takut pada laki-laki tersebut saat kini ia tengah berjalan di jalanan sepi dengan penerangan minim.


Tangannya kini tampak sibuk, bermain dengan sebuah pisau yang kini di bawanya. Tatapannya kini menatap lurus sebuah kos-kosan yang berada di ujung jalan. Menatapnya dengan tatapan tajam nya.


Laki-laki tersebut mengetuk pintu di depannya. Hingga pintu tersebut terbuka, dan menampilkan seorang gadis yang kini menatap nya dengan senyuman indah nya. Gadis dengan rambut nya yang potong pendek tersebut tanpa siapa yang tahu sebenarnya kini tengah menyembunyikan rasa takut nya.


Sebuah pisau kini di todongkan tepat di leher nya, membuat nya kini menahan nafas akan tindakan laki-laki di depannya itu. Ini bukan yang pertama kali, dan ia pun bukan nya baru mengenal laki-laki di depannya itu.


“Nevan,” ucapnya dengan suara yang bergetar karena terlalu takut akan apa yang dilakukan oleh laki-laki yang tak lain adalah Nevan.


“Masuk,” tegas nya. Dengan sorot matanya yang hitam. Manik mata hitam pekat tersebut selah membawa sebuah kekelaman di dalam nya.


Dengan langkah nya yang pelan kini gadis tersebut mundur kebelakang. Berusaha menelan saliva nya dengan susah payah. Ia rasanya kini sudah lemas, namun sedikit saja ia lemas dan terjatuh bisa dipastikan laki-laki yang tak Nevan tersebut akan langsung bertindak lebih kejam padanya.


“Gue denger lo pulang diantar cowok?” tanya Nevan dengan tatapannya yang kini terus saja menyorot tajam pada gadis di depannya itu.


“Nevan maaf, dia cuma temen aku. Tadi gak sengaja aku pulang malem karena gak ada angkutan jadi dia ngasih tumpangan,” jelas gadis tersebut dengan takut nya. Kini ia begitu ketakutan melihat Nevan yang terus saja menatapnya dengan tajam.


Pisau yang berada di sebelah leher nya kini sudah menekan leher nya. Membuat darah segar kini mengalir dari leher jenjang berwarna putih tersebut. Gadis di depan Nevan kini hanya memejamkan matanya menahan rasa perih di leher nya, air matanya kini bahkan juga sudah menangis, hingga pisau yang tadi berada di leher nya kini beralih ke pipi nya.


“Ngapain nangis? Lo tau gue gak suka cewek cengeng Dinar,” tegas nya yang membuat Dinar kini menganggukkan kepalanya.


“Hapus air mata lo sebelum pisau gue yang menghapus air mata lo,” ucapan yang begitu tajam tersebut dengan segera membuat gadis bernama Dinar itu menghapus air matanya dengan kasar.


 “Sampai gue tau lo diantar atau dijemput cowok lagi, habis lo,” tegas Nevan pada gadis tersebut.


Setelah nya laki-laki tersebut memilih untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Dinar yang kini langsung meluruh di lantai. Kaki nya yang sedari tadi ia ajak untuk berkompromi agar tetap berdiri akhirnya kini lemas juga.


Nevan, bukan lah kekasih nya. Laki-laki tersebut tidak pernah mengatakan ucapan cinta ataupun menjadikannya sebagai kekasih. Namun sikap laki-laki tersebut begitu posesif. Semua kehidupannya diatur oleh Nevan.


Semua ini sudah terjadi sejak mereka kecil. Ibu Nevan adalah sahabat Ibu nya. Mereka sudah sering bersama sejak kecil. Namun semakin lama sikap Nevan padanya semakin semena-mena. Hingga akhirnya Dinar mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu secara tidak sengaja. Sejak saat itu sikap Nevan semakin posesif dan selalu mengatur nya. Ia tak boleh melanggar aturan yang Nevan buat, atau laki-laki tersebut akan bersikap kejam padanya.


“Kenapa aku harus bertemu dan mengenal laki-laki itu,” tangis Dinar pecah.


Ia membenci sikap Nevan, namun ia juga mencintai Nevan. Terbiasa bersama dengan laki-laki tersebut membuat nya mencintai Nevan. Sikap Nevan tidak selalu buruk padanya, disaat membaik. Nevan akan menjadi laki-laki yang begitu peduli dan terlihat begitu mencintainya.


Tak ingin terlalu larut akhirnya Dinar memutuskan untuk masuk dan membersihkan serta mengobati luka nya.


***


“Kak Alister,” suara teriakan tersebut membuat Alister yang kini tengah menonton televisi di lantai bawah sontak melihat ke arah gadis yang baru saja keluar dari lift dan kini berjalan ke arah nya.


Aruna, gadis yang kini berjalan ke arah Alister tampak mengembangkan senyumnya pada Alister.


Aruna kini duduk di samping dengan tangan Alister yang kini berada di belakang Aruna.


“Kamu gak mau belajar?” tanya Alister yang kini malah melihat Aruna yang tengah bersantai dengan kucing miliknya.


“Udah kok,” jawab Aruna sambil mengelus kucing nya.


“Kamu bentar lagi mau masuk kampus dan juga akan ujian kelulusan, harus nya kamu bisa lebih giat belajar buat mempersiapkan itu,” tegur Alister sambil memberikan saran pada Aruna. Karena menurut nya belakangan ini Aruna lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Lion.


“Iya Kak, bawel deh. Lagian Aruna juga udah belajar,” sungut Aruna.


“Mulai besok Kakak akan batasin waktu kamu bermain sama Lion,” tegas Alister. Aruna yang mendengar nya kini sontak menatap ke arah Alister dengan membelalakkan matanya.


“Kok Kakak gitu sih?” dengus Aruna dengan wajah nya yang kini sudah memberengut kesal.


“Terus kamu mau Kakak tarok kucing kamu di tempat hewan lagi?” tanya Alister. Aruna akhirnya hanya bisa berdecak menuruti permintaan Alister yang akan membatasi waktu bermainnya dengan Lion.


Mau bagaimana lagi. Alister tak pernah main-main dengan ucapannya. Jadi daripada Lionnya di pindahkan lebih baik ia menurut saja.


“Ya udah iya, Kakak emang ngeselin,” ucap Aruna dengan merajuk pada Alister.


Alister yang melihat nya kini hanya menggelengkan kepalanya. Menghadapi Aruna yang kekanakan memang membutuhkan kesabaran yang besar bagi Alister.


“Pendaftaran SNMPTN udah?” tanya Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna yang kini berada di samping nya. Aruna menganggukkan kepalanya.


“Semoga lolos ya, nanti kita makan malam bersama kalau kamu lolos,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya.


Aruna kini menurunkan Lion lalu ia memeluk Alister. Alister yang melihat nya kini menaikkan sebelah alisnya menatap bingung ke arah Aruna.


“Kenapa hm?” tanya Alister dengan bingung melihat Aruna yang manja seperti ini.


“Kangen Kakak aja sih,” ucap Aruna. Alister yang mendengar nya hanya tersenyum sambil mengelus rambut panjang Aruna.


“Besok sepulang sekolah mau jalan?” tawar Alister.


Aruna kini menjauhkan tubuhnya dari Alister dan menatap Alister dengan tatapan memastikan. Alister yang mengerti kini menganggukkan kepalanya. Aruna sontak memekik senang.


“Kakak yang terbaik,” puji Aruna yang membuat Alister tertawa kecil. Tadi saja ia dikatakan menyebalkan dan beberapa menit kemudian Alister menjadi yang terbaik. Sangat labil.


Alister memilih untuk melanjutkan menonton sambil memeluk Aruna yang kini masih berada di samping nya. Hingga gadis tersebut tertidur dalam pelukannya.


***