Aruna Story

Aruna Story
Apa Yang Sebenarnya Terjadi?



Aruna baru saja membersihkan tubuh nya. Dan hari ini seperti nya ia akan libur ke kampus. Aruna bangun saat jam menunjukkan pukul 8.45. Kini setelah membersihkan tubuhnya Aruna kini dengan segera menuju ke arah lantai bawah untuk sarapan.


IIa kini menebak jika dibawa sudah tidak ada orang lagi karena mungkin yang lainnya sudah berangkat ke kampus dan hanya tinggal pelayan saja yang berada di rumah tersebut. Dengan langkah ringannya kini Aruna  menuruni tangga menuju ke arah lantai satu di mana ruang makan berada.


Saat Aruna berada di lantai bawah kini ia mencari pelayan untuk bertanya di mana ruang makan berada. Dan beruntung tak jauh dari tempatnya berada kini seorang pelayan yang tengah membersihkan rumah tersebut ada di sana.  Aruna dengan segera mencari pelayan tersebut untuk menanyakan Di mana letak ruang makan berada.


“Bi Maaf boleh tanya nggak ruang makan ada di mana ya?”  Tanya Aruna dengan tatapan begitu lembutnya pada pelayan tersebut yang kini juga menatapnya dengan lembut dan tersenyum ke arah Aruna.


“Biar pipi anter ya Non,”  ucap wanita yang kini mungkin berumur diantara 30-an tersebut pada Aruna yang menganggukkan kepalanya


“ Makasih ya Bi,” ucap Aruna yang dijawab dengan angkutan oleh wanita tersebut. Setelahnya kini Aruna segera mengikuti asisten rumah tangga yang berada di rumah Nevan yang kini menuntunnya menuju ke arah ruang makan.


Saat sampai di ruang makan Aruna dibuat terkejut melihat keberadaan Nevan di sana.  Aruna kini segera berjalan ke arah meja makan dan dibantu oleh pelayan yang berada di sana untuk duduk di meja yang berada di samping Nevan.


“Kakak nggak ke kampus?”  tanya Aruna pada Nevan dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Nevan dengan tatapan perintahnya.  Nevan yang melihat Aruna yang kini sudah tidak lagi berbicara dengan sinis padanya menaikkan sebelah alisnya apalagi melihat Aruna yang kini tampak begitu lembut lagi kepadanya seperti saat-saat sebelum mereka berada pada keadaan seperti ini.


“Enggak,  hari ini lu mau kan nemenin gue buat main?”  tanya Nevan dengan tatapan lembutnya pada Aruna yang kini tengah memakan makanannya.  Aruna yang mendengar pertanyaannya kan kini menaikkan sebelah alisnya namun akhirnya gadis tersebut menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan dari laki-laki tersebut.


Bukan tanpa Alasan Aruna mau untuk menemani Nevan, ia ingin untuk berbicara dengan Nevan dengan tenang mungkin dengan mereka jalan akan ada waktu untuk mereka berbicara berdua dengan tenang.  Aruna kini akan berusaha untuk berbicara pada  Nevan tentang Dinara juga perasaan mereka,  Aruna juga akan berbicara tentang penyakit Nevan dan pengobatan untuk laki-laki tersebut.


Aruna percaya jika sebenarnya Nevan adalah laki-laki yang baik dan bisa untuk diajak berbicara dengan tenang. semoga saja Aruna dapat melakukannya.


Selama makan mereka kini memilih makan dengan tenang tak ada pembicaraan di antara mereka, keadaan ruang makan kini begitu hening hanya ada suara dentingan dari alat makan yang terdengar di antara mereka.


Hingga setelah mereka selesai dengan makanan mereka akhirnya sesuai dengan rencana kini mereka memutuskan untuk jalan-jalan.


“Kita mau ke mana Kak?”  Tanya Aruna saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang sudah berjalan dengan  kecepatan sedangnya.


“Mau ke pantai?”  tawar Nevan pada Aruna yang kini sontak menganggukkan kepalanya dengan begitu antusias.


Semoga saja dengan ketenangan mereka bisa berbicara dengan tenang juga. Selama di perjalanan kini tidak ada yang memulai pembicaraan mereka fokus dengan apa yang mereka kerjakan. Aruna kini sibuk melihat ke arah luar jendela sedangkan Nevan kini fokus menyetir.


Hingga tak beberapa lama kini akhirnya mereka sampai di sebuah pantai yang begitu indah dengan ketenangan yang berada di sana hembusan angin pantai yang begitu menenangkan kini terasa menyapa kulit Aruna yang tidak tertutup pakaian.


“Wah ini indah banget Kak,”  ucap Aruna dengan begitu lembutnya sambil melihat ke sekeliling gadis tersebut kini tersenyum. Aruna menuju ke arah dekat pantai dan bermain air disana Nevan yang melihat hal tersebut kini hanya tersenyum sambil mengikuti gadis tersebut yang tampak begitu bahagia dengan senyumannya yang mengembang begitu sempurna.


“Jadi siapa yang sebenarnya gue sukai?”  tanya Nevan pada dirinya sendiri. Bersama Aruna ia merasa nyaman begitupun dengan bersama Dinara namun bersama Dinara ia merasakan sesuatu yang tak ia rasakan pada Aruna yaitu sesuatu yang menggebu-gebu yang membuat detak jantungnya selalu berpacu dengan cepat saat bersama dengan gadis tersebut.


Mengingat saat ia hancur karena Aruna yang mengatakan jika ia sudah memiliki tunangan Dinara yang menemaninya,  menguatkannya dan juga gadis tersebutlah yang menenangkannya. Hal tersebut sama sekali tidak bisa Nevan melupakan bagaimana saat itu akhirnya ia bisa tenang bersama dengan Dinara.


“Kak ngapain di sana aja? sini ikutan main?”  Panggil Aruna sambil Melambaikan tangannya pada  Nevan namun laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya dan membiarkan Aruna kini bermain di sana.


Nevan kini memilih untuk duduk di pasir sambil menikmati indahnya pemandangan laut dengan Aruna yang kini menjadi objeknya melihat gadis tersebut yang begitu bahagia dan senang bermain dengan air laut.


Setelahnya kini gadis tersebut merasa lelah dan puas bermain akhirnya Aruna memutuskan untuk menuju ke Nevan dan duduk di samping laki-laki tersebut. Ikut menikmati pemandangan laut yang begitu indah. Langit biru dengan lautan yang begitu indah, di tampak dengan pasir yang berwarna putih, deburan ombak yang begitu menenangkan, dan juga hembusan angin yang menenangkan.


Aruna rasanya begitu menikmati saat seperti ini.  Mereka kini hanya saling terdiam sambil menikmati indahnya pemandangan di depan mereka dan hembusan angin yang kini menerpa kulit mereka.


“Kakak yakin kalau Kakak cinta sama orangnya? Karena Aruna rasa yang kakak cintai itu bukan Aruna melainkan Dinara,”  ucap Aruna yang kini juga membicarakan masalah hubungan tersebut pada Nevan. Nevan yang mendengar ucapan Haruna kini hanya terdiam Ia juga memikirkan hal yang sama semalaman namun Ia tetap tidak mendapatkan jawabannya tentang siapa yang sebenarnya ia cintai.


“Kenapa lu bisa yakini kalau orang yang gue cinta itu dimarah bukan elu?”  tanya Nevan dengan menaikkan setelah alisnya.  Aruna yang mendengar pertanyaan dari depan kini langsung memposisikan tubuhnya agar ia menghadap ke arah depan.


“Coba lihat Aruna maka saat Kakak menikah karena ada getaran di hati kakak?” Tanya Aruna yang kini sangat memudahkan terdiam. Namun setelahnya laki-laki tersebut menjalankan kepalanya karena memang ia tidak merasakan getaran tersebut saat ia bersama dengan Aruna berbeda saat ia bersama dengan Dinara ia selalu merasakan getaran yang membuatnya berpikir jika kehadiran di mana hanya membuat jantungnya menjadi rusak.


“Kalau Kakak lagi ada masalah kalau kakak lagi marah atau kalaupun Kakak lagi merasa dunia nggak baik-baik aja buat Kakak siapa orang yang akan Kakak cari Aruna atau Dinara?”  tanya Aruna lagi mungkin ini kembali memberikan pertanyaannya pada Nevan yang sontak terdiam mendengar ucapan harimau karena lanjut lagi kini jawabannya adalah Dinara bukan Aruna. Saat keadaannya sedang tidak baik-baik saja Dinara yang ia cari untuk mengobati dirinya bukan Aruna.


“ Diantara Aruna atau Dinara siapa yang akan Kakak cari sebagai rumah untuk kakak pulang?”  Aruna kini kembali dengan pertanyaan seriusnya pada Nevan yang ini juga akhirnya melihat ke arah Aruna. Jawaban Nevan kini masih sama di naralah yang menjadi jawabannya


Aruna yang melihat Nevan hanya terdiam mendapatkan berbagai pertanyaan darinya membuat gadis tersebut kini tersenyum sambil menatap nekan dengan begitu lembutnya.


“ Bisa Aruna pastikan 100% kalau jawaban dari semua pertanyaan angguna adalah Dinara bukan Aruna. Saat kita mencintai seseorang saat kita menyayangi orang yang akan kita cari di saat hati kita sedang tidak baik-baik saja dan kita membutuhkan rumah untuk pulang yang kita cari adalah orang yang kita cintai karena merekalah yang akan mengobati luka tersebut,  fungsi rumah adalah untuk tempat kita beristirahat Oleh karena itu saat kita merasa sedang tidak baik-baik saja dan di depan rumah kita akan mencoba begitupun dengan kakak yang menjadi Dinara karena dinaralah yang kakak cintai,”  jelas Aruna pada Nevan  kini hanya terdiam mendengar berbagai fakta yang tengah Aruna ungkapkan padanya.


“Aruna pikir perasaan Kakak pada Aruna hanyalah sebatas perasaan kekaguman atau sebatas perasaan suka,  atau bahkan hanya sebatas perasaan antara kakak yang mencintai dan menyayangi adiknya,”  Papar Aruna yang membuat nefan kini menegang mendengar ucapan gadis tersebut. Karena memang sebenarnya ia melihat Aruna begitu mirip dengan adiknya yang sudah tiada, hal tersebutlah yang akhirnya membuatnya merasa jika ia mencintai dan menyayangi Aruna.


Tanpa terasa kini air mata Nevan malah menetes mendengar ucapan Aruna. Aruna yang melintal tersebut kini tentu saja dibuat gelagapan karena bingung dengan apa yang terjadi pada Nevan.


“Kakak kenapa Kak? Kakak nggak papa kan?”  tanya Aruna dengan begitu khawatirnya sambil mengelus pundak Nevan berusaha untuk menenangkan laki-laki di depannya tersebut dan kini masih saja meneteskan air matanya. Namun tak lama Nevan langsung menghapus air matanya dengan kasar


“Gue dulu punya adik dia seumuran sama lo jarik kita hanya satu tahun,  adik gue juga cewek dia orang yang lembut dia orang yang baik cantik dan imut. Kebaikan rasanya ada di dia,  tapi gue gagal buat ngejaga dia sampai akhirnya gue kehilangan dia,”  jelas Nevan yang kini berhasil membuat Aruna terkejut karena apa yang baru saja ia sampaikan pada Nevan tentang Nevan yang hanya menangkapnya sebagai seorang pendidik sepertinya adalah sebuah kebenaran. Nevan Melihatnya sebagai adik laki-laki tersebut bukan sebagai pria yang mencintai wanitanya.


“Dia cantik Run, Dia adalah orang yang paling pengen dijaga selama ini tapi ternyata gue gagal menjaga dia,” jelas Nevan dengan air matanya yang kini tanpa sadar kembali menetes. Saat mengingat kembali semua kejadian yang menimpanya saat ia berusia 9 tahun dan adiknya saat itu baru berusia 8 tahun hatinya masih begitu sakit. Jantungnya selalu saja berdetak dengan lebih cepat saat mengingat semua kejadian tersebut.


Hingga tanpa Aruna duga kini Nevan malah kesulitan bernafas. Aruna yang melihat semua itu tentu saja merasa khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada laki-laki tersebut.


“Kak, Kakak kenapa?” tanya Aruna dengan begitu khawatir nya sambil memegangi Nevan yang kini kini begitu kesulitan bernafas. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Nevan dan Adik nya hingga Nevan kini seperti ini.


“Kak,” panggil Aruna dengan ketakutannya. Kini ia terus memegangi Nevan. Namun tak lama laki-laki tersebut malah terkapar di pasir yang berada di sana.


“Kak,” panggil Aruna dengan begitu khawatir nya melihat Nevan yang pingsan.


“Gimana ini? Aruna gak bisa bawa mobil,” tangis Aruna yang kini tanpa sadar sudah pecah begitu saja.


Tak lama beruntung ada orang yang lewat dan bisa Aruna mintai tolong untuk membantunya membawa Nevan untuk pergi ke rumah sakit. Aruna rasanya kini begitu khawatir pada Nevan. Bahkan selama di dalam taxi kini ia terus berdoa agar Nevan baik-baik saja.


Aruna dapat merasakan ketakutan yang begitu besar pada diri Nevan. Membuat Aruna kini semakin yakin untuk membantu Nevan agar ia bisa sembuh.


"Kakak harus bertahan Kakak," ucap Aruna dengan tangis nya. Entah mengapa ini ia menangis. Ke khawatirannya pada laki-laki tersebut begitu besar.


Aruna segera mengbil ponsel Nevan untuk nya menghubungi Dinara dan mengabarkan tentang keadaan Nevan saat ini pada gadis tersebut.


***