
Hari sudah begitu gelap saat Alister dan Aruna kini pulang. Seharian ini mereka menghabiskan waktu bersama. Aruna jelas begitu bahagia. Apa lagi Alister yang selalu memperlakukannya dengan baik membuat Aruna semakin merasa bahagia.
Gadis tersebut kini bahkan sudah tertidur karena terlalu lelah. Aliste yang melihat nya kini tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang. Wajah cantik tersebut terlihat begitu pulas tertidur. Setelah lama mereka dalam perjalanan akhirnya kini mereka sampai di depan sebuah rumah besar berlantai tiga yang merupakan kediaman Alister. Rumah yang berada di perumahan elit.
Alister menoleh ke arah samping nya, melihat Aruna yang kini masih tertidur dengan begitu pulasnya. Alister kini tersenyum sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik gadis tersebut.
“Kamu cantik Aruna,” ucap Alister dengan senyumannya. Laki-laki tersebut berusaha untuk mengendalikan dirinya sambil menghembuskan nafasnya kasar. Setelah nya ia segera keluar dari mobil nya. Berjalan lebih dulu menuju ke arah pintu mobil Aruna. Setelah nya ia menggendong Aruna ala bridal style menuju ke arah kamar gadis tersebut.
Penjaga yang melihat kedatangan Alister segera membukakan nya pintu untuk atasannya itu. Saat sampai di ruang keluarga di sana ada kedua orang tuanya yang tengah menikmati waktu mereka. Melihat Aruna yang berada dalam gendongan Alister, Casia dengan segera berdiri.
“Aruna kenapa?” tanya Casia dengan wajah khawatirnya melihat Aruna yang kini berada dalam gendongan Alister.
“Aruna gak papa Bun. Cuma tidur,” jelas Alister yang membuat Ibu nya tersebut menghembuskan nafas nya lega mendengar jawaban dari anaknya itu.
“Ya udah, langsung kamu bawa ke kamar nya aja,” perintah Casia yang Alister jawab dengan anggukan setelah nya ia segera membawa gadis tersebut menuju ke arah kamar gadis tersebut.
Setelah sampai di kamar Aruna. Alister dengan segera menidurkannya di ranjang Queen size nya lalu menyelimuti Aruna. Alister juga membukakan sepatu gadis tersebut dengan pelan. Alister mengelus kening Aruna lalu mengecup nya singkat sebelum akhirnya ia pergi dari kamar gadis tersebut.
Tujuannya kini adalah kamar nya. Saat sampai di kamar nya ia dengan segera ia menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia segera menuju ke arah ranjang berukuran king size nya.
Laki-laki tersebut membuka ponsel nya untuk melihat grup OSIS nya dan melihat pesan yang masuk. Takut jika ada pesan penting. Namun ternyata tak ada pesan lain selain pembicaraan random di grup kelas, OSIS, juga grup teman-temannya.
Hingga kening nya berkerut melihat sebuah pesan dari seorang gadis yang masuk ke ponsel nya. Gadis yang sebelumnya tak pernah ia kenali.
+62 87665+++++
Halo Alister. Sorry gue dapet nomer lo dari grup OSIS.
Gue sekretaris OSIS gue mau nanya masalah OSIS.
Ini yang perlu gue benerin yang mana aja ya?
Alister yang melihat nya segera membuka dokumen yang juga dikirim kan oleh gadis tersebut. Memeriksa nya sebentar. Alister sepertinya setelah ini harus mengenali anggota nya satu persatu. Bahkan sekertaris nya pun tak ia ketahui.
Setelah membaca dan memeriksa nya ia membalas pesan tersebut tanpa mau repot-repot menyimpan nomor tersebut.
Alister
Sudah gue tandain yang mana aja yang harus di benerin. Nanti lo tanya ke Januar aja lagi
Januar adalah wakil OSIS nya. Setelah membalas pesan tersebut Alister segera turun dari jang nya saat ia mengingat jika ia belum menyiapkan air untuk Aruna. Setelah memastikan semua kebutuhan gadis tersebut tersedia ia dengan segera memilih untuk mengistirahatkan dirinya.
Bermain dan keluar malam-malam jelas bukan gaya Alister. Laki-laki tersebut terlalu sibuk mengurus Aruna dan ia juga merasa khawatir jika meninggalkan Aruna di rumah nya tanpa dirinya. Jika memang kumpul bersama dengan teman-temannya, ia selalu menunggu saat kedua orang tuanya berkumpul. Dan itu pun hanya sesekali untuk nya keluar malam bahkan saat bermain di malam hari ia harus memastikan jika Aruna sudah tertidur.
***
Alister kini tengah melakukan olahraga ringan di kamar nya saat ia baru saya bangun. Setelah nya ia segera menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Setelah selesai barulah ia menuju ke arah kamar Aruna, aktifitas pagi yang selalu ia lakukan adalah menjemput Aruna untuk makan bersama.
Alister kini mengetuk pintu di depannya. Setelah mendapatkan izin dari orang di dalam sana untuk masuk barulah Alister masuk. Senyumannya kini mengembang melihat Aruna yang kini sudah tampak cantik.
“Sudah?” tanya Alister sambil berjalan ke arah Aruna yang kini menjawab nya dengan anggukan.
“Nanti ada terapi kan?” tanya Alister yang bahkan sudah begitu menghafal jadwal terapi Aruna. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Hm, nanti ada terapi. Nanti ada terapi jalan. Aku berharap bisa cepet bisa jalan kak. Kakak tau kemarin rasanya aku bisa jalan sendiri deh tanpa kakak pegangi,” ucap Aruna dengan begitu heboh nya yang membuat Alister kini terkekeh mendengar nya.
“Ya, semoga setelah ini kamu ada kemajuan. Bukan lagi pakai kursi roda tapi bisa menggunakan tongkat. Atau bahkan bisa berjalan dengan baik,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Itu memang merupakan harapannya.
Dan semoga saja ia bisa cepat pulih.
“Kalau tahun ini aku bisa sembuh total. A…apa aku sudah bisa sekolah?” tanya Aruna dengan penuh harap dan bersemangat nya. Namun Alister kini malah menggelengkan kepalanya.
“Kamu harus memastikan kalau kamu sudah begitu baik baru kamu boleh sekolah. Tapi kalau kamu sudah sembuh kakak bakalan ajak kamu ke tempat yang kamu sukai. Kemanapun kamu ingin pergi akan kakak temani,” ucap Alister agar Aruna tak patah semangat karena penolakannya. Aruna menghembuskan nafas nya kasar namun akhirnya ia hanya bisa menyetujuinya.
“Lumayan menarik lah,” ucap Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya.
“Mangkanya kamu harus bisa pulih dengan cepat biar kamu bisa kembali sekolah,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan semangat nya.
Kini mereka berjalan bersama menuju ke arah ruang makan dimana kini kedua orang tua Alister sudah menunggu mereka.
“Morning,” sapa Aruna dengan senyumannya yang juga dibalas dengan sapaan oleh kedua orang tua angkat nya itu.
“Sayang nanti Bunda ada acara di rumah Adik Bunda. Gak papa kan kalau Papa yang nemenin kamu terapi?” tanya Casia dengan rasa bersalah nya pada Aruna yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Tenang aja sayang, sama papa mah aman dan santai,” ucap Bagas yang membuat Aruna terkekeh mendengar nya.
“Papa kerja aja biar Alister yang nemenin,” ucap Alister yang membuat Bagas dan Aruna kini menoleh ke arah Alister.
“Kamu gak sibuk?” tanya Bagas pada anak nya tersebut yang dengan santai kini menggelengkan kepalanya.
“Udah lah Papa kerja aja. Aruna biar aku yang jagain,” ucap Alister yang membuat Bagas pun kini akhirnya hanya menganggukkan kepalanya.
Anaknya itu cukup keras kepala jadi tak mungkin untuk nya bisa melawan Alister. Sebenar nya kini Alister berencana untuk bermain bersama dengan sahabat nya sepulang sekolah. Namun meninggalkan Aruna bersama dengan Papa nya ia menjadi tak tenang. Oleh karena itu ia memilih untuk menemani Aruna.
***